Jumat, 30 Oktober 2009

I Don't Want To Miss A Thing


I could stay awake just to hear you breathing
Watch you smile while you are sleeping
While you're far away and dreaming
I could spend my life in this sweet surrender
I could stay lost in this moment forever
Well, every moment spent with you
Is a moment I treasure

I don't wanna close my eyes
I don't wanna fall asleep
'Cause I'd miss you, baby
And I don't wanna miss a thing
'Cause even when I dream of you
The sweetest dream would never do
I'd still miss you, baby
And I don't wanna miss a thing

Lying close to you
Feeling your heart beating
And I'm wondering what you're dreaming
Wondering if it's me you're seeing
Then I kiss your eyes and thank God we're together
And I just wanna stay with you
In this moment forever, forever and ever

I don't wanna miss one smile
I don't wanna miss one kiss

Well, I just wanna be with you
Right here with you, just like this
I just wanna hold you close
Feel your heart so close to mine
And just stay here in this moment
For all the rest of time

("I Don't Want To Miss A Thing", Aerosmith)

lunglai


Dan seharusnya tidak ada kecemburuan itu.
Seharusnya saya juga tidak perlu sakit hati.
Coz it just will hurt myself.

Well, what I can do then?

Dari pukul 8.30 pagi, saya sudah keluar kos. Mulai menjajagi Sleman. Pagi saya indah dan bersemangat. Bertemu dengan beberapa teman, dan saya juga memulai hari dengan dia, meski dari jauh. Sebenar-benarnya saya sangat ingin bertatapan dengan dia, dan bilang bahwa saya mungkin akan sangat-lebih-jarang bertemu dengannya lagi. Tidak akan ada alasan yang sangat kuat lagi bagi kami untuk bisa bertemu langsung dan sesering dulu.

Well, semenit sudah lewat dari pukul 17.00. Saya masih di kantor. Enam berita sudah saya selesaikan. Di luar juga masih hujan.
Dan rasanya, hati saya masih luruh, lungkrah, lara, lunglai, lemas...karena sesuatu yang seharusnya tidak ia ceritakan pada saya.

Dan saya tidak mau membayangkannya malam ini. Tapi entah dengan cara apa.

Rabu, 28 Oktober 2009

I Do Miss Him!


Ada beberapa hal yang saya takutkan beberapa hari ini, dan saya tak sempat juga bercerita padanya. Well, dia bukan orang "normal" dengan kesibukan yang "normal" pula. Saya juga sibuk, tapi tak sesibuk dia. Kalaupun ada waktu, saya selalu tidak bisa berhenti hanya untuk bilang that I do need him.

Hari ini, saya juga tidak jadi bertemu dengannya. Tapi malah dipertemukan tanpa sengaja. Saya duduk bersama tiga teman di sebuah cafe, dan tiba-tiba saya melihatnya. Well, it was just really dramatic and rrr...romantic (?) moment. Saya melihatnya dari balik pagar yang ditumbuhi sekelibat dedaunan. And I don't know...I think dia juga melihat ke arah saya, tapi entah...apa dia benar-benar melihat saya atau tidak....

Well, I do miss him... Ya Tuhan, saya benar-benar longing for him....
Hari ini saya teramat ingin datang di depan dia karena saya benar-benar takut tidak akan ada kesempatan lagi untuk itu....

Senin, 26 Oktober 2009

blank part two


Every day reminisce with the past
of a love that we thought would last.
How we used to be when it was you and me.
How did it all disappear so fast.
There are days that I can't forget
there are things that I now regret.
I was there for you when you were there for me, and I was thinkin' we were set.
Every night when I'm laying in my bed
I hear your voice going round in my head, think of all the things I could have done and all those things I could have said.
I really will make it up to you
I know now what I've got to do,
It took time but now I've realised how much I'm missing yo
u....

("closer to me"-FIVE)

Minggu, 25 Oktober 2009

Kalut Session 2

Minggu ini bukan jadwal mudik saya. Sabtu kemarin, saya ada undangan ke pernikahan salah satu sahabat saya di Balai Pamungkas. Lalu hari ini, saya dan beberapa teman meluncur ke kawasan Nologaten untuk menengok salah satu sahabat lainnya. Dia jadi bapak akhirnya. Her wife sudah melahirkan baby mereka, and I do really happy for them.

Well, hari ini pikiran saya agak kalut sebenarnya. Kemarin, ada demo di kantor, dan sebenarnya saya tahu apa yang mereka ingin ungkapkan.
Saya bingung, tapi saya benar-benar masih harus bersyukur karena masih dikelilingi oleh orang-orang yang baik di sekitar saya. Mereka masih ingin saya bertahan, meskipun dengan plang nama yang berbeda.
Gosh...saya sungguh ingin menceritakan hal ini kepada dia. Tapi dia dimana sekarang? Sedang apa? Sudah beberapa hari ini saya lost contact dengannya.
I do need to talk to him.

Jumat, 23 Oktober 2009

dying...


I'm dying... dying to wake up without you...
without you in my head again

I'm dying... dying to forget about you...
that you ever lived

There's a shade come over this heart
that's coping with laying down to rest

I'm dying to live without you again....

I'm dying... dying to find a distraction,..
get you away from me

I'm dying... dying to reach a conclusion..,
so that the world can see

It's the same old story of love and glory that broke
before it bent

I'm dying to live without you again...

The first time you left I said goodbye
Now there's not a prayer that can survive

Dying... dying to die just to come back
so we can meet again

Dying... dying to say what I always should have said
It's a strange emotion this but there's still hope in this
As long as there's a breath...
I'm dying... and I can't live without you again.....

("Dying", Five for Fighting)


Kamis, 22 Oktober 2009

blank

Bingung mo ngomong apa. Mo nulis apa. Mo posting lirik lagu apa. Sepertinya ga ada yang cocok.
Hmm...merasa tersisihkan oleh teknologi....
Hiks...hiks...huwaaaaa....I miss him!

Selasa, 20 Oktober 2009

her contemplation....


The sky has lost it's color
The sun has turned to grey
At least that's how it feels to me
Whenever you're away
I crawl up in the corner
As I watch the minutes pass
Each one brings me closer to
The time you're comin' back

I can't take the distance
I can't take the miles
I can't take the time until I next see you smile
I can't take the distance
And I'm not ashamed
That with every breath I take I'm callin your name

("The Distance"-Evan and Jaron)


Semalam saya teramat merinduinya. Lalu saya menghabiskan awal fajar bersamanya.

Lelaki itu. Seperti apa ya? Dia tinggi, lebih tinggi beberapa senti dari saya. Mungkin tingginya lebih dari 180 cm. Tak terlalu kurus, tak terlalu berisi. (Hey...sepertinya, setelah mengenal saya, badannya tak sekurus dulu lagi..haha)

Bagi saya, dia smart. Well, beberapa kriteria saya ada pada dia. Dia juga suka sepakbola (hmm...saya selalu memberi poin plus pada orang yang menyukai sepakbola). Dia juga suka membaca dan sangat senang menulis. (Hey...saya jadi ingat buku yang saya beli untuknya belum sempat-sempat saya berikan ke dia...)

So, do you love him, miss?
Well...I don't really know.

Dia tak pernah memberi saya satu atau dua kuncup red rose berbungkus rapi dan berpita. Dia juga tak pernah tiba-tiba mengantar dua box es krim untuk saya. Dia pun tak pernah rela berpanas-panasan ke kantor saya untuk mengantar minuman dingin dan makanan kecil buat saya. Well, tiga contoh itu memang dilakukan some other guys ke saya, bukan dia. But, he had stole my heart. I guess.

Lebih dari dua tahun lalu saya bahkan cenderung takut padanya. Selalu panik ketika namanya muncul di layar telepon seluler saya.
Sekarang, saya malah jadi merindukan kembali momen-momen yang sudah terlewatkan-- yang saat itu belum berarti buat saya. Saat berada di samping dia yang ada di balik kemudi. Atau saat saya menungguinya shalat Dhuhur, duduk beberapa meter di belakang dia. Atau saat-saat lainnya.

So, what do you want, young lady?
Well, I do not know... Should I say that I want him? Haha... May I? Should I say that I want to spend the rest of my life with him? See him everyday. Spending our holiday by walking together along the sea-shore. Or just hugging him in the soft and thick sofa along a Richard Gere's romantic movie? Then sleeping in his big and warm arms? Haha...can I?

Saya tidak mencari apapun. I don't even take anything from him. Saya hanya ingin dia selalu tahu bahwa saya benar-benar kacau ketika dia sakit, bahwa saya benar-benar khawatir saat ada orang yang berprasangka buruk tentangnya, dan bahwa mata saya benar-benar berubah menjadi sembab ketika dia jauh....

I know, someday I have to leave him. Tapi saya ingin saya yang meninggalkan dia, bukan dia yang meninggalkan saya. Bukan...bukan karena saya egois dan egosentris. Tapi karena apa yang akan dia rasa mungkin takkan sesakit yang akan saya rasa....


Jumat, 16 Oktober 2009

when you're gone



I always needed time on my own
I never thought I'd need you there when I cry
And the days feel like years when I'm alone
And the bed where you lay is made up on your side

When you walk away I count the steps that you take
Do you see how much I need you right now?

When you're gone
The pieces of my heart are missing you
When you're gone
The face I came to know is missing too
When you're gone
The words I need to hear to always get me through the day and make it ok
I miss you...

(when you're gone, Avril Lavigne)


Kamis, 15 Oktober 2009

Do U Think of Me?

When the nights are dark and cold
Do you think of me?
And when you're lying all alone
Do you think of me?
Do you think of me?

Tiba-tiba kembali teramat memikirkannya....

Rabu, 14 Oktober 2009

teringat kematian....

Hari ini saya merasa sangat tertampar. Saya diingatkan akan kematian yang memang selalu dekat dengan siapapun manusia di bumi ini. Bahwa manusia diciptakan oleh Allah SWT dan akan berpulang pula ke pangkuanNya.... Tanpa kita tahu kapan, dimana, dan dengan jalan apa.

Sekitar pukul 09.00, ada empat missed-calls dari Regina Safri, sahabat saya, fotografer Antara. Tidak terangkat. Saya telepon balik, tidak diangkat. Lalu masuk satu pesan singkat dari mas Ivan Aditya, redaktur KR Online. Isinya "Telah berpulang ke Rahmatullah, sahabat kita, Anna Karenina Sari pada hari Selasa pukul 22.00 WIB. Dimakamkan Kamis siang di Purbalingga". Antara percaya dan tidak percaya, saya sms balik ke mas Ivan, dan tidak langsung dibalas. Saya shocked, dan sayaa mencoba menelepon Agung Purwandono, sahabat saya di KR. Dia bahkan kaget, dan belum tau info itu. Lalu saya telepon mas Benny Kusumawan, sahabat di KR juga, dan dia bahkan juga samasekali belum tahu. Saya masih agak gemetaran ketika akhirnya Rere kembali menelepon saya, dan it was confirmed that Anna Karenina has passed away. And I cried for her.

Saya tidak terlalu dekat dengan Anna, kami tidak sering hang-out bareng. Tapi kami juga bukan teman yang sekedar kenal selintas. Kami sering bertemu di beberapa liputan, dan selalu ada rumpian seru di antara kami ketika kami bertemu. Di luar itu, facebook tentu jadi perekat pertemanan ketika waktu tidak pernah ada untuk sekedar hang-out.

Ya Allah...dia masih seumur saya, dia belum sempat mewujudkan cita-cita S2 sama halnya seperti saya, dan dia baru saja menikah.... Saya tidak tahu persis dia sakit apa, tapi ketika hari ini saya membuka wall Facebooknya, dan menemukan status terakhir yang ia tulis "Gejala tipes...lagi??" dan sederet ucapan belasungkawa dari teman-teman wartawan, hati saya sungguh sedih.

Saya tidak sempat datang ke pernikahannya. Sampai akhirnya dia ikut tinggal bersama sang suami yang bekerja di Kalimantan, dan resigned dari KR. Saya hanya ingat, terakhir dia mengomentari status saya di Facebook. Waktu itu saya bilang, "Still at my office, ngantuk". Dan she said "Cappuccino with Choco Granule kesukaanmu donk jeng...".

Well, semua pasti akan kembali padaNya. Selamat jalan bu...semoga Allah SWT melapangkan jalanmu untuk menuju tempat terbaik di sisiNya. Amiiin ya Robbal Alamiin....

Selasa, 13 Oktober 2009

I Saw Him.

I saw him today
Walking-out through the cold floor
He was walking through my eyes
My cold ones...

I only looked at him...

Staring at his back
I only saw him behind the windows,
cold windows,
with my cold broken heart....

If only I can went out...
and run to him...

and hug him...
and said how much I need him....

Senin, 12 Oktober 2009

The Hardest Day


One more day, one last look

Before I leave it all behind
And play the role that's meant for us
That said we'd say goodbye

If I promise to believe will you believe?
That there's nowhere that we'd rather be
Nowhere describes where we are
I’ve no choice, I love you leave
Love you wave goodbye...

And all I ever wanted was to stay
And nothing in this world’s gonna change, change

Never wanna wake up from this night
Never wanna leave this moment
Waiting for you only, only you
Never gonna forget every single thing you do
When loving you is my finest hour
Leaving you, the hardest day of my life
The hardest day of my life....

But I never will regret a single day
What I'm feeling for you
I will always love you leave,
Love you wave goodbye
Nothing in this world's gonna change...

Never wanna wake up from this night
Never wanna leave this moment
Waiting for you only, only you
Never gonna forget every single thing you do
When loving you is my finest hour
I never knew I'd ever feel this way

I feel for you...


("the hardest day", The Corrs)

Membiarkannya pergi?

Kalau sedang tidak ada kerjaan di kos, saya terbiasa duduk di balkon kos sembari memandangi langit dan melihat kerlip lampu pesawat yang sesekali melintas di kejauhan. Tapi ketika semalam saya melihat satu pesawat melintas-- entah maskapai apa-- saya merasa dada saya jadi agak sesak. Mungkin berlebihan, tapi itu saya rasakan betul. Wondering, apa dia ada di dalam sana. In fact, saya tidak tahu semalam dia ada di mana.


Jumat pagi, kesalahpahaman itu lagi-lagi terjadi. Kali itu, dia pun tak lagi mau mendengarkan saya, dan bahkan tak mengacuhkan permintaan maaf saya. Saat itu, sebenarnya saya hanya sedang teramat ingin menghabiskan waktu dengannya. Tak ada keinginan berlebih, saya hanya ingin berbicara dan menghabiskan sisa pagi itu. Sebuah keterbiasaan yang ia ajarkan pada saya. Sebenarnya, pembicaraan singkat pun terbiasa kami lakukan. Tapi selalu dengan opening, main topic, dan closing yang sweet dan impressive, bahkan ketika dia terburu-buru sekalipun. Entahlah, apa yang terjadi saat itu. Ketika akhirnya saya meminta maaf pun, dia tak menggubrisnya lagi.

Sabtu pagi, ketika saya terbangun beberapa menit setelah Subuh, saya merasa baru-benar sadar. Sadar, seperti apa dan sedalam apa rasa yang saya punya untuk dia. Sadar kenapa saya bisa menangis. Meskipun selama ini saya memang selalu sulit menjawab ketika dia kadang bertanya.

Baru sekali ini rentetan pesan di ponsel yang saya kirimkan tidak digubrisnya. Hanya beberapa kali dia mengirim pesan balasan singkat. Saya tidak tahu seberapa kecewanya dia sampai-sampai permintaan maaf saya pun tidak diterimanya. Yang pasti, saya benar-benar bingung dan sedih.

Minggu pagi, dia masih saja membiarkan saya kacau dengan tak merespon satu sms saya. Then I tried not to think about him. Saya pergi ke luar kota dengan beberapa teman. Sampai sore.

Semalam, hingga hari ini, saya merasa sudah agak bisa menguasai diri. Untuk tidak lagi mendesak penjelasannya, dan untuk tidak lagi terisak sendiri di dalam kamar dengan telepon seluler di tangan saya.
Dia pun masih tak menghubungi saya. Saya jadi berpikir, apa dia hanya mencari alasan untuk pergi? Lalu, apa saya akan dan bisa membiarkannya pergi? But hey, memangnya apa yang saya punya untuk bisa menahannya untuk tidak pergi dari saya?

Saya juga tidak mungkin menangis di depan dia.

Jumat, 09 Oktober 2009

Sabtu di kantor???


Ini hari Sabtu. Sudah sesore ini pula. Tapi saya masih di kantor. Well, ya, menjadi redaktur magang memberi konsekuensi bagi saya untuk tak bisa seenaknya pulang cepat atau libur di kala weekend. Saya kudu bolak-balik ruang pracetak untuk memastikan halaman saya sudah digarap dengan benar. Saya belajar banyak memang.

Besok pagi ada reuni temen-temen seangkatan. Rencana reuni tanggal 10 bulan 10 tahun 2010 pukul 10.10 WIB itu udah dibikin sejak lebih dari lima tahun lalu. Tapi, banyak teman di luar DIY bahkan di luar Jawa yang batal dateng karena kesibukan bikin saya agak enggan dateng juga besok. Beberapa teman yang masih di Jawa juga batal dateng karena ada yang baru melahirkan, ada yang punya agenda lain, dan lain-lain. Hmm...itu susahnya, mengumpulkan yang sudah tercerai-berai dengan kesibukan masing-masing.....

Kamis, 08 Oktober 2009

one night


Long day and I'm ready
I'm waiting for your call
'Cause I've made up my mind
My heart aches with a hunger
And I want that you were mine
No I cannot deny

So for one night
is it all right
That I give you

My heart
My love
My heart
Just for one night
My body
My soul
Just for one night
My love
My love
For one night
One night
One night

When morning awakes me
Well I know I'll be along
And I feel I'll be fine
So don't you worry about me
I'm not empty on my own
For inside I'm alive

("one night"-The Corrs)

Selasa, 06 Oktober 2009

things that I don't understand

How tides control the sea, and what becomes of me
How little things can slip out of your hands
How often people change, not to remain the same
Why things don't always turn out as you plan

These are things that I don't understand
Yeah, these are things that I don't understand....

("things that I don't understand-colplay)



Sometimes, saya memang samasekali tidak mengerti. Tentang saya. Tentang sikap saya. Tentang dia. Tentang sikap dia. Tentang kami. Tentang rasa. Tentang keinginan. Tentang hidup. Tentang semuanya.

Meskipun mungkin hanya sebuah kesalahpahaman atau kesalahtafsiran, saya kembali merasa satu hari yang sangat berat kemarin. Saya dihadapkan pada dua sisi yang berbeda, dan sebenarnya saya tak ingin membela atau melawan salah satu sisi itu. Beruntung, saya masih bisa menahan diri, dan penjelasan yang ia berikan kepada saya pun kembali menguatkan. Saya bukan orang yang mudah percaya pada orang lain. Bahkan, mungkin kadang malah cenderung bisa sangat ekstrim dalam mencurigai seseorang.
But, I believe on him. And I do hope that what he had said to me just came out from his deepest heart. Saya juga tak ingin mencurigainya. Berkhusnudzon kadang lebih baik daripada menyakiti hati dengan terus-menerus memendam prasangka buruk.


Entahlah...apa mau saya.
Entah apa pula yang mendorong saya untuk mengkonfirmasikan hal itu ke dia kemarin. Saya bilang, ada li'l bit jealousy, dan dia tertawa mendengarnya. Entah merasa geli ataukah senang.
Tapi mungkin memang lebih baik seperti itu.


Senin, 05 Oktober 2009

sedih...

"He did! Dia memegang kepalaku dan bilang "baik-baik ya..!"

Itu kata salah satu teman saya. Jawaban atas pertanyaan saya tentang riuhnya obrolan beberapa teman di facebook. Tentang seorang pria yang mereka sebut "pria flamboyan". Dan for God's sake, demi Tuhan, demi Allah...sangat menyakitkan bagi saya ketika membacanya.

Beberapa teman yang bertemu dengan pria itu sangat-sangat merasa tidak suka dengan sikap dia. Mereka berpikir ada sesuatu yang salah...and actually I really wanna told them that I knew him better than they knew him. Tapi saya sudah telanjur sakit hati dengan cap dan kata-kata yang mereka perbincangkan di facebook.

Di sisi lain, I do need his explanation. Sebelum sikap-sikapnya ke orang lain bisa memunculkan tanggapan negatif lainnya. Saya masih sangat ingin meluruskan anggapan itu.

Saya jadi berpikir, saya bukan yang benar-benar teristimewa bagi dia. Kalau ternyata dia bisa bersikap seperti itu dengan orang lain selain saya.
Hati saya gemetar di depan komputer sejak satu jam yang lalu, dan penjelasan dari dia pun belum kunjung tiba.
Saya sedih lagi, ya Allah...

Kamis, 01 Oktober 2009

needed him


"Does she need to be with him forever?"
Saya mendapat satu pertanyaan sulit itu hari ini. Tak tahu harus saya jawab apa. Kalau bisa, ingin saya jawab "Yeah, absolutely!". But, then what? Is that means that I'm gonna stay with him for the rest of my life? I mean, can I?

"Rekonsiliasi" -- dari sekian kali rekonsiliasi pascakonflik dulu-dulu-- kali ini pun sudah membuat saya bingung, atau tepatnya sedih, upset.

I don't even know why I could cried that bad. Semalaman kepala saya sampai superpening karena itu. Ajakan teman untuk hangin' out dan singing out loud di Happy Puppy saya tolak. Ada teman yang ingin datang membawakan makanan ke kost juga saya larang. Saya tak ingin mereka melihat muka supersembab saya malam itu.

Saya tak mengerti, even terhadap diri saya sendiri. Keinginan saya terkadang lepas dari tali logika yang seharusnya saya ikat kencang-kencang.
But I do need him. That's why I cried.