Kamis, 29 Januari 2009

speechless (bagian dua)

aku mengais rindu
di belantara sepi
mencoba merengkuh awan
yang tergantung
di ujung malam

jiwaku melayang
tanpa tujuan
sepi.
penat.
rindu.


Untitled

Dia, masih sosok yang sama
duduk di depanku
menyesap kopi pahit tak bergula
sambil tersenyum

Dia, masih sosok yang sama
kini duduk lagi di depanku
menenggak soda dingin
dan berbuih
sambil menerawang
tanpa sedikitpun melihatku

Aku makin tak mengenalnya
apakah kopi
atau soda
yang sebenarnya lebih ia suka

Aku pun makin tak mengerti dia
apakah iya
atau tidak
samasekali

Aku (kini) juga tak peduli
lagi.

(copyright Dec 2008)

Cinta=Hak untuk Menuntut?

Semalam, ada enam pesan panjang (bukan lagi pesan singkat) membombardir ponsel saya. Enam pesan dikirim oleh salah satu teman saya yang baru berlibur ke Lombok, ke rumah calon mertua. Lewat keenam pesan singkat itu, dia menumpahkan cerita tentang kekesalannya pada sang pacar yang menurutnya terlalu membuka diri untuk berteman dekat dengan cewek lain. "Aku gak ngebayangin hidup sama dia, mau kuputusin aja lah!", kata teman saya di salah satu sms-nya. Hahaha, saya cuma bisa bilang "sabar..." karena saya tahu betul kalau teman saya itu masih high-tempered banget.

Beberapa hari sebelumnya, salah satu teman baik saya juga berkisah panjang tentang masalahnya dengan sang pacar. Awalnya, pacarnya memutuskan hubungan mereka karena merasa tidak mendapatkan perhatian yang ia inginkan dari teman saya itu. Tapi kini, cewek itu beggin' untuk bisa kembali lagi pada teman baik saya itu. Cerita bergulir, dan menurut saya bahkan lebih "lebai", melebihi cerita-cerita dalam sinetron.
Well, teman saya bingung dan bertanya pada saya seberapa sakit perasaan cewek dalam kondisi seperti itu. Then, saya hanya bilang ke teman saya itu bahwa it will takes time. Butuh waktu untuk bisa "hidup normal" kembali pasca sebuah perpisahan. But, time is the cure. Believe on this!

Dua hari yang lalu, teman saya yang lain juga berkisah tentang absurd-nya kisah cinta yang sudah bertahun-tahun ia bina dengan sang pacar. Hubungan jarak jauh. Terpisah jarak, waktu, dan kesibukan. Aku tahu rasanya....
Teman saya bilang, pacaran bukanlah komitmen yang bisa melegitimasi masing-masing pihak untuk menuntut satu sama lain. Awalnya saya tidak setuju, tapi setelah saya renungkan, ada benarnya. Meskipun, saya yakin, banyak orang yang "rela" dituntut ini itu karena takut ditinggalkan pasangannnya. Harus lebih kurus, harus lebih gemuk, harus lebih feminin, harus lebih putih, harus lebih sering ada di rumah, harus jarang keluar bareng temen, harus telepon dan sms tiap satu jam sekali, harus..harus... harus... dan harus!
Gosh! No way! Saya bukan salah satunya.

Saya lalu berpikir, apa sebuah lembaga pernikahan juga akan melegitimasi hak untuk menuntut? Well, saya memang belum berpikir ke arah sana. Tapi, mungkin, saya akan rela dituntut jika memang orang yang menemani saya for the rest of my life itu memang pantas untuk menuntut apa-apa dari saya.











Rabu, 28 Januari 2009

Tentang "CINTA"

Howard Ford di masa sekolahnya adalah murid yang berprestasi di bidang sastra. Dia justri benci Matematika, apalagi Fisika. Setelah menikah, Ford tinggal di South Carolina, negara bagian Amerika yang melarang transportasi binatang di dalam kota. Setelah 12 tahun menikah, istri Ford mengandung, tapi dengan kelainan. Kandungannya lemah, padahal satu-satunya rumah sakit yang bisa menangani ada di New York. Itu menyebabkan istrinya sulit memeriksakan kandungannya, karena hanya motor sarana transportasi yang diperbolehkan. Ford mulai bereksperimen siang malam. Dia mencoba-coba menggabungkan dua motor menjadi satu. Akhirnya, pada malam sebelum hari persalinan tiba, Ford untuk pertamakalinya mengendarai kendaraan bermesin empat roda. Sejarah mobil Ford tercipta bukan karena pemikiran otak. Tapi terbukti, hati yang diliputi cinta adalah kekuatan terhebat untuk menciptakan hal-hal besar dalam hidup....

Sms superpanjang itu dikirim oleh salah satu sahabat baik saya beberapa hari yang lalu, sekitar pukul 3 dini hari. Entah karena dia tahu saat itu saya sedang agak gundah karena sebuah hal, atau karena dia sendiri yang sedang gundah karena masalahnya sendiri.
Saya sengaja menebali kalimat terakhir sms itu dengan warna merah. Deep banget! Saya sangat setuju dengan kalimat itu.
God, saya tidak bisa menulis lebih banyak lagi tentang ini....




Selasa, 20 Januari 2009

"The Change We Need"

Selasa, 20 Januari 2009 waktu setempat atau Rabu, 21 Januari 2009 pukul 00.05 WIB, Barack Hussein Obama akhirnya resmi dilantik menjadi presiden Amerika Serikat ke-44. Meski agak keteteran waktu ngucapin sumpah, tapi that's ok. Salah satu komentator (hyaaah? emang pertandingan sepakbola?) melihatnya sebagai hal yang wajar. Mr Barry juga manusia, bisa grogi. Apalagi ia harus mengucap sumpah di hadapan sekitar empat ribu warga AS yang memadati area sekitar Capitol Hill, Washington. Mana konon katanya, suhunya dingin banget pula!

Well, semalam kayaknya hampir semua stasiun televisi bikin konsep masing-masing khusus untuk acara inagurasi alias pelantikan mr Barry ini. Seperti pertandingan sepakbola, ada komentator pula yang dihadirkan untuk mengomentari pidato pelantikan mr Barry. Bisa dibilang, hadirnya sosok pria afro-america ini memang membawa banyak ekspektasi. Jadi, pidato pertama dia usai dilantik pun benar-benar sangat ditunggu oleh warga AS dan mungkin masyarakat dunia.
Memang, It's so hard to be Obama. Banyak pe-er yang harus diselesaikan setelah masa kepemimpinan Bush usai.

Saya sendiri tidak begitu bersemangat dan berharap. Tapi semalam saya juga menyempatkan diri menonton live report inagurasi Obama, berpindah-pindah ke berbagai channel, lalu berhenti di salah satu channel yang membiarkan Obama berpidato tanpa gangguan komentar-komentar dari pembawa acara atau komentator di stasiun tv itu.

Hari ini, saya masukkan kata kunci Barack Obama lewat search-engine Google, dan wuiiiing....sederet temuan muncul. Perayaan inagurasi Obama memang heboh di mana-mana. Bahkan, konon, di salah satu hotel mewah di Washington, tamu dijamu dengan biskuit khusus yakni biskuit "Michelle Obama". Konon katanya lagi, biskuit itu dibuat berdasarkan resep yang dikirimkan oleh Mrs Obama itu ke salah satu majalah di Amrik sana. Di Indonesia, perayaan juga dilakukan di berbagai tempat, salah satunya tentu SDN 01 Menteng, bekas sekolah mr Barry.

Hmmm...entah berlebihan atau tidak, yang pasti saya agak miris ketika salah satu stasiun tv yang saya tonton semalam mengontradiksikan gegap-gempita inagurasi Obama di AS dengan kondisi pilu-kelabu di Gaza. Memang miris. Tidak heran kalau warga Palestina pun "biasa-biasa saja" dan tidak terlalu banyak berharap dengan hadirnya presiden baru AS itu.

Di luar itu semua, secara personal saya mengagumi keluarga Obama. As we know, dia punya istri yang cerdas seperti dirinya sendiri. Bu Michelle itu memang tampak cerdas. Gimana engga? Wanita ini lulusan Princeton University dan Harvard Law School man! Selera fashionnya pun yahud, enak banget dilihat meskipun kalau boleh jujur dia tidak begitu cantik. Tapi, dia adalah sosok yang "charming" dengan penampilannya yang elegan dan cerdas. Tadi pagi, salah satu tv swasta menayangkan live report "Neighbourhood Inauguration Ball", salah satu rangkaian perayaan pascainagurasi presiden AS. (Konon, panitia pelantikan presiden 2009 udah menyiapkan 10 acara serupa!) Mr and Mrs Obama berdansa di panggung, dan oh-my-God entah kenapa saya hampir bisa dibilang terpana melihat adegan itu. Kemesraan, caring, tenderness, dan entah apa lagi yang bisa saya tangkap dari kedekatan yang mereka berdua tunjukkan tadi.

Well...finally saya cuma bisa berdoa, Obama bisa memenuhi harapan baik dari banyak pihak. Make a better world, with a peaceful way.... Stop war!




Selasa, 13 Januari 2009

TENTANG HUJAN, LAGI.

Mendung hitam itu tumpah
Meruap menutup luasnya langit
Aku terkungkung
Dingin
Tak mampu tembusi derasnya air....
***

Beberapa hari ini hujan kembali bersahabat erat dengan Jogja.
Well, ada dua sisi hujan buatku. Sisi yang aku suka, hujan membuat tidurku lebih lelap. Terutama hujan di malam hari. Tapi, hujan membuatku malas melakukan aktivitas ketika ia menghampiri bumi pagi atau siang hari. Hahaha....
Hujan juga selalu membawa suasana melankolis. Mungkin bukan cuma aku yang kadang merasakannya. Mendung, dingin, dan suara gemericik air yang tercurah dari atap langit memang kadang membuat orang terbawa suasana. Apalagi, ditambah lagu-lagu mellow yang jadi backsound. Lengkap lah.

Selasa, 06 Januari 2009

HUJAN

Aku selalu bahagia, saat hujan turun
karena aku dapat mengenangmu untukku sendiri....
("Hujan"- Utopia)

Siang ini, tiba-tiba Jogja diguyur hujan. Deras pula. Aku pun masih terperangkap di dalam sebuah gedung besar ini. Membunuh waktu dengan berseluncur di dunia maya.
Man! Padahal dari kemarin sampai tadi pagi, panas menyengat seolah tak mau memberi ruang bagi sang hujan....

Senin, 05 Januari 2009

speechless....

Bintang temaram tersaput awan
Samar, tak seterang bintang yang kusimpan

Aku termangu di sudut malam
Berselimut rindu
yang tak terejawantahkan....

I do miss him.

IDOLA CILIK....

Bastian akhirnya harus menerima hasil polling sms dengan lapang dada. Ia harus rela meninggalkan panggung adu bakat itu, Minggu (4/1) kemarin.

Bastian? Siapa tuh?
Anak kecil lucu itu adalah salah satu finalis Idola Cilik 2. Hahaha...aku memang sudah agak "keranjingan" talent show satu ini. Tayang tiap Sabtu jam 13.00, dan result shownya tayang tiap Minggu jam 15.00. Sudah dua kali ini ajang adu bakat nyanyi untuk anak-anak di bawah usia remaja itu digelar. Waktu Idola Cilik 1 dulu, aku belum begitu ngeh alias belum begitu tertarik dan memang tidak pernah berusaha meluangkan waktu untuk menonton tiap episodenya. Tapi aku tau, kalau "lulusan" Idola Cilik 1 kayak Kiki atau Angel juga punya suara yang oke banget. Mungkin bahkan lebih oke daripada lulusan-lulusan talent show dewasa! Hehehe....

Awal ketertarikanku cuma gara-gara terlalu seringnya televisi di ruang redaksi menayangkan Idola Cilik 2. Tepatnya, ada beberapa teman yang suka nyetel saluran yang punya hajatan talent show itu. Waktu itu masih proses pemilihan finalis. Lama-lama, aku jadi ngikutin. Lama-lama, ada juga peserta yang jadi "jagoan"ku. Hahaha....

Bastian, suara anak ini sebenarnya biasa saja. Tapi aku suka gayanya yang purely anak kecil banget, selalu bisa bikin penonton ketawa dengan gayanya yang kalau orang Jawa bilang, "pecicilan"...khas anak kecil.
Obiet. Anak-anak di kosku banyak yang ngejagoin anak kecil asal Temanggung, Jateng ini. Anaknya ganteng, tapi gak banyak gaya. Layaknya anak kecil. Bahkan cenderung pendiam. Suaranya? Oke banget. Improvisasinya waktu nyanyi "Jangan Kau Lepas"nya Alexa bener-bener bikin kami melongo.

Well, di Idola Cilik 2 ini memang banyak suara emas. Rahmi juga punya suara bak Siti Nurhaliza, tapi menurutku kurang berbau "anak kecil". Abner, si Manado yang punya suara melengking juga oke. Trus, Patton, suaranya juga mungkin bakal bikin oom Glenn Fredly kelimpungan karena tersaingi, hahaha.....

Frankly speaking, aku senang dengan ajang seperti itu karena aku memang hanya senang melihat bakat menyanyi yang mereka miliki. Sebenarnya, aku tak begitu senang dengan kemasan dan konsep acara itu. Seperti ajang adu bakat lainnya di Indonesia, kisah hidup si peserta selalu menjadi bumbu-bumbu dalam acara itu. Lebih kasihan lagi, cara mengumumkan siapa yang lolos dan siapa yang gagal. Mungkin bagi orang dewasa, oke-oke saja. Tapi, rasanya tidak tega melihat anak seusia mereka pucat pasi dan "deg-degan" menunggu pengumuman.

Beberapa waktu lalu, aku sempat mewawancarai seorang psikolog anak dan remaja di salah satu PTN di Jogja. Aku bikin tulisan tentang talent show untuk anak dan berbagai imbasnya terhadap diri si anak.
Kata psikolog itu, manusia memang membutuhkan kompetisi dalam kehidupan mereka. Termasuk bagi anak-anak. Kegiatan mereka selama masa studi di sekolah sebenarnya juga merupakan salah satu bentuk kompetisi. Intinya, psikolog itu tidak sepenuhnya menyalahkan ajang adu bakat yang memang marak di negeri ini. Khusus untuk usia anak-anak, sebelum Idola Cilik muncul juga sudah ada ajang adu bakat Pildacil (Pemilihan Dai Cilik). Ajang adu bakat seperti itu tetap positif, selama si anak dibiarkan tetap tumbuh secara natural dan tidak hanya menjadi produk atau objek komersialisasi televisi.