sometimes we should say what we think, what we feel, and what we want....
Sabtu, 08 Mei 2010
V.E.R.T.I.G.O
Hari Rabu (5/5), saya terbangun dengan kondisi yang tidak pernah saya rasakan sebelumnya. Saya beringsut dari kasur busa tebal berbungkus sprei putih bermotif beruang coklat dan motif embossed berbentuk hati berwarna putih dan orange dengan sekuat tenaga. Jangankan untuk berdiri meraih handle pintu, untuk duduk saja saya tak bisa. Pandangan mata saya berputar-putar, seolah sedang ada gempa besar di kamar saya. For a moment, saya terpaksa kembali merebahkan diri. Setelah beberapa menit, saya berusaha membuka pintu, lalu terpaksa kembali merebahkan diri. Sampai salah satu teman kos saya lewat di depan kamar dan heran melihat saya masih rebahan. Setelah mandi, saya tiba-tiba muntah. Then I decided that I have to meet a doctor.
Then, pagi itu saya langsung mengirim sms ke salah satu teman di RS Panti Rapih untuk memasukkan nama saya ke pendaftaran. Untuk bertemu dengan dr Edhi Dharma. Siangnya, saya tak berani membawa motor sendiri, so I have to wait for my friend to pick me up to the hospital. Then I met Dokter Edhi, an old doctor yang sangat-sangat baik. Dokter tua itu tak bicara hal-hal menakutkan setelah memeriksa saya, tapi dari salah satu tablet obat yang ia resepkan, saya tahu bahwa ada gejala VERTIGO yang saya alami.
Meskipun dokter bilang tidak apa-apa, tapi saya cukup shocked kenapa bisa kena vertigo. Saya ingat, temen saya punya vertigo karena dia punya riwayat gegar otak ringan karena kecelakaan. Well, saya beberapa kali kecelakaan, dan the worst one was ketika pelipis kanan saya terpaksa dijahit tahun 2008 lalu. Tapi tak ada benturan keras di kepala saya saat itu, luka di pelipis kanan saya waktu itu hanya karena gesekan dengan helm ketika saya jatuh. But, ternyata vertigo bisa dipicu banyaknya pikiran, stres, dan kelelahan akut.
Gosh....
Tiga hari saya absen, bahkan saya tak pergi kemana-mana. Hanya meringkuk di tempat tidur dan terkadang berjalan keluar kamar. Tak berani bawa motor kemana-mana.
Then I told him, only for asking his little sweet words. But I think he was too much busy at that moment, so I felt like he wasn't really care of me coz he only sent some "classic-words-for-some-sick-person".
Gosh, what do I expect from him??