Sugeng tengah melayani pembeli dawet irengnya
WARNANYA hitam, bergelimang di dalam cairan kental santan dan gula kelapa yang manis. Orang Purworejo asli mengenalnya dengan sebutan "dawet ireng". "Ireng" dalam bahasa Jawa berarti hitam. Tak perlu kuatir dengan warna hitam dari dawet yang kenyal ini. Pedagang dawet ireng asli biasa menggunakan oman atau jerami padi sebagai bahan pewarna dawet. Tak sembarang oman, karena konon jenis padi yang omannya bagus untuk pewarna dawet adalah padi jenis rojolele yang dipotong dengan ani-ani, sehingga terjamin kebersihannya.
Jika sempat mampir ke kota yang sering disebut sebagai "Kota Pensiunan" ini, sangat mudah untuk menemukan kios dawet ireng. Deretan penjaja minuman segar ini banyak terdapat di sepanjang ruas Jalan Purworejo-Kebumen, atau tepatnya di Kecamatan Butuh. Tapi, jika ingin mencicipi rasa yang orisinil, anda bisa mampir ke kios dawet hitam milik Sulasiah (65) di
sebelah timur Jembatan Butuh.
Sulasiah merupakan generasi kedua yang menjajakan dawet ireng di keluarganya. Konon, dawet ireng khas Butuh mulai muncul sekitar tahun 1960, dan orang yang pertama kali menjajakan minuman ini adalah Ahmad Dasri yang notabene adalah ayah kandung Sulasiyah. Saat itu, sang ayah menjajakan dawet berkeliling di areal persawahan kampung, sampai pada akhirnya menetap di kios tersebut sejak Jembatan Butuh dibangun.
"Dulu bapak bikin dawetnya dari tepung gelang dari pohon aren, tapi karena sekarang susah didapat ya akhirnya kami pakai tepung sagu," ungkap Sulasiah kepada Merapi, belum lama ini.
Warung dawet ireng milik Sulasiah yang kini juga diteruskan oleh sang menantu, Sugeng S (50), tak pernah sepi pembeli. Mereka sengaja tak membuka cabang di manapun, dan terbukti pelanggan terus saja datang. Dalam sehari, tak kurang dari 300 mangkuk dawet bisa mereka jual. Saat masa liburan atau lebaran tiba, omzet pun pasti melonjak dua hingga tiga kali lipat. Banyaknya kios dawet lain di sepanjang ruas jalan tersebut pun tak berpengaruh terhadap usaha mereka. Mobil-mobil berplat nomor luar daerah tetap lebih kerap menyambangi warung sederhana tersebut.
"Waktu Bu Rustriningsih menikah (Wakil Gubernur Jateng, red), keluarga beliau juga memesan dawet dari kami. Beberapa artis terkenal seperti Krisna Mukti dan Pak Bondan Mak Nyus itu juga pernah mampir ke sini," ungkap Sugeng sambil melayani pembeli yang tak henti-hentinya datang.
Dengan harga Rp 2.500 per mangkuk, rasanya tak rugi jika anda jauh-jauh datang untuk mencicipi dawet ireng buatan keluarga Sugeng ini. Menurut Sugeng, dawet ireng yang terbuat dari bahan alami tersebut bahkan bisa mengurangi sakit maag. Selain itu, Sugeng pun tak pelit pada pembeli.
"Jika kurang manis, bisa tambah gula. Jika kurang dingin, bisa tambah es plus santan. Sesuai selera pokoknya," ujarnya.(Vit)
