Sabtu, 29 Agustus 2009

I'll Only Miss Him When I Think of Him....


I'll Only Miss Him When I Think of Him*
*brenda lee's song


I'll only miss him, when I think of him
And I'll think of him, all the time
Likely I'll spend my days
Hearing his turn of phrase
Things I found hard to praise
Right now would seem sublime
The truth is I'll only miss him
When some stranger laughs
'Cause it's still his laugh
My heart hears maybe in time, I guess
The longing will grow, the slightest bit less
And there will be moments, yes
When it disappears, I'll bet
I'll forget him completely
In about a hundred years...!

don't go away....

Don't Go Away*
(OASIS)

A cold and frosty morning, there's not a lot to say
About the things caught in my mind
As the day was dawning my plane flew away
With all the things caught in my mind
And I wanna be there when you're...
Coming down
And I wanna be there when you hit the ground
So don't go away... say what you say ....
But say that you'll stay...
Forever and a day...in the time of my life
Cos I need more time...
Yes, I need more time
Just to make things right
Damn my situation and the games I have to play
With all the things caught in my mind
Damn my education
I can't find the words to say
About all the things caught in my mind
Me and you what's going on?
All we seem to know is how to show
The feelings that are wrong....

*my fave song. Sayangnya, hari ini saya mendengar kabar buruk bahwa OASIS bubar....

Rabu, 26 Agustus 2009

memulai hari baru....

Bismillaahirrohmaanirrohiim....
Saya mengemasi masa lalu, dan memulai hari baru hari ini. Dengan niat yang baik, dan --semoga-- diridhoi-Nya.

Hari ini saya resmi resigned dari Harian Pagi Bernas Jogja. Tempat bertumbuhnya saya sebagai jurnalis yang matang (kalau bukan setengah matang).
Tiga tahun menjejaki dunia yang memang telah membuat saya jatuh cinta, dan tempat itu menjadi semacam "kawah Candradimuka" bagi saya dan puluhan eks Bernas lainnya yang kini sudah malang-melintang di berbagai media lain atau bahkan profesi lain. Berat ketika harus meninggalkan brotherhood di sana, itu pula yang membuat saya tak kuasa menahan tangis saat harus berpamitan semalam. But life is about choices...dan saya sudah memutuskan untuk mengambil sebuah pilihan dalam hidup saya.


Belum banyak orang yang saya beri tahu, tapi kabar tentang kepindahan seorang wartawan bisa diibaratkan angin yang bisa tiba-tiba langsung berhembus kencang ke segala penjuru. Well, ini hanya soal tempat, saya masih tetap pribadi yang sama.

Sabtu, 22 Agustus 2009

a moment at momento

Sedang di Momento Cafe. Menikmati Hot Chococinno dan berpiring-piring Momento Platters setelah curhat dengan dua sahabat. Sebelumnya buka bersama dengan teman-teman di Dapur Sambal.
First day di bulan suci Ramadhan kali ini indah. Mengawali hari dengan semangat, mencoba memperbaiki hubungan dengan Yang Kuasa, dan diberi kesempatan bertemu dan menghabiskan waktu dengan teman-teman.

Sesuatu yang saya pikir akan kembali kurasa Ramadhan kali ini sepertinya juga salah. Terkadang saya memang terlalu larut dalam kekhawatiran saya sendiri. Untung, hari ini saya mendengarnya menyampaikan kabar meski sebentar....

Kamis, 20 Agustus 2009

What should I say?


Beberapa menit sudah lewat dari pukul setengah delapan malam. Saya masih di kantor, meski tulisan sudah saya selesaikan. Perut pun sudah terisi penuh.

What a worse day!
Kenapa H-2 menjelang Ramadan saya malah jadi seperti ini? Mengawali hari dengan kesalahpahaman, lalu mengisi hari dengan perpisahan-- yang meskipun dikemas dalam acara makan-makan-- tapi tetap menyedihkan, lalu semua hal pun menjadi tidak beraturan hari ini. Mulai dari ban motor yang tiba-tiba bocor saat diparkir di kantor-- padahal sebelumnya baik-baik saja--, sampai handphone xl saya yang meluncur dengan sukses dari meja sampai kaca penutup LCD-nya terlempar.

Saya ingin Ramadan saya indah. Saya ingin.
May I miss him during my Ramadan, ya Allah?

nothing compares to me....

It's been so lonely without you here
Like a bird without a song
Nothing can stop these lonely tears from falling
Tell me baby where did I go wrong?
I could put my arms around every boy I see
But they'd only remind me of you
Went to the doctor guess what he told me
Guess what he told me?
He said, "girl, you better have fun"
No matter what you do
But he's a fool ...
'Cause nothing compares ...
Nothing compares to you ...

("Nothing Compares to You", Sinead O'Connor)


Semalam, sampai lewat jam setengah dua dini hari mata rasanya susah dipejamkan. Seharusnya, ketika pembicaraan semalam kami akhiri, saya bisa tidur nyenyak. Tapi tidak untuk semalam. Meskipun dia sudah berulangkali meminta maaf. Bahkan saat fajar mulai muncul, saya masih merasa sesak di dada saya, dan saya tidak bisa menjelaskan seperti apa rasanya. Saya tidak marah, tapi saya kecewa. Saya tidak sampai membenci dia, tapi saya kecewa. Saya hanya bisa menghela nafas saat dia meminta maaf dan memberi saya sebongkah rindu yang hangat. Saya butuh dia, Tuhan... tapi dengan cara apa saya bisa?

Seharusnya, nothing...atau nobody compares to me. Tidak ada alasan yang membuat saya menerima untuk dikomparasikan, diperbandingkan.
Saat saya menghabiskan waktu dengan dia, saya ingin semuanya hanya tentang saya dan dia. Bukan tentang siapa-siapa, tentang apa, dan tentang bagaimana.

Lagu itu memang tidak begitu pas untuk kondisi emosi saya saat ini, karena di lagu itu mrs O'Connor ingin bilang bahwa dia tidak bisa melupakan seorang laki-laki, bahwa setiap bertemu dengan laki-laki lain dia selalu membandingkannya dengan sosok laki-laki pertamanya, sampai dia bilang bahwa tak ada yang sebanding dengan laki-laki itu.... Tapi, saya juga ingin bilang seperti itu ke dia, dan saya juga ingin dia bilang seperti itu kepada saya.

Hari ini sangat berat bagi saya. Apalagi, salah satu redaktur saya memutuskan untuk resign dan pindah ke harian lain yang notabene sebelumnya pernah menawari saya untuk bergabung dan saya tidak kepikiran untuk masuk ke sana. Belum terpikir, mungkin.
Well...life is about choices....


Selasa, 18 Agustus 2009

my heart has melted...

"Jika aku hanya memiliki sisa waktu semalam, aku ingin menghabiskannya denganmu...."
(Evelyn Johnson said to Capt. Rafe McCawley, "Pearl Harbor")

Mungkin terdengar berlebihan, tapi entah kenapa semalam saya sampai hampir meneteskan airmata (lagi) ketika melihat adegan perpisahan tokoh Rafe dan Eve di film berdurasi panjang yang sudah berulangkali saya tonton itu. Semalam, kebetulan film itu diputar lagi di salah satu stasiun televisi. Bukan hanya karena dua pemeran tokoh itu -- Ben Affleck dan Kate Beckinsale-- adalah dua produk industri film Hollywood yang sudah malang-melintang di berbagai produksi film yang membuat adegan itu bisa membuat saya hampir menangis, tapi dialog panjang di antara kedua tokoh itu.

Well, siang ini saya juga hampir menangis lagi. Entah kenapa. Antara sedih dan bahagia. Bahagia yang berselimut sedih, sedih yang berselimut bahagia. Entah apa lah namanya....

Dia memberi saya ruang waktu untuk rindu....
Hanya itu.
Karena tak mampu (dan tak mungkin) saya melawan ketidakberdayaan untuk mencuri waktu untuk berlari menghambur ke arahnya....
Saat ini juga.

"I do miss u", he said.
And it makes my heart melted today, eventhough I've heard it thousand times. For God's sake!

Jumat, 14 Agustus 2009

"Here Without You"


"Here Without You"

(3 Doors Down)

A hundred days have made me older
Since the last time that I saw your pretty face
A thousand lies have made me colder
And I don't think I can look at this the same
But all the miles that separate
Disappear now when I'm dreaming of your face

I'm here without you baby
But you're still on my lonely mind
I think about you baby
And I dream about you all the time
I'm here without you baby
But you're still with me in my dreams
And tonight it's only you and me

The miles just keep rollin'
As the people leave their way to say hello
I've heard this life is overrated
But I hope that it gets better as we go....

(one of my long lasting fave song)

Selasa, 11 Agustus 2009

Pagiku Indah

Masih di kamar 428 Sheraton Mustika Hotel. Antri bathing.
Sahabat lama dari Jakarta sedang ada tugas di Jogja, jadilah ada reuni kecil semalam. Bertiga, all girls. Lalu tambah jadi berempat, ada temen satu lagi yang dateng. Sampai lewat tengah malam belum bisa lelap, karena teman yang baru datang itu sedang sibuk preparing keikutsertaannya jadi finalis Dimas di ajang Dimas-Diajeng Sleman. Alhasil, saya dan dua teman lainnya sibuk browsing untuk mencari berbagai hal tentang DIY dan Sleman. Baru tahu, para finalis ajang seperti itu juga sudah diberi kisi-kisi pertanyaan oleh juri. Haha...

Pagi saya indah. Selain karena saya bisa berkumpul dengan teman-teman lama, tertawa-tawa, lalu bangun tidur di hotel berbintang lima (haha...jarang2 kalo bukan lagi ada tugas), ada pula yang mengirim rindu dari kejauhan.

Saya bersyukur, dia baik-baik saja.

Senin, 10 Agustus 2009

Lega

Saya lega. Teramat lega.
Mendengar suaranya tadi pagi membuat saya bahkan hampir tak bisa menahan bulir air jatuh dari kelopak mata saya. Kekalutan saya pun mulai terkikis, menjadi rasa syukur yang tak terkira.

Sejak awal, saya sungguh tak ingin mempercayai apa yang saya dengar. Saya percaya, dia kuat. Saya tak ingin berpikir bahwa dia lemah. Tak pernah ingin berpikir seperti itu.

Semalam, saya berdoa, mohon kepada-Nya bahwa akan ada mimpi indah di tidur lelap saya. Lalu terbangun di pagi hari dengan sesuatu yang indah, dan Ia mengabulkannya....

Terima kasih ya Allah, Kau memberiku hal indah sepagi itu....

Kamis, 06 Agustus 2009

Kalut

Beberapa baris kalimat lewat sms itu sudah saya baca berulangkali. Mungkin puluhan kali sejak sms itu masuk ke ponsel saya kemarin siang. Saya baca berulangkali, hanya untuk menentramkan hati saya dan meyakinkan hati saya bahwa dia baik-baik saja. Paling tidak, ada kabar yang ia kirimkan di tengah kekalutan saya. Ya, saya memang kalut. Sangat kalut, sejak ada kabar itu, dan tak ada yang bisa saya perbuat.

"Gimana non, udah agak tenang?". Sms dari salah satu sahabat-- yang sudah saya anggap seperti abang saya sendiri-- ini masuk ke ponsel saya semalam waktu saya baru mengeluarkan motor ke gerbang kost saya. Iya, dia tahu saya sedang kalut, meskipun saya tak menceritakan apa penyebab pasti kekalutan saya. Saya bersyukur masih punya banyak teman yang selalu peduli dengan kondisi saya.

Semalam, saya mencoba mengalihkan pikiran. Pergi ke bookfair di JEC dengan beberapa teman. Mereka juga tahu saya sedang not in the mood. Kami berkeliling, sampai bookfairnya tutup, dan membawa pulang lebih dari lima buku. Salah satu buku saya beli untuk dia, meski saya tidak tahu kapan bisa saya berikan ke tangannya dengan tangan saya.

Saya hanya berharap dan berdoa-- seperti saya mendoakan orangtua saya, keluarga saya, dan orang-orang yang saya sayangi-- agar Allah mengangkat segala kesulitan dan kesakitan dari tubuh mereka.
Amien.

Rabu, 05 Agustus 2009

I'm not okay

I'm not okay. Absolutely not okay.
Saya bahkan merasa useless...tidak berguna...tidak bisa berbuat apa-apa untuknya. Mungkin, jika saya mau dan punya kekuatan hati sepuluh ribu kali dari kekuatan hati saya sekarang, saya akan melangkahkan kaki saya ke arahnya. Sekedar melihat sorot matanya dan meyakinkan hati saya bahwa dia baik-baik saja.
Tapi, saya merasa saya lebih baik tetap berdiri di tempat di mana saya ada sekarang. Mencoba memohon kepada-Nya agar mengangkat semua kesakitan, kesulitan, dan ketidakbaikan dari dirinya.
Saya kalut, ya Allah.