Rabu (31/12) lalu aku mewawancarai seorang profesor yang baru dikukuhkan sebagai guru besar bidang Matematika di salah satu PTN di Jogja. Well, isu yang digali oleh profesor itu dalam penelitian beliau menurutku memang sangat "mengena". Intinya, mengapa masih banyak siswa yang menganggap Matematika adalah pelajaran yang so scary alias sangat menakutkan. Aku termasuk salah satunya. Hahaha....
Buatku, Matematika=mati-matian.
Sepertinya, "masa keemasan"-ku di dunia Matematika hanya bertahan sampai pertengahan masa studiku di SMP. Waktu masih SD, belum ada satu pun pelajaran yang membuatku harus merasa takut. Bahkan, waktu kelas 3 SD, aku masih inget, aku pernah meraih angka sepuluh bulat untuk hasil tes sumatif caturwulan waktu itu dan membawaku menduduki peringkat pertama. Mengalahkan cowok sekelasku yang selalu menduduki ranking satu, dan membuatku harus rela selalu jadi "yang kedua". Hahaha...
Nah, masuk SMP, aku memang mulai enggan dengan pelajaran yang bertabur angka dan rumus itu. Aku mulai merasa, aku dilahirkan dengan kemampuan verbal yang lebih baik dibanding kemampuan lainnya. Aku pun selalu berusaha mengejar angka sempurna untuk pelajaran bahasa, khususnya Bahasa Inggris. Angka sempurna pun pernah hampir aku buat waktu kelas 2 SMP dulu, hanya satu soal pilihan ganda yang membuatku gagal...Agak menjadi selebriti saat guruku selalu membicarakan aku di kelas lain, dan membuat teman-temanku yang ikut les Inggris bertanya-tanya padaku, "kamu les di mana sih?. Aku cuma ketawa dan bilang, "Les sendiri". Hahaha, suombooong! But, Matematika? Nilaiku biasa-biasa saja. Ibuku pernah mau masukin aku ke les privatnya guru Matematika di SMPku yang beliau kenal, tapi aku menolak habis-habisan. Dalam hati, aku takut...Bukan takut kena marah guruku itu, tapi takut terlihat bego di depan beliau, hahahaha.
SMA, aku mulai kelabakan. Bertemu dengan berbagai teorema matematika yang semakin "njelimet" membuatku mulai membenci pelajaran itu. Padahal, selama aku sekolah dari SD sampai SMA, guru Matematikaku biasa-biasa saja.Tidak ada satupun dari beliau-beliau yang supergalak. Bahkan, guru Matematika pertamaku di kelas 1 SMA malah cenderung lucu, suka becanda. Tapi, ya gimana lagi...aku memang semakin "buta" tentang Matematika. Naasnya, di kelasku (di SMA, kelas 1 sampai kelas 2 kelasku tetap) dipenuhi dengan sederet nama-nama siswa yang te-o-pe be-ge-te alias top banget alias jenius banget di bidang eksakta, termasuk Matematika. Untuk bisa meraih satu peringkat dalam sepuluh besar kelas saja susahnya naudzubillaaah!
Thanks God, waktu itu, aku hampir selalu duduk di belakang salah satu anak terjenius di kelasku. Alhasil, tiap kali ulangan Matematika, aku tertolong olehnya. Hahaha.... Tapi, aku juga kasih feed-back, aku kasih contekan saat ulangan lain. Hahaha...simbiosis mutualisme.
Naik kelas 3, penjurusan, aku mantap memilih kelas bahasa. Betapa senangnya aku terbebas dari berbagai pelajaran eksakta dan juga ekonomi! Aku benar-benar menemukan duniaku yang sebenarnya! Jam pelajaran Bahasa Inggris bejibun seminggu, ada Bahasa Inggris Umum yang materinya sama dengan anak kelas IPA dan IPS, ada Bahasa Inggris Khusus yang khusus untuk anak kelas Bahasa. Lalu, Bahasa Indonesia juga dibagi menjadi Umum dan Khusus. Lalu, masih ada Bahasa Perancis. Matematika? Aku belum sepenuhnya terbebas. Masih ada, tapi seingetku hanya dua jam dalam seminggu. Hanya untuk persiapan jelang UMPTN alias SPMB.
Tapi waktu bimbingan belajar di Primagama sebelum UMPTN dulu, aku terpaksa ikut kelas IPS juga....
Balik tentang wawancaraku dengan bapak profesor itu. Dari niat awalku untuk menggali lebih dalam keinginan beliau untuk mengajak kalangan guru untuk mengubah paradigma mereka dalam mengajarkan Matematika, eeh hari itu aku malah mendapat les Matematika gratis!
Buseeet...waktu bapak itu mengambil kertas hvs kosong dan mulai menuliskan satu butir soal Matematika zaman SMP, aku mulai cengar-cengir.
"Waduh, saya mulai takut nih Pak," ujarku.
Tapi si profesor malah membuatkan beberapa cara untuk mengerti soal itu. Dan ternyata aku bisa! Lalu, ada soal lain lagi. Aku juga bisa!
Kenapa gak dari dulu ya guru-guruku memaparkan Matematika dengan cara seperti yang dilakukan oleh profesor ini ya, pikirku.
"Guru seharusnya memberi pembelajaran, bukan sekedar pengajaran. Pengajaran hanya bersifat informatif dan cenderung dogmatis. Berbeda dengan pembelajaran yang menuntun siswa untuk bisa membangun konstruk kognitif mereka untuk mengerti tentang Matematika. Siswa juga harus memiliki keinginan sekaligus sikap positif terhadap Matematika. Kalau siswa tidak bisa, lalu tidak berusaha dan ada keinginan untuk bisa dan bahkan menjauhi, maka akan semakin banyak materi yang tidak mereka pahami, lalu terakumulasi, sampai akhirnya mereka membenci Matematika".
Well, pemaparan beliau itu sepertinya banyak dialami orang yang tidak suka Matematika, termasuk aye...hehehe.
sometimes we should say what we think, what we feel, and what we want....
Rabu, 31 Desember 2008
Senin, 29 Desember 2008
KERIS
Keris? Kalau tidak salah, pertamakali aku melihat benda satu ini waktu aku diajak orangtuaku kondangan ke pernikahan, waktu aku kecil dulu. Senjata kebanggaan kaum pria Jawa itu biasanya diselipkan di bagian belakang jarik yang dipakai pengantin pria.
Waktu aku masih getol ikut les tari pas masih SD ampe SMP dulu, aku juga sering liat benda itu lagi. Beberapa tarian Jawa emang ada yang memakai keris sebagai pelengkap aksesori.
And you know what, sebagai keluarga asli Jawa, ternyata keluargaku juga punya sebilah keris plus wadahnya (kalo gak salah, namanya warangka ya?). Hehe, meskipun darah Jawa mengalir deras di tubuhku, aku gak banyak ngerti soal tradisi Jawa.
Well, tepatnya, keris itu peninggalan mbah kakungku. Dulu, waktu mbah putriku masih ada, aku sering liat beliau menitipkan keris itu ke tetangga untuk dibawa ke tukang memandikan keris (apa ya istilahnya? Tukang Jamas kah?). Tepatnya, tiap menjelang pergantian tahun dalam hitungan Jawa. Mbahku itu orang Islam. Shalat rajin. So, dalam pandanganku, dia melakukan ritual untuk memandikan keris itu hanya untuk menjaga tradisi Jawa yang (mungkin) dipesankan oleh mendiang mbah kakung. Dulu, aku takut banget kalau mbah putriku nyuruh aku ngambilin pakaian di lemari itu, karena aku gak pengen liat keris itu.
Kemarin, waktu pulang, aku baru tau kalau keris itu masih ada di lemari pakaian mbah. Meskipun mbah udah ga ada.
Kata suami salah satu kakakku, keris itu ada yang "ngisi". Entah benar atau cuma mau menakut-nakuti aku yang emang terkenal "super-jirih" alias super-penakut. Tapi "dia yang ngisi" keris itu katanya hanya pengen menjaga rumah saja.
Hih. Aku jadi inget, dulu waktu mbah putriku masih ada, aku pernah merasa dilewatin bayangan hitam tinggi melintas di belakangku, padahal waktu itu di ruang tengah itu gak ada siapapun. Waktu itu, mbah putriku bilang mungkin itu mbah kakungku.
Aku juga jadi inget, pernah jam lima pagi bel di rumahku bunyi2. Entah karena itu, atau korsleting ya?.....
Ah udah ah.....
Waktu aku masih getol ikut les tari pas masih SD ampe SMP dulu, aku juga sering liat benda itu lagi. Beberapa tarian Jawa emang ada yang memakai keris sebagai pelengkap aksesori.
And you know what, sebagai keluarga asli Jawa, ternyata keluargaku juga punya sebilah keris plus wadahnya (kalo gak salah, namanya warangka ya?). Hehe, meskipun darah Jawa mengalir deras di tubuhku, aku gak banyak ngerti soal tradisi Jawa.
Well, tepatnya, keris itu peninggalan mbah kakungku. Dulu, waktu mbah putriku masih ada, aku sering liat beliau menitipkan keris itu ke tetangga untuk dibawa ke tukang memandikan keris (apa ya istilahnya? Tukang Jamas kah?). Tepatnya, tiap menjelang pergantian tahun dalam hitungan Jawa. Mbahku itu orang Islam. Shalat rajin. So, dalam pandanganku, dia melakukan ritual untuk memandikan keris itu hanya untuk menjaga tradisi Jawa yang (mungkin) dipesankan oleh mendiang mbah kakung. Dulu, aku takut banget kalau mbah putriku nyuruh aku ngambilin pakaian di lemari itu, karena aku gak pengen liat keris itu.
Kemarin, waktu pulang, aku baru tau kalau keris itu masih ada di lemari pakaian mbah. Meskipun mbah udah ga ada.
Kata suami salah satu kakakku, keris itu ada yang "ngisi". Entah benar atau cuma mau menakut-nakuti aku yang emang terkenal "super-jirih" alias super-penakut. Tapi "dia yang ngisi" keris itu katanya hanya pengen menjaga rumah saja.
Hih. Aku jadi inget, dulu waktu mbah putriku masih ada, aku pernah merasa dilewatin bayangan hitam tinggi melintas di belakangku, padahal waktu itu di ruang tengah itu gak ada siapapun. Waktu itu, mbah putriku bilang mungkin itu mbah kakungku.
Aku juga jadi inget, pernah jam lima pagi bel di rumahku bunyi2. Entah karena itu, atau korsleting ya?.....
Ah udah ah.....
Jelang Tahun Baru
Fiuuh...tanganku masih agak pegal. Hampir dua jam memegang kendali bebek biru kesayanganku dari kampung halaman ke Jogja. Nyampe Jogja sekitar pukul 08.30. Langsung ke kos, mandi lagi buat menghilangkan bau asap selama perjalanan. Then, aku harus langsung meluncur ke LOD. Ada diskusi di sana. Again. Soal UU BHP. Aku udah gak inget lagi berapa kali aku nulis tentang itu. Sejak belum disahkan dan masih berupa Rancangan UU, sampai sekarang disahkan dan masih menuai kontroversi.
Anyway...2008 hampir usai. Besok detik-detik terakhir. Belum ada resolusi yang aku buat untuk tahun depan. Belum ada pula rencana untuk membunuh waktu jelang pergantian tahun esok malam. Ada beberapa ajakan, tapi entahlah. Aku masih agak malas mengisi ruang hariku dengan keramaian yang biasa aku buat bersama teman-temanku. Mungkin lebih baik aku memilih untuk menunggu pergantian tahun di balkon lantai dua rumah kosku. Memandangi langit dan bintang (kalau ada) sambil berselimut dingin berenda rindu. Halah....
Ohya, libur beberapa hari bener-bener aku manfaatin untuk rehat di rumah. Tiga hari di rumah, aku seperti disadarkan bahwa aku udah lama "meninggalkan" teman-teman lamaku. Yup, tiga teman SMA ku berkunjung dalam dua hari yang berbeda. After all those times! Padahal, mungkin aku bisa dibilang jahat, karena jarang kontak-kontakan. Entah itu by phone, e-mail, ataupun hanya sms atau chat di YM. Tiga teman dari "segerombolan" cewek berseragam putih abu-abu alias "abu-abuers" beberapa tahun lalu. Ih, gila, ternyata udah delapan tahun lalu aku menanggalkan seragam itu dink!!!
Satu teman kini masih sibuk kerja plus nyelesein S1 nya di Unpad Bandung. Well, dia dulu ambil D3, lalu sempat vakum sebelum transfer ke S1. Satu temanku lainnya masih sibuk ngajar di salah satu SMA swasta favorit di Semarang. Lucu. Temanku yang rada-rada tomboi harus bersikap keibuan layaknya seorang guru??? Gak heran kalau kata dia, murid2 cowok di sana punya julukan "Ibu Guru Funky" buat dia...hahaha. Next day, satu temanku dateng ma suaminya. Gila, ni anak udah hamil 5 bulan. Sumpah, aku sebenernya ngerasa bersalah banget ga bisa dateng waktu dia kawin...eh nikah.
Fiiuuh...(lagi).
2008 yang aku tutup dengan banyak hal.
Aku kehilangan bokapku.
Sohibku yang gak pernah kedengeran punya cewek tiba-tiba nikah, dan ternyata mereka udah 2 tahun lebih pacaran.
Aku ketemu teman-teman lama.
Ohya, satu lagi, aku berhasil membunuh over-phobiaku naik pesawat! Hahaha....
Satu hal, sepertinya kini dan tahun depan aku harus makin berusaha mengenali hatiku, kemauanku, dan diriku sendiri.
Have a wonderful new year!!!
Anyway...2008 hampir usai. Besok detik-detik terakhir. Belum ada resolusi yang aku buat untuk tahun depan. Belum ada pula rencana untuk membunuh waktu jelang pergantian tahun esok malam. Ada beberapa ajakan, tapi entahlah. Aku masih agak malas mengisi ruang hariku dengan keramaian yang biasa aku buat bersama teman-temanku. Mungkin lebih baik aku memilih untuk menunggu pergantian tahun di balkon lantai dua rumah kosku. Memandangi langit dan bintang (kalau ada) sambil berselimut dingin berenda rindu. Halah....
Ohya, libur beberapa hari bener-bener aku manfaatin untuk rehat di rumah. Tiga hari di rumah, aku seperti disadarkan bahwa aku udah lama "meninggalkan" teman-teman lamaku. Yup, tiga teman SMA ku berkunjung dalam dua hari yang berbeda. After all those times! Padahal, mungkin aku bisa dibilang jahat, karena jarang kontak-kontakan. Entah itu by phone, e-mail, ataupun hanya sms atau chat di YM. Tiga teman dari "segerombolan" cewek berseragam putih abu-abu alias "abu-abuers" beberapa tahun lalu. Ih, gila, ternyata udah delapan tahun lalu aku menanggalkan seragam itu dink!!!
Satu teman kini masih sibuk kerja plus nyelesein S1 nya di Unpad Bandung. Well, dia dulu ambil D3, lalu sempat vakum sebelum transfer ke S1. Satu temanku lainnya masih sibuk ngajar di salah satu SMA swasta favorit di Semarang. Lucu. Temanku yang rada-rada tomboi harus bersikap keibuan layaknya seorang guru??? Gak heran kalau kata dia, murid2 cowok di sana punya julukan "Ibu Guru Funky" buat dia...hahaha. Next day, satu temanku dateng ma suaminya. Gila, ni anak udah hamil 5 bulan. Sumpah, aku sebenernya ngerasa bersalah banget ga bisa dateng waktu dia kawin...eh nikah.
Fiiuuh...(lagi).
2008 yang aku tutup dengan banyak hal.
Aku kehilangan bokapku.
Sohibku yang gak pernah kedengeran punya cewek tiba-tiba nikah, dan ternyata mereka udah 2 tahun lebih pacaran.
Aku ketemu teman-teman lama.
Ohya, satu lagi, aku berhasil membunuh over-phobiaku naik pesawat! Hahaha....
Satu hal, sepertinya kini dan tahun depan aku harus makin berusaha mengenali hatiku, kemauanku, dan diriku sendiri.
Have a wonderful new year!!!
Langganan:
Postingan (Atom)