Kamis, 04 Februari 2010

I Miss Him, Now.



To see you when I wake up is a gift I didn´t think could be real
To know that you feel the same as I do is a three-fold, utopian dream
You do something to me that I can´t explain
So would I be out of line if I said, I miss you?
I see your picture, I smell your skin on the empty pillow, next to mine
You have only been gone ten days, but already I´m wasting away
I know I´ll see you again, whether far or soon
But I need you to know that I care, and I miss you....

("I Miss You"-Lifehouse)


Pukul delapan malam kurang sepuluh menit. Saya masih di kantor. Piket. Di luar hujan, so that's why masih cukup banyak orang yang stay di kantor meski mungkin halaman mereka sudah selesai masuk pracetak. It's been a while sejak saya menulis di blog ini Senin lalu.

You know, I feel like I cannot explain what actually I'm feeling now. Meski agak sedikit kehilangan bara semangat, selama tiga hari ini saya juga masih tetap menjalankan tugas jurnalistik saya. Well, I have to be a professional journalist, of course.

U know, entah kenapa, kemarin saya merasa dada saya agak sesak membaca pesan singkat dia.Saya serasa ingin bilang, saya ingin pergi bersama dia. Membuat jejak di angkasa di dalam tubuh burung besi itu.
But, what can I do? Nothing.
And I miss him now....