sometimes we should say what we think, what we feel, and what we want....
Selasa, 13 April 2010
Unhappy, and Unhappier Now....
He did feel the same, but however he is afraid that he will make her unhappy, bcz he can't accompany her to go to somewhere freely. That's the point....... Then he found a blog explained that she went to Jkt to meet a special guy. Suddenly he stopped to make contact with her. He didn't want to disturb her.
Tiba-tiba saya pengen nangis. Rasanya susah sekali menjelaskan pada dia. Rasanya sudah lama sekali saya tak saling meluapkan kebingungan seperti ini kepadanya. Memang baru hitungan bulan tapi rasanya sudah sangat lama saya melepaskan diri atau mungkin terlepas dari cerita itu, bersama dia.
Saya jadi bingung mau menulis apa. Sekarang sudah jam tujuh malam lewat lima menit, dan pembicaraan kami terpaksa terputus. Tinggal saya melongo.
Saya masih piket di kantor. Blogging, fesbukan, browsing, sambil menunggu jam sembilan malam dan sesekali mengangkat telepon kantor yang berdering. Tinggal saya sendiri perempuan di ruangan ini.
Gosh, tadi dia bilang, sometimes he felt jealous. Lalu saya balik bertanya ke dia, apa dia bisa membayangkan kalau terkadang saya juga merasakan hal yang sama? Rasanya mungkin akan sangat lebih parah dibanding dengan yang dia rasakan. Berkali-kali saya bilang, he has his own position in my life...meskipun saya mungkin bertemu dengan some other guys in my life....
Hidup saya memang selalu berwarna. Mengharu-biru. Dan seharusnya saya selalu mensyukurinya. Apapun yang saya alami, tentu Allah memiliki tujuan tertentu. Agar saya belajar tentang banyak hal, itu pasti.
Tanpa ingin menyakiti siapapun yang sedang dekat dengan saya ataupun dia, saya ingin jujur bahwa he is one important guy in my life. Karena itulah, saya merasa sangat sedih ketika saya bertemu dan melihat ada perubahan sikap pada dia. Meskipun saya tahu, maybe he was really controlling himself not to act in different way to me.
Sure, I have to say openly. Selain dia, saya-- jujur-- masih memikirkan cinta pertama saya masa SMA yang entah kenapa malah semakin membuat saya bingung. Semuanya menjadi sumir, dan tiba-tiba Allah mengirimkan satu sosok lagi dalam hidup saya. Sosok yang menurut beberapa teman sangat cocok bagi saya. But hey, I even don't think about marriage, yet. Saya membuka diri karena dari awal saya selalu bilang, tergantung seberapa kuat usaha dia untuk menghancurkan benteng pertahanan hati saya.
And abi, I do still need him in my life. Meskipun saya tak tahu sampai kapan.