Kamis petang selepas Maghrib kemarin, saya dan suami menyempatkan diri untuk menikmati film Negeri 5 Menara di Studio 21 Plaza Ambarrukmo. Kami berdua datang dengan harapan di benak kami masing-masing tentang film yang digarap oleh sutradara Affandi Abdul Rachman ini. Sebagai pembaca yang sudah lama membaca versi novelnya, tentu
kami penasaran akan seperti apa eksekusinya di layar lebar. Sejak masih dalam proses produksi, saya menjadi follower akun @N5Mthemovie dan rajin mengikuti perkembangan di timelinenya.
Tapi sayangnya, saya tak puas secara keseluruhan. Pada scene saat Alif Fikri (Gazza Zubizzareta) berbicara dengan sang ayah (David Chalik) di pinggir danau, suami saya bahkan langsung berkomentar, "Wah, bocor nih. Ada tower BTS yang kelihatan,padahal setting ceritanya kan akhir 80an," ujarnya berbisik.
Usaha untuk memunculkan setting tahun 80an memang terwakili dengan adanya mata uang rupiah zaman dahulu atau mobil L300 kuno. Tapi kemunculan tower BTS ini membuyarkan semua itu. Satu hal lagi, frame kacamata yang dipakai Alif menurut saya kurang "jadul"... :)
Sesampainya Alif di PM, memang ada adegan yang cukup membuat saya tergelak-gelak, yakni kemunculan si Rajab Sujai alias "Tyson" yang menghukum Alif dkk dengan hukuman jewer berantai. Di dalam novel, kegaharan Tyson sering digambarkan dengan bayangan hitam berkelebat kencang yang siap menerkam siapapun santri yang melanggar
peraturan. Menurut saya, sosok Tyson dari Kismul Amni atau bagian keamanan pusat PM ini cukup mewakili imajinasi saya saat membaca novelnya. Keling, pendek, gempal, dan gahar dengan sajadah terlipat yang selalu tersandang di bahunya dan sepeda anginnya :). Tapi tak ada penggambaran Ustadz Torik yang juga seram. Tak ada pula keseruan saat Sahibul Menara kebagian tugas ronda untuk menjaga ternak sapi milik PM. :(
Tapi sekali lagi, saya kurang puas. Terutama terkait penggalian karakter para tokoh. Sedikit membandingkan dengan film Laskar Pelangi, saya merasa penggambaran karakter tokoh di Laskar Pelangi lebih berhasil dibandingkan film ini. Penonton yang belum membaca novel Laskar Pelangi pun bisa melihat penggambaran karakter masing-masing tokoh di film dengan pas. Kita bisa tahu sosok Ikal yang pemalu, Lintang yang pandai dan pantang menyerah, sosok Mahar yang sangat menyukai seni, dan lainnya dari filmnya. Di Negeri 5 Menara, kalau anda tak membaca novelnya terlebih dahulu, saya rasa anda tak akan bisa tahu persis seperti apa karakter Alif dan para Sahibul Menara lainnya, Raja (Jiofani Lubis) dari Medan, Said (Ernest Samudera) dari Surabaya, Dulmajid (Aris Adnanda Putra) dari Sumenep, Atang (Aris Adnanda Putra) dari Bandung, dan Baso (Billy Sandi) dari Gowa. Padahal, di novelnya, mereka semua dibahas dengan sangat menarik!
Memang tak akan mudah menuangkan seluruh isi cerita novel ke dalam film, namun saya rasa Laskar Pelangi mampu melakukannya dengan baik meskipun harus memotong banyak bagian cerita dalam novel. Tapi bukan mengubahnya loh!
Saya sangat kehilangan bagian cerita saat Alif dkk pergi ke Kota Ponorogo dengan menyewa sepeda onthel
dan pulang telat ke PM. Mereka telat pulang karena Said --yang memang tergila-gila dengan Arnold Schwarzenegger-- mengajak berhenti di depan bioskop hanya untuk mengagumi gambar sang idola. Di film, mereka diceritakan pergi membeli dry ice demi kepentingan pentas mereka di PM dan dengan lancar jaya kembali ke PM tanpa ada hukuman dari Tyson. Scene Said mengagumi gambar Arnold memang ada, tapi saat Sahibul Menara pergi ke Bandung saat liburan. Di novel, hanya Baso dan Alif yang ikut Atang pulang ke Bandung.
Lalu, ada lagi bagian yang menurut saya kurang pas dengan kehidupan nyata di pondok pesantren. Meskipun saya tak pernah belajar di ponpes, namun paling tidak saya tahu seperti apa adab bersosialisasi di sana. Bagian itu adalah saat tokoh Sarah (Erika Rein) ponakan Kiai Rais (Ikang Fawzy) muncul dua (atau tiga kali) berlatih di lapangan bulutangkis PM. Seingat saya, bagian itu tidak ada di novel. Di dalam novel, Sarah diceritakan sebagai putri Ustadz Khalid. Alif juga ingin mewawancarai Ustadz Khalid, bukan Kiai Rais.
Ada pula scene Kiai Rais dan para santri menonton pertandingan bulutangkis di televisi dan Sarah ada di tengah-tengah para santri laki-laki PM! Padahal, PM adalah ponpes khusus santri putra, dan rasanya scene kemunculan Sarah yang duduk bahkan ikut berteriak dan tepuk tangan (!) itu kurang pas.
Di novel, tokoh Sarah hanya muncul di rumah. Itu pun hanya di ambang pintu.
Mohon maaf juga, rasanya saya kurang cocok sama sosok Ikang Fawzy yang memerankan Kiai Rais. Selama ini, sosok Kiai Rais dalam imajinasi saya adalah sosok yang berkarakter kuat, berkharisma, tua, namun masih enerjik. Oom Ikang kurang pas, menurut saya loh! :). Dalam novel, Kiai Rais yang berjenggot panjang diceritakan lihai bermain sepakbola, namun dalam film, Kiai Rais versi Ikang Fawzy mengajari santri bermain gitar. Mungkin menyesuaikan dengan oom Ikang yang rocker kah? :D
Penokohan Ustadz Salman juga sangat dangkal, padahal dia adalah ustadz yang sangat mengilhami dan membakar semangat para sahibul menara. Di film ini, Ustadz Salman hanya muncul dalam scene dia memotong kayu dengan parang berkarat di kelas lalu mengenalkan seruan Man Jadda Wajada. Selebihnya, dia hanya muncul sekilas saja.
Ohya, suami saya juga kecewa karena tidak melihat seperti apa rendang kapau asli yang kering dan menghitam yang dikirim Amak saat tak bisa mengirim wesel untuk Alif. Saya juga tak berhasil melihat makrunah, menu khas kantin PM yang dalam novel digambarkan berupa mie gemuk-gemuk bergelimang kecap, bawang goreng, dan rajangan cengek.
Hanya ada seember susu (bukan kopi). Tak ada suasana antri di dapur umum untuk memperoleh salathah rohah atau sambal istirahat. Tak ada pula suasana deg-degan saat para santri mendengarkan pengumuman siapa yang memperoleh kiriman wesel ataupun pengumuman siapa yang melanggar aturan berbahasa Arab dan Inggris sehingga harus menghadap ke Mahkamah Bahasa PM.
Sekali lagi, film memang bukan novel. Cara bertutur dalam novel dan cara berbicara dalam film memang berbeda. Saya hanya ingin mereview sekilas. Saya hanya ingin berkomentar. Tentu saja, saya masih merekomendasikan film ini untuk ditonton semua umur. Sangat jauh lebih bermanfaat daripada menonton film-film lokal lainnya yang bergenre horor dengan judul-judul aneh yang bertebaran di bioskop sekarang ini. Silahkan menonton dan berkomentar. :)
Pastinya, saya akan menunggu Ranah 3 Warna dijadikan sekuel film ini. We'll see, apakah akan lebih baik?
Salam. :)