Kamis, 21 Oktober 2010

Opname

Opname, seumur 27 tahun hidup saya, saya tidak pernah mengenal kata itu dalam kamus hidup saya. Buat saya, jarum suntik dan segala tetek-bengek peralatan kedokteran membuat bulu kuduk saya bergidik. Jelang Ramadan lalu, waktu saya masuk ke ruang ICU Gedung Bedah Sentral Terpadu RSUP Dr Sardjito untuk menengok kakak ketiga saya jelang ia menjalani operasi caesar pun membuat saya sangat takut.

Tapi, akhirnya saya menjalani juga perawatan di rumah sakit. Bahkan masuk IGD.

Awalnya, Senin (11/10) pagi, saya sudah bersiap kembali ke Jogja. Tiba-tiba saya merasa badan saya teramat lemas, bahkan akhirnya saya mual dan muntah. Akhirnya, ibu saya meminta saya menunda kepulangan saya ke Jogja. Seharian itu, akhirnya saya menjalani hari dengan lemas. Makan, langsung muntah. Alhasil, sorenya saya dibawa ke dokter. Dokter langsung meminta saya cek darah ke laboratorium. Hasilnya, widal saya sangat tinggi. Kalau tidak salah 1/600 dan 1/800. Menurut sumber di internet, sejak beberapa tahun terakhir pemeriksaan tes Widal menjadi rutin dilakukan untuk screening penderita penyakit tifus. Reaksi Widal merupakan tes imunitas yang ditimbulkan oleh kuman Salmonella typhi / paratyphi, yaitu kuman yang terdapat di minuman dan makanan. Selain itu, mual yang sangat berat menurut dokter juga diakibatkan karena kerja liver saya kurang maksimal. Tapi bukan berarti saya terkena hepatitis. Hanya typhus saja.

Dokter sebenarnya menyarankan saya opname langsung hari itu. Tapi saya mau mencoba rawat jalan. Akhirnya dokter menyuntikkan-- entah cairan apa-- untuk menahan mual saya. "Kamis kontrol lagi, kalau masih tidak membaik, tetap harus opname," kata beliau. Dokter yang menangani saya namanya dr Budiono. Pria paruh baya yang sangat disegani sebagai dokter di Kabupaten Purworejo, kota kelahiran saya. Beliau punya klinik rawat inap-- yang menurut saya bakal bisa berkembang menjadi klinik besar-- karena selalu menjadi pilihan pasien dari seantero Purworejo. Namanya, Klinik Budi Sehat.

Hari selanjutnya, Selasa hingga Rabu saya merasa cukup membaik. Obat dari dokter saya minum sesuai jadwal. Hingga Rabu malam, sekitar pukul 23.00, saya merasa nafas saya tersengal. Padahal, tak ada riwayat asma di keluarga saya. Tak pernah pula saya sesak nafas. Akhirnya, saya dilarikan ke IGD klinik itu. Di sana, saya langsung diberi selang oksigen. Untuk beberapa saat saya tenang, tapi pada akhirnya saya merasa oksigen itu malah menggembung di dada saya. Akhirnya, saya diberi katup penutup mulut dan hidung yang berasap. Entah apalah itu namanya, yang pasti akhirnya membuat saya tertidur pulas hingga beberapa saat di ruang IGD dan tentunya dengan selang infus di lengan kiri saya. Paginya, saya pindah ke bangsal biasa. Sampai dua hari.

Alhamdulillah, hari ini saya sudah mulai masuk kerja. Meskipun dengan lemas. Meskipun harus menghindari banyak pantangan makanan. Tapi alhamdulillah, Allah masih sayang saya.