Rabu, 01 Desember 2010

Prayin' on My 28th B'day




Sudah lewat satu hari. Kemarin-- 30 November 2010-- saya resmi menyandang usia 28 tahun. God, feels like I just celebrate my seventeen years old b'day, and now I've got my 28th b'day!

Alhamdulillah, saya masih diberi segala berkah baik dari Allah sampai usia sejauh ini. Alhamdulillah untuk segala kebaikan, rezeki, dan cinta kasih dari semua orang kepada saya sejauh ini. Meskipun masih banyak hal yang belum tercapai dalam list keinginan saya, tapi saya tahu bahwa Allah selalu tahu yang terbaik untuk saya.

Alhamdulillah, beratus pesan dan ucapan serta doa di hari ulangtahun saya berderet di akun Facebook saya. Di samping juga sms-sms dan telepon-telepon dari beberapa orang. Mungkin, memang ada beberapa orang yang terlupa untuk mengingat hari ulangtahun saya. But, saya bisa memahaminya. Mungkin mereka sibuk atau apa.

Saya hanya berdoa-- seperti di malam ulangtahun saya kemarin-- agar selalu ada kebaikan yang melimpahi hidup saya dan orang-orang yang saya sayangi dan sayang pada saya.
Amin ya Robbal Alamiiin....

Kamis, 21 Oktober 2010

Opname

Opname, seumur 27 tahun hidup saya, saya tidak pernah mengenal kata itu dalam kamus hidup saya. Buat saya, jarum suntik dan segala tetek-bengek peralatan kedokteran membuat bulu kuduk saya bergidik. Jelang Ramadan lalu, waktu saya masuk ke ruang ICU Gedung Bedah Sentral Terpadu RSUP Dr Sardjito untuk menengok kakak ketiga saya jelang ia menjalani operasi caesar pun membuat saya sangat takut.

Tapi, akhirnya saya menjalani juga perawatan di rumah sakit. Bahkan masuk IGD.

Awalnya, Senin (11/10) pagi, saya sudah bersiap kembali ke Jogja. Tiba-tiba saya merasa badan saya teramat lemas, bahkan akhirnya saya mual dan muntah. Akhirnya, ibu saya meminta saya menunda kepulangan saya ke Jogja. Seharian itu, akhirnya saya menjalani hari dengan lemas. Makan, langsung muntah. Alhasil, sorenya saya dibawa ke dokter. Dokter langsung meminta saya cek darah ke laboratorium. Hasilnya, widal saya sangat tinggi. Kalau tidak salah 1/600 dan 1/800. Menurut sumber di internet, sejak beberapa tahun terakhir pemeriksaan tes Widal menjadi rutin dilakukan untuk screening penderita penyakit tifus. Reaksi Widal merupakan tes imunitas yang ditimbulkan oleh kuman Salmonella typhi / paratyphi, yaitu kuman yang terdapat di minuman dan makanan. Selain itu, mual yang sangat berat menurut dokter juga diakibatkan karena kerja liver saya kurang maksimal. Tapi bukan berarti saya terkena hepatitis. Hanya typhus saja.

Dokter sebenarnya menyarankan saya opname langsung hari itu. Tapi saya mau mencoba rawat jalan. Akhirnya dokter menyuntikkan-- entah cairan apa-- untuk menahan mual saya. "Kamis kontrol lagi, kalau masih tidak membaik, tetap harus opname," kata beliau. Dokter yang menangani saya namanya dr Budiono. Pria paruh baya yang sangat disegani sebagai dokter di Kabupaten Purworejo, kota kelahiran saya. Beliau punya klinik rawat inap-- yang menurut saya bakal bisa berkembang menjadi klinik besar-- karena selalu menjadi pilihan pasien dari seantero Purworejo. Namanya, Klinik Budi Sehat.

Hari selanjutnya, Selasa hingga Rabu saya merasa cukup membaik. Obat dari dokter saya minum sesuai jadwal. Hingga Rabu malam, sekitar pukul 23.00, saya merasa nafas saya tersengal. Padahal, tak ada riwayat asma di keluarga saya. Tak pernah pula saya sesak nafas. Akhirnya, saya dilarikan ke IGD klinik itu. Di sana, saya langsung diberi selang oksigen. Untuk beberapa saat saya tenang, tapi pada akhirnya saya merasa oksigen itu malah menggembung di dada saya. Akhirnya, saya diberi katup penutup mulut dan hidung yang berasap. Entah apalah itu namanya, yang pasti akhirnya membuat saya tertidur pulas hingga beberapa saat di ruang IGD dan tentunya dengan selang infus di lengan kiri saya. Paginya, saya pindah ke bangsal biasa. Sampai dua hari.

Alhamdulillah, hari ini saya sudah mulai masuk kerja. Meskipun dengan lemas. Meskipun harus menghindari banyak pantangan makanan. Tapi alhamdulillah, Allah masih sayang saya.

Rabu, 29 September 2010

New Pic


(Location: Kebun Teh Kaligua, Brebes, Jawa Tengah)

Coming back....hehe


Piket malam @ office.

Lama meninggalkan blog ini, kangen juga pada akhirnya. Saya hitung-hitung, sudah lebih dari empat bulan saya tak pernah memposting satupun tulisan. Saya juga agak heran, kenapa yah? Mungkin sibuk. Hmm...mungkin ada yang bakal mikir, sesibuk apa sih ya reporter koran lokal seperti saya?

Well, hari ini saya juga merasa akan lebih banyak kehilangan waktu senggang saya. Tadi, dengan tiba-tiba, saya diberi mandat untuk menjadi redaktur magang di koran tempat saya bekerja. It means, akan lebih banyak waktu yang harus saya habiskan di kantor. Tak hanya masih harus "berkeliaran" untuk mencari tulisan, tapi saya juga harus menggarap halaman. My Godness... Well, dari sisi kontraprestasi, perusahaan tempat saya bekerja memang bisa dibilang sangat manusiawi. Sangat lebih sejahtera dibandingkan koran lokal lain, atau bahkan koran nasional yang memang ada juga yang tak manusiawi terhadap reporternya. Tapi, bekerja tidak hanya untuk mencari segenggam rupiah saja kan?

Tuhan, sebenarnya detik ini saya hanya ingin bekerja semaksimal yang saya bisa. In case, saya sebenarnya juga tidak ingin mengejar karir di bidang jurnalistik. Toh, saya sudah berpikir bahwa saya pasti akan meninggalkan dunia jurnalistik jika saya sudah menikah nanti. In my opinion, seorang wartawati tidak akan punya waktu yang berkualitas untuk keluarga, untuk suami dan anak-anak. Menurut saya juga, seorang wanita yang sudah menikah seharusnya bisa memilih untuk bekerja di dalam ruangan, bukan "berlarian" di lapangan dan mengejar-ngejar narasumber. Well, tapi itu menurut saya. Kalau masih banyak wanita yang tetap menjadi wartawan, bahkan hingga sepuh, itu hak. Life is about choices, indeed!


Selasa, 18 Mei 2010

Bukit Menoreh


This picture was taken by me, at 15th of May 2010.
Saya bahkan tidak pernah tahu ada belahan bumi yang indah di pucuk DIY ini.
Ada teman yang mengajak pulang melewati jalur di Kecamatan Nanggulan, Kabupaten Kulonprogo yang memang tembus ke bagian Jawa Tengah.
What a beautiful scenery!!
Selain jalannya mulus beraspal, pemandangannya indah, adem, dan kalau anda beruntung anda bisa menikmati kabut tebal ketika sudah sampai di bagian atas Perbukitan Menoreh itu.
Subhanallah!!

Jumat, 14 Mei 2010

Rainy Day....

I thought that time was on our side
I've put in far too many years
To let this pass us by
You see life is a crazy thing
There'll be good time and there'll be bad times
And everything in between
And I don't know which way it's gonna go
If it's gonna be a rainy day
There's nothing we can do to make it change
We can pray for sunny weather
But that won't stop the rain
Feeling like you got no place to run
I can be your shelter 'til it's done
We can make this last forever
So please don't stop the rain
Let it fall, let it fall, let it fall...
("Please Don't Stop The Rain"-James Morrison)
There will be good time, and there will be bad times.
If it's gonna be a rainy day, there's nothing we can do to make it change. We can pray for sunny weather, but that won't stop the rain.
Saya suka dengan kutipan lirik lagu ini. It has a really deep meaning for me. That there will be many good times and also bad times in my life, dan saya harus berlapang dada untuk menghadapinya. Tuhan akan mengkondisikan sesuatu pada saya, dan saya gak akan mungkin mengubahnya. We only could pray....

Di luar hujan, dan saya masih harus piket sampai jam sembilan malam nanti.

Kamis, 13 Mei 2010

the way he looks at me


No one ever saw me like you do

All the things that I could add up too
I never knew just what a smile was worth
But your eyes say everything without a single word

'Cause there's somethin' in the way you look at me
It's as if my heart knows you're the missing piece
You make me believe that there's nothing in this world I can't be
I never know what you see
But there's somethin' in the way you look at me

If I could freeze a moment in my mind
It'll be the second that you touch your lips to mine
I'd like to stop the clock, make time stands still
'Cause, baby, this is just the way I always wanna fee
("The Way You Look At Me"-Christian Bautista)

Kadang, saya hanya ingin melihat ke sisi terdalam mata dia, dan memastikan bahwa dia baik-baik saja. Saya harus meneruskan hidup saya, dan dia juga memiliki kehidupan dia yang mungkin telah sempurna. Meski terkadang, saya masih harus bergulat melawan perihnya hati saya ketika tiba-tiba saya merindukan dia di malam saya.
Petang ini hujan, dan saya tak tahu dia sedang apa.

Senin, 10 Mei 2010

back to work


Back to work today.
Obat dari dokter Edhi belum habis, karena saya memang amat-sangat-bandel untuk menepati jadwal minum obat. Moga aja semua bibit penyakit di tubuh saya sudah sirna. Alhamdulillah, pagi ini saya tak merasa bumi berputar lagi ketika saya bangun tidur. So, now I'm back to work again. Meski harus kehujanan hari ini.

Beberapa hari tak ke lapangan dan tak ke kantor memang membuat banyak orang berpikir separah apa sakit saya. Sebagian besar orang malah tidak percaya saya sakit. Heran, memang saya nampak sesehat apa sampai menurut mereka saya "tak pantas" sakit?

Semua orang sepertinya sibuk. Ya sudahlah....

Sabtu, 08 Mei 2010

V.E.R.T.I.G.O


Hari Rabu (5/5), saya terbangun dengan kondisi yang tidak pernah saya rasakan sebelumnya. Saya beringsut dari kasur busa tebal berbungkus sprei putih bermotif beruang coklat dan motif embossed berbentuk hati berwarna putih dan orange dengan sekuat tenaga. Jangankan untuk berdiri meraih handle pintu, untuk duduk saja saya tak bisa. Pandangan mata saya berputar-putar, seolah sedang ada gempa besar di kamar saya. For a moment, saya terpaksa kembali merebahkan diri. Setelah beberapa menit, saya berusaha membuka pintu, lalu terpaksa kembali merebahkan diri. Sampai salah satu teman kos saya lewat di depan kamar dan heran melihat saya masih rebahan. Setelah mandi, saya tiba-tiba muntah. Then I decided that I have to meet a doctor.

Then, pagi itu saya langsung mengirim sms ke salah satu teman di RS Panti Rapih untuk memasukkan nama saya ke pendaftaran. Untuk bertemu dengan dr Edhi Dharma. Siangnya, saya tak berani membawa motor sendiri, so I have to wait for my friend to pick me up to the hospital. Then I met Dokter Edhi, an old doctor yang sangat-sangat baik. Dokter tua itu tak bicara hal-hal menakutkan setelah memeriksa saya, tapi dari salah satu tablet obat yang ia resepkan, saya tahu bahwa ada gejala VERTIGO yang saya alami.

Meskipun dokter bilang tidak apa-apa, tapi saya cukup shocked kenapa bisa kena vertigo. Saya ingat, temen saya punya vertigo karena dia punya riwayat gegar otak ringan karena kecelakaan. Well, saya beberapa kali kecelakaan, dan the worst one was ketika pelipis kanan saya terpaksa dijahit tahun 2008 lalu. Tapi tak ada benturan keras di kepala saya saat itu, luka di pelipis kanan saya waktu itu hanya karena gesekan dengan helm ketika saya jatuh. But, ternyata vertigo bisa dipicu banyaknya pikiran, stres, dan kelelahan akut.
Gosh....

Tiga hari saya absen, bahkan saya tak pergi kemana-mana. Hanya meringkuk di tempat tidur dan terkadang berjalan keluar kamar. Tak berani bawa motor kemana-mana.

Then I told him, only for asking his little sweet words. But I think he was too much busy at that moment, so I felt like he wasn't really care of me coz he only sent some "classic-words-for-some-sick-person".
Gosh, what do I expect from him??

Jumat, 30 April 2010

their "conversation"


Hey, Boy! Did you know?
I lie awake in my dreamy bed
Thinking of you and those crazy times we’ve had

Sometimes I wonder..
Whether you’re a Jekyll or you’re a Hyde?
Sometimes you are wise and tell no lies

Oh I can’t tell..
‘cause you make me feel so loved and confused
This conversation may never happen....
------
Hey, Girl! Did you know?
I miss you so though it may not show
Thinking of you and those crazy times we’ve had

My dear I have news to tell you
Your silly jokes did brighten me
You cheered me up when I was down....

("This Conversation"-Mocca)

Minggu, 25 April 2010

I Wanna Be With Him....


I try but I can't seem to get myself
To think of anything
But you....
Your breath on my face
Your warm gentle kiss I taste the truth
I taste the truth

We know what I came here for
So I won`t ask for more

I wanna be with you
If only for a night
To be the one whose in your arms
Who holds you tight
I wanna be with you
There`s nothing more to say
There`s nothing else I want more than to feel this way
I wanna be with you....
("I Wanna Be With You", Mandy Moore)

Dini hari tadi dia mengagetkanku dengan sederet sapaan lewat pesan singkatnya. Incredible, seperti yang dia bilang. Beberapa saat sebelum pesan itu masuk ke ponsel saya, jujur, saya sedang memikirkan dia. Tepatnya, tiba-tiba teramat memikirkan dia. Lalu hari ini, di sela-sela waktu, kami juga sempat menghabiskan waktu, meskipun dari jauh. Oh Gosh...saya tak tahu mau saya apa....
Ketika saya merasa sudah teramat jauh dari dia, tiba-tiba dia kembali datang dan menenangkan saya. He even said that he still keeping me deep inside his heart. His deepest heart.

Jumat, 23 April 2010

Away from Him

There were times that I just wanna cry with all the strain
There were moments of uncertainty and pain
But when you are there to help and care, I smile again
But here am I so alone away from you...
Everyday I can only pray for your warm, lovin' arms
To take me away from all the emptiness, despair
Why do I have to be away from you...?
("Away from You", Christian Bautista)
saya piket malam ini, and u know what...I miss him suddenly

Selasa, 20 April 2010

Only by keeping him inside me



I felt his warm hand today. Only by shaking his hand for a minute and staring at his eyes, I feel so warm inside. Like I've found my sunshine after the rainfall.

"She looks so charming today," kata dia. Tanpa sadar, saya tersenyum membaca pesan singkatnya itu. Saya senang, tapi saya sungguh ingin tahu apa memang semua benar-benar belum berubah. Untuk meminta secuil waktu di setiap ujung harinya pun sepertinya sudah sangat sulit bagi saya.

Gosh, I love him with my own way. Without any intention. Only by keeping him inside me.

Kamis, 15 April 2010

wanna believe him


And you can´t fight the tears that ain´t coming, or the moments of truth in your lies.
When everything feels like the movies, and yeah... you bleed just to know you´re alive!!
("Iris", GOO GOO DOLLS)

Lagu ini baru saja membahana di ruang redaksi. Salah satu teman memutarnya cukup kencang. Untung saja tiga televisi di ruang ini sedang tak menyala.

Lirik salah satu lagu Goo Goo Dolls yang menjadi theme song film "City of Angel" ini dalem banget artinya. You bleed just to know you're alive!! Rasa sakit hingga berdarah-darah menurut band itu memang perlu, agar manusia lebih bisa menghargai makna hidup mereka. Gosh...!

Sore ini, sambil menunggu rapat rutin redaksi, saya berbalas pesan singkat yang cukup emosional dengannya. Emosional dalam artian mengiri-iris hati, bukan emosional dalam artian ingin marah. Saya bingung menjelaskannya. Saya hanya sangat merasa ada yang berubah dalam dirinya. Saya hanya merasa a li'l bit ignored. Well, maybe it was so ridicoulous to ask him to always act sweetly to me everytime.... But it's so hard now to believe what he has said to me, that he really wanna stay...if I want him to.....

Gosh, berapa kali lagi saya harus bilang bahwa dia punya posisi tersendiri dalam hati saya?

Selasa, 13 April 2010

Unhappy, and Unhappier Now....


He did feel the same, but however he is afraid that he will make her unhappy, bcz he can't accompany her to go to somewhere freely. That's the point....... Then he found a blog explained that she went to Jkt to meet a special guy. Suddenly he stopped to make contact with her. He didn't want to disturb her.

Tiba-tiba saya pengen nangis. Rasanya susah sekali menjelaskan pada dia. Rasanya sudah lama sekali saya tak saling meluapkan kebingungan seperti ini kepadanya. Memang baru hitungan bulan tapi rasanya sudah sangat lama saya melepaskan diri atau mungkin terlepas dari cerita itu, bersama dia.

Saya jadi bingung mau menulis apa. Sekarang sudah jam tujuh malam lewat lima menit, dan pembicaraan kami terpaksa terputus. Tinggal saya melongo.
Saya masih piket di kantor. Blogging, fesbukan, browsing, sambil menunggu jam sembilan malam dan sesekali mengangkat telepon kantor yang berdering. Tinggal saya sendiri perempuan di ruangan ini.

Gosh, tadi dia bilang, sometimes he felt jealous. Lalu saya balik bertanya ke dia, apa dia bisa membayangkan kalau terkadang saya juga merasakan hal yang sama? Rasanya mungkin akan sangat lebih parah dibanding dengan yang dia rasakan. Berkali-kali saya bilang, he has his own position in my life...meskipun saya mungkin bertemu dengan some other guys in my life....

Hidup saya memang selalu berwarna. Mengharu-biru. Dan seharusnya saya selalu mensyukurinya. Apapun yang saya alami, tentu Allah memiliki tujuan tertentu. Agar saya belajar tentang banyak hal, itu pasti.

Tanpa ingin menyakiti siapapun yang sedang dekat dengan saya ataupun dia, saya ingin jujur bahwa he is one important guy in my life. Karena itulah, saya merasa sangat sedih ketika saya bertemu dan melihat ada perubahan sikap pada dia. Meskipun saya tahu, maybe he was really controlling himself not to act in different way to me.

Sure, I have to say openly. Selain dia, saya-- jujur-- masih memikirkan cinta pertama saya masa SMA yang entah kenapa malah semakin membuat saya bingung. Semuanya menjadi sumir, dan tiba-tiba Allah mengirimkan satu sosok lagi dalam hidup saya. Sosok yang menurut beberapa teman sangat cocok bagi saya. But hey, I even don't think about marriage, yet. Saya membuka diri karena dari awal saya selalu bilang, tergantung seberapa kuat usaha dia untuk menghancurkan benteng pertahanan hati saya.

And abi, I do still need him in my life. Meskipun saya tak tahu sampai kapan.

Kamis, 08 April 2010

Life Keeps on Turning



We've come to the final story
All of it has passed behind me
With my smile and now I'm ready
For my next step again

I know I can't drown forever
I've got a life I have to deal with
I believe that life keeps turning
And I'm here just to wait and sing
Yes, I'm here just to wait and sing....

Loosing you is not the end of the world
But it's, true that is definitely hurts
Loosing you is not the end of the world
But it's, true that is definitely hurts
That is definitely hurts!

When I wake up in the morning
One smile wipes away my yearning
A messages has come arriving
Secret admirer strikes again
And this life keeps on turning....

("Life Keeps on Turning", Mocca)

Seems like he wasn't happy


Seems like he wasn't happy when he met me. Eventhough he also said thanks after I came to him.

Sebenarnya saya tak ingin memikirkannya, tapi entah kenapa rasa aneh itu muncul begitu saja. Keluar dari parkiran itu, rasanya saya ingin menyumpahi diri saya sendiri. Menyumpahi kekonyolan saya yang masih saja bisa merasa kecewa dan tak terperhatikan oleh orang itu. After all those times, dan saya masih saja merasakannya!! Rasanya saya ingin membawa motor saya sekencang mungkin, tapi arus kendaraan yang memadat di jalan membuat saya urung melakukannya.

After he call me baby, sweety, and all those stuffs a few days before...seems like he really ignoring me today. No sweet stuffs anymore..., even in an implicit way. Oh Gosh! Crazy! Silly!! Why do I still keeping this crazy and silly thoughts??!!

Hmm, ada sms masuk. "No, I was in hurry for finishing my works. R u ok? and bla...bla...bla"

Fiuhh...saya masih harus piket sampai jam sembilan malam nanti, dan perut saya sedang sebah dan sakit karena hari pertama menstruasi.

Rabu, 07 April 2010

tomorrow....


And I wanna believe you...
When you tell me that it'll be ok...
Yeah I try to believe you....
("Tomorrow", Avril Lavigne)

Tujuh menit sudah lewat dari pukul setengah enam sore, dan saya masih di kantor. Baru saja rapat, dan sekarang kembali menarikan jemari di atas keyboard komputer. Ada sekotak susu ultra coklat di meja menemani. Demam beberapa hari lalu membuat saya harus terus memberi suplai minuman dan makanan sehat untuk tubuh saya.

Aktivitas hari ini segera selesai, dan masih akan ada hari-hari berikutnya. Besok, lusa, dan hari berikutnya. Besok sudah ada rencana ke Puspar UGM, wawancara peneliti di sana untuk lapsus tentang tour guide. Lalu ada undangan dari Direktur Galangpress untuk pre-launching buku di sana.

I always go with the flow now....


Jumat, 02 April 2010

Tanggal Merah yang Tidak Merah


Hari ini tanggal merah, tapi saya juga tetap ke kantor. Libur wartawan memang lain daripada yang lain. Di kantor, mengetik di bawah AC, dan kedinginan.

Ada yang lucu. Sekitar setengah jam yang lalu, Ahmad Dhani datang ke redaksi. Tak ada yang heboh, kecuali salah satu teman saya yang ingin berfoto bersama musisi arogan itu. Frankly speaking, saya suka beberapa lagu karya dia, but I do hate his behaviour. So arrogant. Bertatapan mata dengan dia tadi pun tak membuat saya bisa menemukan sisi yang menarik dari orang itu.

Hari ini saya lebih banyak menghabiskan waktu tertawa-tertiwi dengan beberapa teman kos sebelum berangkat ke kantor sekitar jam 15.30 tadi.

Kemarin, saya juga menghabiskan waktu nonton Percy Jackson and The Olympians di XXI dengan teman saya. Well, fine, saya ngaku, dia sosok baru yang tiba-tiba muncul itu. But, so far, I do have no intention to him. Belum ada lah... Tapi tak ada salahnya memberi kesempatan bagi dia untuk mencoba mendekati saya. U know, ketika kemarin kami makan di Waroeng Steak setelah menemani dia sholat di masjid kampus UGM, saya iseng nanya kenapa dia mau aja repot-repot bawa oleh-oleh untuk ibu saya ketika dia datang ke rumah untuk kedua kalinya. Then he said, "Itu bagian dari amunisi donk,". Hahaha...dia mengakui secara implisit. Dan memang tidak salah. Let see saja. Seberapa kuat dia menghancurkan benteng pertahanan hati saya.

Well, insyaallah Sabtu sore besok saya mudik lagi.
Sore ini tiba-tiba kangen bicara dengan seseorang....


Rabu, 31 Maret 2010

masih sayang


"Masih sayang Novi," kata dia pada saya sekitar seminggu yang lalu. Sebenarnya saya tak berharap dia bicara seperti itu, tapi apa yang dia bilang itu cukup membuat saya merasa masih berarti bagi dia. Toh, saya merasa sebulan kemarin kami memang terlalu sibuk dengan urusan kami masing-masing. And he said it too, that he was too much busy to have a contact with me. And I do really understand.


Seharusnya saya berterimakasih pada Allah, Tuhan saya. Saya tak pernah merasa sendirian, bahkan saat saya patah hati sekalipun. Allah selalu sesegera mungkin memberi saya penawar.

Cinta pertama saya itu, saya rasa hanya kembali lewat saja. Euforia masa SMA yang kembali tersulut untuk sesaat. I think I have to let him go now, meskipun saya sebenarnya ingin menanyakan kenapa dia melakukan itu semua buat saya selama saya menghabiskan cuti di Jakarta sebulan yang lalu. Menjemput saya pagi-pagi di stasiun, padahal dia harus segera ikut rapat kerja kantornya di Puncak. Bolak-balik dengan Ninja birunya hanya untuk mengantar-jemput saya. Man, Depok ke Puncak, Puncak ke Depok, atau Depok ke Kemayoran tentu bukan jarak yang dekat! Bahkan, izin satu hari dari kantor saat hari terakhir cuti saya. If he had a girlfriend, he shouldn't do that. Then why did he tell me that her GF is such a possessive girl who always said to him, "awas, jangan macam2! awas, jangan boncengin cewe lain!" and call him more than twice a day just to ask "posisi dimana?".
I think, kalau dia sudah yakin dengan gadis itu, don't let me coming back into his life. Gosh, saya gak patah hati, sudah lewat masa itu. Saya lebih merasa kecewa, karena dia tak jujur. Kalau menginginkan saya, he should leave that girl, of course. Saya pun masih sayang pada dia, tapi rasa itu sudah melewati ambang batas patah hati. Mungkin sudah seperti rasa sayang kepada kakak atau saudara. Meskipun, saya pun masih mau kalau dia melamar saya. Hahaha.. Engga dink, entahlah, saya samasekali tak yakin.

Then, I don't know why God still send me a brand new guy. Saya kenal dari salah satu senior saya. Dia juga wartawan. Dan, dia berani datang ke rumah saya, bertemu ibu saya. I mean, saya pun memperbolehkan dia datang. Padahal, another guy yang sejak dulu memaksa bertemu ibu saya pun tak pernah saya perbolehkan. Saya mengizinkan karena basically saya merasa dia orang yang baik. Dia seperti cinta pertama saya, a young man yang masih selalu ingat untuk berbelok ke masjid begitu adzan berkumandang.
U know, buat saya, pria yang taat beribadah dan cerdas tentu (Insyaallah) akan bisa membawa saya ke arah yang lebih baik. Actually, I found it in my abi, but lot of things yang menjadi border di antara kami... :(

Saya sekarang menjalani hidup apa adanya. Go with the flow....
Orang baru itu, saya tahu dari teman saya, memang having an intention to me, I mean a serious intention. Tapi, saya juga belum yakin. Should ask it to abi... :D


Rabu, 24 Maret 2010

blank


Saya piket malam ini. Di meja saya ada sebotol joy green tea dan kraft keju cake favorit saya. Being the only girl in this office, again. Jam sembilan masih sekitar satu jam lagi. Entah apa yang ingin saya tulis di sini. Bingung.

Selasa, 16 Maret 2010

need him now


I miss my abbi
I need to talk to that guy
After all those times,
after I met another guy from my past time,
and also a brand new guy....
I feel a bit confused and sad now...
about what had happened in my life a few weeks ago....
about what actually God mean about these all
about God's plan for my life.

Selasa, 09 Maret 2010

who really loves me?





Sudah lewat sepuluh menit dari jam setengah enam sore. Saya sudah menyelesaikan beberapa tulisan, tapi tak bisa beranjak keluar kantor. Di luar, hujan deras dan angin yang cukup kencang cukup membuat saya ngeri untuk keluar dari ruangan ini.

AC masih berhembus kencang di ruangan ini. Bahkan sampai saya dan salah satu teman kantor saya harus memakai jumper kami untuk menahan dingin. Damn...remote ACnya entah disembunyikan dimana. Saya harus agak menahan sakit di perut saya. Hari pertama mens. Cukup membuat duduk saya tak nyaman. Sakitnya tak seberapa, tapi cukup membuat saya menderita juga.

Saya bersyukur dia sudah baik-baik saja. Ya, now I wanna told u all about him. Cinta pertama saya yang baru seminggu yang lalu saya temui di Jakarta. Kemarin malam dia bilang kembali tepar karena radang tenggorokan yang membuat dia demam dan tak masuk kantor. Today, dia bilang dia sudah baik-baik saja karena dokter sudah memberinya obat yang mujarab. Gara-gara menu di Hoka-Hoka Bento yang mengandung udang, dia pun alergi dan terkena radang di tenggorokannnya. Thanks God, he is fine.

Well, sebenarnya saya juga tak memahami secara persis apa rencana Tuhan untuk hidup saya. Dalam waktu sesingkat ini saya kembali menemukan apa yang sempat hilang di antara kami. Saya juga belum tahu secara pasti, siapa yang benar-benar ada buat saya selama ini.
Saat dia (another guy that I always talked about in this blog) tengah sibuk dengan hari-harinya dan bahkan
seperti melupakan saya, dia (sang cinta pertama saya) kembali ada untuk saya. Meskipun dari kejauhan.
So, theme for today is....who really loves you?
Saya merasa, cuti beberapa hari yang saya habiskan di Depok, Jawa Barat dan Jakarta bersama dia dan teman-teman saya di sana cukup membuat saya sadar bahwa sebenarnya rasa itu masih ada. Rasa itu mungkin hanya sempat tertimbun oleh jarak dan waktu yang membuat kami terpisah. Ah...entahlah...saya tak ingin banyak bercerita di sini. Bingung bagaimana menjelaskannya.
Hari ini pun saya baru tahu bahwa dia--yang sudah seperti ingin menjauh dari saya-- memang tengah pergi jauh. Biarkan saja. Saya tak punya cukup hak untuk memintanya selalu memberitahu saya apapun yang ia lakukan.
Walaupun saya juga sudah pernah bilang, mereka berdua sama pentingnya bagi saya, dan mereka memiliki posisi masing-masing di hati saya. But, I have to find who really loves me, right...?

Rabu, 03 Maret 2010

Kembali ke Jogja


Saya baru kembali ke Jogja jam 5 pagi tadi dengan kereta Senja Utama kelas bisnis dari Stasiun Pasar Senen, Jakarta ke Stasiun Tugu, Yogyakarta. Cuti empat hari kemarin cukup membuat penat di badan dan pikiran saya agak menghilang.

Jumat malam saya meluncur ke Jakarta, setelah sebelumnya menyelesaikan semua tugas yang harus saya selesaikan sebelum long weekend kemarin. Ah, saya masih terlalu lelah menceritakan semuanya. And u know what, kembali ke Jogja sebenarnya kini tak lagi sebegitu saya inginkan sekarang. Toh, tak ada siapapun di sini yang mungkin sangat merindukan saya lagi.

Kamis, 25 Februari 2010

miss him, actually

Some people say
That everything has got its place in time
Even the day must give way to the night
But I'm not buying
Cos in your eyesI see a love that burns eternally
And if you see how beautiful you are to me
You'll know I'm not lying
Sure there'll be times we wanna say goodbye
But even if we try
There are some things in this life won't be denied
("Swear It Again"-Westlife)

Sebenarnya, beberapa hari ini saya tak ingin mengkhawatirkannya. Saya tak ingin terlalu memikirkannya. Tapi jujur, saya tidak bisa. Meskipun dia bertahan dengan kediamannya tanpa menjelaskan apapun pada saya dan bahkan membiarkan saya terlunta dengan mendiamkan pesan yang saya kirim, saya masih memikirkannya. Saya merasa terabaikan lagi. Kalau dia memberi penjelasan, saya toh akan sangat mengerti. Insyaallah. Tapi sikap diamnya seperti ini malah menyiksa saya. Setiap detik.

Malam ini saya agak demam, gara-gara hujan yang benar-benar mengguyur saya tadi siang.

Sekarang sudah lewat tigapuluh menit dari jam sebelas malam. Saya masih harus menyelesaikan beberapa tugas laporan khusus. Masih pula harus packing, karena besok sore saya akan meluncur ke Jakarta. Cuti sejenak dari rutinitas pekerjaan di kota ini. Sejenak pula "melupakan" dia yang masih ingin mendiamkan saya.Swaragama sedang memutar "Swear It Again" sekarang. Lagu lama masa SMA saya dulu. Don't know why, I wanna cry after hearing it.

I miss him. I swear it all over again....

Selasa, 23 Februari 2010

Don't Go Away

A cold and frosty morning, there's not a lot to say
About the things caught in my mind
As the day was dawning my plane flew away
With all the things caught in my mind
And I wanna be there when you're coming down,
and I wanna be there when you hit the ground
So don't go away...
Say what you say
But say that you'll stay.....
Forever and a day...in the time of my life
Cos I need more time, yes I need more time
Just to make things right
Damn my situation and the games I have to play
With all the things caught in my mind
Damn my education I can't find the words to say
About all the things caught in my mind
Me and you, what's going on?
All we seem to know is how to show
The feelings that are wrong
("Don't Go Away"-Oasis)

Senin, 22 Februari 2010

Sedang Ingin Diam?


Sepertinya dia sedang ingin diam. Tak ingin diganggu. Tapi saya jadi berpikir, apa ada hal salah telah saya perbuat. Beberapa hari ini saya merasa teramat jauh dari dia. Saya jadi berpikir, seperti apa seharusnya saya bersikap. Seringkali dia tiba-tiba seperti raib dari hari-hari saya, lalu kembali datang dengan sebongkah besar rindu. Dan saya harus selalu menunggu. Hanya itu.

Jumat, 19 Februari 2010

mengerti


Hari ini hujan tiba-tiba mengguyur lagi. Saya pun cukup basah kuyup siang tadi karena diguyur hujan usai liputan, sepanjang jalan menuju ke kantor.

Sudah hampir maghrib dan saya masih di kantor. Saya tak piket malam ini, tapi ada beberapa tugas yang musti saya selesaikan. Apalagi besok saya ingin mudik lagi.

Kemarin, selepas maghrib saya meluncur ke sebuah perguruan tinggi. Rencana spontan untuk makan di Waroeng Steak dengan salah satu teman, dan kami bertemu di ruang humas perguruan tinggi itu. Gedung tinggi itu sudah semakin sepi karena satu per satu mahasiswa-mahasiswa di hall besar itu sudah pergi usai maghrib. Seperempat jam saya di sana, menunggu teman saya menyelesaikan pekerjaannya, lalu kami naik motor masing-masing menuju WS Demangan. Makan sambil ngobrol, girl's talk time.


And I miss him now....don't know why....
Kemarin pagi, saya sempat memberitahu dia bahwa dia kembali masuk ke mimpi saya. Dia membalas dan meminta saya menceritakan mimpi itu. Tapi setelah itu, tak ada kabar. Saya pun mengerti, dia sibuk. Setelah itu, saya sempat mengirim sms lagi, tapi saya tak mendapat balasan. Saya pun tetap berusaha mengerti.

Hari ini, tak ada secuil pun kabar dari dia. Dan saya mengerti, mencoba mengerti.

Rabu, 17 Februari 2010

memompa semangat


Saya piket malam ini. Tukeran dengan salah satu teman. Di luar masih ada sisa-sisa hujan deras sejak petang tadi. Perut sudah terisi, tapi kok jadi terasa lapar lagi.

Sejak pagi tadi saya sangat produktif. Liputan kesana-kemari. Setelah sebelumnya saya berhari-hari sempat agak disorientasi, hari ini semangat saya agak terpompa. Mungkin karena tadi liputan dengan salah satu sahabat lama saya. Teman wartawan Kompas yang jadi tandem saya waktu saya liputan di Bantul sekitar pertengahan 2006 sampai awal 2007. Benar-benar sahabat yang menyenangkan. Liputan dengan laki-laki yang usianya di bawah satu setahun lebih itu memang selalu menggembirakan, ada aja yang bisa bikin kami tertawa.
Saking produktifnya, tadi baru jam 12.00 kami sudah mendapat empat berita. Kami stopped by di SGPC Bu Wiryo di Selokan, sambil makan, ketawa-tawa. Reuni yang menyenangkan, karena sebelumnya dia lama di Kulonprogo. Hari ini pun dia ke Sleman karena menggantikan teman dia yang sedang mengambil cuti. Dari SGPC kami numpang duduk di salah satu gedung FKH dan menelepon narasumber untuk sekedar konfirmasi ulang. Lalu kami ke kantor masing-masing.
Ohya, di SGPC, ketika saya keluar sambil memasukkan selembar seribuan ke depan grup musik yang selalu live performance di sana, tiba-tiba ada laki-laki muda rapi menyenggol tangan saya. Ya Allah, teman saya, mas Isro, humas ANTV. Dia hanya sehari di Jogja entah untuk tugas apa, dan tadi dia bilang, "aku teleponin dari tadi non...". Hahaha....malah met me by chance di sana. Sore tadi setelah sempat delay karena hujan deras akhirnya dia balik ke Jakarta.

Ohya, kemarin malam, waktu saya dan teman kos sedang berkeliling Carrefour Amplaz untuk berbelanja kebutuhan pokok anak kos (haha..), tiba-tiba ada sms masuk. Wartawan lima tahun lebih tua dari saya itu memang akhirnya benar-benar akan dipindahtugaskan ke Balikpapan. Kemarin dia dipulangkan ke Jogja hanya untuk packing barang dan sekedar pulang kampung untuk berpamitan dengan keluarganya di Jatim. Well, for the last time, saya akhirnya mengiyakan ketika dia ingin mengajak saya keluar. Dia jemput saya di kos, lalu kami makan berempat. Akhirnya memang makan berempat dengan dua teman lainnya. Meski berempat, tapi entah kenapa kemarin malam dia sepertinya benar-benar berani terus-terusan mengungkapkan perhatian dia ke saya.
Well, saya sedih, tapi hanya sebagai teman. Saya juga kasih dia kado perpisahan juga sebagai teman, sekaligus permintaan maaf saya, karena saya merasa mungkin sudah bersikap agak jahat ke dia selama ini. And I can saw how sad his eyes when he leave my dorm last nite.

Well, about another guy.
Kemarin, saya sms dia, "Is he ok?". Lalu dia jawab, "He is ok, how ab she?". Lalu saya jawab dan bertanya secara implisit apakah dia sudah membaca semua postingan terbaru di blog saya yang saya tulis selama dia masih ditimbuni kesibukan dia. Tapi sampai detik ini dia tak memberi balasan atau bahkan sedikit kabar.
Gosh...saya harus mengerti. Tak boleh meminta berlebih.
Saya rindu mendengar dia bilang dia rindu pada saya.

merenung


entah kenapa saya suka foto ini....
saya kasih caption "merenung"

Senin, 15 Februari 2010

Lega


Akhirnya saya agak bisa bernafas lega. Sepanjang 42 menit 54 detik tadi pagi saya berbicara dengan dia. Telepon tiba-tiba dari dia tadi pagi cukup membuat saya merasa lega. Meskipun banyak hal yang belum dia pahami dari apa yang kami bicarakan tadi. But thanks God he is fine.... And knowing that he still missing me and thinking about me juga membuat pagi saya menjadi terasa lebih indah.


Sebenarnya, Minggu pagi kemarin dia juga menghubungi saya, meski hanya lewat beberapa sms yang terpatah-patah dalam jeda yang sangat panjang. I know, he's so much busy. Tapi selintas senyum saya muncul ketika tiba-tiba sore kemarin dia bilang di salah satu smsnya, "Happy Valentine's day", yang kembali dia ulangi tadi saat menelepon saya.
Well, I don't even think that it was a meaningful day. Tapi saya senang dia ingin mengucapkannya untuk saya. Seperti tahun lalu, Val's day tahun lalu, dia menelepon saya tengah malam dan mengucapkannya juga.

Sesore ini dia tak memberi kabar, semoga dia baik-baik saja. Amin.

Sabtu, 13 Februari 2010

mimpi


Saya mimpi aneh sekali semalam. Mimpi yang sangat bodoh!


Setting mimpi itu, u know, it was so ridiculous...di SD saya. Sangat detail. Mulai dari pagar sekolah, kelas 6 di pojok depan di dekat gerbang, hingga kantin favorit saya dulu. Tapi entah apa ceritanya, di mimpi itu saya sudah dewasa, bukan lagi anak SD. Teman-teman yang saya temui pun malah teman-teman SMP, SMA, hingga teman-teman kuliah.

The shocking moment di mimpi saya itu, ceritanya ada teman laki-laki saya yang ingin melakukan "penembakan" layaknya para pejuang cinta di reality show "Katakan Cinta" (yang sekarang sudah tidak tayang lagi). Dia mengumpulkan banyak siswa di luar gerbang untuk "menembak" saya. Sayangnya, tak jelas siapa dia di mimpi saya itu. Di mimpi itu pun saya malah memilih tetap masuk kelas, meski beberapa teman bilang agar saya keluar gerbang.

But the most shocking moment di mimpi saya itu, ada pria yang menjadi guru saya dan bertanya, "Kenapa ada ribut-ribut di luar?". Lalu teman-teman saya menjawab, "Ada yang mau nembak cewek pak". And I just keep silent....

Gosh...! It was him! He became as a teacher in my class!! I don't know how can he entered my dream last nite....
Well, I do, I was thinking about him. Tapi semalam saya memang samasekali tak berharap dia akan menghubungi saya. Meski saya ingin. Dan sampai siang ini saya juga tak berani menanyakan apapun kepada dia. Sometimes I have to control myself not to push him to understand me. Eventhough I miss him.

Sekarang masih hujan deras, padahal saya ingin segera meluncur ke kampung halaman.

Jumat, 12 Februari 2010

jodoh

Berhujan-hujan lagi hari ini.
Seharian ini Jogja ditutup mendung gelap dan terus-terusan hujan.

Jelang sore, saya meluncur ke sebuah perguruan tinggi untuk bertemu dengan salah satu narasumber. Lalu numpang mengetik sekaligus mengirim berita ke redaktur saya di kantor humas PT tersebut. Lalu pulang ke kos karena janjian dengan salah satu teman kos berbelanja sebentar ke Super Indo yang tak sampai satu kilometer dari kos. Hanya sejam, lalu saya meluncur ke daerah Pandega Padma untuk menjemput teman kampus saya yang kebetulan bekerja menjadi editor di Penerbit Bentang (penerbit yang dulu sudah mau mempekerjakan saya sebagai editor setelah saya lulus, tapi saya tak jadi mengambil kesempatan itu). Di sana, terjebak hujan deras. Alhasil, saya duduk mengobrol dengan beberapa orang di sana. Sambil menghitung-hitung budget yang ingin saya keluarkan karena tiba-tiba banyak sekali buku di sana yang menarik perhatian saya. Satu set lengkap serial Laskar Pelangi Rp 165 ribu, Sehat Tanpa Dokter sekitar Rp 70 ribu, dan beberapa buku lain langsung memikat saya. Harga teman, lumayan lebih murah dibanding membelinya di toko buku. Ada yang ingin saya miliki sendiri, ada yang ingin saya belikan untuk ibu saya, dan beberapa orang lain.
Di sana, I also met my senior, by chance. Sejak saya masuk ke parkiran, kakak tingkat saya yang juga jadi freelance editor itu katanya sudah merasa mengenal saya. Haha...he said that I had a really different look dibanding zaman kuliah dulu.

Ba'da Maghrib tadi memang saya janjian dengan beberapa teman kampus di Pondok Cabe Gejayan, a little gathering yang selalu kami gelar tiap kali ada teman kuliah yang akan menikah. Yang dibicarakan apa lagi kalau bukan rencana kondangan rame-rame ke sana, dan kado apa yang akan diberikan. Mau uang, atau barang. Tugas kami yang masih di Jogja juga buat mengkoordinasi temen-temen yang udah berpencar di Riau, Padang, Jakarta, sampai Aceh dan daerah lainnya yang ingin mentransfer uang ketika ada teman yang menikah.
Oh ya, di angkatan saya, ada pameo bahwa teman yang bertugas menjadi bendahara untuk kondangan teman angkatan akan ketularan menikah dalam waktu dekat. Entah karena apa-- tapi menurut saya hanya kebetulan--, memang beberapa kali terbukti. Nah, ketika tadi ada teman yang nyeletuk, "Ita (some of my friends called me "Ita"), kamu aja yang ngumpulin uangnya, biar ketularan!", saya langsung bilang," Ah engga ah, belum mau ketularan cepet-cepet!"... Hahaha...

One shocking moment terjadi ketika saya membuka undangan teman saya itu. Well, teman saya satu ini memang juga teman seangkatan saya di SMA. Hal yang membuat saya kaget ketika saya membaca nama mempelai pria dan foto pre wed mereka. GOSH! Mempelai prianya juga teman SMA saya! Meski tak kenal langsung, saya tahu laki-laki muda itu! Dan saya tak berpikir bahwa teman saya akan menikah dengan dia!
I mean, sejak teman saya memberitahukan kabar bahagia itu via Facebook, saya berpikir bahwa dia akan menikah dengan cowok dia yang selama ini saya tahu. Saya tidak mengenal cowok itu, tapi saya tahu ceritanya. Saya menyebutnya "anak cafe" karena tipikalnya memang cowok gaul yang hobi keluar masuk cafe dan tempat "gaul" lainnya. Saya menyimpulkannya dari foto dan status-status yang dia pasang di FB, karena memang dia juga meng-add saya sebagai teman di FB.

Gosh! It was a really big surprise! Saya kembali disadarkan tentang rahasia Allah tentang jodoh. Ternyata, dari cerita salah satu teman saya, kedua calon mempelai itu bertemu lalu memutuskan untuk menikah dalam waktu tak sampai dua bulan!! Konon, mereka bertemu saat teman saya itu menunggu sang ibunda yang sakit di rumah sakit. Mereka berdua tak sengaja bertemu di RS.
Ya Tuhan...tadi saya sampai tak percaya. Teman saya kuliah di UGM seperti saya, dan calon suaminya itu dulu setahu saya kuliah di UPN, teknik apa saya lupa. Dulu saya kelas 2.6, si cewek 2.4, dan si cowok 2.5. Setahu saya, ketika kelas 3 mereka juga tidak satu kelas. Setahu saya, dulu sepertinya juga mereka tidak sempat crush each other alias saling jatuh cinta. Teman saya, tipikal cewek kenes yang cerewet dan hobi berdandan, dan sudah berulangkali bergonta-ganti pacar. Si calon suami, sejak SMA memang sangat pendiam, serius, dan berkacamata. Gosh!! Tuhan Maha Besar. Dia berkehendak, apapun bisa mungkin terjalin dan terjadi. Subhanallah... Saya ikut bahagia.

Jodoh. Hmm...sesuatu yang sangat-sangat absurd. Ada orang yang merasa berjodoh, menikah, tapi kenapa akhirnya bercerai. Well, saya tak mau membahasnya. Terlalu berat. Usia 27 tahun yang terstempel di jidat saya juga sepertinya masih kurang pantas buat saya yang sepertinya masih lebih sering bersikap childish dibanding bersikap mature. Malu sekali rasanya, sok-sok ingin membahas tentang jodoh.

Ohya, pagi tadi saya mendapat sms dari dia. Mengabarkan sesuatu. Lalu saya bilang, "take care your health", lalu dia bilang, "thanks for pray", lalu saya bilang, "nothing more I can do", lalu tak ada jawaban. Sampai malam ini. Dan saya memilih untuk diam, tak ingin mengganggunya. Meski saya ingin. Ingin mengganggu dia dengan pelukan saya dari jauh.

Ohya, siang tadi usai shalat Jumat, sang cinta pertama saya juga mengirim sms. Hanya menanyakan apakah saya sudah makan siang, apakah saya berencana pulang kampung minggu ini. Dia sedang makan siang usai shalat Jumat, dan ritme kehidupan di Jakarta yang sudah mencerabutnya dari kisah hidup saya sejak dia memutuskan untuk kuliah di sana juga mencerabutnya kembali hari ini. "Udah jam 13.30, aku masuk kantor dulu ya," kata dia. Waktu istirahat selesai, dan dia kembali berkutat dengan pekerjaannya. He's always too much study-oriented ketika kuliah dulu, dan sekarang...terlalu workaholic. Kaku.

Dua laki-laki yang sibuk, di dua dunia yang berbeda, dari dua masa yang berbeda, di dalam hati yang sama, di sekat yang berbeda, entah dengan persentase rasa yang berbeda pula ataukah sama.

Dan malam ini, saya tak mengharapkan siapa-siapa.

Kamis, 11 Februari 2010

so much worry


Pagi tadi saya terbangun sekitar pukul 03.00 kurang beberapa menit. Di antara remang lampu kecil di kamar saya, saya mencari-cari hp. Hp simpati saya temukan di bawah selimut, tepat di bawah betis saya. Hp xl saya temukan masih tergeletak manis di meja kecil di samping bed saya. Tak ada missed-call, tak ada pula sms. Saya tak marah, tapi sedih dan khawatir. Karena mata sudah tak bisa terpejam, saya lalu mulai surfing di internet lewat hp, membuka akun facebook saya, dan menulis status "kepikiran, kangen, plus kuatir".

He's not okay. That's why I was so much worried, until now.
Sekitar pukul 05.00 pagi, akhirnya ada sms masuk. Sayangnya, saya sudah telanjur tertidur lagi. Sms itu semakin membuat saya khawatir, karena dia bilang his health is getting worst.

Demi Tuhan, saya selalu serius ketika saya bilang saya mengkhawatirkannya. Saya selalu benar-benar khawatir. Entah dia merasakannya apa tidak. Kondisi seperti ini juga selalu membuat saya tak berdaya karena saya tak bisa berbuat apapun untuk dia, kecuali berdoa agar segala hal buruk segera pergi dari tubuhnya.

Sebenarnya, semalaman saya gelisah. Ingin bercerita sesuatu pada dia, tapi saya harus mengerti kondisi dia yang sedang tidak baik-baik saja. Sekali lagi, saya mendengar hal buruk mengarah pada dia, dan saya ingin bercerita pada dia untuk membantu dia menghindari hal buruk itu. Okay, jujur, beberapa persen dari hal buruk yang saya dengar itu memang membuat saya agak sedikit merasa jealous. But, more than that, saya lebih mengkhawatirkan dia. Saya tak ingin hal buruk itu menyelimuti kehidupan dia tanpa dia sadari.

U know, saya memilih menjalani alur cerita saya dengan dia tanpa tendensi apapun. Saya bahkan samasekali tak pernah berpikir ingin mengambil apapun dari dia, kecuali indahnya rasa yang kami miliki. So, ketika saya mendengar ada orang jahat yang berusaha mengambil sesuatu dari dirinya, saya merasa teramat-sangat khawatir dan tidak terima. Saya memang tak bisa berbuat sesuatu yang riil untuk mencegah banyaknya arus buruk, licik, atau bahkan jahat yang ada di sekeliling dia. Saya hanya bisa berbagi pandangan dan pendapat saja, agar dia bisa menghindari mereka.
Mungkin memang tak akan ada orang yang bisa mengerti apa yang kami rasa dan kami punya. But I do still believe on him.

Ya Tuhan...I do care of him. Tolong hilangkan rasa khawatir saya yang mungkin terlalu berlebihan ini. And please, hug him from all of those bad things. Amin.

Rabu, 10 Februari 2010

what is love?


Bukan karena jelang Valentine's Day kalau hari ini saya ingin menulis tentang cinta. Toh, sejak lepas dari SMA saya juga tak lagi terbawa-bawa budaya perayaan tidak jelas itu.

So, what kind of thing that u called as "love"?
Let me tell u.

Buat saya, cinta adalah sebuah hal yang absurd. Sebuah rasa yang bahkan tak akan pernah bisa dideskripsikan dengan jelas. It took times buat saya untuk bisa bilang bahwa saya memiliki cinta untuk seseorang (except my parents and my families of course, buat mereka, cinta sudah terlahir bersamaan waktunya dengan saat kelahiran saya).
Dari banyak relationships yang pernah saya miliki, hanya dua kali rasanya saya memiliki cinta. Sisanya? Hmm..mungkin sekelebatan rasa, entah apa namanya. So, buat saya, sangat berat dan penuh pemikiran ketika akhirnya saya bilang "I love u". Meskipun tentunya hal itu akan saya katakan ketika kami sudah berada dalam sebuah jalinan hubungan, bukan di awal hubungan.

Saya rasa, saya masih menyimpan cinta pertama saya itu. Apalagi, sekarang dia berbalik menjadi kembali sangat-amat-sangat care pada kehidupan saya. Dalam bentuk yang riil. I mean, we have a brand new connection. With a brand new feeling.
I know, ada yang akan merasa jealous dengan apa yang saya tulis ini. Dalam beberapa batasan, ia mengaku bahwa ia memang cemburu. But u know what, those two guys have their own position in my life. Keduanya pun sangat berarti bagi saya.

Okay, I will talk about my man. I love him. Gosh...ya, I do love him.
Eventhough I don't really know what kind of love that I have for him.

Mencintainya tetap saja indah, meskipun lebih sering rasanya seperti merajam hati saya dengan puluhan pisau. Terutama saat saya menginginkan dia ada bersama saya.
Mencintainya berarti mau mengerti segala kesibukan dia dan mau menunggu sampai dia tiba di hari saya.

Mendengarnya sehat dan baik-baik saja, itu sudah membahagiakan.
Mendengarnya sakit dan saya tak bisa menemaninya, itu sudah sangat menyakitkan.
Lalu mendengar pembahasan buruk mengenai dirinya, itu juga sangat membebani.

Love is just love.
I do appreciate all that we have, all that we have been through for years.
And as we promise, we always tried to keep it. As long as we can.

Senin, 08 Februari 2010

sakit plus kangen

Sakit perut. Baru mulai menstruasi kemarin malam, dan tadi pagi harus berjibaku dengan ratusan kendaraan sepanjang jalan Jateng-DIY. Sekarang jadi sakit perut, padahal biasanya juga tak pernah ada sakit yang berarti tiap tamu bulanan itu datang. Alhamdulillah saja lah..nothing wrong with my health. Sakit perut ini juga tak sebegitu sakitnya. Sakit ini kemungkinan besar dipicu oleh rasa capek. Itu menurut beberapa literatur yang pernah saya baca.

Telepon selular saya yang isinya simcard Simpati saya matikan jelang Maghrib tadi. Malas sekali rasanya, banyak sekali pesan dan telepon masuk hari ini. But..I don't know apa dia masih mengirimi saya pesan lagi. No, saya mematikan hp bukan untuk menghindari dia, tapi orang-orang lainnya (I'm sorry, my man....) Mungkin ada beberapa sms dia yang pending dan baru akan bisa saya baca nanti setelah saya menghidupkan hp.

Siang sampai sore tadi saya memang menghabiskan waktu dengan deretan sms dia. Well, sometimes I don't know how should I'm dealing with my desire. My desire to be with him. Sometimes I couldn't handle that. Tapi ada jarak, waktu, dan kesibukan.

Kemarin, saya di rumah. Ketika dia tiba-tiba menelepon, it was so exciting for me. Buat saya, tahu bahwa dia sehat dan baik-baik saja, itu sudah sangat membahagiakan. Buat saya, tahu bahwa dia masih mengingat saya ketika dia ditimbuni kesibukan, atau saat dia menghabiskan waktu luang yang dia punya, atau bahkan saat dia sedang tidak baik-baik saja...itu juga sangat berarti bagi saya. Berarti karena dia membuat saya merasa memang berarti bagi dia. Meskipun saya juga tidak tahu seberarti apa saya buat dia.

U know...sometimes, saya ingin melarikan diri dari kesibukan manusia yang sangat duniawi ini. Untuk beberapa saat. Lalu terbang jauh bersama orang yang saya cintai, ke tempat dimana tak ada orang yang mengenali siapa kami, darimana asal kami, bahkan nama kami. Menghabiskan waktu bersama, membangunkannya jelang Subuh, membuatkan sarapan sederhana, lalu menyusuri bibir pantai sebelum matahari muncul.... (hahaha...is it ridiculous?).
Jadi inget satu film Richard Gere, lupa namanya. Soal seorang pria dan wanita yang bertemu di sebuah penginapan di tepi pantai. Dua-duanya sedang ada masalah, mereka ingin lari dari masalah, dan bertemu di penginapan itu. Only both of them. Well, cerita film itu memang tak ada korelasinya dengan imajinasi saya. But, that inn...penginapan di tepi pantai di film itu...soooo cozy.

Well...I think I have to learn how to handle my eagerness. Which one is easy to be realized, which one is impossible to realized.

Gosh, I miss him...so much.

Jumat, 05 Februari 2010

Li'l Bit Frustrated



I felt that I was li'l bit frustrated last nite. Saya tak tahu, seingat saya, saya sudah berdoa sebelum tidur. As usual. Tapi sampai lewat dini hari saya masih saja tak bisa tidur. Bahkan cenderung gelisah. Saya terbiasa tidur dengan lampu kecil, dan kemarin malam saya malah tidak bisa tidur. Alhasil, lampu besar di kamar saya harus saya nyalakan sampai pagi.

I think I was a l'il bit frustrated. Atau, jangan-jangan ada orang yang memikirkan saya kemarin malam? Sangat memikirkan saya? Entahlah... Mestinya, banyak orang...haha....
Well...I don't really know.
I always frustrated if I feel that I miss him.... Just like last nite, I only could looked at my cellular phone, and nothing I could do.
Hari ini saya berhujan-hujanan lagi. Sekitar pukul 14.00 saya janjian wawancara dengan salah satu dosen di Fisipol UGM. Dulu waktu kuliah, beliau adalah dosen favorit kami di FIB. Saya pun mendapat nilai A untuk dua mata kuliah wajib universitas yang beliau ampu. Setelah wawancara, saya dan seorang teman yang kebetulan ikut pun harus berlarian di antara hujan deras dari Fisipol menuju Perpus UPT I yang notabene berada di depannya. Basah kuyup, of course. And we got nothing, karena kami berlarian hanya untuk mengejar staf Obama yang konon mampir ke UGM untuk membicarakan rencana kedatangan Obama, tapi nyatanya mereka sudah pergi. Fiuuh....
Gosh...sekarang saya masih di kantor. And I miss my man.
I wanna be with him, in that iron bird.
Looking for a sunshine in the sky. Anywhere....

Kamis, 04 Februari 2010

I Miss Him, Now.



To see you when I wake up is a gift I didn´t think could be real
To know that you feel the same as I do is a three-fold, utopian dream
You do something to me that I can´t explain
So would I be out of line if I said, I miss you?
I see your picture, I smell your skin on the empty pillow, next to mine
You have only been gone ten days, but already I´m wasting away
I know I´ll see you again, whether far or soon
But I need you to know that I care, and I miss you....

("I Miss You"-Lifehouse)


Pukul delapan malam kurang sepuluh menit. Saya masih di kantor. Piket. Di luar hujan, so that's why masih cukup banyak orang yang stay di kantor meski mungkin halaman mereka sudah selesai masuk pracetak. It's been a while sejak saya menulis di blog ini Senin lalu.

You know, I feel like I cannot explain what actually I'm feeling now. Meski agak sedikit kehilangan bara semangat, selama tiga hari ini saya juga masih tetap menjalankan tugas jurnalistik saya. Well, I have to be a professional journalist, of course.

U know, entah kenapa, kemarin saya merasa dada saya agak sesak membaca pesan singkat dia.Saya serasa ingin bilang, saya ingin pergi bersama dia. Membuat jejak di angkasa di dalam tubuh burung besi itu.
But, what can I do? Nothing.
And I miss him now....

Senin, 01 Februari 2010

exhausted



Even if you were a million miles away
I could still feel you in my bed
Near me, touch me, feel me....
("try sleeping with a broken heart"-Alicia Keys)

Entah dia dimana, sedang apa. Saya mencoba menanyakan kabar dia hari ini, tapi sepertinya dia sedang teramat sibuk. Fine, I do have to understand.

Hari ini saya kelelahan. Jadwal kembali ke Jogja pagi tadi juga sempat tertunda karena hujan deras. Malam ini saya hanya ingin makan, mandi, lalu istirahat. Sebenarnya ingin sekali hunting buku di bookfair di JEC, but I feel really exhausted.

Lagu baru Miss Keys itu terasa enak sekali di telinga saya belakangan ini. Liriknya pun so deep. Saya tidak sedang brokenhearted, but lirik di awal-awal lagu itu "saya banget". I mean, meski dia jauh, I can still feel him near me....

Sabtu, 30 Januari 2010

still wanna be with him


Rasanya tak ingin melepaskannya untuk bergelut dengan kesibukannya tadi pagi. Rasanya saya ingin menahannya sampai selama yang saya mau. Rasanya masih tidak cukup sekitar dua jam semalam dan beberapa menit tadi pagi kami bertemu. Feels like I really wanna be with him a whole day...as long as we want....


We talked about many things last nite. We learn many things from all that we've been through during these two years.

And I do miss him now....


Jumat, 29 Januari 2010

menunggu


Saya sedang menunggu. Menunggu jarum jam pendek berada di angka sembilan, dan jarum panjangnya berada di angka 12. Menunggu jam sembilan malam. Lalu pulang ke kos. Hmm... mungkin mampir beli makan malam dulu, meski sudah telat. Lalu makan, lalu mandi. Saya masih piket, sampai jam 9 malam.

Penat. Ingin segera mandi, dan mengganti seluruh pakaian.

Saya juga akan menunggunya. Menghabiskan sisa malam dari ujung telepon. Berbicara tentang hidup dan cinta. Membiarkan saya direngkuh kata-katanya. Malam ini. Seperti malam-malam yang sudah lewat.

Di luar hujan. Dingin, ya Tuhan....

Kamis, 28 Januari 2010

menenangkan diri dalam hujan


Saya kehujanan hari ini. Tepatnya, sengaja berhujan-hujanan. Bermain hujan. Entah kenapa, malas sekali berhenti, membuka bagasi motor, lalu mengambil mantel biru saya, lalu memakainya. Padahal, sejak kecil, saya tak pernah sekalipun bisa dan diperbolehkan bermain hujan. Well, orangtua mana juga sih yang memperbolehkan anaknya bermain hujan (kecuali karena terpaksa hujan-hujanan saat pulang sekolah). Hmm..sepertinya ada. Ya, tetangga depan kost saya itu. Entah apa yang ada di pikiran mereka sampai-sampai mereka tenang-tenang saja membiarkan si anak-anak itu berlarian di tengah hujan. Well, this is not about my neighbour, this is about myself.


Hari ini, saya meluncur di tengah hujan. Menuju arah Pakem. Well...it wasn't a near distance from the center of this city. Ada Menkumham RI di Lapas Narkotika Sleman. But akhirnya saya dan teman-teman wartawan stay di RS Panti Nugroho karena Mbah Maridjan, sang icon Gunung Merapi, tengah dirawat di sana.
Sejak Jakal kilometer bawah sampai atas, hujan terus turun, dan saya malas berhenti. Sempat lebat, tapi kadang pelan, lalu deras lagi. Kemeja abu-abu tipis saya hanya berbalut cardigan rajut, tapi cukup menghalangi air hujan untuk membuat kemeja saya basah kuyup. Cardigan rajut favorit saya itu bahkan tak nampak basah.

Kadang, hujan membuat saya bisa lebih menguarkan emosi saya, menenangkan saya. Itulah, mengapa saya membiarkan hujan membasahi saya hari ini.

Hari ini, entah apa yang mendorongnya untuk menanyakan kabar saya. Entah kenapa pula hampir bersamaan waktunya ketika ada pesan singkat dari another guy.

I said to him, I miss him.
Then he said that he felt the same way.
Don't know how to handle this.
I'm dying. My heart is dying.


Rabu, 27 Januari 2010

new pic on FB


mengganti profile picture di Facebook hari ini, dan langsung mengundang banyak komentar via chat box FB....
well, terima kasih sodara-sodara atas pujiannya... :)
(location: mb dias' home, beside the x'mas tree. meski saya moslem, tapi foto di dekat pohon natal tak jadi masalah kan...?)

sekedar menelepon

Beberapa kali bunyi dering nada tunggu yang terdengar dari ujung telepon dan tak terjawab tadi pagi membuat saya agak sedih. Saya mencoba meneleponnya tadi pagi, sekedar ingin berbicara satu atau lima menit sebelum kami sama-sama tenggelam dalam rutinitas kami. Ketika saya meletakkan kembali ponsel saya, saya berpikir mungkin dia sudah telanjur sibuk.

Then I said "she tried to call him this morning" lewat pesan singkat. Jawaban dia bisa saya terima, karena saya lupa ini hari Rabu dan he has a thing to do every Wednesday morning. Tapi, saya sedih kenapa dia hanya memberi jawaban singkat, hanya meminta maaf, dan tidak bertanya ada apa sampai saya ingin meneleponnya. Well, saya jadi merasa menjadi pengganggu aktivitas dia hari ini.

Entahlah, saya mungkin yang sedang terlalu melankolis.

Gosh, I miss that guy. Staring at his eyes for a moment, that's enough. Melihatnya masih membiarkan bulu halus di dagu dia yang membuat saya teringat Paul Walker atau George Clooney, sudah cukup.

Selasa, 26 Januari 2010

terburu waktu

Pagi ini saya sudah keluar kos sekitar pukul 07.30. Ada janji dengan salah satu camat di wilayah Sleman, wawancara untuk profil. Melewati Jalan Magelang yang super-duper riweuh alias crowded cukup menguji kesabaran saya. Sempat melihat kecelakaan di depan Polres Sleman, membuat pagi saya hari ini semakin penuh ujian. Sekarang, saya kembali ke kantor, menunggu meeting rutin untuk semua reporter.

Sebenarnya, kalau tadi pagi saya tidak terburu-buru (bahkan sempat panik karena kunci motor sempat raib, menyelip di dalam kantong kamera), saya ingin menelepon dia. Hanya ingin berbicara sebentar dengannya sebelum memulai hari saya. Ingin tahu bahwa dia tetap baik-baik saja. Tapi, sayangnya, saya sangat terburu waktu.

I said I love him. A different kind of love. A pure, sweet, mature, and super-unique love that I have never had before.
Gosh, take care of him, please. Take care of us, too.

Senin, 25 Januari 2010

miss him much

Sejak siang sampai maghrib ini, hujan terus-menerus turun. Saya tidak ke kantor. Tapi bukan berarti meninggalkan kewajiban jurnalistik saya. Masih menelepon narasumber, untuk wawancara, membuat berita, lalu mengirimnya via email. Lalu menelepon narasumber lain, untuk membuat janji bertemu esok hari.

Mendung hitam yang seharian menggantung dan hujan yang terus saja jatuh selalu membuat saya melankolis. Entah kenapa, saya jadi teramat sangat merindukan dia.

Pagi tadi saya mencoba menelepon, tak ada jawaban. Tapi selang beberapa menit, dia balik menelepon saya. One simple question yang tumben-tumbennya dia katakan tadi pagi membuat ada aliran hangat menguar di dada saya. He called me "dik", satu sebutan yang sudah sangat jarang ia katakan sejak dua tahun lalu. I do like that, as well as when he called me "baby". Two sweet nicks. Yeah...it was just different dibanding beberapa orang lain yang juga kerap memanggil saya "dik".

Hampir seharian saya menghabiskan waktu dengannya dari kejauhan. Meskipun saya-- dan juga dia-- rasanya mungkin ingin berlari sekencang mungkin untuk bertemu. But it's not that simple....

Gosh...I do wanna have his tight hug now...