Not a Diary, Only Some Simple Stories
sometimes we should say what we think, what we feel, and what we want....
Rabu, 17 Juli 2013
Usai Subuh
Lama sekali saya melupakan blog ini. Lalu tiba-tiba usai shalat Subuh tadi, saya teringat lagi. Blog yang dulu hampir setiap hari saya banjiri dengan kata-kata.
Hari ini masuk hari kedelapan Ramadan. Dan entah kenapa saya malah sedih. Sedih banget.
Sudah hampir pukul setengah enam pagi, dan saya masih di depan laptop dengan memakai mukena ungu saya yang belum saya lepas sejak shalat Subuh tadi.
Jumat, 09 Maret 2012
Tak Ada Makrunah di Negeri 5 Menara: Sebuah Review Film
Kamis petang selepas Maghrib kemarin, saya dan suami menyempatkan diri untuk menikmati film Negeri 5 Menara di Studio 21 Plaza Ambarrukmo. Kami berdua datang dengan harapan di benak kami masing-masing tentang film yang digarap oleh sutradara Affandi Abdul Rachman ini. Sebagai pembaca yang sudah lama membaca versi novelnya, tentu
kami penasaran akan seperti apa eksekusinya di layar lebar. Sejak masih dalam proses produksi, saya menjadi follower akun @N5Mthemovie dan rajin mengikuti perkembangan di timelinenya.
Tapi sayangnya, saya tak puas secara keseluruhan. Pada scene saat Alif Fikri (Gazza Zubizzareta) berbicara dengan sang ayah (David Chalik) di pinggir danau, suami saya bahkan langsung berkomentar, "Wah, bocor nih. Ada tower BTS yang kelihatan,padahal setting ceritanya kan akhir 80an," ujarnya berbisik.
Usaha untuk memunculkan setting tahun 80an memang terwakili dengan adanya mata uang rupiah zaman dahulu atau mobil L300 kuno. Tapi kemunculan tower BTS ini membuyarkan semua itu. Satu hal lagi, frame kacamata yang dipakai Alif menurut saya kurang "jadul"... :)
Sesampainya Alif di PM, memang ada adegan yang cukup membuat saya tergelak-gelak, yakni kemunculan si Rajab Sujai alias "Tyson" yang menghukum Alif dkk dengan hukuman jewer berantai. Di dalam novel, kegaharan Tyson sering digambarkan dengan bayangan hitam berkelebat kencang yang siap menerkam siapapun santri yang melanggar
peraturan. Menurut saya, sosok Tyson dari Kismul Amni atau bagian keamanan pusat PM ini cukup mewakili imajinasi saya saat membaca novelnya. Keling, pendek, gempal, dan gahar dengan sajadah terlipat yang selalu tersandang di bahunya dan sepeda anginnya :). Tapi tak ada penggambaran Ustadz Torik yang juga seram. Tak ada pula keseruan saat Sahibul Menara kebagian tugas ronda untuk menjaga ternak sapi milik PM. :(
Tapi sekali lagi, saya kurang puas. Terutama terkait penggalian karakter para tokoh. Sedikit membandingkan dengan film Laskar Pelangi, saya merasa penggambaran karakter tokoh di Laskar Pelangi lebih berhasil dibandingkan film ini. Penonton yang belum membaca novel Laskar Pelangi pun bisa melihat penggambaran karakter masing-masing tokoh di film dengan pas. Kita bisa tahu sosok Ikal yang pemalu, Lintang yang pandai dan pantang menyerah, sosok Mahar yang sangat menyukai seni, dan lainnya dari filmnya. Di Negeri 5 Menara, kalau anda tak membaca novelnya terlebih dahulu, saya rasa anda tak akan bisa tahu persis seperti apa karakter Alif dan para Sahibul Menara lainnya, Raja (Jiofani Lubis) dari Medan, Said (Ernest Samudera) dari Surabaya, Dulmajid (Aris Adnanda Putra) dari Sumenep, Atang (Aris Adnanda Putra) dari Bandung, dan Baso (Billy Sandi) dari Gowa. Padahal, di novelnya, mereka semua dibahas dengan sangat menarik!
Memang tak akan mudah menuangkan seluruh isi cerita novel ke dalam film, namun saya rasa Laskar Pelangi mampu melakukannya dengan baik meskipun harus memotong banyak bagian cerita dalam novel. Tapi bukan mengubahnya loh!
Saya sangat kehilangan bagian cerita saat Alif dkk pergi ke Kota Ponorogo dengan menyewa sepeda onthel
dan pulang telat ke PM. Mereka telat pulang karena Said --yang memang tergila-gila dengan Arnold Schwarzenegger-- mengajak berhenti di depan bioskop hanya untuk mengagumi gambar sang idola. Di film, mereka diceritakan pergi membeli dry ice demi kepentingan pentas mereka di PM dan dengan lancar jaya kembali ke PM tanpa ada hukuman dari Tyson. Scene Said mengagumi gambar Arnold memang ada, tapi saat Sahibul Menara pergi ke Bandung saat liburan. Di novel, hanya Baso dan Alif yang ikut Atang pulang ke Bandung.
Lalu, ada lagi bagian yang menurut saya kurang pas dengan kehidupan nyata di pondok pesantren. Meskipun saya tak pernah belajar di ponpes, namun paling tidak saya tahu seperti apa adab bersosialisasi di sana. Bagian itu adalah saat tokoh Sarah (Erika Rein) ponakan Kiai Rais (Ikang Fawzy) muncul dua (atau tiga kali) berlatih di lapangan bulutangkis PM. Seingat saya, bagian itu tidak ada di novel. Di dalam novel, Sarah diceritakan sebagai putri Ustadz Khalid. Alif juga ingin mewawancarai Ustadz Khalid, bukan Kiai Rais.
Ada pula scene Kiai Rais dan para santri menonton pertandingan bulutangkis di televisi dan Sarah ada di tengah-tengah para santri laki-laki PM! Padahal, PM adalah ponpes khusus santri putra, dan rasanya scene kemunculan Sarah yang duduk bahkan ikut berteriak dan tepuk tangan (!) itu kurang pas.
Di novel, tokoh Sarah hanya muncul di rumah. Itu pun hanya di ambang pintu.
Mohon maaf juga, rasanya saya kurang cocok sama sosok Ikang Fawzy yang memerankan Kiai Rais. Selama ini, sosok Kiai Rais dalam imajinasi saya adalah sosok yang berkarakter kuat, berkharisma, tua, namun masih enerjik. Oom Ikang kurang pas, menurut saya loh! :). Dalam novel, Kiai Rais yang berjenggot panjang diceritakan lihai bermain sepakbola, namun dalam film, Kiai Rais versi Ikang Fawzy mengajari santri bermain gitar. Mungkin menyesuaikan dengan oom Ikang yang rocker kah? :D
Penokohan Ustadz Salman juga sangat dangkal, padahal dia adalah ustadz yang sangat mengilhami dan membakar semangat para sahibul menara. Di film ini, Ustadz Salman hanya muncul dalam scene dia memotong kayu dengan parang berkarat di kelas lalu mengenalkan seruan Man Jadda Wajada. Selebihnya, dia hanya muncul sekilas saja.
Ohya, suami saya juga kecewa karena tidak melihat seperti apa rendang kapau asli yang kering dan menghitam yang dikirim Amak saat tak bisa mengirim wesel untuk Alif. Saya juga tak berhasil melihat makrunah, menu khas kantin PM yang dalam novel digambarkan berupa mie gemuk-gemuk bergelimang kecap, bawang goreng, dan rajangan cengek.
Hanya ada seember susu (bukan kopi). Tak ada suasana antri di dapur umum untuk memperoleh salathah rohah atau sambal istirahat. Tak ada pula suasana deg-degan saat para santri mendengarkan pengumuman siapa yang memperoleh kiriman wesel ataupun pengumuman siapa yang melanggar aturan berbahasa Arab dan Inggris sehingga harus menghadap ke Mahkamah Bahasa PM.
Sekali lagi, film memang bukan novel. Cara bertutur dalam novel dan cara berbicara dalam film memang berbeda. Saya hanya ingin mereview sekilas. Saya hanya ingin berkomentar. Tentu saja, saya masih merekomendasikan film ini untuk ditonton semua umur. Sangat jauh lebih bermanfaat daripada menonton film-film lokal lainnya yang bergenre horor dengan judul-judul aneh yang bertebaran di bioskop sekarang ini. Silahkan menonton dan berkomentar. :)
Pastinya, saya akan menunggu Ranah 3 Warna dijadikan sekuel film ini. We'll see, apakah akan lebih baik?
Salam. :)
Jumat, 10 Februari 2012
I have open the gate, and look for the doors
"U have open the gate and u will find so many doors there open for u".
Pesan yang sangat berharga ini saya peroleh dari guru bahasa Inggris saya semasa SMA, Mrs. Nikmah. We met again on Facebook, and she looked so excited when I told her about my life. Beliau bilang "U love writing since I knew you. You have a great talent". Terharu sekali karena beliau adalah salah satu dari guru favorit saya semasa SMA.
Beliau selalu punya model pembelajaran yang menyenangkan bagi siswa. Para siswa -- apalagi siswa di kelas Bahasa alias Language Department-- harus berani tampil di depan kelas. Kadang kami diwajibkan menyanyi lagu berbahasa Inggris, bercerita apa saja, debat, dan lainnya. Semua dalam bahasa Inggris.
Saya senang karena beliau mengingat saya sebagai "Novita with a long writing in my books". Heheheh...dulu, beliau memang mewajibkan kami memiliki satu buah buku khusus untuk menulis segala sesuatu dalam bahasa Inggris, dan tentu saja saya senang bukan main! Saya bisa menghabiskan berlembar-lembar kertas di buku itu untuk menceritakan segala hal.
Yeah... I always love writing, dan sekarang saya sudah memutuskan untuk berhenti menjadi jurnalis. Namun bukan berarti berhenti menulis dan menginspirasi.
Bismillaahirrohmaanirrohiim....semoga Allah memberkahi pilihan saya. Amiin.
Senin, 16 Januari 2012
Dawet Ireng, Si Hitam yang Menyegarkan
WARNANYA hitam, bergelimang di dalam cairan kental santan dan gula kelapa yang manis. Orang Purworejo asli mengenalnya dengan sebutan "dawet ireng". "Ireng" dalam bahasa Jawa berarti hitam. Tak perlu kuatir dengan warna hitam dari dawet yang kenyal ini. Pedagang dawet ireng asli biasa menggunakan oman atau jerami padi sebagai bahan pewarna dawet. Tak sembarang oman, karena konon jenis padi yang omannya bagus untuk pewarna dawet adalah padi jenis rojolele yang dipotong dengan ani-ani, sehingga terjamin kebersihannya.
Jika sempat mampir ke kota yang sering disebut sebagai "Kota Pensiunan" ini, sangat mudah untuk menemukan kios dawet ireng. Deretan penjaja minuman segar ini banyak terdapat di sepanjang ruas Jalan Purworejo-Kebumen, atau tepatnya di Kecamatan Butuh. Tapi, jika ingin mencicipi rasa yang orisinil, anda bisa mampir ke kios dawet hitam milik Sulasiah (65) di
sebelah timur Jembatan Butuh.
Sulasiah merupakan generasi kedua yang menjajakan dawet ireng di keluarganya. Konon, dawet ireng khas Butuh mulai muncul sekitar tahun 1960, dan orang yang pertama kali menjajakan minuman ini adalah Ahmad Dasri yang notabene adalah ayah kandung Sulasiyah. Saat itu, sang ayah menjajakan dawet berkeliling di areal persawahan kampung, sampai pada akhirnya menetap di kios tersebut sejak Jembatan Butuh dibangun.
"Dulu bapak bikin dawetnya dari tepung gelang dari pohon aren, tapi karena sekarang susah didapat ya akhirnya kami pakai tepung sagu," ungkap Sulasiah kepada Merapi, belum lama ini.
Warung dawet ireng milik Sulasiah yang kini juga diteruskan oleh sang menantu, Sugeng S (50), tak pernah sepi pembeli. Mereka sengaja tak membuka cabang di manapun, dan terbukti pelanggan terus saja datang. Dalam sehari, tak kurang dari 300 mangkuk dawet bisa mereka jual. Saat masa liburan atau lebaran tiba, omzet pun pasti melonjak dua hingga tiga kali lipat. Banyaknya kios dawet lain di sepanjang ruas jalan tersebut pun tak berpengaruh terhadap usaha mereka. Mobil-mobil berplat nomor luar daerah tetap lebih kerap menyambangi warung sederhana tersebut.
"Waktu Bu Rustriningsih menikah (Wakil Gubernur Jateng, red), keluarga beliau juga memesan dawet dari kami. Beberapa artis terkenal seperti Krisna Mukti dan Pak Bondan Mak Nyus itu juga pernah mampir ke sini," ungkap Sugeng sambil melayani pembeli yang tak henti-hentinya datang.
Dengan harga Rp 2.500 per mangkuk, rasanya tak rugi jika anda jauh-jauh datang untuk mencicipi dawet ireng buatan keluarga Sugeng ini. Menurut Sugeng, dawet ireng yang terbuat dari bahan alami tersebut bahkan bisa mengurangi sakit maag. Selain itu, Sugeng pun tak pelit pada pembeli.
"Jika kurang manis, bisa tambah gula. Jika kurang dingin, bisa tambah es plus santan. Sesuai selera pokoknya," ujarnya.(Vit)
Kamis, 25 Agustus 2011
#Galau
Hari ini berkali-kali saya ngetweet di Twitter dengan hashtag #galau. Saya memang lagi galau.... :(. Entah kenapa. Saya galau. Supergalau.
Selasa, 07 Juni 2011
I Miss My Best Friend
The stars lean down to kiss you
And I lie awake and miss you
Pour me a heavy dose of atmosphere
'Cause I'll doze off safe and soundly
But I'll miss your arms around me
I'd send a postcard to you, dear
'Cause I wish you were here
I'll watch the night turn light-blue
But it's not the same without you
Because it takes two to whisper quietly
The silence isn't so bad
'Til I look at my hands and feel sad
'Cause the spaces between my fingers
Are right where yours fit perfectly
I'll find repose in new ways
Though I haven't slept in two days
'Cause cold nostalgia
Chills me to the bone
But drenched in vanilla twilight
I'll sit on the front porch all night
Waist-deep in thought because
When I think of you I don't feel so alone
I don't feel so alone, I don't feel so alone
As many times as I blink
I'll think of you tonight... I'll think of you tonight
When violet eyes get brighter
And heavy wings grow lighter
I'll taste the sky and feel alive again
And I'll forget the world that I knew
But I swear I won't forget you
Oh, if my voice could reach
Back through the past
I'd whisper in your ear
Oh darling, I wish you were here
("Vanilla Twilight"-Owl City)
Minggu, 22 Mei 2011
Pantaskah, song for lastnite
Bisakah hati ini memendammu
Berulangkali aku mencoba
Pergi jauh melupakan dirimu
Ku gelisah...
Ku tak kuasa...
Menghapus kenangan indah bersamamu
Pantaskah bila aku tak mampu melupakanmu
Kini aku telah bersamanya
Haruskah ku sesali
Apa yang telah terjadi
Aku tak mungkin denganmu...
Memang semua salahku melangkah
Menjalani cinta yang tak mungkin
Saat harus kusudahi semua
Perjalanan cinta yang tak pasti
Ku gelisah...
Ku tak kuasa...
Menghapus yang pernah tersimpan di hati
(Pantaskah, Marcel Siahaan)
*Semalam, tengah malam, tiba-tiba ada lagu ini di radio. Agak membuat saya menye-menye, melodramatis lagi.
