Kamis, 25 Februari 2010

miss him, actually

Some people say
That everything has got its place in time
Even the day must give way to the night
But I'm not buying
Cos in your eyesI see a love that burns eternally
And if you see how beautiful you are to me
You'll know I'm not lying
Sure there'll be times we wanna say goodbye
But even if we try
There are some things in this life won't be denied
("Swear It Again"-Westlife)

Sebenarnya, beberapa hari ini saya tak ingin mengkhawatirkannya. Saya tak ingin terlalu memikirkannya. Tapi jujur, saya tidak bisa. Meskipun dia bertahan dengan kediamannya tanpa menjelaskan apapun pada saya dan bahkan membiarkan saya terlunta dengan mendiamkan pesan yang saya kirim, saya masih memikirkannya. Saya merasa terabaikan lagi. Kalau dia memberi penjelasan, saya toh akan sangat mengerti. Insyaallah. Tapi sikap diamnya seperti ini malah menyiksa saya. Setiap detik.

Malam ini saya agak demam, gara-gara hujan yang benar-benar mengguyur saya tadi siang.

Sekarang sudah lewat tigapuluh menit dari jam sebelas malam. Saya masih harus menyelesaikan beberapa tugas laporan khusus. Masih pula harus packing, karena besok sore saya akan meluncur ke Jakarta. Cuti sejenak dari rutinitas pekerjaan di kota ini. Sejenak pula "melupakan" dia yang masih ingin mendiamkan saya.Swaragama sedang memutar "Swear It Again" sekarang. Lagu lama masa SMA saya dulu. Don't know why, I wanna cry after hearing it.

I miss him. I swear it all over again....

Selasa, 23 Februari 2010

Don't Go Away

A cold and frosty morning, there's not a lot to say
About the things caught in my mind
As the day was dawning my plane flew away
With all the things caught in my mind
And I wanna be there when you're coming down,
and I wanna be there when you hit the ground
So don't go away...
Say what you say
But say that you'll stay.....
Forever and a day...in the time of my life
Cos I need more time, yes I need more time
Just to make things right
Damn my situation and the games I have to play
With all the things caught in my mind
Damn my education I can't find the words to say
About all the things caught in my mind
Me and you, what's going on?
All we seem to know is how to show
The feelings that are wrong
("Don't Go Away"-Oasis)

Senin, 22 Februari 2010

Sedang Ingin Diam?


Sepertinya dia sedang ingin diam. Tak ingin diganggu. Tapi saya jadi berpikir, apa ada hal salah telah saya perbuat. Beberapa hari ini saya merasa teramat jauh dari dia. Saya jadi berpikir, seperti apa seharusnya saya bersikap. Seringkali dia tiba-tiba seperti raib dari hari-hari saya, lalu kembali datang dengan sebongkah besar rindu. Dan saya harus selalu menunggu. Hanya itu.

Jumat, 19 Februari 2010

mengerti


Hari ini hujan tiba-tiba mengguyur lagi. Saya pun cukup basah kuyup siang tadi karena diguyur hujan usai liputan, sepanjang jalan menuju ke kantor.

Sudah hampir maghrib dan saya masih di kantor. Saya tak piket malam ini, tapi ada beberapa tugas yang musti saya selesaikan. Apalagi besok saya ingin mudik lagi.

Kemarin, selepas maghrib saya meluncur ke sebuah perguruan tinggi. Rencana spontan untuk makan di Waroeng Steak dengan salah satu teman, dan kami bertemu di ruang humas perguruan tinggi itu. Gedung tinggi itu sudah semakin sepi karena satu per satu mahasiswa-mahasiswa di hall besar itu sudah pergi usai maghrib. Seperempat jam saya di sana, menunggu teman saya menyelesaikan pekerjaannya, lalu kami naik motor masing-masing menuju WS Demangan. Makan sambil ngobrol, girl's talk time.


And I miss him now....don't know why....
Kemarin pagi, saya sempat memberitahu dia bahwa dia kembali masuk ke mimpi saya. Dia membalas dan meminta saya menceritakan mimpi itu. Tapi setelah itu, tak ada kabar. Saya pun mengerti, dia sibuk. Setelah itu, saya sempat mengirim sms lagi, tapi saya tak mendapat balasan. Saya pun tetap berusaha mengerti.

Hari ini, tak ada secuil pun kabar dari dia. Dan saya mengerti, mencoba mengerti.

Rabu, 17 Februari 2010

memompa semangat


Saya piket malam ini. Tukeran dengan salah satu teman. Di luar masih ada sisa-sisa hujan deras sejak petang tadi. Perut sudah terisi, tapi kok jadi terasa lapar lagi.

Sejak pagi tadi saya sangat produktif. Liputan kesana-kemari. Setelah sebelumnya saya berhari-hari sempat agak disorientasi, hari ini semangat saya agak terpompa. Mungkin karena tadi liputan dengan salah satu sahabat lama saya. Teman wartawan Kompas yang jadi tandem saya waktu saya liputan di Bantul sekitar pertengahan 2006 sampai awal 2007. Benar-benar sahabat yang menyenangkan. Liputan dengan laki-laki yang usianya di bawah satu setahun lebih itu memang selalu menggembirakan, ada aja yang bisa bikin kami tertawa.
Saking produktifnya, tadi baru jam 12.00 kami sudah mendapat empat berita. Kami stopped by di SGPC Bu Wiryo di Selokan, sambil makan, ketawa-tawa. Reuni yang menyenangkan, karena sebelumnya dia lama di Kulonprogo. Hari ini pun dia ke Sleman karena menggantikan teman dia yang sedang mengambil cuti. Dari SGPC kami numpang duduk di salah satu gedung FKH dan menelepon narasumber untuk sekedar konfirmasi ulang. Lalu kami ke kantor masing-masing.
Ohya, di SGPC, ketika saya keluar sambil memasukkan selembar seribuan ke depan grup musik yang selalu live performance di sana, tiba-tiba ada laki-laki muda rapi menyenggol tangan saya. Ya Allah, teman saya, mas Isro, humas ANTV. Dia hanya sehari di Jogja entah untuk tugas apa, dan tadi dia bilang, "aku teleponin dari tadi non...". Hahaha....malah met me by chance di sana. Sore tadi setelah sempat delay karena hujan deras akhirnya dia balik ke Jakarta.

Ohya, kemarin malam, waktu saya dan teman kos sedang berkeliling Carrefour Amplaz untuk berbelanja kebutuhan pokok anak kos (haha..), tiba-tiba ada sms masuk. Wartawan lima tahun lebih tua dari saya itu memang akhirnya benar-benar akan dipindahtugaskan ke Balikpapan. Kemarin dia dipulangkan ke Jogja hanya untuk packing barang dan sekedar pulang kampung untuk berpamitan dengan keluarganya di Jatim. Well, for the last time, saya akhirnya mengiyakan ketika dia ingin mengajak saya keluar. Dia jemput saya di kos, lalu kami makan berempat. Akhirnya memang makan berempat dengan dua teman lainnya. Meski berempat, tapi entah kenapa kemarin malam dia sepertinya benar-benar berani terus-terusan mengungkapkan perhatian dia ke saya.
Well, saya sedih, tapi hanya sebagai teman. Saya juga kasih dia kado perpisahan juga sebagai teman, sekaligus permintaan maaf saya, karena saya merasa mungkin sudah bersikap agak jahat ke dia selama ini. And I can saw how sad his eyes when he leave my dorm last nite.

Well, about another guy.
Kemarin, saya sms dia, "Is he ok?". Lalu dia jawab, "He is ok, how ab she?". Lalu saya jawab dan bertanya secara implisit apakah dia sudah membaca semua postingan terbaru di blog saya yang saya tulis selama dia masih ditimbuni kesibukan dia. Tapi sampai detik ini dia tak memberi balasan atau bahkan sedikit kabar.
Gosh...saya harus mengerti. Tak boleh meminta berlebih.
Saya rindu mendengar dia bilang dia rindu pada saya.

merenung


entah kenapa saya suka foto ini....
saya kasih caption "merenung"

Senin, 15 Februari 2010

Lega


Akhirnya saya agak bisa bernafas lega. Sepanjang 42 menit 54 detik tadi pagi saya berbicara dengan dia. Telepon tiba-tiba dari dia tadi pagi cukup membuat saya merasa lega. Meskipun banyak hal yang belum dia pahami dari apa yang kami bicarakan tadi. But thanks God he is fine.... And knowing that he still missing me and thinking about me juga membuat pagi saya menjadi terasa lebih indah.


Sebenarnya, Minggu pagi kemarin dia juga menghubungi saya, meski hanya lewat beberapa sms yang terpatah-patah dalam jeda yang sangat panjang. I know, he's so much busy. Tapi selintas senyum saya muncul ketika tiba-tiba sore kemarin dia bilang di salah satu smsnya, "Happy Valentine's day", yang kembali dia ulangi tadi saat menelepon saya.
Well, I don't even think that it was a meaningful day. Tapi saya senang dia ingin mengucapkannya untuk saya. Seperti tahun lalu, Val's day tahun lalu, dia menelepon saya tengah malam dan mengucapkannya juga.

Sesore ini dia tak memberi kabar, semoga dia baik-baik saja. Amin.

Sabtu, 13 Februari 2010

mimpi


Saya mimpi aneh sekali semalam. Mimpi yang sangat bodoh!


Setting mimpi itu, u know, it was so ridiculous...di SD saya. Sangat detail. Mulai dari pagar sekolah, kelas 6 di pojok depan di dekat gerbang, hingga kantin favorit saya dulu. Tapi entah apa ceritanya, di mimpi itu saya sudah dewasa, bukan lagi anak SD. Teman-teman yang saya temui pun malah teman-teman SMP, SMA, hingga teman-teman kuliah.

The shocking moment di mimpi saya itu, ceritanya ada teman laki-laki saya yang ingin melakukan "penembakan" layaknya para pejuang cinta di reality show "Katakan Cinta" (yang sekarang sudah tidak tayang lagi). Dia mengumpulkan banyak siswa di luar gerbang untuk "menembak" saya. Sayangnya, tak jelas siapa dia di mimpi saya itu. Di mimpi itu pun saya malah memilih tetap masuk kelas, meski beberapa teman bilang agar saya keluar gerbang.

But the most shocking moment di mimpi saya itu, ada pria yang menjadi guru saya dan bertanya, "Kenapa ada ribut-ribut di luar?". Lalu teman-teman saya menjawab, "Ada yang mau nembak cewek pak". And I just keep silent....

Gosh...! It was him! He became as a teacher in my class!! I don't know how can he entered my dream last nite....
Well, I do, I was thinking about him. Tapi semalam saya memang samasekali tak berharap dia akan menghubungi saya. Meski saya ingin. Dan sampai siang ini saya juga tak berani menanyakan apapun kepada dia. Sometimes I have to control myself not to push him to understand me. Eventhough I miss him.

Sekarang masih hujan deras, padahal saya ingin segera meluncur ke kampung halaman.

Jumat, 12 Februari 2010

jodoh

Berhujan-hujan lagi hari ini.
Seharian ini Jogja ditutup mendung gelap dan terus-terusan hujan.

Jelang sore, saya meluncur ke sebuah perguruan tinggi untuk bertemu dengan salah satu narasumber. Lalu numpang mengetik sekaligus mengirim berita ke redaktur saya di kantor humas PT tersebut. Lalu pulang ke kos karena janjian dengan salah satu teman kos berbelanja sebentar ke Super Indo yang tak sampai satu kilometer dari kos. Hanya sejam, lalu saya meluncur ke daerah Pandega Padma untuk menjemput teman kampus saya yang kebetulan bekerja menjadi editor di Penerbit Bentang (penerbit yang dulu sudah mau mempekerjakan saya sebagai editor setelah saya lulus, tapi saya tak jadi mengambil kesempatan itu). Di sana, terjebak hujan deras. Alhasil, saya duduk mengobrol dengan beberapa orang di sana. Sambil menghitung-hitung budget yang ingin saya keluarkan karena tiba-tiba banyak sekali buku di sana yang menarik perhatian saya. Satu set lengkap serial Laskar Pelangi Rp 165 ribu, Sehat Tanpa Dokter sekitar Rp 70 ribu, dan beberapa buku lain langsung memikat saya. Harga teman, lumayan lebih murah dibanding membelinya di toko buku. Ada yang ingin saya miliki sendiri, ada yang ingin saya belikan untuk ibu saya, dan beberapa orang lain.
Di sana, I also met my senior, by chance. Sejak saya masuk ke parkiran, kakak tingkat saya yang juga jadi freelance editor itu katanya sudah merasa mengenal saya. Haha...he said that I had a really different look dibanding zaman kuliah dulu.

Ba'da Maghrib tadi memang saya janjian dengan beberapa teman kampus di Pondok Cabe Gejayan, a little gathering yang selalu kami gelar tiap kali ada teman kuliah yang akan menikah. Yang dibicarakan apa lagi kalau bukan rencana kondangan rame-rame ke sana, dan kado apa yang akan diberikan. Mau uang, atau barang. Tugas kami yang masih di Jogja juga buat mengkoordinasi temen-temen yang udah berpencar di Riau, Padang, Jakarta, sampai Aceh dan daerah lainnya yang ingin mentransfer uang ketika ada teman yang menikah.
Oh ya, di angkatan saya, ada pameo bahwa teman yang bertugas menjadi bendahara untuk kondangan teman angkatan akan ketularan menikah dalam waktu dekat. Entah karena apa-- tapi menurut saya hanya kebetulan--, memang beberapa kali terbukti. Nah, ketika tadi ada teman yang nyeletuk, "Ita (some of my friends called me "Ita"), kamu aja yang ngumpulin uangnya, biar ketularan!", saya langsung bilang," Ah engga ah, belum mau ketularan cepet-cepet!"... Hahaha...

One shocking moment terjadi ketika saya membuka undangan teman saya itu. Well, teman saya satu ini memang juga teman seangkatan saya di SMA. Hal yang membuat saya kaget ketika saya membaca nama mempelai pria dan foto pre wed mereka. GOSH! Mempelai prianya juga teman SMA saya! Meski tak kenal langsung, saya tahu laki-laki muda itu! Dan saya tak berpikir bahwa teman saya akan menikah dengan dia!
I mean, sejak teman saya memberitahukan kabar bahagia itu via Facebook, saya berpikir bahwa dia akan menikah dengan cowok dia yang selama ini saya tahu. Saya tidak mengenal cowok itu, tapi saya tahu ceritanya. Saya menyebutnya "anak cafe" karena tipikalnya memang cowok gaul yang hobi keluar masuk cafe dan tempat "gaul" lainnya. Saya menyimpulkannya dari foto dan status-status yang dia pasang di FB, karena memang dia juga meng-add saya sebagai teman di FB.

Gosh! It was a really big surprise! Saya kembali disadarkan tentang rahasia Allah tentang jodoh. Ternyata, dari cerita salah satu teman saya, kedua calon mempelai itu bertemu lalu memutuskan untuk menikah dalam waktu tak sampai dua bulan!! Konon, mereka bertemu saat teman saya itu menunggu sang ibunda yang sakit di rumah sakit. Mereka berdua tak sengaja bertemu di RS.
Ya Tuhan...tadi saya sampai tak percaya. Teman saya kuliah di UGM seperti saya, dan calon suaminya itu dulu setahu saya kuliah di UPN, teknik apa saya lupa. Dulu saya kelas 2.6, si cewek 2.4, dan si cowok 2.5. Setahu saya, ketika kelas 3 mereka juga tidak satu kelas. Setahu saya, dulu sepertinya juga mereka tidak sempat crush each other alias saling jatuh cinta. Teman saya, tipikal cewek kenes yang cerewet dan hobi berdandan, dan sudah berulangkali bergonta-ganti pacar. Si calon suami, sejak SMA memang sangat pendiam, serius, dan berkacamata. Gosh!! Tuhan Maha Besar. Dia berkehendak, apapun bisa mungkin terjalin dan terjadi. Subhanallah... Saya ikut bahagia.

Jodoh. Hmm...sesuatu yang sangat-sangat absurd. Ada orang yang merasa berjodoh, menikah, tapi kenapa akhirnya bercerai. Well, saya tak mau membahasnya. Terlalu berat. Usia 27 tahun yang terstempel di jidat saya juga sepertinya masih kurang pantas buat saya yang sepertinya masih lebih sering bersikap childish dibanding bersikap mature. Malu sekali rasanya, sok-sok ingin membahas tentang jodoh.

Ohya, pagi tadi saya mendapat sms dari dia. Mengabarkan sesuatu. Lalu saya bilang, "take care your health", lalu dia bilang, "thanks for pray", lalu saya bilang, "nothing more I can do", lalu tak ada jawaban. Sampai malam ini. Dan saya memilih untuk diam, tak ingin mengganggunya. Meski saya ingin. Ingin mengganggu dia dengan pelukan saya dari jauh.

Ohya, siang tadi usai shalat Jumat, sang cinta pertama saya juga mengirim sms. Hanya menanyakan apakah saya sudah makan siang, apakah saya berencana pulang kampung minggu ini. Dia sedang makan siang usai shalat Jumat, dan ritme kehidupan di Jakarta yang sudah mencerabutnya dari kisah hidup saya sejak dia memutuskan untuk kuliah di sana juga mencerabutnya kembali hari ini. "Udah jam 13.30, aku masuk kantor dulu ya," kata dia. Waktu istirahat selesai, dan dia kembali berkutat dengan pekerjaannya. He's always too much study-oriented ketika kuliah dulu, dan sekarang...terlalu workaholic. Kaku.

Dua laki-laki yang sibuk, di dua dunia yang berbeda, dari dua masa yang berbeda, di dalam hati yang sama, di sekat yang berbeda, entah dengan persentase rasa yang berbeda pula ataukah sama.

Dan malam ini, saya tak mengharapkan siapa-siapa.

Kamis, 11 Februari 2010

so much worry


Pagi tadi saya terbangun sekitar pukul 03.00 kurang beberapa menit. Di antara remang lampu kecil di kamar saya, saya mencari-cari hp. Hp simpati saya temukan di bawah selimut, tepat di bawah betis saya. Hp xl saya temukan masih tergeletak manis di meja kecil di samping bed saya. Tak ada missed-call, tak ada pula sms. Saya tak marah, tapi sedih dan khawatir. Karena mata sudah tak bisa terpejam, saya lalu mulai surfing di internet lewat hp, membuka akun facebook saya, dan menulis status "kepikiran, kangen, plus kuatir".

He's not okay. That's why I was so much worried, until now.
Sekitar pukul 05.00 pagi, akhirnya ada sms masuk. Sayangnya, saya sudah telanjur tertidur lagi. Sms itu semakin membuat saya khawatir, karena dia bilang his health is getting worst.

Demi Tuhan, saya selalu serius ketika saya bilang saya mengkhawatirkannya. Saya selalu benar-benar khawatir. Entah dia merasakannya apa tidak. Kondisi seperti ini juga selalu membuat saya tak berdaya karena saya tak bisa berbuat apapun untuk dia, kecuali berdoa agar segala hal buruk segera pergi dari tubuhnya.

Sebenarnya, semalaman saya gelisah. Ingin bercerita sesuatu pada dia, tapi saya harus mengerti kondisi dia yang sedang tidak baik-baik saja. Sekali lagi, saya mendengar hal buruk mengarah pada dia, dan saya ingin bercerita pada dia untuk membantu dia menghindari hal buruk itu. Okay, jujur, beberapa persen dari hal buruk yang saya dengar itu memang membuat saya agak sedikit merasa jealous. But, more than that, saya lebih mengkhawatirkan dia. Saya tak ingin hal buruk itu menyelimuti kehidupan dia tanpa dia sadari.

U know, saya memilih menjalani alur cerita saya dengan dia tanpa tendensi apapun. Saya bahkan samasekali tak pernah berpikir ingin mengambil apapun dari dia, kecuali indahnya rasa yang kami miliki. So, ketika saya mendengar ada orang jahat yang berusaha mengambil sesuatu dari dirinya, saya merasa teramat-sangat khawatir dan tidak terima. Saya memang tak bisa berbuat sesuatu yang riil untuk mencegah banyaknya arus buruk, licik, atau bahkan jahat yang ada di sekeliling dia. Saya hanya bisa berbagi pandangan dan pendapat saja, agar dia bisa menghindari mereka.
Mungkin memang tak akan ada orang yang bisa mengerti apa yang kami rasa dan kami punya. But I do still believe on him.

Ya Tuhan...I do care of him. Tolong hilangkan rasa khawatir saya yang mungkin terlalu berlebihan ini. And please, hug him from all of those bad things. Amin.

Rabu, 10 Februari 2010

what is love?


Bukan karena jelang Valentine's Day kalau hari ini saya ingin menulis tentang cinta. Toh, sejak lepas dari SMA saya juga tak lagi terbawa-bawa budaya perayaan tidak jelas itu.

So, what kind of thing that u called as "love"?
Let me tell u.

Buat saya, cinta adalah sebuah hal yang absurd. Sebuah rasa yang bahkan tak akan pernah bisa dideskripsikan dengan jelas. It took times buat saya untuk bisa bilang bahwa saya memiliki cinta untuk seseorang (except my parents and my families of course, buat mereka, cinta sudah terlahir bersamaan waktunya dengan saat kelahiran saya).
Dari banyak relationships yang pernah saya miliki, hanya dua kali rasanya saya memiliki cinta. Sisanya? Hmm..mungkin sekelebatan rasa, entah apa namanya. So, buat saya, sangat berat dan penuh pemikiran ketika akhirnya saya bilang "I love u". Meskipun tentunya hal itu akan saya katakan ketika kami sudah berada dalam sebuah jalinan hubungan, bukan di awal hubungan.

Saya rasa, saya masih menyimpan cinta pertama saya itu. Apalagi, sekarang dia berbalik menjadi kembali sangat-amat-sangat care pada kehidupan saya. Dalam bentuk yang riil. I mean, we have a brand new connection. With a brand new feeling.
I know, ada yang akan merasa jealous dengan apa yang saya tulis ini. Dalam beberapa batasan, ia mengaku bahwa ia memang cemburu. But u know what, those two guys have their own position in my life. Keduanya pun sangat berarti bagi saya.

Okay, I will talk about my man. I love him. Gosh...ya, I do love him.
Eventhough I don't really know what kind of love that I have for him.

Mencintainya tetap saja indah, meskipun lebih sering rasanya seperti merajam hati saya dengan puluhan pisau. Terutama saat saya menginginkan dia ada bersama saya.
Mencintainya berarti mau mengerti segala kesibukan dia dan mau menunggu sampai dia tiba di hari saya.

Mendengarnya sehat dan baik-baik saja, itu sudah membahagiakan.
Mendengarnya sakit dan saya tak bisa menemaninya, itu sudah sangat menyakitkan.
Lalu mendengar pembahasan buruk mengenai dirinya, itu juga sangat membebani.

Love is just love.
I do appreciate all that we have, all that we have been through for years.
And as we promise, we always tried to keep it. As long as we can.

Senin, 08 Februari 2010

sakit plus kangen

Sakit perut. Baru mulai menstruasi kemarin malam, dan tadi pagi harus berjibaku dengan ratusan kendaraan sepanjang jalan Jateng-DIY. Sekarang jadi sakit perut, padahal biasanya juga tak pernah ada sakit yang berarti tiap tamu bulanan itu datang. Alhamdulillah saja lah..nothing wrong with my health. Sakit perut ini juga tak sebegitu sakitnya. Sakit ini kemungkinan besar dipicu oleh rasa capek. Itu menurut beberapa literatur yang pernah saya baca.

Telepon selular saya yang isinya simcard Simpati saya matikan jelang Maghrib tadi. Malas sekali rasanya, banyak sekali pesan dan telepon masuk hari ini. But..I don't know apa dia masih mengirimi saya pesan lagi. No, saya mematikan hp bukan untuk menghindari dia, tapi orang-orang lainnya (I'm sorry, my man....) Mungkin ada beberapa sms dia yang pending dan baru akan bisa saya baca nanti setelah saya menghidupkan hp.

Siang sampai sore tadi saya memang menghabiskan waktu dengan deretan sms dia. Well, sometimes I don't know how should I'm dealing with my desire. My desire to be with him. Sometimes I couldn't handle that. Tapi ada jarak, waktu, dan kesibukan.

Kemarin, saya di rumah. Ketika dia tiba-tiba menelepon, it was so exciting for me. Buat saya, tahu bahwa dia sehat dan baik-baik saja, itu sudah sangat membahagiakan. Buat saya, tahu bahwa dia masih mengingat saya ketika dia ditimbuni kesibukan, atau saat dia menghabiskan waktu luang yang dia punya, atau bahkan saat dia sedang tidak baik-baik saja...itu juga sangat berarti bagi saya. Berarti karena dia membuat saya merasa memang berarti bagi dia. Meskipun saya juga tidak tahu seberarti apa saya buat dia.

U know...sometimes, saya ingin melarikan diri dari kesibukan manusia yang sangat duniawi ini. Untuk beberapa saat. Lalu terbang jauh bersama orang yang saya cintai, ke tempat dimana tak ada orang yang mengenali siapa kami, darimana asal kami, bahkan nama kami. Menghabiskan waktu bersama, membangunkannya jelang Subuh, membuatkan sarapan sederhana, lalu menyusuri bibir pantai sebelum matahari muncul.... (hahaha...is it ridiculous?).
Jadi inget satu film Richard Gere, lupa namanya. Soal seorang pria dan wanita yang bertemu di sebuah penginapan di tepi pantai. Dua-duanya sedang ada masalah, mereka ingin lari dari masalah, dan bertemu di penginapan itu. Only both of them. Well, cerita film itu memang tak ada korelasinya dengan imajinasi saya. But, that inn...penginapan di tepi pantai di film itu...soooo cozy.

Well...I think I have to learn how to handle my eagerness. Which one is easy to be realized, which one is impossible to realized.

Gosh, I miss him...so much.

Jumat, 05 Februari 2010

Li'l Bit Frustrated



I felt that I was li'l bit frustrated last nite. Saya tak tahu, seingat saya, saya sudah berdoa sebelum tidur. As usual. Tapi sampai lewat dini hari saya masih saja tak bisa tidur. Bahkan cenderung gelisah. Saya terbiasa tidur dengan lampu kecil, dan kemarin malam saya malah tidak bisa tidur. Alhasil, lampu besar di kamar saya harus saya nyalakan sampai pagi.

I think I was a l'il bit frustrated. Atau, jangan-jangan ada orang yang memikirkan saya kemarin malam? Sangat memikirkan saya? Entahlah... Mestinya, banyak orang...haha....
Well...I don't really know.
I always frustrated if I feel that I miss him.... Just like last nite, I only could looked at my cellular phone, and nothing I could do.
Hari ini saya berhujan-hujanan lagi. Sekitar pukul 14.00 saya janjian wawancara dengan salah satu dosen di Fisipol UGM. Dulu waktu kuliah, beliau adalah dosen favorit kami di FIB. Saya pun mendapat nilai A untuk dua mata kuliah wajib universitas yang beliau ampu. Setelah wawancara, saya dan seorang teman yang kebetulan ikut pun harus berlarian di antara hujan deras dari Fisipol menuju Perpus UPT I yang notabene berada di depannya. Basah kuyup, of course. And we got nothing, karena kami berlarian hanya untuk mengejar staf Obama yang konon mampir ke UGM untuk membicarakan rencana kedatangan Obama, tapi nyatanya mereka sudah pergi. Fiuuh....
Gosh...sekarang saya masih di kantor. And I miss my man.
I wanna be with him, in that iron bird.
Looking for a sunshine in the sky. Anywhere....

Kamis, 04 Februari 2010

I Miss Him, Now.



To see you when I wake up is a gift I didn´t think could be real
To know that you feel the same as I do is a three-fold, utopian dream
You do something to me that I can´t explain
So would I be out of line if I said, I miss you?
I see your picture, I smell your skin on the empty pillow, next to mine
You have only been gone ten days, but already I´m wasting away
I know I´ll see you again, whether far or soon
But I need you to know that I care, and I miss you....

("I Miss You"-Lifehouse)


Pukul delapan malam kurang sepuluh menit. Saya masih di kantor. Piket. Di luar hujan, so that's why masih cukup banyak orang yang stay di kantor meski mungkin halaman mereka sudah selesai masuk pracetak. It's been a while sejak saya menulis di blog ini Senin lalu.

You know, I feel like I cannot explain what actually I'm feeling now. Meski agak sedikit kehilangan bara semangat, selama tiga hari ini saya juga masih tetap menjalankan tugas jurnalistik saya. Well, I have to be a professional journalist, of course.

U know, entah kenapa, kemarin saya merasa dada saya agak sesak membaca pesan singkat dia.Saya serasa ingin bilang, saya ingin pergi bersama dia. Membuat jejak di angkasa di dalam tubuh burung besi itu.
But, what can I do? Nothing.
And I miss him now....

Senin, 01 Februari 2010

exhausted



Even if you were a million miles away
I could still feel you in my bed
Near me, touch me, feel me....
("try sleeping with a broken heart"-Alicia Keys)

Entah dia dimana, sedang apa. Saya mencoba menanyakan kabar dia hari ini, tapi sepertinya dia sedang teramat sibuk. Fine, I do have to understand.

Hari ini saya kelelahan. Jadwal kembali ke Jogja pagi tadi juga sempat tertunda karena hujan deras. Malam ini saya hanya ingin makan, mandi, lalu istirahat. Sebenarnya ingin sekali hunting buku di bookfair di JEC, but I feel really exhausted.

Lagu baru Miss Keys itu terasa enak sekali di telinga saya belakangan ini. Liriknya pun so deep. Saya tidak sedang brokenhearted, but lirik di awal-awal lagu itu "saya banget". I mean, meski dia jauh, I can still feel him near me....