Rabu, 30 September 2009

PENING

P.E.N.I.N.G
Pening.
Ingin kusergap hening.
Lalu pilu pun kubanting.
Karena aku hanya ingin berusaha untuk berpaling.
Mengumpulkan sisa puing.
Lalu kembali menyusunnya menjadi dinding.
Tapi, apa iya semua itu penting?
Kalau toh akhirnya ia pergi sebelum fajar menyingsing...?

(Yogyakarta, 29-9-09, 21.12)

Selasa, 29 September 2009

Fall Into Pieces


"Fall To Pieces"

I looked away
Then I look back at you
You try to say
The things that you can't undo
If I had my way
I'd never get over you
Today's the day
I pray that we make it through

Make it through the fall
Make it through it all

And I don't wanna fall to pieces
I just want to sit and stare at you
I don't want to talk about it
And I don't want a conversation
I just want to cry in front of you
I don't want to talk about it
Cuz I'm in Love With you

Wanna know who you are
Wanna know where to start
I wanna know what this means

Wanna know how you feel
Wanna know what is real
I wanna know everything, everything


I'm falling into pieces. Saya pecah. Remuk. Berkeping-keping.
Hari ini saya merasa sangat kacau. Makan siang sangat telat, dan tak sampai sepertiga dari makanan itu masuk ke perut saya. Liputan sampai terlalu siang, sampai saya baru datang ke kantor lebih dari pukul 3 sore, terlalu dekat dengan deadline. Saya pun harus menguat-nguatkan diri untuk tak menumpahkan air dari dua mata saya ke atas keyboard komputer di depan saya ini.

It's been 16 days, and I dunno what the reason is. Selama 16 hari itu saya memang tak memperoleh alasan kenapa ia seperti menghilang.
Lalu, hari ini, saya tahu alasannya. Tapi sebenarnya juga tak benar-benar tahu. Satu hal yang saya tahu, he wanna go away from me.

Entah kebetulan atau tidak, kemarin, semalaman saya samasekali tak bisa memejamkan mata, dan malam ini pun sepertinya akan sama.

Saya sakit hati, Ya Tuhan! Entah pada siapa atau pada apa!
Linangan ini terus saja mendesak dan ingin segera mengucur deras, tapi masih saya tahankan.
Saya tahu, saat seperti ini akan datang. Tapi saya belum menginginkannnya sekarang.

We've kept it for two years, and I never asked him for more. Saya sudah sangat memahami, bahwa saya tak pernah bisa menjangkaunya lebih jauh. Saya sudah sangat memahami dimana saya ada, dan dimana dia ada. Saya hanya butuh waktu. Waktu untuk benar-benar terlebih dahulu meninggalkannya.

Dia mengajarkan saya banyak hal, dan dia yang selalu bilang bahwa dia ingin menjaga semuanya. Saya seperti kembali tak mengenalinya lagi sekarang.

Tuhan, saya sakit hati. Saya tak rela.





Sabtu, 26 September 2009

better than love

Better Than Love*

Seemed impossible, seemed absurd
I didn’t even know you before
Kept my distance, closing in
I don’t mind caressing your skin

What did you say, what did you do?
Somehow, I feel I’m enchanted by you
Flying high on a mountain high
Suddenly you look as bright as the sky

Something old, something new
Something I didn’t thought could be true
Have I forgotten, or have I never
Felt like this, as light as a feather
Not interested in love,
but I’m attracted to you
I hope that you feel the same way too
A little too fast but way too long
Though I’m not sure where I belong

Something old, something new
Something I didn’t thought could be true
Love’s too strong and a bit cliché
For now this is enough, I’ve got a long way
Something old, something new
Something I didn’t thought could be true
I’m afraid to ask but I need to know

Would you want me to stay?
Or would you want me to go?


(*by sherina')

Jumat, 25 September 2009

Kembali Pada Sang Rutinitas

Kembali ke Jogja, kembali pada "sang rutinitas"
Tubuh saya masih agak lelah karena perjalanan tadi pagi. Cukup melelahkan karena saya melawan arus ratusan mobil yang didominasi plat B dan D yang menuju ke arah Barat.

Masih ada sisa flu dan batuk, tapi I feel better dibanding ketika saya benar-benar tepar di hari pertama Lebaran. Saya syukuri saja. Rasanya sudah sangat lama saya tidak pernah diberi sakit seperti ini.

Hari ini, saya menemukan dia online di Yahoo Messenger. Tidak biasa-biasanya, dan saya pun sungkan menyapanya. Mungkin dia sedang sibuk, dan saya samasekali tak ingin mengganggunya. Even just to say how much I miss him.

It's been two weeks. Sometimes I feel like he wanna let me go slowly ketika dia mendiamkan saya. Tapi mungkin lebih baik saya diamkan saja. Saya sudah cukup senang tahu bahwa dia sangat sehat, dan tak ada hal buruk terjadi pada dia.

Sabtu, 12 September 2009

wanting him part 2

Di luar masih sangat panas, padahal sudah lewat dari jam 14.00. Masih di kantor, menunggu matahari agak redup sebelum having a short tour bersama supra kesayangan ke my hometown. Mudik di kala Ramadhan selalu terasa lebih indah buat saya.

Ramadhan memang selalu indah. Meskipun terkadang saya tidak sadar telah melewatkannya sebelum benar-benar bisa berbuat kebaikan lebih banyak.

Ramadhan tahun ini pun indah. Berbagai berkah diberikan untuk saya oleh-Nya, dan saya rasa saya harus sangat mensyukurinya. Keputusan superkilat yang saya buat ternyata (InsyaAllah) tidak salah. Saya memperoleh banyak hal baru yang menyenangkan, suasana kerja yang baru, atasan baru, teman-teman baru, dan semuanya (so far) membuat saya nyaman.

Ramadhan tahun ini juga tidak seburuk Ramadhan tahun lalu yang mengkondisikan saya jauh dari seseorang. Ramadhan kali ini juga indah bagi kami.
Entah apa yang sebenarnya saya rasa. Padahal, Tuhan kembali mengirimkan seseorang yang lain untuk "menggoda" saya dan membuka hati saya. Tapi, saya tidak bisa. Eventhough, seseorang yang baik hati itu datang dengan dua box es krim yang jauh-jauh ia antarkan untuk saya malam itu, tapi saya masih samasekali tidak merasakan apa-apa di hati saya. Apalagi, beberapa jam setelah lelaki dengan dua box es krim itu datang, saya menghabiskan waktu di ujung malam dengan suara seseorang yang lain di ujung udara. And, I can't lie to myself, kalau saya masihtak bisa berkata tidak kepada dia.

Dia selalu memupuki rindu kami.
And I really wanna spend the rest of my life with him....


Kamis, 10 September 2009

Need To Be Next To You

I Need To Be Next To You*

Been running from these feelings for so long
Telling my heart I didn't need it
Pretending I was better off alone
But I know that is just a lie...

So afraid to take a chance again
So afraid of what I feel inside....


But I need to be next to you....
I need to share every breath with you....
I need to know I can see you smile each morning,
look into your eyes each night,
for the rest of my life....
Here with you... here with you.

I need to be next to you....

Right here with you is right where I belong.
I lose my mind if I can't see you
Without you there's nothing in this life
That would make life worth living for
I can't bare the thought of you not there
I can't fight what I feel anymore.

I need to have your love next to mine
For all time...
Hold you for all my life.
I need to be next to you....

(*Sixpence None The Richer )

wanting him


Semalam saya hanya terlelap sekitar satu jam. Satu "perseteruan" yang entah berawal dari mana membuat saya hampir tak tahu harus berbuat apa. Terlalu sensitif, pada waktu yang sangat salah. Mungkin. Tapi belum sempat saya terlelap dan belum kering mata saya, dia kembali menelepon saya. He said to me not to cry, and it was just made me melted.

Saya juga memang tidak paham apa yang terjadi semalam. Tiba-tiba saja sensitif, posesif, dan rasa-rasa lainnya menguar kuat. And it hurts. Saya sangat tahu, dia memiliki segala hal baik dalam kehidupannya, tapi saya benar-benar enggan memikirkan semua itu, atau bahkan mendengarnya bercerita tentang semua itu. I want him, with my own way.

Pagi tadi, ketika dia kembali menyapa dari ujung udara, saya benar-benar ingin menahannya untuk tetap ada bersama saya. Memeluknya dan menghabiskan tiap detik, menit, jam, hari, minggu, bulan, tahun, dan bahkan abad.

Senin, 07 September 2009

....


Masih pukul 16.15, dan saya sudah menyelesaikan tiga tulisan saya untuk edisi besok. Masih di depan monitor, di kantor yang sedang dibenahi ini. Mata masih mengantuk, tapi sudah terlalu sore untuk pulang ke kost dan sekedar take a nap for a while. Pamali, kata orang Sunda. Sudah terlalu sore. Harus segera mencari menu berbuka, sendiri, karena tak ada janji berbuka bersama dengan siapapun hari ini.

And I miss him.

Kamis, 03 September 2009

stand by me....

If you're leaving will you take me with you
I'm tired of talking on my phone
There is one thing I can never give you
My heart can never be your home....
..................................................................
Stand by me - nobody knows the way it's gonna be
*stand by me, OASIS

I took a quiz on Facebook-- eventhough maybe it's just a silly quiz-- today, "what is the first letter of your soulmate's last name?". And you know what...I got a result, I got a letter, and it's shocking me. I mean, I miss this guys now... and for God's sake, I wanna spend the rest of my life with him, if I can.

Selasa, 01 September 2009

Dua Kotak Brownies, Sebuah Perpisahan, dan Sebuah Pertemuan

Sehari setelah saya mengajukan surat pengunduran diri, saya menyelesaikan pamitan saya ke beberapa kolega di kantor lama. Mulai dari front office hingga bagian iklan, dan tentunya sekotak ruang redaksi yang membawa banyak cerita buat saya selama tiga tahun berada di sana.
Dua kotak brownies sengaja saya bawa sekedar untuk awak redaksi berbuka puasa, dan saya tetap tak kuasa menahan diri ketika masih saja ada tangis perpisahan ketika melepas saya.

Bagaimanapun, saya tumbuh di sana. Saya pernah punya setumpuk cerita di sana. But, the show must go on, and I can't always do the same role. Life is like a roller-coaster, and of course I also have to choose a better position.

Hari-hari awal saya di ruang redaksi saya yang baru ternyata juga samasekali tidak menakutkan. Sejak awal, saya mantap untuk melangkahkan kaki masuk ke sana karena ruangan itu dan seisinya membuat saya langsung merasa "homy". A new place with lot of new persons. It gives a bunch of new spirits coming into myself automatically.

berani, untuk hal baru

“You can't cross the sea merely by standing and staring at the water” (Rabindranath Tagore)

Itu adalah status salah satu temen saya di Facebook petang ini. And I do really like that quotation. Pemikiran seperti itu pula yang membuat saya berani untuk membuat keputusan dalam hidup saya, kali ini. Saya tak mungkin bisa "menyeberangi lautan hanya dengan berdiri dan memandangi airnya". Dengan kata lain, bagaimana saya bisa tahu dan punya pengalaman baru jika saya tak berani mengambil keputusan dan mencoba hal baru.

Saya baru mampir sebentar ke Sheraton Mustika Hotel. Launching KR Bisnis, tempat baru saya untuk berpijak sebagai seorang jurnalis. Sekarang saya sudah kembali ke kantor yang menurut saya sangat "homy". Semoga semua berjalan lancar. Amin ya Allah....