Senin, 30 November 2009

disappointed

"Cinta itu indah. Jika memedihkan, berarti itu bukan cinta."
(Mario Teguh, motivator)


SAYA memikirkan terus quotation pak Mario itu setelah menonton Mario Teguh's Golden Ways, Minggu malam. Episode malam itu bertema "Kekasihku, Penyiksaku". Sekilas memang tampak ekstrim, tapi hal yang dibahas lebih luas, bukan hanya tentang KDRT. Banyak hal tentang sebuah hubungan.

Entah apa yang saya rasakan sekarang. Antara pedih, sedih, kecewa, dan tak berdaya. Tapi yang pasti bukan marah. Saya serasa tak punya lagi kekuatan untuk marah. Semua rasa itu melebur dan membuat saya kehilangan banyak energi positif saya malam ini.

Well, tentu saja saya tidak bisa menuntut dia untuk menganggap hari ulang tahun saya adalah hari yang penting juga bagi dia. Jadi, ketika dia lupa-- atau sengaja lupa-- atau mungkin tak punya sekerat waktu untuk memberi ucapan bagi saya, saya harus mengerti.

Ketika sebulan lalu dia bilang mungkin akan berada jauh dari saya ketika saya berulang tahun, dia berjanji akan melempar sebuah pesan ulang tahun dari kejauhan. Saat itu saya hanya bilang, "Jangan pernah berjanji". Janji hanya akan berubah menjadi kekecewaan yang sangat sulit diobati ketika janji itu tak pernah bisa ditepati.

Saya tidak tahu apa yang merasuki hati saya malam ini. Padahal, saya sudah berjanji pada diri saya sendiri untuk tetap merasa bahagia di tengah teman-teman saya, meski dia tidak ada.

Selamat Ulang Tahun


Ribuan detik kuhabisi

Jalanan lengang kutentang

Oh, gelapnya, tiada yang buka

Adakah dunia mengerti?


Miliaran panah jarak kita

Tak jua tumbuh sayapku

Satu-satunya cara yang ada
Gelombang tuk ku bicara


Tahanlah, wahai Waktu

Ada "Selamat ulang tahun"

Yang harus tiba tepat waktunya

Untuk dia yang terjaga menantiku

Tengah malamnya lewat sudah

Tiada kejutan tersisa

Aku terlunta, tanpa sarana

Saluran tuk ku bicara


Jangan berjalan, Waktu

Ada "Selamat ulang tahun"

Yang harus tiba tepat waktunya
Semoga dia masih ada menantiku

Mundurlah, wahai Waktu

Ada "Selamat ulang tahun"
Yang tertahan tuk kuucapkan

Yang harusnya tiba tepat waktunya

Dan rasa cinta yang s'lalu membara
Untuk dia yang terjaga

Menantiku


(*"Selamat Ulang Tahun"- Dee)


Hari ini, 27 tahun lalu, saya lahir. Hmm...sebenarnya, nanti malam seharusnya saya baru bisa merayakan ulang tahun, sekitar pukul 23.00, karena pukul segitu saya baru saja lahir di RS Panti Waluyo Purworejo.

Wall di Facebook saya sudah penuh ucapan dari teman-teman. Mulai dari temen SD, SMP, SMA, kuliah, sampai temen-temen wartawan, narasumber, dan lainnya. Terharu. Sejak semalaman juga ada beberapa sms masuk ke ponsel saya. Terharu. Apalagi kalau melihat penuhnya wall FB saya dengan ucapan-ucapan mereka.

Bagaimanapun, ulang tahun saya tahun ini akan saya buat tetap membahagiakan.

Jumat pagi, 27 November, Idul Adha, saya meluncur di antara dinginnya udara usai Subuh. Sendirian. Ternyata nikmat sekali. Sampai di wilayah Kota Wates sekitar jam 05.30, di antara gema takbir, di antara orang-orang yang mulai beranjak ke masjid. Menyenangkan. Kalau biasanya saya meluncur at average speed 80-90 km/hour, pagi itu kecepatan rata-rata saya mungkin hanya around 60-70 km/hour. Pasalnya, di sisi kanan dan kiri jalan banyak orang yang berjalan kaki menuju masjid atau lapangan.
Waktu saya berhenti di lampu merah (entah daerah mana namanya), tiba-tiba ada seorang ibu yang sakit kakinya karena harus berjalan dari rumah ke lapangan, dia meminta tumpangan sampai ke lapangan tempat ia akan shalat Ied. Saya bersyukur, masih diberi kesempatan menolong orang. Sepagi itu pula.

Bagaimanapun, ini hari ulang tahun saya. Saya have fun di kantor. Membawa tiga kotak brownies untuk teman-teman kantor. Lalu kebetulan ada teman-teman yang menambahinya dengan berplastik-plastik gorengan dan berbotol-botol Fanta. Nanti tinggal celebrating dengan teman kos, lalu besok dengan teman lainnya.

Saya harus tetap merasa bahagia.
Meskipun saya tidak tahu dia ada dimana, dan ada apa dengannya. Tak ada pesan, tak ada ucapan. Saya tidak yakin dia lupa. Lupa bahwa hari ini tanggal 30 November.

"I wanna spend the rest of your 25 years old before tomorrow," kata dia setahun lalu, malam menjelang ulang tahun saya. Lalu paginya, dia menjadi orang kedua yang menelepon saya lagi. Tapi tidak tahun ini.

Entah, apa kesalahpahaman itu membuatnya ingin beranjak dari saya.
Kalau bisa saya pasang di sini, saya ingin ia mendengar lagu milik Dee itu. It was so much frustrating to feel that he is so far away from me now...


Kamis, 26 November 2009

di antara takbir


Kita tidak bisa meminta kepada matahari, "Tambahkan sinarmu"
Kita juga tidak bisa meminta kepada hujan, "Kurangi air hujanmu"
(disadur bebas dari "Memoirs of A Geisha")


Ruas jalan Gejayan yang baru saya lewati sekitar pukul 10 malam ini terasa agak lengang. Sisa hujan dan gema takbir sepanjang jalan membuat saya semakin sok melankolis.

Malam takbiran Idul Adha kali ini saya tidak di rumah, masih di Jogja. Bergelut dengan tulisan-tulisan yang masih harus saya kerjakan. Kepanikan tadi sore masih berbekas hingga sekarang. Hujan deras, sudah hampir pukul empat sore, tulisan belum selesai, lalu lapar (saya sedang tidak berpuasa) membuat saya berinisiatif menelepon Pizza Hut Sudirman. Alhasil, pesta kecil-- yang saya sebut "pre birthday and farewell party" dengan beberapa teman--yang seumuran dengan saya-- di humas salah satu perguruan tinggi.

Hari ini saya menatap matanya yang berada tak lebih dari satu meter di depan saya. Tanpa rencana.

Tapi setelah itu, saya malah meratap (well, sepertinya saya mulai agak berlebihan. "Meratap"? Sounds too much, seperti bahasa di novel-novel picisan)....

"I like to be silent, bcz every single word I said be always wrong," kata dia.

Gosh, saya benar-benar tidak tahu harus berkata apa lagi. Karena apapun yang saya bilang samasekali tidak ia respon. Saya bukan cemburu. Samasekali bukan itu. Saya hanya teramat ingin tahu apa yang ia rasakan setelah apa yang terjadi hari ini. Sometimes, saya ingin tahu, karena saya tidak selalu bisa menerka-- apalagi membaca-- pikiran pria. Apalagi pria seperti dia.

U know, I cried so bad when I write this.

Saya benci situasi seperti ini!

Bali, Lombok, Jakarta, Semarang, Magelang, Australia, Amerika, Jepang, Papua Nugini, atau bhkan Antartik tidak saya inginkan. Saya tidak ingin pergi ke pulau manapun, negara manapun, provinsi manapun, benua manapun, bahkan kampung manapun! Saya hanya inginkan ada di dalam dia. Saya hanya ingin ada di dalam dunia yang kami buat. Dan mewujudkannya suatu saat. No matter what, no matter when, no matter where!

I cried after I met him.
It just so silly.
But I do cried.

I saw his face today
I looked at his eyes today.
I even stared at his chin today.
And I cried so bad coz he didn't say anything.
What kind of "happy" which he mean?

Saya memang tidak bisa meminta agar hujan berhenti turun. Saya juga memang tak bisa meminta agar matahari terus menebar sinar menyengat agar sekalian saja membakar saya. Saya hanya bisa menerima. Menikmati. Kadang juga tersakiti.
(entah apa maksud kata-kata saya ini, ini analogi yang tidak fokus, abaikan saja!)

Well, semoga saya bisa tidur nyenyak malam ini. Lalu bangun sebelum Subuh dan memacu motor saya setelah Subuh. Semoga tidak hujan. Semoga tidak dingin. Semoga lancar.

Saya masih "mencintai" dia, Tuhan. Meski saya tidak tahu apa yang ada di benak dia sekarang. Meski saya tidak tahu apa yang dia pikirkan sekarang. Meski saya tidak tahu dimana ia menyimpan saya sekarang.


Rabu, 25 November 2009

I (do) wanna be with him

I wanna be with you
If only for a night
To be the one whose in your arms
Who holds you tight
I wanna be with you
There`s nothing more to say
There`s nothing else I want more than to feel this way
("I Wanna Be With You"-Mandy Moore)


Buku itu masih ada di dalam tas saya. Lupa. Padahal, saya sudah berniat memberikannya sejak lama. Awalnya, saya juga ingin "agak" berpamitan, tapi saya membatalkannya. Karena saya tak pernah ingin benar-benar merasa saya akan pergi.

Saya senang melihatnya baik-baik saja.
We were breathing with the same air, and sometimes his eyes made me naked. Meskipun kami berada dalam kontrol masing-masing. Untuk tidak bergerak, tidak berucap.

Semalaman dia sibuk menyusun satu rencana. A big plan before my birthday. A really big plan. And frankly speaking, saya menikmati ketika mendengar betapa bersemangatnya dia ketika membicarakan hal itu. Rencana itu indah-- bagi kami--, tapi teramat susah.

Yes, I (do) want that guy. But many things should be considered. Saya tak ingin bilang saya menolaknya, karena I do wanna be with him....

Senin, 23 November 2009

This is my hard time, and I (do) miss him


Claire : If I told you I love you first, will it make any differences?
Ray : If you told me or if I believe you?
Claire : I love you. I really do.
Do you have any idea how frustrating it is to know that you are
the only man who could
ever possibly understand me?
Look, I know who you are, and I love you anyway.


Ray
: I love you. I think about you all the time.
I think about you even when you're with me.

I look at you, I can't stop looking at you. I looked at you and I think
"that woman
knows who I am, and she still with me".

Potongan dialog di akhir "Duplicity", film yang memasang Julia Roberts dan Clive Owen itu menurut saya bagus. Percakapan itu terjadi di bandara antara tokoh Claire dan Ray yang memiliki hubungan yang rumit.

Rumit. Serumit pikiran saya hari ini.

Seperti Claire, saya merasa teramat frustrated. Frustrasi. What I'm feeling now is so much frustrating.
Pagi tadi ada satu pesan masuk ke ponsel saya. Cukup mengagetkan, karena untuk beberapa hari kemarin saya memang menahan diri untuk tidak keep contact dengan dia. Beberapa hari kemarin ia pun tak mengirim kabar apapun. I do understand, sometimes we should have our own time and our own business.

U know, I just want him to know that I miss him. Without any other reasons. I only miss him. I don't want any other thing. I just want him to say that he feels it too, like he always did.
It was so much frustrating for me coz I felt being so ignored in my last days.... Mungkin berlebihan, tapi saya merasa masa-masa ini teramat berat bagi saya. Membayangkan saya akan semakin jauh dari dia, dan tidak bisa selalu ada ketika dia dikelilingi orang-orang lain, it hurts so much.

Tak ada syarat ketika saya bilang saya merindukan dia. Saya tak pernah bilang ini kepada dia. Saya tak pernah bilang ini tak adil, meski seringkali saya merasa semuanya memang seperti tak adil bagi saya.

I think I've lost him.

Minggu, 22 November 2009

bad time


Kamis, 19 November 2009, 21.21

Dingin. Hujan terus-terusan mengguyur sejak siang tadi. Entah kenapa jadi makin melankolis malam ini. Sayang, modem saya belum saya isi kartu apapun, jadi belum bisa mulai nge-blog langsung di kos. Facebook dan YM bisa saja lewat ponsel.

Saya sengaja memasukkan beberapa lagu lembut soundtrack "Endless Love"-- salah satu serial Korea yang menurut saya the best dramatic movie I have ever saw-- ke mp3 list saya. Satu mug susu coklat, dan sekaleng Mister Potato ada di samping saya. Dari tadi, sebenarnya saya ingin mulai nulis satu cerita pendek lagi, tapi entah kemana larinya mood saya.

Kemarin malam bahkan worse than tonite. I do felt more melancolic. Sepulang dari kantor menjelang maghrib, sebelum mampir membeli makan malam, saya mampir ke rental vcd dan dvd langganan saya. Keluar dari sana, saya sudah menenteng lima judul film. Hollywood drama movies, mulai dari "The Reader", "Griffin and Phoenix", "Dan in The Real Life", "Once", dan satu film Perancis "Priceless". Makan malam hanya saya sentuh beberapa suap. Hilang selera.

Tema malam ini, melankolisme di antara keripik kentang. Well, ada kekonyolan ketika saya tiba-tiba merasa teramat merindukannya saat saya melihat keripik kentang di kaleng panjang itu.

Well..okay. I confess. I do miss that guy seharian. Bukan tiba-tiba. So I tried not to think about him. Ya dengan menonton film sebanyak itu, mengurung diri di kamar, dan tidak beranjak keluar dengan teman-teman. But, ternyata it was getting worse. I cried so bad. Don't know why... (Hey, did I really never knew the reason why I cried that bad?). Mungkin, karena cerita film yang saya tonton. Beberapa persen mungkin juga karena dia.

God, I do miss that guy!
Saya tak ingin berlebihan menyikapi apa yang saya alami sekarang. Saya toh memang tidak akan pergi jauh. Tapi banyak hal yang membuat saya berat, dan sedih. Semakin berat ketika di "hari-hari terakhir" ini dia tidak ada di "dekat" saya. Saya teramat ingin ia menatap saya dan saya menatap dia, lalu saya bilang bahwa semua ini teramat berat bagi saya. Teramat berat, meskipun mungkin terlihat konyol dan berlebihan.

Selasa, 17 November 2009

Leaving him. Physically.


I know, it just a process.
Pikiran Rakyat-Bernas-KR BISNIS-Koran Merapi? My senior told me that it's just a normal process of life. Saya harus menghormati sekaligus berterima kasih karena beliau-beliau masih meminta saya bertahan, meski dengan nama dan tugas yang berbeda. Bahkan desk yang benar-benar baru buat saya.
Sepanjang tiga setengah tahun saya menjadi jurnalis, saya baru berganti desk beberapa kali. Bantul (Pemkab dan DPRD hingga grass root dan berbagai bidang lainnya), lalu ke desk ekonomi-bisnis (ekonomi, moneter, otomotif, telekomunikasi), lalu ke desk pendidikan (plus halaman remaja) yang mau tidak mau menjadi desk yang mematangkan saya. Pindah media, saya tetap di desk pendidikan, sambil sesekali membantu menulis bisnis properti, gaya hidup, dan kesehatan. Sekarang, saya sudah diplot di desk pemerintahan, khususnya di Pemkab Sleman.

Saya kalut semalaman. I even cried. Cried so hard, but nobody knew. Saya keluar kamar untuk mengambil minuman dingin di kulkas kos, dan salah satu teman bertanya "Pilek juga mbak?". Sambil menutup kulkas, saya bilang "iya" sambil berlalu, menghindari pertanyaan lanjutan.

Saya kira saya bisa bercerita tentang ini kepada dia. Seseorang yang belakangan ini menjadi semakin teramat penting dalam hidup saya. Saya hanya ingin bercerita dari kejauhan. Saya tak meminta dia datang. Saya bahkan tak meminta dia melakukan apapun untuk menyenangkan hati saya. Saya hanya ingin dia meluangkan waktu dan telinga dia, atau bahkan sekedar jari-jemari dia untuk mengetik sms, untuk menghalau kekalutan saya.

Saya takut. Tidak siap. Now, I don't even have many times to meet him. And how about next month? Next year? I do afraid to leave him more far away. Physically. I mean, I will more rarely see him. Directly. Face to face. Being in the same place and breathing with the same air.

Maybe it was too much. Mungkin berlebihan. Tapi saya benar-benar kalut. Lalu, tiga sms dari dia semalam semakin menambah kekalutan itu. Lebih tepatnya, kesedihan itu.

Felt so ignored. Rejected.
I don't know whether he mean to act like that, or I just too much sensitive....

U know, I just wanna made him knew that I do need him. No more. I asked nothing. I just miss his sweet expressions like what he always did or said before. And I've lost it since three days ago.

Saya tak ingin bersikap egois. Tak pernah ingin. Tapi terkadang saya ingin meminta dia ada. Meskipun memang akhirnya saya yang harus selalu mengerti hidup dia yang bukan lagi milik dia sendiri. Bahkan, 24 jam pun mungkin sebenarnya tak akan cukup ia bagi untuk berderet hal yang harus ia kerjakan.

Dua minggu lagi usia saya akan bertambah dalam tulisan angka, tapi berkurang dalam catatan hidup saya yang dipegang Tuhan. Saya masih berharap akan banyak hal membahagiakan terjadi.


segera

Belum mulai hari ini, tapi segera. Saya akan meninggalkan desk ini.
Ini hanya beberapa dari many great moments I have ever had...



media forum uny
a year ago




setelah menerima "anugerah" penulisan
beberapa bulan yang lalu




di sela-sela liputan kunjungan Menegpora


Senin, 16 November 2009

lemas


Masih agak lemas. Went back to Jogja with my common average speed, 80 km/hour. Pagi-pagi, mendung, untung Allah gak menurunkan hujan di tengah perjalanan tadi.

Ada "sepucuk" pesan saya terima pagi tadi. Balasan sms saya. Tapi saya rasa masih soooo flat. Sangat datar. Lempeng. Kalau sudah begitu, saya jadi membuat sederet dugaan-dugaan sendiri.

Well, apa saya yang berlebihan ya? Berlebihan menyikapinya? Berlebihan memikirkan hal-hal kecil yang seharusnya tidak perlu dipermasalahkan? Well, sepertinya iya. Saya yang berlebihan, dan masih tak bisa benar-benar memahami semuanya.

I know. I do understand. Saya tak bisa memaksakan dia selalu ada ketika saya menginginkannya. (Well, sepertinya, rasanya, selama ini saya juga sudah seperti itu? I just can wait. And I do understand). Tapi, terkadang, ketika dia ada, I do want him to stay longer.... Kami sangat-sangat terbatas dan tersekat ruang waktu dan jarak, dan segala sekat lainnya.
I do miss him. Still.

Sabtu, 14 November 2009

miss him!


It's raining outside. And I do miss him....


Hari ini, sepertinya rasa itu menguasai seluruh jiwa-raga saya. Iya, rindu. Rasa yang terus-menerus menikami hati dan pikiran saya sampai saya tak kuasa berbuat apa-apa. Seperti apa rasanya? Pikirkan saja seperti apa rasanya ketika kita menginginkan sesuatu tapi belum tercapai. Sedih, kalut, gundah, ingin teriak, ingin menangis!
Tuhan, saya ingin memeluknya dengan jiwa dan raga saya....


Jumat, 13 November 2009

khawatir


Jogja hujan! Aroma tanah basah memang tidak sampai tercium dari dalam kantor saya, tapi saya bisa mendengar samar suaranya dan melihat rinainya dari jauh. Sesore ini saya pun masih di kantor. Headset di telinga menyalurkan lagu-lagu ke telinga saya. Sedih.

Semalam saya terjaga beberapa kali dari tidur. Jam 2 dini hari, jam 4, dan entah jam berapa sebelumnya.

Hari ini, saya teramat gelisah. Setelah saya sempat memutuskan untuk berusaha meninggalkannya, dia sudah membuat saya kembali bertahan. Sekarang, sehari kembali terasa seabad. Bukan...saya bukan ingin membuat draft novel picisan...tapi saya benar-benar khawatir....

Tuhan...saya khawatir. Benar-benar khawatir. Mengkhawatirkannya dari jauh.


Selasa, 10 November 2009

sekuat apa saya bisa?



The cities grow
The rivers flow
Where you are, I'll never know
But I'm still here
If you were right and I was wrong
Why are you the one who's gone
And I'm still here
Still here....

("I'm Still Here"-Vertical Horizon)


Saya tak terlalu mengerti keberadaannya.
Lalu kini saya berpikir apakah saya harus meninggalkannya saja.
Tapi, sejauh mana saya bisa?
Sekuat apa saya bisa?


Minggu, 08 November 2009

hate to say that I miss him


Semalam, saya tidur sekitar pukul 00.20. Padahal, demam saya masih belum turun juga. Kadang saya memang bebal, tidak peduli sedang demam atau tidak. Demam ini pun rasanya juga karena kesalahan saya sendiri.
Siang-siang setelah terkena panas di jalan-- yang konon pernah mencapai 38,5 derajat celcius!!--, saya sering mampir ke Circle-K atau Indomaret untuk membeli minuman dingin. Lalu di kantor, tempat duduk saya persis terkena terpaan AC. Pulang malam saya jarang memakai jaket tebal. Lalu di kos, saya selalu tak bisa lepas dari air es. Saya rela bangun malam, lalu menuju kulkas kos di ruang tv yang berjarak beberapa meter dari kamar saya saat saya kegerahan dan kehausan. Padahal, galon air mineral juga ada di kamar. Kesalahan terbesar, menghidupkan kipas angin semalam suntuk. Sebelumnya saya jarang sekali membiarkan kipas angin dalam keadaan menyala ketika saya sudah mengantuk, tapi well...Jogja terasa jauh lebih panas dibanding biasanya. It was the big reason.
Saya tidak pulang, dan saya juga tidak beranjak ke Panti Rapih meski ibu sudah menyarankannya. Saya pikir ini hanya demam.

Semalam, meski sudah pernah saya tonton-- bahkan sampai 3 kali--, saya kembali menikmati alur cerita "The Last Samurai" di TransTV. Film box office dengan setting Jepang di masa Restorasi Meiji yang memasang Tom Cruise sebagai tentara Amerika bernama Capt. Nathan Algren itu memang impressed me so much.
And don't know why...meski sudah saya tonton berulangkali, I cried ketika menonton adegan tokoh Taka (wanita Jepang yang suaminya meninggal di tangan Algren) memakaikan baju Samurai di tubuh Algren dengan mata berkaca-kaca dan at that moment...they realized that they have such a deep feeling.... They just have a light kiss, then Taka hug Algren from behind. Sisipan romantisme yang samasekali tidak kacangan. And I do enjoy the whole story yang penuh dengan adegan perang.

Well, it is a hard confession for me to say that I do miss him while I spent the rest of last nite with watching the movie and looking at the sky dari balkon kos. Demam membuat saya enggan pergi-pergi kemarin malam.

Well, nothing I could do at that moment. Nothing. It also really tiring for me.

Am I still special?

Well, I hate to say that I miss him!

snap-shot

Snap-shot...
Moment-moment yang diabadikan temen fotografer seperti ini sungguh-sungguh sooo memorable.... Ini hanya dua di antara sekian banyak foto yang saya simpan.


wawancara menegpora, baru beberapa hari lalu...
(gosh, ada yang tidak melihat keberadaan saya kah??? :( )




mengejar ngarsa dalem, sekitar setahun yang lalu....

Jumat, 06 November 2009

kacau....


Selepas maghrib seperti ini saya masih di kantor. Tujuh berita sudah saya selesaikan. Tujuh berita!! Gosh... Tapi saya puas. Meski badan masih demam, hidung juga mulai panas. Sejak semalam memang rasanya agak tidak enak badan.

Well, entah kenapa hati saya kacau. Bukan sedih, tapi kacau. Yah...sebelas-dua belas mungkin...kacau dan sedih dalam kamus saya mungkin hampir mirip artinya. Today, saya hanya berjarak beberapa meter dari dia, tapi saya menegaskan pada diri saya bahwa saya memang harus bersikap seolah jauh. Tapi kenapa rasanya jadi keterusan...jadi merasa teramat jauh dari dia.

Well, bukan sekali ini saya merasa teramat jauh. Dia pun sudah berulangkali meluruskan hati saya ketika saya bilang saya merasa jauh. He always said that he alwaays be with me, no matter how far we were. Sepertinya saya harus berusaha lebih keras untuk mengerti dan memahami.

Saya semakin tak bisa lepas, Ya Tuhan...

Kamis, 05 November 2009

wanna be with u....


I wanna be with you
If only for a night
To be the one whose in your arms
Who holds you tight
I wanna be with you
There`s nothing more to say
There`s nothing else I want more than
to feel this way...

("I Wanna Be With You"-Mandy Moore)

Rabu, 04 November 2009

Semua Berawal di Bandung....



Foto ini diambil saat hari terakhir pelatihan di Harian Pikiran Rakyat (PR) Bandung, September 2005. Di depan ruang redaksi di Jalan Soekarno-Hatta 147, Bandung.

Gosh...lebih dari empat tahun lalu...beberapa bulan setelah saya wisuda. Lihatlah, saya masih so much langsing...haha. Mungkin berat badan saya waktu itu hanya 48 atau 49 kilo.

Dari kiri ke kanan, Iman (saya lupa alumnus mana, tapi dia gagal seleksi usai pelatihan), saya (satu-satunya dari UGM), Lina (alumnus Komunikasi UNPAD, wartawan PR dan masih menjadi sahabat karib saya sampai sekarang), Pak...(ya Allah, saya lupa saha ie teh namina...orang bagian HRD PR pokoknya), pak TD Asmadi (wartawan super-duper baik dari Kompas yang masih jadi mentor saya sampai sekarang. Seharusnya ada mentor satu lagi dari NewYork Times, pak Syahrir Wahab, tapi di foto ini tidak ada....), lalu di belakang itu ada Didit (anak Unpad yang sering saya panggil Ulet Bulu, dia juga gak lolos seleksi), Arie (anak Unpad juga), lalu Obet alias Robert (alumnus Sastra Inggris Sanata Dharma yang sampai sekarang juga jadi sahabat karib saya, dia di Kompas Online, Jakarta), Ririn (alumnus IPB, tidak terlalu akrab), Kak Veber (Unpad juga, karib juga), Kak Roby (fotografer mana entah dia sekarang), lalu dua cewek itu lupa saya namanya, dan di ujung ada gadis berjilbab salah satu sahabat saya yang bulan ini akan menikah, Feby (Sastra Rusia Unpad, wtwn PR, khusus stand by di KPK).

Well, ada beberapa teman yang saat itu sedang makan siang atau sholat, jadi tidak bisa ikut berfoto. Entah kenapa tiba-tiba saya rindu masa-masa itu.

Dari Soekarno-Hatta 147 Bandung itu semua berawal, sampai saya jatuh cinta dengan dunia yang sekarang saya geluti.
Kalau dipikir, it was so amazing, saya bisa lolos dari -- konon lebih dari 1.000 pelamar-- sampai saya masuk ke camp pelatihan PR yang hanya diikuti oleh sekitar 21 orang. What a long selection it was. Mulai dari wawancara awal, tes tertulis pengetahuan umum, tes tertulis kemampuan bahasa, wawancara bahasa Inggris dengan seorang profesor tua di UPI (saya inget banget, saya diberi beberapa pilihan gambar karikatur dan harus menjelaskannya kepada si profesor itu), lalu tes TOEFL, tes kesehatan, dan psiko tes. U know, saya bertemu dengan banyak alumnus UGM sejak awal seleksi. Jurusan mereka? Well, banyak dari berbagai jurusan yang lebih "wah" dibanding jurusan saya. Ada yang dari HI, Komunikasi, bahkan Teknik apa gitu... Jadi, wajar kalau saya merasa Tuhan menyayangi saya saat itu...

Meski akhirnya gagal. Tapi saya sungguh bersyukur. Bisa masuk ke pelatihan, mendapat banyak pengalaman, dan juga sahabat-sahabat baik.

Kalau tidak ke sana, kapan saya bisa merasakan liputan di Pasar Andir yang super jorok dan becek (entah, sekarang jadi digusur atau tidak), atau masuk ke kamar jenazah RS Hasan Sadikin, atau malam-malam ke Lapangan Gazibu dan pulangnya nyasar salah naik angkot. Jam 12 malam, nyasar ke Terminal Cicaheum, padahal seharusnya pulang ke rumah budhe saya di kompleks TNI yang hanya beberapa meter dari BSM. Meski di lokasi rame-rame bareng teman-teman, tapi pulangnya semua sendiri.

Well, waktu di Bandung memang saya benar-benar mencoba mandiri. Itu pelajaran lain yang saya petik. Meski sudah lama kost di Jogja selama kuliah, saya jarang pergi sendirian. Di sana, saya belajar kemana-mana tanpa ditemani. Sampai sekarang, saya sudah terbiasa.

Semua hal yang terjadi dalam hidup kita memang selalu membawa banyak pelajaran. Itu yang saya percayai. Saya sempat kecewa karena saya gagal menjadi wartawan di PR, tapi toh banyak hal yang sudah saya dapatkan di sana.

Senin, 02 November 2009

when you love someone


I love you but it's not so easy to make you here with me

I wanna touch and hold you forever
But you're still in my dream
And I can't stand to wait ‘till nite is coming to my life
But I still have a time to break a silence

When you love someone
Just be brave to say that you want him to be with you
When you hold your love
Don't ever let it go
Or you will loose your chance
To make your dreams come true...

I used to hide and watch you from a distance and i knew you realized
I was looking for a time to get closer at least to say... “hello”
And I can't stand to wait your love is coming to my life

And I never thought that I'm so strong
I stuck on you and wait so long
But when love comes it can't be wrong
Don't ever give up just try and try to get what you want
Cause love will find the way....

("When You Love Someone"- Endah & Reza)