Senin, 25 Januari 2010

miss him much

Sejak siang sampai maghrib ini, hujan terus-menerus turun. Saya tidak ke kantor. Tapi bukan berarti meninggalkan kewajiban jurnalistik saya. Masih menelepon narasumber, untuk wawancara, membuat berita, lalu mengirimnya via email. Lalu menelepon narasumber lain, untuk membuat janji bertemu esok hari.

Mendung hitam yang seharian menggantung dan hujan yang terus saja jatuh selalu membuat saya melankolis. Entah kenapa, saya jadi teramat sangat merindukan dia.

Pagi tadi saya mencoba menelepon, tak ada jawaban. Tapi selang beberapa menit, dia balik menelepon saya. One simple question yang tumben-tumbennya dia katakan tadi pagi membuat ada aliran hangat menguar di dada saya. He called me "dik", satu sebutan yang sudah sangat jarang ia katakan sejak dua tahun lalu. I do like that, as well as when he called me "baby". Two sweet nicks. Yeah...it was just different dibanding beberapa orang lain yang juga kerap memanggil saya "dik".

Hampir seharian saya menghabiskan waktu dengannya dari kejauhan. Meskipun saya-- dan juga dia-- rasanya mungkin ingin berlari sekencang mungkin untuk bertemu. But it's not that simple....

Gosh...I do wanna have his tight hug now...