Minggu, 15 Februari 2009

SUNSET




Matahari membenamkan diri
Malu mengungkapkan apa yang ia alami
hari ini.....

Pangandaran, 7 Februari 2009
(photo by novitapurna)

Jumat, 13 Februari 2009

Sometimes, We Don't Need Any Reasons....

Saya yakin, semua orang pasti pernah melakukan sesuatu atau merasakan sesuatu tanpa alasan yang jelas. Atau bahkan tanpa alasan samasekali?
Saya mengalaminya saat ini....

Duapuluh enam tahun sudah hidup saya bergulir. Lebih dari hitungan lima jari saya pernah merasakan sesuatu yang indah. Rasa memiliki, dimiliki, dan termiliki.
Tapi saya benar-benar tidak bisa mengungkapkan alasan yang "make sense" kali ini. Saya tidak bisa menjelaskannya. Saya bahkan tidak tahu ini apa. Saya hanya bisa merasa, tapi benar-benar samasekali tidak mudah untuk mendeskripsikannya.

Tanpa alasan yang jelas saya membuka hati untuknya....
Meski saya tidak tahu persis, rasa apa yang saya punya.

I met him, saat saya baru benar-benar baru bisa melepas sebuah kisah yang lain.
Entah apa keinginan Sang Pencipta Kehidupan ketika Dia membuat sebuah alur kisah hidup saya di episode kali ini....
Mungkin, Dia ingin saya bisa bertambah grown-up alias mature alias dewasa dalam memilah-milah jalan dari peliknya kehidupan ini.

Tapi, saya merasakan hal lain. Berbeda. Aneh. Extraordinary.

Saya semakin merasa nyaman dengannya. Ketika kami menghabiskan detik-detik dengan jalinan ribuan kata.
Tanpa alasan yang jelas, saya juga merasakan aliran hangat yang menyusupi relung hati saya di saat-saat seperti itu.

Saya malu mengakui bahwa ada selintas senyum saat saya melihat ada satu pesan darinya masuk ke ponsel saya.
Memang, it's common thing. Saya pun telah berkali-kali merasakannya. Tapi kali ini, extraordinary.
Saya juga malu mengakui bahwa saya mulai merindukan sesuatu darinya. Tapi saya tidak tahu apa.
Saya pun malu mengakui bahwa terkadang saya bisa merasakan ke-jealous-an yang aneh.

Saya tidak punya alasan, mengapa saya merasakan sesuatu ini indah.
Saya tidak punya alasan, mengapa saya ingin menjaga semua ini.
Saya tidak tahu apa yang saya cari dari dia.
Saya bahkan samasekali tidak pernah, tidak ingin, dan memang tidak bisa menginginkan apapun dari ini semua.

"Dunia kami" indah. Itu pula yang membuat beberapa sahabat baik saya mengkhawatirkan saya. Terlalu mengkhawatirkan saya. Worrying jika saya akan lupa dengan dunia sesungguhnya yang seharusnya saya miliki. Mereka takut saya akan menutup hati dan tidak mempedulikan sosok lain yang bisa menawarkan sesuatu yang lebih nyata.

Tapi, saya nyaman. Saya bahkan takut mengakhirinya.
Saya bukan takut kehilangannya, tapi saya takut kehilangan saat-saat ini.
I just want to met him in another phase of this life.....
Amien.

Kamis, 05 Februari 2009

Kisah Para Manula

Kamis (5/2) kemarin saya pulang dari kantor sekitar pukul 20.00. Ketika laju motor saya dihentikan sesaat oleh traffic light di pertigaan arah utara perempatan Wirobrajan (depan dealer mobil Honda), ada satu pemandangan yang membuat saya tercekat.

Dari arah seberang pos polisi di pertigaan itu, ada seorang bapak tua pengayuh becak yang dengan susah payah mendorong becaknya menyeberang jalan menuju pos polisi. Untung saja, si bapak itu sudah sampai di seberang jalan ketika puluhan pengendara kendaraan bermotor-- termasuk saya-- sudah diperbolehkan melaju.
Thanks God, saya sempat melihat ada dua orang pria masuk ke becaknya. Syukurlah, ada rezeki buat keluarganya hari ini. Meskipun saya enggan membayangkan orang setua itu masih harus mengayuh becak hingga malam seperti itu.

Berbicara tentang manusia lanjut usia atau manula yang masih harus bekerja keras, mudah sekali menemukannya di kota yang sudah saya tinggali selama delapan tahun lebih ini.

Sehari sebelumnya, ketika saya baru saja keluar dari salah satu rumah makan Padang di seputaran Sonosewu, seorang kakek tua melintas pelan sembari menuntun sepeda onthel yang penuh muatan kayu bakar. Entah ia baru mencari kayu bakar untuk digunakan sendiri, atau ia ingin menjual seikat kayu bakar itu.

Saya memang paling tidak bisa menahan rasa iba tiap kali saya melihat manula seperti mereka masih harus bekerja seperti itu. But what can I do? Saya tidak mungkin membeli kayu bakar milik kakek itu. Mau langsung memberi dia uang? Bisa jadi saya malah didamprat.
Teman saya yang asli Jogja pernah bilang, kebanyakan manula di Jogja yang masih bekerja seperti itu sebagian besar juga karena ingin mengisi waktu senja mereka, dan tak bisa kalau hanya berdiam diri bersama cucu di rumah.
Tapi saya tetap tidak tega....
Saya selalu berpikir, kemana anak-anak dan cucu-cucu mereka? At least, mereka keluarga terdekat yang bisa memberi kenyamanan bagi kakek-kakek atau nenek-nenek mereka.....

Masih tak lekang dari ingatan saya juga, suatu sore saat saya tertahan traffic light di belakang Hotel Inna Garuda. Ada seorang nenek menggendong tenggok (bakul, dalam bahasa Indonesia)melintas dengan terbungkuk-bungkuk. Entah apa isi bakul yang ia gendong itu. Sungguh sebuah pemandangan yang kontras. Jalanan di Jogja yang penuh polusi karena penuh kendaraan bermotor, dan seorang nenek berjarik dan berkebaya yang menggendong tenggok. Ah dunia.....

Di kantor saya, tiap sore juga ada nenek yang menjual kacang rebus dan teman-teman seperti ubi rebus, pisang rebus, dll. Ia juga hanya berbekal tenggok dan tampah. Sebenarnya, tidak mungkin tiap hari saya makan berbagai item yang ia jual, tapi saya kasihan. Apalagi kalau hujan mengguyur, dan tubuh kecil rentanya itu harus berjalan berpuluh kilometer. Saya pasti membeli, meski cuma beberapa ribu, meski tak selalu ingin melahapnya.

Selama hidup saya, saya hanya mengenal nenek dari pihak ibu saya. Kakek dari ibu dan kedua orangtua bapak belum sempat saya kenal. Tapi saya bersyukur punya seorang nenek dan juga belasan kakek dan nenek dari trah keluarga besar saya. Nenek saya juga sudah meninggal, ketika saya masih semester awal kuliah di Jogja.

Saya membayangkan jika semua manula bisa hidup seperti nenek saya. Saya memanggilnya embah. Dulu, semasa hidupnya, mbah saya masih bisa menikmati uang pensiun embah kakung yang dulu pegawai dinas pengairan. Waktu saya belum masuk sekolah, kalau pas tidak ikut ibu mengajar di sekolah, saya sering menghabiskan waktu dengan embah di rumah. Beliau memang tinggal bersama keluarga saya.
Tiap tanggal 5, embah pergi ke kantor pos untuk mengambil uang pensiun. Kala itu, pensiun masih dibayarkan lewat kantor pos, bukan langsung ditransfer ke bank seperti pensiun ibu saya sekarang. Kadangkala saya ikut. Dari kantor pos, embah pasti ikut arisan di KPRI, Koperasi Pegawai Negeri Indonesia. Pulang dari sana, pasti mampir membeli jajan untuk cucunya. Bisa dipastikan pula, ada sejumlah rupiah yang dialokasikan olehnya untuk cucu-cucunya termasuk saya. Hehehe.....

Ada pengalaman yang tak terlupakan juga dengan embah. Beberapa bulan selama masa awal saya masuk SD, embah juga lah yang mengantar jemput saya di sekolah. Jalan kaki, karena cukup dekat. Naik angkot hanya jika hujan. Kadangkala, saya membonceng motor ibu yang mengajar di sekolah lain jika bertemu di jalan.
Saya masih ingat, dulu sekolah saya ada di dekat kantor Polsek dan ada sebuah pasar kecil di dekatnya. Saat waktu istirahat tiba, saya dan teman-teman sering berlarian ke pasar itu. Tujuannya tidak lain dan tidak bukan adalah warung milik seorang keturunan Arab. Es lilin kacang hijaunya sungguh sangat lezat di lidah anak SD seperti kami saat itu. Meski ada dua kantin di sekolah, kami lebih sering berlarian ke pasar kecil itu.
Di pasar kecil itu, ada seorang nenek penjual tauge (kecambah). Nenek itu juga hanya berbekal sebuah tenggok dan tampah. Tak ada warung, dan dia hanya jongkok di salah satu sudut pasar itu." Menu utama" yang ia jual memang kecambah, tapi ia juga membawa beberapa rimpang jahe, kunyit, dan lain-lain.
Saya sering melewati nenek itu, dan saya sering tertegun memperhatikannya. Mungkin anda akan berpikir nonsense anak sekecil saya saat itu bisa memiliki rasa empati seperti itu. Tapi jujur saya merasakannya! Saya kasihan, tapi saya tidak bisa membeli kecambah yang ia jual. Uang saku saya saat awal SD pun paling besar hanya 100 atau 200 perak.

Suatu hari, akhirnya saya bercerita kepada embah tentang penjual kecambah itu. Saya bilang kasihan. Kadang saat saya pulang sekolah dan penjual di pasar itu sudah banyak yang pulang, dagangan nenek itu masih belum habis. Ia juga tidak punya timbangan. Alat ukurnya hanyalah sebuah gelas plastik bekas kemasan sabun colek.
Embah akhirnya bilang, kalau saya kasihan, saya harus membeli dagangannya.
Esoknya, embah memberi saya sejumlah uang untuk membeli kecambah milik nenek di pasar itu. Meskipun saya tahu, embah juga pasti belum tahu kecambah itu akan diapakan.
Hmmm...saya merasa mendapat pengalaman berharga. Ada rasa yang saya rasakan saat itu, dan tak bisa saya terjemahkan di sini.
Saya jadi kangen embah.....






Jumatan

Siang ini, saya lebih awal menuju ke kantor. Di beberapa tempat yang saya lewati, pas bapak-bapak dan mas-mas baru selesai menunaikan kewajiban shalat Jumat atau "Jumatan". Di ruas Jalan Cik Di Tiro, puluhan kaum adam bersarung dan berpeci keluar dari gedung milik Muhammadiyah. Berbelok ke kawasan Terban, jalan di antara gedung UII dan BRI pun dipenuhi mereka yang baru Jumatan di gedung UII itu. Di beberapa jalan lain, saya masih bertemu dengan rombongan pria-pria bermuka segar karena berbasuh air wudlu.

Saya jadi ingat, dulu waktu masih kuliah, saya kadang menghabiskan waktu di kos teman di kawasan Karangmalang. Kebetulan, kamar teman yang satu fakultas dengan saya itu ada di bagian paling depan bangunan kos khusus muslimah itu. Suatu hari, kebetulan hari Jumat. Teman saya tiba-tiba bilang, "hei, ada pemandangan segar!". Hahaha... ternyata dari tadi dia duduk di dekat jendela karena puluhan kaum adam mulai berjalan menuju masjid untuk memenuhi panggilan adzan. Dulu, menurut kami-- dan mungkin mahasiswa-mahasiswa perguruan tinggi lain di Jogja-- kawasan Karangmalang terkenal sebagai kawasan alim. Tak heran, banyak sekali mahasiswa di sana yang langsung menuju masjid bahkan sebelum adzan berkumandang.

Entah kenapa, saya juga mengagumi wajah-wajah berbasuh air wudlu yang sering saya lihat. Rasanya tentram melihat wajah-wajah bersinar seperti itu. Coba saja, semua adam di dunia ini seperti mereka. Hari Jumat, sepertinya memang menjadi hari suci sekaligus kesempatan bagi kaum adam untuk mencoba menghapus dosa. Bahkan, teman saya yang masih bolong-bolong shalat lima waktunya pun selalu berusaha untuk tak melewatkan satu shalat Jumat.

Damai rasanya, melihat rombongan pria dari berbagai strata sosial, umur, dan berbagai profesi berjalan bersama menuju masjid hanya dengan bersandal jepit.
Ya Allah...saya rindu melihat ayah saya ada di rombongan seperti itu....