Kamis, 28 Januari 2010

menenangkan diri dalam hujan


Saya kehujanan hari ini. Tepatnya, sengaja berhujan-hujanan. Bermain hujan. Entah kenapa, malas sekali berhenti, membuka bagasi motor, lalu mengambil mantel biru saya, lalu memakainya. Padahal, sejak kecil, saya tak pernah sekalipun bisa dan diperbolehkan bermain hujan. Well, orangtua mana juga sih yang memperbolehkan anaknya bermain hujan (kecuali karena terpaksa hujan-hujanan saat pulang sekolah). Hmm..sepertinya ada. Ya, tetangga depan kost saya itu. Entah apa yang ada di pikiran mereka sampai-sampai mereka tenang-tenang saja membiarkan si anak-anak itu berlarian di tengah hujan. Well, this is not about my neighbour, this is about myself.


Hari ini, saya meluncur di tengah hujan. Menuju arah Pakem. Well...it wasn't a near distance from the center of this city. Ada Menkumham RI di Lapas Narkotika Sleman. But akhirnya saya dan teman-teman wartawan stay di RS Panti Nugroho karena Mbah Maridjan, sang icon Gunung Merapi, tengah dirawat di sana.
Sejak Jakal kilometer bawah sampai atas, hujan terus turun, dan saya malas berhenti. Sempat lebat, tapi kadang pelan, lalu deras lagi. Kemeja abu-abu tipis saya hanya berbalut cardigan rajut, tapi cukup menghalangi air hujan untuk membuat kemeja saya basah kuyup. Cardigan rajut favorit saya itu bahkan tak nampak basah.

Kadang, hujan membuat saya bisa lebih menguarkan emosi saya, menenangkan saya. Itulah, mengapa saya membiarkan hujan membasahi saya hari ini.

Hari ini, entah apa yang mendorongnya untuk menanyakan kabar saya. Entah kenapa pula hampir bersamaan waktunya ketika ada pesan singkat dari another guy.

I said to him, I miss him.
Then he said that he felt the same way.
Don't know how to handle this.
I'm dying. My heart is dying.