Jumat, 12 Februari 2010

jodoh

Berhujan-hujan lagi hari ini.
Seharian ini Jogja ditutup mendung gelap dan terus-terusan hujan.

Jelang sore, saya meluncur ke sebuah perguruan tinggi untuk bertemu dengan salah satu narasumber. Lalu numpang mengetik sekaligus mengirim berita ke redaktur saya di kantor humas PT tersebut. Lalu pulang ke kos karena janjian dengan salah satu teman kos berbelanja sebentar ke Super Indo yang tak sampai satu kilometer dari kos. Hanya sejam, lalu saya meluncur ke daerah Pandega Padma untuk menjemput teman kampus saya yang kebetulan bekerja menjadi editor di Penerbit Bentang (penerbit yang dulu sudah mau mempekerjakan saya sebagai editor setelah saya lulus, tapi saya tak jadi mengambil kesempatan itu). Di sana, terjebak hujan deras. Alhasil, saya duduk mengobrol dengan beberapa orang di sana. Sambil menghitung-hitung budget yang ingin saya keluarkan karena tiba-tiba banyak sekali buku di sana yang menarik perhatian saya. Satu set lengkap serial Laskar Pelangi Rp 165 ribu, Sehat Tanpa Dokter sekitar Rp 70 ribu, dan beberapa buku lain langsung memikat saya. Harga teman, lumayan lebih murah dibanding membelinya di toko buku. Ada yang ingin saya miliki sendiri, ada yang ingin saya belikan untuk ibu saya, dan beberapa orang lain.
Di sana, I also met my senior, by chance. Sejak saya masuk ke parkiran, kakak tingkat saya yang juga jadi freelance editor itu katanya sudah merasa mengenal saya. Haha...he said that I had a really different look dibanding zaman kuliah dulu.

Ba'da Maghrib tadi memang saya janjian dengan beberapa teman kampus di Pondok Cabe Gejayan, a little gathering yang selalu kami gelar tiap kali ada teman kuliah yang akan menikah. Yang dibicarakan apa lagi kalau bukan rencana kondangan rame-rame ke sana, dan kado apa yang akan diberikan. Mau uang, atau barang. Tugas kami yang masih di Jogja juga buat mengkoordinasi temen-temen yang udah berpencar di Riau, Padang, Jakarta, sampai Aceh dan daerah lainnya yang ingin mentransfer uang ketika ada teman yang menikah.
Oh ya, di angkatan saya, ada pameo bahwa teman yang bertugas menjadi bendahara untuk kondangan teman angkatan akan ketularan menikah dalam waktu dekat. Entah karena apa-- tapi menurut saya hanya kebetulan--, memang beberapa kali terbukti. Nah, ketika tadi ada teman yang nyeletuk, "Ita (some of my friends called me "Ita"), kamu aja yang ngumpulin uangnya, biar ketularan!", saya langsung bilang," Ah engga ah, belum mau ketularan cepet-cepet!"... Hahaha...

One shocking moment terjadi ketika saya membuka undangan teman saya itu. Well, teman saya satu ini memang juga teman seangkatan saya di SMA. Hal yang membuat saya kaget ketika saya membaca nama mempelai pria dan foto pre wed mereka. GOSH! Mempelai prianya juga teman SMA saya! Meski tak kenal langsung, saya tahu laki-laki muda itu! Dan saya tak berpikir bahwa teman saya akan menikah dengan dia!
I mean, sejak teman saya memberitahukan kabar bahagia itu via Facebook, saya berpikir bahwa dia akan menikah dengan cowok dia yang selama ini saya tahu. Saya tidak mengenal cowok itu, tapi saya tahu ceritanya. Saya menyebutnya "anak cafe" karena tipikalnya memang cowok gaul yang hobi keluar masuk cafe dan tempat "gaul" lainnya. Saya menyimpulkannya dari foto dan status-status yang dia pasang di FB, karena memang dia juga meng-add saya sebagai teman di FB.

Gosh! It was a really big surprise! Saya kembali disadarkan tentang rahasia Allah tentang jodoh. Ternyata, dari cerita salah satu teman saya, kedua calon mempelai itu bertemu lalu memutuskan untuk menikah dalam waktu tak sampai dua bulan!! Konon, mereka bertemu saat teman saya itu menunggu sang ibunda yang sakit di rumah sakit. Mereka berdua tak sengaja bertemu di RS.
Ya Tuhan...tadi saya sampai tak percaya. Teman saya kuliah di UGM seperti saya, dan calon suaminya itu dulu setahu saya kuliah di UPN, teknik apa saya lupa. Dulu saya kelas 2.6, si cewek 2.4, dan si cowok 2.5. Setahu saya, ketika kelas 3 mereka juga tidak satu kelas. Setahu saya, dulu sepertinya juga mereka tidak sempat crush each other alias saling jatuh cinta. Teman saya, tipikal cewek kenes yang cerewet dan hobi berdandan, dan sudah berulangkali bergonta-ganti pacar. Si calon suami, sejak SMA memang sangat pendiam, serius, dan berkacamata. Gosh!! Tuhan Maha Besar. Dia berkehendak, apapun bisa mungkin terjalin dan terjadi. Subhanallah... Saya ikut bahagia.

Jodoh. Hmm...sesuatu yang sangat-sangat absurd. Ada orang yang merasa berjodoh, menikah, tapi kenapa akhirnya bercerai. Well, saya tak mau membahasnya. Terlalu berat. Usia 27 tahun yang terstempel di jidat saya juga sepertinya masih kurang pantas buat saya yang sepertinya masih lebih sering bersikap childish dibanding bersikap mature. Malu sekali rasanya, sok-sok ingin membahas tentang jodoh.

Ohya, pagi tadi saya mendapat sms dari dia. Mengabarkan sesuatu. Lalu saya bilang, "take care your health", lalu dia bilang, "thanks for pray", lalu saya bilang, "nothing more I can do", lalu tak ada jawaban. Sampai malam ini. Dan saya memilih untuk diam, tak ingin mengganggunya. Meski saya ingin. Ingin mengganggu dia dengan pelukan saya dari jauh.

Ohya, siang tadi usai shalat Jumat, sang cinta pertama saya juga mengirim sms. Hanya menanyakan apakah saya sudah makan siang, apakah saya berencana pulang kampung minggu ini. Dia sedang makan siang usai shalat Jumat, dan ritme kehidupan di Jakarta yang sudah mencerabutnya dari kisah hidup saya sejak dia memutuskan untuk kuliah di sana juga mencerabutnya kembali hari ini. "Udah jam 13.30, aku masuk kantor dulu ya," kata dia. Waktu istirahat selesai, dan dia kembali berkutat dengan pekerjaannya. He's always too much study-oriented ketika kuliah dulu, dan sekarang...terlalu workaholic. Kaku.

Dua laki-laki yang sibuk, di dua dunia yang berbeda, dari dua masa yang berbeda, di dalam hati yang sama, di sekat yang berbeda, entah dengan persentase rasa yang berbeda pula ataukah sama.

Dan malam ini, saya tak mengharapkan siapa-siapa.