Rabu, 31 Maret 2010

masih sayang


"Masih sayang Novi," kata dia pada saya sekitar seminggu yang lalu. Sebenarnya saya tak berharap dia bicara seperti itu, tapi apa yang dia bilang itu cukup membuat saya merasa masih berarti bagi dia. Toh, saya merasa sebulan kemarin kami memang terlalu sibuk dengan urusan kami masing-masing. And he said it too, that he was too much busy to have a contact with me. And I do really understand.


Seharusnya saya berterimakasih pada Allah, Tuhan saya. Saya tak pernah merasa sendirian, bahkan saat saya patah hati sekalipun. Allah selalu sesegera mungkin memberi saya penawar.

Cinta pertama saya itu, saya rasa hanya kembali lewat saja. Euforia masa SMA yang kembali tersulut untuk sesaat. I think I have to let him go now, meskipun saya sebenarnya ingin menanyakan kenapa dia melakukan itu semua buat saya selama saya menghabiskan cuti di Jakarta sebulan yang lalu. Menjemput saya pagi-pagi di stasiun, padahal dia harus segera ikut rapat kerja kantornya di Puncak. Bolak-balik dengan Ninja birunya hanya untuk mengantar-jemput saya. Man, Depok ke Puncak, Puncak ke Depok, atau Depok ke Kemayoran tentu bukan jarak yang dekat! Bahkan, izin satu hari dari kantor saat hari terakhir cuti saya. If he had a girlfriend, he shouldn't do that. Then why did he tell me that her GF is such a possessive girl who always said to him, "awas, jangan macam2! awas, jangan boncengin cewe lain!" and call him more than twice a day just to ask "posisi dimana?".
I think, kalau dia sudah yakin dengan gadis itu, don't let me coming back into his life. Gosh, saya gak patah hati, sudah lewat masa itu. Saya lebih merasa kecewa, karena dia tak jujur. Kalau menginginkan saya, he should leave that girl, of course. Saya pun masih sayang pada dia, tapi rasa itu sudah melewati ambang batas patah hati. Mungkin sudah seperti rasa sayang kepada kakak atau saudara. Meskipun, saya pun masih mau kalau dia melamar saya. Hahaha.. Engga dink, entahlah, saya samasekali tak yakin.

Then, I don't know why God still send me a brand new guy. Saya kenal dari salah satu senior saya. Dia juga wartawan. Dan, dia berani datang ke rumah saya, bertemu ibu saya. I mean, saya pun memperbolehkan dia datang. Padahal, another guy yang sejak dulu memaksa bertemu ibu saya pun tak pernah saya perbolehkan. Saya mengizinkan karena basically saya merasa dia orang yang baik. Dia seperti cinta pertama saya, a young man yang masih selalu ingat untuk berbelok ke masjid begitu adzan berkumandang.
U know, buat saya, pria yang taat beribadah dan cerdas tentu (Insyaallah) akan bisa membawa saya ke arah yang lebih baik. Actually, I found it in my abi, but lot of things yang menjadi border di antara kami... :(

Saya sekarang menjalani hidup apa adanya. Go with the flow....
Orang baru itu, saya tahu dari teman saya, memang having an intention to me, I mean a serious intention. Tapi, saya juga belum yakin. Should ask it to abi... :D


Rabu, 24 Maret 2010

blank


Saya piket malam ini. Di meja saya ada sebotol joy green tea dan kraft keju cake favorit saya. Being the only girl in this office, again. Jam sembilan masih sekitar satu jam lagi. Entah apa yang ingin saya tulis di sini. Bingung.

Selasa, 16 Maret 2010

need him now


I miss my abbi
I need to talk to that guy
After all those times,
after I met another guy from my past time,
and also a brand new guy....
I feel a bit confused and sad now...
about what had happened in my life a few weeks ago....
about what actually God mean about these all
about God's plan for my life.

Selasa, 09 Maret 2010

who really loves me?





Sudah lewat sepuluh menit dari jam setengah enam sore. Saya sudah menyelesaikan beberapa tulisan, tapi tak bisa beranjak keluar kantor. Di luar, hujan deras dan angin yang cukup kencang cukup membuat saya ngeri untuk keluar dari ruangan ini.

AC masih berhembus kencang di ruangan ini. Bahkan sampai saya dan salah satu teman kantor saya harus memakai jumper kami untuk menahan dingin. Damn...remote ACnya entah disembunyikan dimana. Saya harus agak menahan sakit di perut saya. Hari pertama mens. Cukup membuat duduk saya tak nyaman. Sakitnya tak seberapa, tapi cukup membuat saya menderita juga.

Saya bersyukur dia sudah baik-baik saja. Ya, now I wanna told u all about him. Cinta pertama saya yang baru seminggu yang lalu saya temui di Jakarta. Kemarin malam dia bilang kembali tepar karena radang tenggorokan yang membuat dia demam dan tak masuk kantor. Today, dia bilang dia sudah baik-baik saja karena dokter sudah memberinya obat yang mujarab. Gara-gara menu di Hoka-Hoka Bento yang mengandung udang, dia pun alergi dan terkena radang di tenggorokannnya. Thanks God, he is fine.

Well, sebenarnya saya juga tak memahami secara persis apa rencana Tuhan untuk hidup saya. Dalam waktu sesingkat ini saya kembali menemukan apa yang sempat hilang di antara kami. Saya juga belum tahu secara pasti, siapa yang benar-benar ada buat saya selama ini.
Saat dia (another guy that I always talked about in this blog) tengah sibuk dengan hari-harinya dan bahkan
seperti melupakan saya, dia (sang cinta pertama saya) kembali ada untuk saya. Meskipun dari kejauhan.
So, theme for today is....who really loves you?
Saya merasa, cuti beberapa hari yang saya habiskan di Depok, Jawa Barat dan Jakarta bersama dia dan teman-teman saya di sana cukup membuat saya sadar bahwa sebenarnya rasa itu masih ada. Rasa itu mungkin hanya sempat tertimbun oleh jarak dan waktu yang membuat kami terpisah. Ah...entahlah...saya tak ingin banyak bercerita di sini. Bingung bagaimana menjelaskannya.
Hari ini pun saya baru tahu bahwa dia--yang sudah seperti ingin menjauh dari saya-- memang tengah pergi jauh. Biarkan saja. Saya tak punya cukup hak untuk memintanya selalu memberitahu saya apapun yang ia lakukan.
Walaupun saya juga sudah pernah bilang, mereka berdua sama pentingnya bagi saya, dan mereka memiliki posisi masing-masing di hati saya. But, I have to find who really loves me, right...?

Rabu, 03 Maret 2010

Kembali ke Jogja


Saya baru kembali ke Jogja jam 5 pagi tadi dengan kereta Senja Utama kelas bisnis dari Stasiun Pasar Senen, Jakarta ke Stasiun Tugu, Yogyakarta. Cuti empat hari kemarin cukup membuat penat di badan dan pikiran saya agak menghilang.

Jumat malam saya meluncur ke Jakarta, setelah sebelumnya menyelesaikan semua tugas yang harus saya selesaikan sebelum long weekend kemarin. Ah, saya masih terlalu lelah menceritakan semuanya. And u know what, kembali ke Jogja sebenarnya kini tak lagi sebegitu saya inginkan sekarang. Toh, tak ada siapapun di sini yang mungkin sangat merindukan saya lagi.