sometimes we should say what we think, what we feel, and what we want....
Jumat, 31 Juli 2009
Tiga Subuh Terlewati....
Tiga Subuh terlewati. Subuh tadi bahkan saya tak bisa menahan bulir dingin jatuh dari mata. Meskipun tak ada alasan paling rasional yang bisa saya jelaskan. Saya hanya merasa dada saya sesak, terbebani sesuatu yang tak bisa saya tumpahkan.
Seingat saya, saya memang sedang menunggu seseorang menepati janjinya. Seingat saya, dia memang masih punya janji. Jadi, salahkah saya jika saya berharap dia akan menepati janjinya itu?
Saya ingin bilang bahwa saya teramat merindukan dia Subuh tadi. Ingin rasanya menjadi makmum di belakang tubuhnya, mencium tangannya usai kami berdoa bersama di ujung Subuh yang dingin....
Melipat sajadah, membuatkannya teh hangat, lalu mengobrol tentang apa saja. Tentang udara yang dingin, tentang rambut-rambut kecil yang mulai tumbuh di dagunya karena dia lupa belum bercukur --tapi malah saya suka--, tentang seorang rekan yang bisa meraih beasiswa di AS, tentang riuhnya pemberitaan pelacakan pelaku bom di JW Marriot dan Ritz Carlton, hingga tentang tingkah-polah para selebritis yang dari hari ke hari menjadi santapan empuk pekerja infotainment.
***
Saya tak ingin mencurigai dia. Saya berusaha percaya bahwa saya memang ada di hatinya. Tapi, terkadang saya ingin menyelami hatinya untuk mencari tahu sedalam apa ruang di hatinya untuk saya.
Seharusnya, saya tak menganggap semua ini benar. Seharusnya saya bahkan tak merasakan ini, tak sampai merasakan ini. Tapi saya sudah. Dia telah berhasil membawa saya berlari melintasi taman labirin hati kami. Meskipun terengah-engah.
Terkadang, saat dia harus pergi meski hanya beberapa menit, saya ingin memeluk dan menahannya. Tak terbayang bagaimana jika nantinya dia benar-benar akan meninggalkan hati saya di tepian jalan yang belum selesai kami tempuh...?
Mungkin, lebih baik saya yang pergi terlebih dahulu....
I miss him, so much.
"O"
Aku tidak saja merampok rindu
Dari burung yang terbang menuju kekasih
Diam-diam aku juga mencuri kenikmatan ciuman
Angin senja pada pucuk cemara
dan orgasme sesaat
Persetubuhan langit dan laut
Memang kurasakan getarnya pada tubuh
Namun tak lama
Hanya hampa
yang menyisa
Hanya
Hampa
yang nyaris baka....
("O", taken from "Album Sajak-sajak A Mustofa Bisri)
Dari burung yang terbang menuju kekasih
Diam-diam aku juga mencuri kenikmatan ciuman
Angin senja pada pucuk cemara
dan orgasme sesaat
Persetubuhan langit dan laut
Memang kurasakan getarnya pada tubuh
Namun tak lama
Hanya hampa
yang menyisa
Hanya
Hampa
yang nyaris baka....
("O", taken from "Album Sajak-sajak A Mustofa Bisri)
Kamis, 23 Juli 2009
lewat tengah malam
"Padikoe" Waroeng 'n Cafe, Seturan
23 Juli 2009
Sudah lewat tengah malam. Berhadapan dengan laptop yang dibawa teman, berselancar di dunia maya sambil sesekali menimpali obrolan. Secangkir whipped cream chocolate milkshake sudah tandas. Disusul secangkir stone sugar hot tea. Perut sudah terlalu penuh, jadi enggan memesan makanan berat. Last order pun sudah lewat tepat tengah malam tadi.
Akhirnya aku keluar, mengiyakan ajakan hangin' out dengan para sahabat. Hanya bertiga, dua sahabat-- yang sudah seperti my own big brothers-- yang sudah lama tak bertukar cerita.
Pikiranku tidak sepenuhnya ada di sini. Ada sebidang ruang yang mengosong di dalam hatiku. And I really dunno what should I do.
Kata orang, "cinta" adalah sebentuk perasaan yang dikaruniakan Tuhan bagi umat-Nya. Lalu, apakah Tuhan pernah salah dengan karunia-Nya itu? Well, aku juga tidak mau bilang bahwa rasa yang ada dan saya miliki sekarang ini bisa disebut dengan satu kata itu.
(Oh God, operator musik tempat hang-out ini tiba2 memutar lagu "Kepastian yang Kutunggu", from my fave band, Gigi)...."Kutanya hatimu benarkah dirimu masih mencintai aku, kutanya hasratmu benarkah dirimu masih membutuhkan aku?". Hahaha...I think, lagu ini samasekali tidak cocok buatku, saat ini.
I miss him, if I should say what I felt now.
23 Juli 2009
Sudah lewat tengah malam. Berhadapan dengan laptop yang dibawa teman, berselancar di dunia maya sambil sesekali menimpali obrolan. Secangkir whipped cream chocolate milkshake sudah tandas. Disusul secangkir stone sugar hot tea. Perut sudah terlalu penuh, jadi enggan memesan makanan berat. Last order pun sudah lewat tepat tengah malam tadi.
Akhirnya aku keluar, mengiyakan ajakan hangin' out dengan para sahabat. Hanya bertiga, dua sahabat-- yang sudah seperti my own big brothers-- yang sudah lama tak bertukar cerita.
Pikiranku tidak sepenuhnya ada di sini. Ada sebidang ruang yang mengosong di dalam hatiku. And I really dunno what should I do.
Kata orang, "cinta" adalah sebentuk perasaan yang dikaruniakan Tuhan bagi umat-Nya. Lalu, apakah Tuhan pernah salah dengan karunia-Nya itu? Well, aku juga tidak mau bilang bahwa rasa yang ada dan saya miliki sekarang ini bisa disebut dengan satu kata itu.
(Oh God, operator musik tempat hang-out ini tiba2 memutar lagu "Kepastian yang Kutunggu", from my fave band, Gigi)...."Kutanya hatimu benarkah dirimu masih mencintai aku, kutanya hasratmu benarkah dirimu masih membutuhkan aku?". Hahaha...I think, lagu ini samasekali tidak cocok buatku, saat ini.
I miss him, if I should say what I felt now.
Jumat, 17 Juli 2009
This is a story, about two guys....
Pernah merasa resah? Tak ada posisi yang nyaman untuk terlelap? Mata berat seolah ada satu setengah liter air yang ingin segera dikucurkan? I do. Kamis, 16 Juli 2009, pukul 23.04 semalam.
Rasanya sangat ingin bertemu seseorang. Lalu membenamkan kepala saya di antara kedua lengannya. But I can't. Untuk sekedar membenamkan keresahan lewat udara pun tak selalu bisa saya lakukan.
*****************
Tiga hari belakangan ini saya memang merasakan fluktuasi mood yang agak ekstrim. PMS juga bukan, karena "jadwal" saya bulan ini sudah selesai seminggu yang lalu. Tapi rasanya selalu ingin siang cepat berganti malam, dan saya bisa membenamkan diri di kamar lalu menutup telinga dengan headset yang meneriakkan puluhan lagu.
Sedang enggan bersosialisasi juga. Semalam sebenarnya saya hampir "terpaksa" mengiyakan ajakan untuk hangin' out dengan teman-teman. Rezeki tak terduga yang saya peroleh dari sebuah kompetisi menulis memang membuat lebih dari sepuluh teman baik berteriak-teriak lewat telepon, sms, dan comment di wall account Facebook saya. Minta traktir, of course..haha. Tentu saya mengiyakan, karena memang sudah tradisi. Sejak masa sekolah hingga kuliah, ada teman ulangtahun atau menang lomba, harus ada traktiran. But, it was cancelled. Mungkin minggu depan, selepas long weekend, karena ada beberapa teman yang minta dipending.
***********
This is a story, about two guys (yang mungkin bikin mood saya kembali fluktuatif).
A guy whom I ever really needed, and another guy whom (maybe) I really need now.....
Selasa malam lalu, entah kenapa Tuhan tiba-tiba memberi saya satu mimpi yang tak terduga. Mimpi tentang satu sosok yang tidak sedang sering saya pikirkan. My really 1st luv when I was a-high-school-student. It was more than eight years ago sejak saya merasa tak perlu memikirkannya lagi, sejak saya juga sudah mulai bisa sibuk dengan orang lain. So, that dream was really shockin' me.
Saya memilih kuliah di Jogja, 50 persen faktor pendukungnya mungkin karena dia. Dia masuk ke D3 FE UGM setahun sebelum saya, coz he's my senior. Dulu saya hampir ingin masuk ke Sastra Inggris Unibraw Malang. Alasan pertama, karena jurusan itu baru dibuka saat itu di Unibraw dan kemungkinan masuk cukup besar, second one was because keluarga pakdhe dari ibu saya tinggal di sana jadi orangtua saya tak terlalu cemas. Tapi akhirnya saya memilih UGM.
And the story goes....
Tahun kedua saya kuliah, dia-- tanpa niat yang mantap-- kembali mencoba SPMB, dan bahkan malah sukses menjebol IESP FE UI. Can u imagine how I felt? Rasanya samasekali tidak rela dia pergi ke Jakarta! Saya masih ingat saat-saat terakhir dia sebelum "kepergiannya", masih saja dia sempat menemani saya belajar di ruang baca Perpus UPT II dari pagi sampai jelang saya masuk ujian, siang harinya.
Jakarta man! Jakarta! Butuh delapan jam naik Fajar Utama atau Senja Utama untuk ke sana. Butuh 45 menit dan biaya yang jauh lebih besar kalau mau naik pesawat! Saya tak bisa selalu bertemu. And it was really hard.
Bulan-bulan pertama dibanjiri dengan sms, telepon, dan e-mail dari keduabelahpihak. Lama-lama, we're bored. Really bored. Bored for trying to "survive". Tired. No strong commitment, as we just no more than about 19 and 18 years old boy and girl. I decided to released all. It takes time, of course. Then I do have some guys after him, but never had a worthed thing from them. Just a few memories, then...it's a wrap! Enough.
Lalu tiba-tiba ada mimpi itu. Mimpi bahwa dia sakit, dan ternyata memang kemarin dia sedang sakit. Sempat kembali terbawa perasaan ketika deretan sms dari dia masuk ke handphone saya. Well, bagaimanapun dia pernah sangat berarti. Lebih berarti dari "kisah-kisah cinta tak karuan" saya setelah ia pergi....
***********
And this is also a story, a story about another guy....
Status saya di Facebook semalam, "sedang teramat ingin kembali memeluk suaranya hingga fajar menjelang...."
Sejumlah comment langsung di wall FB saya maupun lewat sms tengah malam tadi masuk, mengomentari update status saya itu. Bertanya-tanya, siapa. Dan tentu tak saya jawab.
Well, apa yang anda inginkan ketika anda merasa teramat...katakanlah rindu...(waks..saya geli memakai kata ini sebenarnya. Aneh. Berlebihan....). Saya lebih suka kata "missing" atau "longing" di bahasa Inggris, dibandingkan "rindu".
Kembali ke pertanyaan tadi, apa yang anda ingin lakukan? Ketemu kan? Pasti lah! Lalu release your feeling kan? Ya..ya..ya... Tapi itu tidak berlaku bagi saya. Kisah teraneh selama hidup saya yang sudah melewati hitungan seperempat abad. Kisah yang bahkan membungkam mulut saya dan menutup mata dan hati saya (kata beberapa sahabat saya) untuk sosok lain yang menawarkan hati mereka.
Well...life is only once. However, life is so short. Itu alasan saya berada di sini dan masih tetap merasa bahagia dengan kisah teraneh saya kali ini. Menyadur salah satu lagu, if loving and needed him is wrong, I don't wanna be right. Toh, I have no more intentions. I need him, in my own way. That's all.
******************************
Minggu, 12 Juli 2009
another "IMU" song, again....

There are times in my life
When I feel so much love inside
Taking over my mind
Everyday every night
I wonder when you come around
Wish I can hold you tight
In my arms forever
will you let me be the one in your heart
And I really miss you so bad...
And I really miss you so...
And I really miss you so bad...
And I really miss you so.....
("I Miss U", Ten 2 Five)
When I feel so much love inside
Taking over my mind
Everyday every night
I wonder when you come around
Wish I can hold you tight
In my arms forever
will you let me be the one in your heart
And I really miss you so bad...
And I really miss you so...
And I really miss you so bad...
And I really miss you so.....
("I Miss U", Ten 2 Five)
Jumat, 10 Juli 2009
another "I Miss You"
is a gift I didn't think could be real
To know that you feel the same as I do
is a three-fold, Utopian dream
You do something to me that I can't explain
So, would I be out of line if I said "I miss you"?
I see your picture
I smell your skin on the empty pillow next to mine.
You have only been gone ten days,
but already I'm wasting away
I know I'll see you again
Whether far or soon
But I need you to know that I care,
and I miss you....
("I Miss You", Incubus)
***To know that you feel the same as I do
is a three-fold, Utopian dream
You do something to me that I can't explain
So, would I be out of line if I said "I miss you"?
I see your picture
I smell your skin on the empty pillow next to mine.
You have only been gone ten days,
but already I'm wasting away
I know I'll see you again
Whether far or soon
But I need you to know that I care,
and I miss you....
("I Miss You", Incubus)
Kamis, 09 Juli 2009
Selasa, 07 Juli 2009
melewatkan 5 menit untuk 5 tahun
(hmm, mungkin setting waktu di blog ini salah, seharusnya hari ini tanggal 8 Juli 2009)
Hari ini, saya kembali "terpaksa" menjadi golput, melewatkan waktu 5 menit untuk 5 tahun. Ada undangan di kampung halaman, tapi entah kenapa saya sudah tidak ada keinginan. Bisa juga mendaftar di Jogja, tapi entah kenapa saya juga sudah tidak punya niat. Apalagi, KTP saya sudah mati sejak lebih dari dua tahun lalu dan malas saya perpanjang, baru mau saya perpanjang bulan ini karena dipaksa-paksa ibu saya. Haha...berbekal SIM dan Press ID card sudah cukup rasanya.
Tak ada libur. Sejak pagi, harus siap-siap meluncur ke kawasan Perum Dosen UGM di Sawitsari. Salah satu cawapres, Mr Boediono, "nyontreng" di sana.
Sudah pukul 08.00 pagi, tapi udara dingin masih menusuk-nusuk tulang rasanya. Beberapa meter dari kost saya, ada TPS, dan beberapa polisi sudah berjaga-jaga. Heran juga, waktu menyeberangi Jalan Cik Di Tiro pagi ini kok gampang banget, sepi, cuma satu dua kendaraan yang lewat. Entah karena hari ini hari libur, atau semua orang sedang sibuk di TPS-TPS.
Berbelok ke kanan setelah perempatan Kentungan, hanya beberapa meter, rumah pak Boed sudah terlihat. Bukan rumah mewah, tentu saja, karena itu perumahan dosen. Pagarnya pun kayu, bukan pagar besi tinggi. Tapi malah nampak asri, sejuk, sederhana. Persis di seberang jalan depan rumah Pak Boed, ada tenda besar layaknya orang punya hajatan, dibangun khusus untuk memantau quick count siang harinya.
TPS 96 di Dusun Pikgondang, Sawitsari, Condongcatur-- tempat Pak Boed mencontreng-- juga hanya sekitar 100 meter dari rumah beliau. Saya langsung ke sana. Sempat ditanya-tanya beberapa polisi (yang sepertinya baru lulus pendidikan..haha) waktu saya baru memarkir motor saya, malah disuruh memakai Press ID card saya.
"Sudah gak zamannya pak ID card digantung-gantung, kayak pegawai bank aja!," sergah salah satu teman saya setengah becanda.
Memang jarang, sangat jarang saya memakai press ID card. Saya ingat, "kartu sakti" itu terakhir kali saya pakai waktu harus meliput Prince Charles di Keraton dan Ponpes Krapyak. Sangat jarang pula saya mengaku saya wartawan, kecuali ketika situasi sudah sangat mendesak...haha. Masa-masa saya di desk Bantul, seringkali saya dikira mahasiswa yang sedang KKN. Bahkan di SPBU, waktu saya sedang mengisi bensin di sela-sela liputan, pernah ada salah satu petugas SPBU yang sempat-sempatnya bertanya "KKN di sini ya mbak?". Sontak saya asal jawab," iya pak...". Thanks God, saya masih terlihat seperti mahasiswa tingkat III (hehe...iya kan? saya dulu ikut KKN saat tahun ketiga kuliah).
Kembali soal agenda meliput Pak Boed. Di TPS 96, sudah banyak wartawan yang datang, rela datang jauh lebih awal dari jadwal Pak Boed. Sebagian besar saya kenal, dan liputan besar di luar desk pendidikan yang saya pegang seperti liputan tadi memang selalu menjadi ajang reuni saya dengan wartawan-wartawan yang sudah lama tak pernah saya temui. Sebagian besar senior-senior saya, jauh di atas saya.
Lebih dari satu jam menunggu, tapi seru! Terharu plus salut melihat banyak manula yang masih bersemangat ikut dalam pesta demokrasi ini. Ada kakek tua dengan tongkat penyokong jalan yang datang sendirian, ada sepasang kakek-nenek yang datang beriringan, sampai cewe-cewe-- yang menurut saya pemilih pemula-- yang jalan masuk ke TPS dengan muka grogi karena ada buanyak wartawan laki-laki di sana, yang you know lah...mungkin karena para wartawan itu memegang kamera SLR digital or whatever yang menurut cewe-cewe itu terlihat cool... keren. For me? not at all...coz I knew them...haha.
Pak Boed datang sekitar pukul 09.35 bersama Bu Herawati. Ada Gusti Prabu dan Roy Suryo juga. Berdesak-desakan di halaman TPS yang sempit, akhirnya wawancara dialihkan ke tempat quick count yang lebih lapang. Kami pun berjalan beriringan dengan rombongan beliau. Mr Boed looks fresh today, mungkin karena sudah hari H, jadi ada satu beban yang terlepas.
Well...siapapun yang terpilih, semoga membawa kebaikan bagi negara ini. Maafkan saya, tidak ikut memberikan suara. May Allah bless Indonesia.
Amien.
Hari ini, saya kembali "terpaksa" menjadi golput, melewatkan waktu 5 menit untuk 5 tahun. Ada undangan di kampung halaman, tapi entah kenapa saya sudah tidak ada keinginan. Bisa juga mendaftar di Jogja, tapi entah kenapa saya juga sudah tidak punya niat. Apalagi, KTP saya sudah mati sejak lebih dari dua tahun lalu dan malas saya perpanjang, baru mau saya perpanjang bulan ini karena dipaksa-paksa ibu saya. Haha...berbekal SIM dan Press ID card sudah cukup rasanya.
Tak ada libur. Sejak pagi, harus siap-siap meluncur ke kawasan Perum Dosen UGM di Sawitsari. Salah satu cawapres, Mr Boediono, "nyontreng" di sana.
Sudah pukul 08.00 pagi, tapi udara dingin masih menusuk-nusuk tulang rasanya. Beberapa meter dari kost saya, ada TPS, dan beberapa polisi sudah berjaga-jaga. Heran juga, waktu menyeberangi Jalan Cik Di Tiro pagi ini kok gampang banget, sepi, cuma satu dua kendaraan yang lewat. Entah karena hari ini hari libur, atau semua orang sedang sibuk di TPS-TPS.
Berbelok ke kanan setelah perempatan Kentungan, hanya beberapa meter, rumah pak Boed sudah terlihat. Bukan rumah mewah, tentu saja, karena itu perumahan dosen. Pagarnya pun kayu, bukan pagar besi tinggi. Tapi malah nampak asri, sejuk, sederhana. Persis di seberang jalan depan rumah Pak Boed, ada tenda besar layaknya orang punya hajatan, dibangun khusus untuk memantau quick count siang harinya.
TPS 96 di Dusun Pikgondang, Sawitsari, Condongcatur-- tempat Pak Boed mencontreng-- juga hanya sekitar 100 meter dari rumah beliau. Saya langsung ke sana. Sempat ditanya-tanya beberapa polisi (yang sepertinya baru lulus pendidikan..haha) waktu saya baru memarkir motor saya, malah disuruh memakai Press ID card saya.
"Sudah gak zamannya pak ID card digantung-gantung, kayak pegawai bank aja!," sergah salah satu teman saya setengah becanda.
Memang jarang, sangat jarang saya memakai press ID card. Saya ingat, "kartu sakti" itu terakhir kali saya pakai waktu harus meliput Prince Charles di Keraton dan Ponpes Krapyak. Sangat jarang pula saya mengaku saya wartawan, kecuali ketika situasi sudah sangat mendesak...haha. Masa-masa saya di desk Bantul, seringkali saya dikira mahasiswa yang sedang KKN. Bahkan di SPBU, waktu saya sedang mengisi bensin di sela-sela liputan, pernah ada salah satu petugas SPBU yang sempat-sempatnya bertanya "KKN di sini ya mbak?". Sontak saya asal jawab," iya pak...". Thanks God, saya masih terlihat seperti mahasiswa tingkat III (hehe...iya kan? saya dulu ikut KKN saat tahun ketiga kuliah).
Kembali soal agenda meliput Pak Boed. Di TPS 96, sudah banyak wartawan yang datang, rela datang jauh lebih awal dari jadwal Pak Boed. Sebagian besar saya kenal, dan liputan besar di luar desk pendidikan yang saya pegang seperti liputan tadi memang selalu menjadi ajang reuni saya dengan wartawan-wartawan yang sudah lama tak pernah saya temui. Sebagian besar senior-senior saya, jauh di atas saya.
Lebih dari satu jam menunggu, tapi seru! Terharu plus salut melihat banyak manula yang masih bersemangat ikut dalam pesta demokrasi ini. Ada kakek tua dengan tongkat penyokong jalan yang datang sendirian, ada sepasang kakek-nenek yang datang beriringan, sampai cewe-cewe-- yang menurut saya pemilih pemula-- yang jalan masuk ke TPS dengan muka grogi karena ada buanyak wartawan laki-laki di sana, yang you know lah...mungkin karena para wartawan itu memegang kamera SLR digital or whatever yang menurut cewe-cewe itu terlihat cool... keren. For me? not at all...coz I knew them...haha.
Pak Boed datang sekitar pukul 09.35 bersama Bu Herawati. Ada Gusti Prabu dan Roy Suryo juga. Berdesak-desakan di halaman TPS yang sempit, akhirnya wawancara dialihkan ke tempat quick count yang lebih lapang. Kami pun berjalan beriringan dengan rombongan beliau. Mr Boed looks fresh today, mungkin karena sudah hari H, jadi ada satu beban yang terlepas.
Well...siapapun yang terpilih, semoga membawa kebaikan bagi negara ini. Maafkan saya, tidak ikut memberikan suara. May Allah bless Indonesia.
Amien.
Jumat, 03 Juli 2009
I Have Nothing
Li'l bit upset and down when I heard this song.....
One of Whitney Houston's song with such a meaningful lyrics.
One of Whitney Houston's song with such a meaningful lyrics.
Take me for what I am.
'Cause I'll never change
All my colors for you.
Take my love,
I'll never ask for too much,
Just all that you are
And everything that you do.
I don't really need to look
Very much further,
I don't wanna have to go
Where you don't follow.
I will hold it back again,
This passion inside.
Can't run from myself,
There's nowhere to hide.
Don't make me close one more door,
I don't wanna hurt anymore.
Stay in my arms if you dare,
Or must I imagine you there.
Don't walk away from me.
I have nothing, nothing, nothing
If I don't have you....
You see through,
Right to the heart of me.
You break down my walls
With the strength of your love.
I never knew
Love like I've known it with you.
Will a memory survive,
One I can hold on to?
I don't really need to look
Very much further,
I don't wanna have to go
Where you don't follow.
I will hold it back again,
This passion inside.
Can't run from myself,
There's nowhere to hide....
***
Langganan:
Postingan (Atom)
