Rabu, 30 Desember 2009

I miss him. For God's sake.

Hari saya berangkat ke kantor jam delapan pagi. Sangat pagi untuk ukuran seorang wartawan yang biasa merapat ke kantor siang atau bahkan sore hari. Ada rapat redaksi untuk koordinasi liputan tahun baru. Tapi berhubung masih ada beberapa reporter yang belum datang, terpaksa rapat belum dimulai sampai jam 08.30.

Semalam, saya menginap di rumah salah satu teman di salah satu perumahan di daerah Maguwoharjo. Sepulang dari kantor, saya memarkir motor di kos, dan mereka menjemput saya di ujung gang. Mampir sejenak di Shilla, resto makanan Jepang yang lumayan enak tapi sangat lumayan membuat kantong cepat kering. Lalu meluncur ke Maguwo.
Salah satu mantan anak kost, senior, jauh lebih berumur dibandingkan saya. Kebetulan ada mbak kos lain yang bekerja di Statoil (perusahaan minyak Norwegia) Jakarta yang liburan ke Jogja. Alhasil, reuni bertiga di sana. Tertawa-tawa sampai dini hari, lalu bangun pagi-pagi, makan garlic bread favorit saya yang khusus dibuat pagi tadi sambil menunggu driver si mbak itu, lalu mereka mengedrop saya sampai di ruas jalan Herman Yohanes. Tidak ingin merepotkan, saya memilih jalan kaki dari gang ke kost saya.

I was thinking about what had happened, a whole nite. Sampai jam dua pagi saya tak bisa lelap, mata saya paksa terpejam tapi tak pernah benar-benar lelap.

I miss him. Still.
And today, when I asked him if I am still special, he only said," I do hope".
So, what I can expect?
Dia selalu nampak menarik-ulur apapun yang dia katakan.

Selasa, 29 Desember 2009

Happiness and Sadness, at The Same Time.


I met him. Today. Only for a few minutes.
I don't know what he felt, but I know that he knew what I felt.

Saya tak bisa berlama-lama, karena saya tak ingin ia melihat saya meneteskan air dari mata saya. I was happy, but I also felt upset, down, confused, and another unidentified feelings....

U know, after two years, today I kissed his hand. Finally. Well, not really kissed by my lips, but it came naturally and I want to did that when he gave his hand to me. Not like before, I always rejected him.

Saya merasa, apa yang saya rasakan sekarang ini benar-benar higher than my consciusness. Bukan under my consciusness, bukan di bawah kesadaran. Saya sadar, benar-benar sadar. Bahkan di atas kesadaran normal saya. Entah apa juga yang membuat saya merasakan bahwa dia sudah menjadi sedemikian pentingnya dalam hidup saya.

Gosh, I really don't know what to say. I deep down on my happiness and also sadness in the same time.
Saya sudah sangat senang melihatnya baik-baik saja dan kami pun kembali baik-baik saja.

Seandainya saya bisa, saya ingin kembali menghambur kepada dia, hugging him tight, and saying how much he meant for me....


back to school

Reuni kecil-kecilan dengan beberapa teman, napak tilas sudut-sudut sekolah tercinta. Tapi tak semua bisa terekam.






Senin, 28 Desember 2009

untitled


'Cause I miss you, body and soul so strong that it takes my breath away
And I breathe you into my heart and pray for the strength to stand today
'Cause I love you, whether it's wrong or right
And though I can't be with you tonight
You know my heart is by your side....

("If You're Not The One", Daniel Beddingfield)

Saya tak mengira hari ini dia akan kembali. Gosh, I do miss him.

Jumat, 25 Desember 2009

mengkhawatirkannya.


Saya melihat namanya online di Yahoo Messenger hari ini, tapi saya tak berani menyapanya. Saya ingin mendinginkan hati saya dulu setelah apa yang terjadi di antara kami. Sampai detik ini pun saya masih menyimpan kuat apa yang kami bangun, meski sepertinya saya harus mulai mengurai tali kuat itu untuk melepaskan diri...bukan melepaskan dia pergi.

Semalam, saya menghabiskan waktu dengan dua sahabat. Makan malam yang sangat terlambat di Waroeng Steak Demangan, lalu berlanjut dengan obrolan di Momento. Sampai tengah malam. Dan di tengah obrolan kami itu, saya memperoleh kabar yang entah harus saya percayai atau tidak, bahwa dia tidak benar-benar baik-baik saja. Meski dia selalu bilang kalau dia sedang tidak baik-baik saja, tapi dia tidak pernah bilang kalau ada sebuah penyakit bernama spesifik yang ia punyai.
Oh Gosh, saya khawatir. Boleh kan saya khawatir? Bahkan, semalam, seporsi chocomelt yang saya pesan pun berubah tak lagi menggiurkan setelah saya mendengar kabar itu.

Saya sedang teramat jauh dari dia untuk sekedar bertanya.
Ya Tuhan, peluk dia dengan perlindungan-Mu agar dia selalu baik-baik saja... Amiin.

Kamis, 24 Desember 2009

Merasa Aneh


SAYA tidak tahu, siapa yang akan saya ceritakan sekarang. Banyak hal terjadi dalam beberapa hari ini, dan banyak hal yang saya rasakan dari kejadian-kejadian itu.

Hari ini, sehari menjelang Natal. Kost sudah mulai sepi, sebagian penghuni di 19 kamar di lantai 1 dan lantai 2 sudah berpindah tempat di rumah masing-masing karena libur cukup panjang. Saya, masih berkutat dengan pekerjaan, dan pikiran.

Tanggal 27, ada ajakan reuni kecil teman-teman SMA di rumah teman. Tapi tanggal itu, salah satu teman seperjuangan di Pikiran Rakyat yang sekarang bekerja di Kompas.com bilang kalau dia akan datang dari Jakarta-- datang, atau entah hanya singgah di Jogja. Lama tak bertemu, dan saya pun ingin menyerahkan setumpuk koleksi foto hasil jepretan dia yang masih saya simpan. Tapi saya juga ingin berkumpul dengan teman-teman "gila" saya waktu SMA yang sudah bertebaran di berbagai daerah. Entahlah, saya akan putuskan nanti.

U know, sehari ini saya juga sibuk membantu dua mantan anak kost yang entah kenapa menelepon saya dalam waktu yang hampir bersamaan. Salah satunya, temen kost yang kini sudah kembali ke Riau. Dia minta bantuan saya membelikan kue untuk seorang laki-laki pujaan hatinya (well, bahasa saya mulai berlebihan sepertinya :D ). Teman saya satu ini memakai jilbab, dan laki-laki itu berbeda keyakinan. So, tidak ada yang bisa diperjuangkan kan? So, dia meminta saya membelikan kue itu hanya untuk menjaga silaturahmi. Kue natal itu pun saya belikan, dan orang itu mengambilnya ke kost tadi pagi. Kedua, teman yang sudah kembali ke Jakarta. Berbeda urusan dengan kue, dia minta tolong saya membooking kamar hotel karena dia akan datang ke Jogja besok pagi. Well, bukan urusan yang gampang untuk mencari kamar hotel yang kosong di long weekend seperti ini, mendadak pula. Tapi demi teman, apa yang bisa saya lakukan ya saya usahakan.

Hari ini pun saya merasa aneh dengan diri saya sendiri.
Ada seseorang yang hari ini terbang ke Kalimantan, dan entah kenapa saya merasa sedikit ada rasa kehilangan di dalam hati saya. Well, saya agak menyesal kadang secara tidak sadar sudah bersikap tak enak atau bahkan semi-jahat pada dia.
Setelah tahu dia akan pergi-- entah untuk satu bulan atau satu tahun, saya belum tahu--, saya baru berpikir bahwa orang ini memang baik, dan saya yang seringkali sangat teramat jahat. Saya jadi berpikir, kenapa dia mau datang ke parkiran kantor saya hanya untuk mengantar dua botol minuman dingin dan makanan kecil? Kenapa juga dia langsung mau membelikan martabak Kotabaru ketika saya sakit dan bilang pengen makan itu (meskipun akhirnya saya membatalkan keinginan saya itu dan malah dia yang kecewa karena saya tidak jadi ingin makan martabak manis itu)?
But hey, I feel nothing. He's just one of my friends. Meski mungkin hati saya belum bisa terketuk, tapi saya tetap merasa kehilangan ketika tahu dia pindah.
Well, paling tidak, sebelum dia terbang tadi, saya sudah membuat dia merasa agak senang karena dia sepertinya tahu kalau saya sedih. He said, "Gapapa gak nganter, cukup tunggu di Jogja".
Saya hanya ngikik, sembari teringat waktu ulangtahun saya kemarin dia-- sambil setengah bercanda-- bilang ingin memberi kado cincin, atau saat dia setengah memaksa mengantar saya pulang ke my hometown. Kadang konyol, karena dia tahu saya belum ada berpikir untuk mengikatkan diri pada siapapun, dan dia malah memaksakan mendekat pada saya.

Tuhan...saya semakin merasa aneh pada diri saya sendiri.

Selasa malam lalu, saya akhirnya punya waktu untuk pergi ke XXI, demi menonton "Sang Pemimpi". Sudah ada teman yang menjadi "event organizer" yang rela repot memesankan tiket sejak pagi dan bisa mendapat tiket di deretan kursi B, yang notabene barisan kursi favorit dan paling nyaman menurut saya, karena berada di barisan kedua dari atas. Saya menonton berenam, tiga laki-laki dan tiga perempuan termasuk saya. Meski tak ingin menceritakan film itu, but "Sang Pemimpi" jelas sebuah film yang menginspirasi dan tak akan saya lewatkan. Saya pun dibuat sesenggukan karena beberapa scene yang sangat menyentuh.
Usai nonton, kami beranjak ke sebuah tempat makan di kawasan Seturan. Kawasan yang ramai dan padat dengan deretan bisnis kuliner dan hang-out spot. Makan, apa lagi?
Tak ada yang saya anggap istimewa dari mereka, tapi teman-teman saya menganggap dan sepertinya mengarahkan saya untuk menganggap salah satu dari laki-laki 20 tahunan itu sebagai seseorang yang spesial. Hanya dengan melihat bahwa dia rela jauh-jauh dan terburu-buru datang dari luar kota-- tempat dia bertugas-- untuk ikut ke XXI. I don't think so, I mean...saya bilang ke salah satu teman, itu karena dia memang pengen nonton "Sang Pemimpi", bukan karena saya! Meski mereka juga tidak tahu, dulu betapa kagetnya saya ketika dia datang malam-malam hanya untuk memberi saya dua box es krim sebagai permohonan maaf. Tapi saya menepis itu, saya tidak pernah berpikir saya spesial.
Tuhan, saya tidak menganggap dia atau yang lain istimewa. Mungkin belum bisa. Saya juga tidak ingin menganggap diri saya istimewa bagi mereka. Biasa saja.

Hmmm....
Semalam, saya mampir ke Gramedia sepulang dari kantor. Menemukan sesuatu untuk DIA. Lalu semalaman saya menggunting dan melipat, membuat pembungkus. Saya berharap bisa bertemu dan memberikan itu kepadanya sebelum tahun berganti. Ya, this is about him. My man.
Saya masih memikirkannya. Memikirkan bahwa dia sedang tidak dalam kondisi baik. Memikirkan bahwa kami juga sedang tidak dalam kondisi hubungan yang baik. Tapi pesan teramat singkat dari dia kemarin malam membuat saya merasa bahwa seharusnya memang saya harus kuat untuk berangsur mundur.
Saya hanya berpikir, kami bisa melewati waktu dua kali 365 hari karena kami percaya untuk saling menjaga. Saya tidak yakin dia tidak tahu how much I'm missing him now...and how hurt it is to be away from him.

Hhhh...awal tahun 2010 akan menjadi awal baru dalam hidup saya. Meski saya tak punya resolusi yang jelas tentang kehidupan pribadi saya, tapi saya jelas-dan-harus menjalani babak baru dalam pekerjaan saya. May Allah always gives the best thing into my life. Amin.

Senin, 21 Desember 2009

I (do) miss him

("Jika terlalu banyak kenangan, lupakan karena lama-lama itu akan menyiksamu")

Semalam, saya tak ada kerjaan. Hampir tengah malam, saya mulai menyusuri facebook dan tiba-tiba menemukan status yang ditulis salah satu dosen saya. Dosen saya satu ini bisa dibilang agak keranjingan mengganti status di FB. Dan kebetulan semalam status beliau cukup memberi saya inspirasi, atau bahkan pencerahan. Meski beliau tidak akan membaca ini, saya seharusnya meminta izin mengutip kata-kata beliau di sini... :D

("Sedang mengikatkan tali memori kuat-kuat, dengan benang paling bagus, tiang paling kokoh, semangat paling gigih, dan hati paling ikhlas")
Status yang satu ini juga ditulis beliau. Hampir sesuai dengan apa yang tengah saya upayakan sekarang. Hanya saja, saya sedang ingin mengikatkan tali memori bukan untuk meninggalkannya, tapi untuk mempertahankannya.

("Ingin menandai lintasan burung besi terbang menyusur angkasa, bisakah?")
Status ini juga. Saya jadi bermimpi bisa menandai lintasan di angkasa itu bersama orang yang saya inginkan ada sekarang. Kemanapun dia pergi.

("Syukuri apa pun yang bisa kita nikmati, nikmati apa pun yang bisa kita syukuri")
Status yang saya copy ini juga. Cukup meninju ulu hati saya. Apakah saya harus bersyukur juga untuk kesibukan dia dan masalah yang lagi-lagi hinggap di antara kami?

Gosh, I do miss him. Saya juga teramat merindukan waktu-waktu yang sudah kami lewati lebih dari dua kali 365 hari kemarin....

I'm Sick. But I Don't Need A Doctor


Tubuh saya masih demam. Libur beberapa hari kemarin sepertinya tak cukup untuk membuat tubuh saya membaik. Demam, mual, bahkan hampir jack-pot alias munte-munte. Entah karena apa. Tapi saya selalu merasa membaik ketika saya menarik gas motor sekencang yang saya inginkan di jalan raya menuju perbatasan diy-jateng. Well, it doesn't make sense untuk ngebut di jalanan Jogja. So crowded, dan banyak sekali pengebut-pengebut tak tahu etika menarik gas di jalan. Duduk di atas jok motor, dengan average speed 80-90 km/hours, menikmati terpaan angin, terkadang membuat saya seolah hanya duduk dan melayang di atas angin. Melupakan sejenak apapun yang membuat saya pusing, sedih, penat, bingung, dan lainnya.

Well, I'm sick. But I don't even need a doctor. I do need him.

Lalu hari ini, dia bilang dia juga sakit.
Then I said that I do miss him.

Kamis, 17 Desember 2009

Teach me, God.


Stay a little longer
Move a little closer
Stay until you forget to leave
Don't think my heart could take it
Every time you go and break it
The thought of losing you means losing me
When goodbye is too hard to say...
Stay...
("Stay"-Bellefire)

God, please teach me to hate him
Teach me to forget him
Teach me to stop my tears
Teach me to be brave to say that I will never miss him anymore
Teach me to be brave enough to say that I don't need him anymore
Teach me to swallow this bitter end, easily
Teach me to survive and still standing in my own feet
Teach me to see that the sun is still shining brightly outside
And teach me, make me learn to open my eyes widely to see another real things in the world, clearly....
I'm down on my knee, God
Coz nothing I can do now
And none able to understand what I'm feeling now
(written by me, under my sadness)

Senin, 14 Desember 2009

I-Miss-Him


I talked just if I was talking to him.

U know, I miss him.
My sleeping time at almost midnite-- or over midnite-- always be the hardest time for me, everyday.
When I couldn't close my eyes, my mind just travelling to anywhere to found him.
And it's killing me.
I said that it's killing me 'coz it's really hard, really painful.
I even cannot deal with my feeling anymore....

Minggu, 13 Desember 2009

Tak Rela....


And now that you've gone

I can't cry hard enough
No, I can't cry hard enough
For you to hear me now....

(Can't Cry Hard Enough" -Bellefire)

Semalam, tiba-tiba saya kembali memikirkannya. Memikirkan bahwa dia memang benar-benar tidak akan tinggal. Kekuatan yang sudah mulai saya paksa untuk bisa tersusun pun tiba-tiba langsung luruh.

Menyesakkan. Demi Tuhan, rasanya sangat menyesakkan.

Kadang saya ingin bertanya kepada Dia-- Sang Pencipta Hidup dan Pencipta Segala Rasa--, kenapa Dia harus mengirimkan dia dalam hidup saya. Kenapa Dia memberi dia ruang untuk mendekati hati saya. Kenapa saya pun tak memiliki kekuatan untuk tidak menerima dia.

My feeling isn't a chair, which will be the same chair today, tomorrow, or the day after tomorrow. But it grows. It growing. Lalu sekarang dia ingin pergi begitu saja.

Gosh...saya tidak ingin meminta-minta. Karena selama ini pun saya hampir tak pernah meminta, selain meminta sejengkal waktu dia.

Saya tak rela, tapi saya bisa apa untuk menahannya?



Rabu, 09 Desember 2009

missing him


we’ve get along together
i should have known
you’re the best that i can love
till now it’s hard for me to face it
why didn’t we meet each other soon
i left them all behind you, only for you
would you believe me
i put my trust on you
but deep inside i realize
that i can’t, no i can’t

("so would u let me be"-d'cinnamons)

Sabtu, 05 Desember 2009

He is The Most Extraordinary Part of My Life


I don't have to tell you what it's like
Day's with out you by my side
They run together
Like stormy weather
In the Summertime

And I don't have to tell you how it feels
To wake up in the night without you here

So wrap your arms around me
Show you how you miss me
Say you know how I feel

Stay a little longer
Move a little closer
Stay until you forget to leave
Don't think my heart could take it
Every time you go and break it
The thought of losing you means losing me
When goodbye is too hard to say...
Stay....
("Stay"-Bellefire)


Mungkin jika ditampung dalam galon air mineral di atas dispenser di kamar saya, air yang terus-menerus mengucur dari mata saya hari ini bisa membuat galon itu penuh kembali.

I feel empty. So much empty.
I feel hurt. So much hurt.
I feel dark. So much dark.

Saya merasa menjadi Isabella Swan yang terus-menerus, berbulan-bulan, menangis, melamun, dan berteriak-teriak di saat tidur setelah ia harus berpisah dengan Edward Cullen, orang yang selama ini membuatnya "hidup". Saya menonton film "New Moon" itu dua hari yang lalu, dan saat itu saya terisak di dalam bioskop XXI. Tak pernah tahu, bahwa saya akan merasakan sakit sesakit-sakitnya seperti yang dirasakan tokoh Bella Swan. Dia mencintai Edward dengan segala kekurangannya. Dia mencintai Edward meskipun dia tahu Edward adalah seorang vampire dan mereka tak mungkin bisa hidup bersama. Kecuali Bella rela berubah menjadi vampire. Lalu muncul tokoh Jacob Black yang bisa mengisi lubang di hati Bella, tapi pada akhirnya Bella juga tetap memilih Edward.
Well, enough. Enough about that movie. Coz finally, they met again, they love each other again. Not like my dark story.

Saya tak ingin berpura-pura saya kuat. Saya tak ingin bersikap seolah saya siap dan berkata pada dia, "Fine, I don't wanna see you anymore. No more calls, no more messages,". Karena saya memang samasekali tidak kuat.

I do really wanna hug him tonite, and say that I do need him, and let him see my tears.

Dia bilang, saya harus rasional, bukan emosional. Then what I should do and what I can do beside crying? Untuk kembali berbicara heart to heart as usual dengan dia pun sepertinya sudah sangat sulit. Sepertinya semua sudah tertutup. There's no connecting door between us, anymore. There's no open way for me to talk to him, anymore.

Saya teramat kalut.

I said, just kill me before he leave. So that I don't have to feel this terrible pain.
Saya tak berlebihan, karena saya tak menemukan kata lain untuk menggambarkan sakit yang saya rasakan sekarang ini. Seperti dihujam puluhan anak panah dan tidak langsung terkapar mati, tapi sekarat dengan sakit yang tak tertahankan tapi tak bisa terucapkan.

He is the most extraordinary part of my life.
Dia mendobrak segala idealisme saya tentang sebuah keterkaitan perasaan. Dia bahkan membuat saya menutup mata terhadap hal lain di sekitar saya. He made me learn that love (I don't know should I called it as "love"?) is borderless. Saya bahkan ia buat menjadi tak pernah bisa membandingkan dirinya dengan orang lain.

He had brought me to a world that I have never saw before. And I do love that world.
And now, he wanna destroy that world. A world which he built for me. A world that made me understand that sometimes love is just in the air, inside our heart, inside our mind, without any intention to make it as our own.

Saya tak tahu bagaimana cara untuk membuat dia memahami apa yang saya ungkapkan.
Saya tak tahu lagi bagaimana cara untuk membuat dia mengerti apa yang saya rasakan setelah apa yang ia perbuat.
Saya bahkan tak tahu lagi bagaimana cara untuk membuat dia merasakan bahwa saya masih sangat membutuhkan dia.


Kalut


Friday, 4th of Dec 2009

(almost midnite)

Sang Maha Mengetahui, entah apakah saya pantas mengadu pada-Mu atau tidak. Tapi malam ini saya benar-benar merasa kembali hancur. Kepingan yang sempat hancur lalu saya susun kembali, sekarang kembali hancur. Sakit. Sangat sakit. Sakit sekali.

Saya tahu, apa yang saya pilih untuk saya jalani ini memang akan lebih sering menyakitkan hati saya. Tapi selama lebih dari duapuluh empat kali bulan berputar, saya toh bisa.

Sejak pulang sebelum Maghrib hingga selepas Isya ini saya mengunci pintu dan jendela kamar. Saya sibuk dengan pikiran saya sendiri. Menumpahkan apa yang seharusnya tidak lagi saya tumpahkan. Tapi saya sudah tidak kuat menahannya. Dada saya tak terlalu kuat untuk bisa menahan sedih yang ia ciptakan pada hati saya. Meskipun tak ada alasan yang sangat kuat bagi saya, tapi kali ini saya merasa sangat-sangat hancur (lagi).

Terkadang ingin menyesali mengapa ada awal yang saya ikuti, hingga saya sampai di jalan ini. Tapi sungguh saya sebenar-benarnya tak pernah ingin menyesali apa yang telah saya pilih. Saya memilih menjalani sesuatu yang samasekali tak pasti, dibanding memilih menjalani hidup dengan berbagai hal yang pasti. Karena memang hal-hal pasti itu tak saya inginkan.

And I don't even know why he did this to me, again.
He ever took me out of the blue, but now he makes me drowning again into the blue.
I do, so much drowning into the blue. Saya benar-benar merasa ini adalah salah satu puncak kesedihan saya selama saya mengenalnya.

Saya harus menyalahkan siapa? Gosh, please tell me! I don't even know how should I handle my tears now. Saya juga tak tahu harus bercerita tentang kekalutan saya pada siapa. Karena tidak akan mudah untuk bercerita.

Kenapa semua ini harus ada dalam alur hidup saya? Kalau hanya untuk menjadi salah satu cerita yang diharapkan akan mendewasakan saya, allright...saya dewasa karena semua ini, dewasa karena segala kerumitan ini, dewasa karena rasa sakit ini.

Ketika saya membuka katup hati saya saat itu, saya bukan tidak menyadari tentang semua kerumitan yang akan saya rasakan dari perguliran udara yang akan melewati katup hati saya itu.

Sekarang, selunglai apapun saya, sebenarnya saya tak ingin meminta-minta. Tapi saya juga tak tahu harus berbuat atau berkata apa. Dia pun terlalu jauh untuk bisa mendengar isak saya, untuk menyeka derai dari mata saya, atau untuk meminta saya berhenti dari segala kekelaman yang saya rasakan malam ini!

I don't even wanna say goodbye to him. I don't even wanna destroy a world which we have ever built. I also never wanna forget everything, about us.

Memang tak ada, tak akan ada yang saya perjuangkan. Saya menjalani dan memiliki dengan cara saya. Tanpa merenggut apapun dan siapapun. Semua tentang itu pun sudah berulangkali menjadi bahan percakapan saya dan dia selama beratus hari yang telah berlalu. Then what?

Mungkin saya harus membaca pikirannya untuk mencari jawaban atas segala kesedihan yang kembali ia kirimkan pada hati saya. But how could it be?

I'm still 100 percent in my consciusness, that I shouldn't push to be the most important part of his life. Of course I do! Saya masih sadar, sesadar-sadarnya. Ketika terkadang ada rasa tak karuan karena semburat keposesifan atau kecemburuan, bukan berarti saya akan langsung berteriak-teriak lalu menghambur dan memeluk dia sekuat mungkin. Terkadang, rasa seperti itu hanya perlu saya ucapkan, hanya agar dia tahu.

It felt so hurt when we're been ignored by someone who's so important in your life, someone whom you always spent your time with, someone who ever changed the rain drops became the sunlight in your days, someone whom you always wanna talk to when you went to sleep and woke-up in the morning....

You can feel how hurt it was when that important person choose to go away from you.
It's killing me.
It's really killing me with the worst and the most painful way.

Kamis, 03 Desember 2009

(masih) Ulang Tahun



Masih ulang tahun rasanya.
Hari ini saya sengaja meluangkan waktu untuk mengadakan gathering pas jam makan siang di sebuah tempat makan dengan beberapa staf humas uny, teman wartawan (hanya beberapa, dan akhirnya ada yang ga bisa datang), dan humas uin (yang akhirnya juga berhalangan hadir).

Saya bilang gathering tadi bukan hanya makan-makan untuk mensyukuri usia, tapi juga perpisahan. Tanpa menyebut alasan pasti mengapa saya menyebutnya sebagai perpisahan, dan tentu membuat beberapa orang bingung. (Meskipun setiba saya di kantor tadi, ada kabar baru, rencana awal diundur lagi, entah kapan ada transisi itu)
Gathering tadi seru. Mengharukan juga. Saya kaget karena saya samasekali tak berharap akan ada acara serah terima kado, tapi ternyata ada. Serah terima dengan foto-foto pula, layaknya pejabat yang melakukan serah terima MoU... (hahaha, berlebihan!). Bahkan, pak dekan salah satu fakultas menitip satu kado buat saya lewat humas. Beliau memang sempat mendengar bahwa saya berulangtahun. Saya belum membuka kado itu, tapi jelas saya harus menelepon beliau untuk berterima kasih. (Semoga kadonya berisi anak laki-laki sulung beliau yang handsome itu, haha...mana muaaaaat???)
Hari ini, saya pun seperti memperoleh penegasan bahwa saya belum pantas menyandang usia 27 tahun. Hehehe....
Setelah beberapa hari yang lalu ada beberapa orang yang menebak usia saya 24 tahun, lalu kemarin saya bertemu dengan salah satu dosen di salah satu fakultas dan beliau pangling karena mengira saya mahasiswa. Lalu hari ini di kasir rumah makan tadi saya bertemu dengan seorang bapak yang bertanya "Ulang tahun ke berapa mbak?". Saya cuma tertawa kecil, "17 plus pak, lha menurut bapak berapa?". And guess what, bapak itu bilang, "Yang pasti di bawah 25, di atas 21 dikit. Iya kan?".
Lalu saya hanya bilang, "Alhamdulillah...hehehe, monggo Pak, saya duluan", sambil berlalu.
Well, I have a li'l contact with him today. Sebenarnya, saya berharap seandainya dia bisa ada di antara kami semua tadi. But how could it be? Dia bahkan masih saja bergelut dengan dunianya.
Hari ini dia tampak sedikit "lumer", meskipun masih sooooo flat.
Saya akan biarkan saja, meskipun saya tidak tahu akan sesulit apa.

Rabu, 02 Desember 2009

Malam-Malam yang Menyesakkan


Well, akhirnya saya memutuskan untuk menulis, lagi.

Hari ini, -- dengan sangat terpaksa-- saya akhirnya bertanya. Pertanyaan itu memang ia jawab, dan ada sisipan ucapan ulang tahun untuk saya.

Saya memang tahu dia baik-baik saja. Baik-baik untuk dirinya, entah kepada saya. Pesan saya pagi tadi pun bukan ingin memaksa dia untuk memberi ucapan ulang tahun. Toh, pada akhirnya ucapan itu hanya terkesan dipaksakan dan hanya lewat begitu saja.

Sebenarnya saya enggan terus bertanya. Seolah saya ingin memburu dia hingga ujung dunia. Tapi saya benci dengan ketidakjelasan. Well, meski apa yang saya jalani ini juga tidak jelas samasekali, tapi saya tidak pernah menyukai ketidakjelasan dalam ketidakjelasan seperti ini.

U know, saya sudah tidak bisa menangis. Lelah. Terlebih-lebih, sangat menggelikan kalau sampai ada orang yang tahu masalah apa yang saya tangisi.

Saya ingin dia menjelaskan. Tentang apapun yang membuat dia seperti ini. Bukan sekali ini saya merasa seperti ini, tapi kali ini saya sudah merasa tak akan bisa berkata apapun kepada dia. Saya menyakiti diri saya sendiri jika terus berusaha menanyakannya.

For God's sake, honestly, I couldn't stop thinking about this. About him. Meski saya sudah tidak bisa lagi menangis, tapi malam-malam saya belakangan ini menjadi waktu yang teramat meresahkan, menyesakkan, dan menyiksa. Dan saya tak bisa bertanya pada dia.

Percuma saja saya bilang saya masih menyimpan dia, karena mungkin dia sudah membuang saya. Jauh-jauh.

Gosh, should I pass this bitter end?

Saya tahu, saya salah. Saya tak boleh terlalu meminta. Saya tak boleh terlalu merasa memiliki dia.
But now, whatever he think about me, I do miss him. For God's sake!


email yang menginspirasi

(Prolog)
Sebenarnya, malam ini saya sedang tidak ingin berkutat dengan segala kesedihan saya hari ini. Tapi baru saja, ketika saya membuka inbox yahoo saya, ada satu email dari seorang kawan. Mungkin bisa menginspirasi.


"Cinta tidak pernah meminta, ia senantiasa memberi. Cinta membawa penderitaan, tetapi tidak pernah berdendam, tak pernah membalas dendam. Di mana ada cinta, di situ ada kehidupan, manakala kebencian membawa kepada kemusnahan" (Mahatma Ghandi)

Tuhan memberi kita dua kaki untuk berjalan, dua tangan untuk memegang, dua telinga untuk mendengar dan dua mata untuk melihat. Tetapi mengapa Tuhan hanya menganugerahkan sekeping hati pada kita? Karena Tuhan telah memberikan sekeping lagi hati pada seseorang untuk kita mencarinya. Itulah namanya Cinta.

Ada dua tetes air mata mengalir di sebuah sungai.
Satu tetes air mata itu menyapa air mata yang lainnya, ”Saya air mata seorang gadis yang mencintai seorang lelaki tetapi telah kehilangannya. Siapa kamu?”.
Jawab tetes air mata kedua itu, ”Saya air mata seorang lelaki yang menyesal membiarkan seorang gadis yang mencintai saya berlalu begitu saja.”

Cinta sejati adalah ketika dia mencintai orang lain, dan kamu masih mampu tersenyum, sambil berkata: "Aku turut bahagia untukmu".
Jika kita mencintai seseorang, kita akan senantiasa mendoakannya walaupun dia tidak berada disisi kita.

Jangan sesekali mengucapkan selamat tinggal jika kamu masih mau mencoba.
Jangan sesekali menyerah jika kamu masih merasa sanggup.
Jangan sesekali mengatakan kamu tidak mencintainya lagi jika kamu masih tidak dapat melupakannya.

Perasaan cinta itu dimulai dari mata, sedangkan rasa suka dimulai dari telinga. Jadi, jika kamu mau berhenti menyukai seseorang, cukup dengan menutup telinga. Tapi apabila kamu mencoba menutup matamu dari orang yang kamu cintai, cinta itu berubah menjadi tetesan air mata dan terus tinggal di hatimu dalam jarak waktu yang cukup lama.

Cinta datang kepada orang yang masih mempunyai harapan walaupun mereka telah dikecewakan.
Kepada mereka yang masih percaya, walaupun mereka telah dikhianati.
Kepada mereka yang masih ingin mencintai, walaupun mereka telah disakiti sebelumnya.
Kepada mereka yang mempunyai keberanian dan keyakinan untuk membangunkan kembali kepercayaan.

Jangan simpan kata-kata cinta pada orang yang tersayang hingga dia meninggal dunia , lantaran akhirnya kamu terpaksa mencatatkan kata-kata cinta itu pada pusaranya Sebaliknya, ucapkan kata-kata cinta yang tersimpan dibenakmu itu sekarang selagi ada hayatnya.

Mungkin Tuhan menginginkan kita bertemu dan bercinta dengan orang yang salah sebelum bertemu dengan orang yang tepat, kita harus mengerti bagaimana berterima kasih atas karunia itu.

"Cinta bukan mengajari kita menjadi lemah, tetapi membangkitkan kekuatan.
Cinta bukan mengajari kita menghinakan diri, tetapi menghembuskan kegagahan.
Cinta bukan melemahkan semangat, tetapi membangkitkan semangat" (Hamka)

Cinta dapat mengubah pahit menjadi manis, debu beralih emas, keruh menjadi bening, sakit menjadi sembuh, penjara menjadi telaga, derita menjadi nikmat, dan kemarahan menjadi rahmat.

Tuhan menciptakan 100 bagian kasih sayang. 99 disimpan di sisi-Nya dan hanya satu bagian diturunkan ke dunia. Dengan satu bagian kasih sayang itulah, manusia saling berkasih sayang.

Permulaan cinta adalah membiarkan orang yang kamu cintai menjadi dirinya sendiri, dan tidak mengubahnya menjadi gambaran yang kamu inginkan. Jika tidak, kamu hanya mencintai pantulan diri sendiri yang kamu temukan di dalam dirinya.

Selasa, 01 Desember 2009

He's Out of My Life....


She's out of my life
She's out of my life
And I don't know whether to laugh or cry
I don't know whether to live or die
And it cuts like a knife
She's out of my life....

It's out of my hands
It's out of my hands
To think for two years she was here
And I took her for granted I was so cavalier
Now the way that it stands
She's out of my hands....

(*Josh Groban)


Exactly, saya harus mengganti kata ganti "she" menjadi "he". He's out of my life. He's even out of my hands. He's out of my reach.

Saya tahu hari ini dia ada. Baik-baik saja. Berjarak berkilo- kilometer dari saya.
Dua tahun ini kami juga tak pernah benar-benar bersama. Kali ini saya juga samasekali tidak tahu apa yang ada di benaknya. Saya pun berusaha sekuatnya untuk menahan diri tidak menanyakannya.
But, it makes me dying...