Rabu, 25 Maret 2009

(never?) too far away....

Never too far away....
I won't let time erase
One bit of yesterday
Cause I have learned that
Nobody can take your place
though we can never be
I'll keep you close to me
When I remember

Lagi suka denger lagu ini. "Never Too Far Away"-nya Mariah Carey.

Saya sedang merasa teramat jauh dari seseorang...dan mungkin akan semakin jauh. Tak ada alasan yang kuat bagi saya untuk menahan dirinya. Untuk saya, di sini.

Jalan yang ia tapaki kini telah sempurna. Ada dunia baru yang menunggu di hadapannya. Ia akan berlari semakin kencang mengelilingi poros bumi, menjalin mimpi-mimpi yang telah ia susun satu per satu sejak lama.
Saya pikir, takkan ada lagi rongga nafas yang bisa ia sisakan untukku. Takkan ada lagi remah rindu yang bisa ia berikan untuk saya.

Rasa ini memang kadang membuat saya tercerabut dari akal sehat....

Akan ada banyak hal yang berubah. Saya merasa harus benar-benar "melepasnya" kali ini.
Meski berat. Kadang teramat berat.



Selasa, 24 Maret 2009

Tercekik Senar.....

Minggu (22/3) siang, sepertinya saya sudah berdoa sebelum meluncur ke kantor dengan motor saya. Tapi, entah kenapa, sial masih menghampiri saya hari itu.

Keluar dari kost, lalu meluncur dengan kecepatan lumayan tinggi di ruas jalan Cik Di Tiro, berbelok ke jalan di antara SMA 6 dan SMP 8, di depan deretan kios buku Terban, ketika baru mendahului sebuah mobil, tiba-tiba saya merasa ada yang nyangkut di leher.
God! saya merasa ada seutas tali superkecil yang menyangkut dan membuat leher saya tertarik ke belakang. Sontak saya mengerem mendadak dalam kecepatan tinggi.
Ciiiiiittttt.... dan lebih dari empat pengendara motor di belakang saya pun langsung mengerem mendadak. Sejumlah pedagang buku keluar dari kios-kiosnya, dan mereka langsung berteriak "Ati-ati mbak!!!". Saya sudah berhenti, dan syukur saya tidak sampai terjatuh karena berhenti mendadak.

Saya ambil seutas tali kecil itu dari leher saya, ternyata senar!!!!
Senar itu terurai panjang di belakang, entah menyangkut di pohon atau di mana. Saya hanya mengangkat senar itu dan berteriak kecil ke mereka "Senar mas! Nyangkut di leherku!".
Saya tak ingin mempermasalahkan, tak ingin menyalahkan, dan tak ingin mereka kasihani. Saya langsung meluncur lagi, meski mereka masih terbengong-bengong.
Hanya terasa agak perih, dan saya pikir leher saya hanya tergores sedikit. Baru ketika saya sampai di kantor dan mencoba melihatnya di cermin, saya baru bergidik. Meski tak berdarah, tapi guratan putih tampak jelas. Senar itu sudah menyayat tipis hingga daging putih saya terlihat!

Saya langsung menelepon teman saya yang ada di Panti Rapih, dan saya langsung meluncur ke sana. Masuk IGD, saya ketemu dengan dokter Adi yang sangat ramah. Dokter yang ramah membuat saya agak santai meskipun saya mengaduh juga saat seorang perawat membersihkan dan mengobati luka saya.
"Ada yang sedikit dalam. Gak sesak nafas kan? Sakit buat nelen?," tanya dokter itu sambil memeriksa saya.

Kata dokter itu, dia sudah berkali-kali bertemu dengan pasien korban senar seperti saya. Ada dua kemungkinan, senar itu adalah tali layang-layang yang tersangkut di pinggir jalan, atau memang sengaja dipasang oleh penjahat untuk mencelakakan calon korban mereka. Menurutnya, bahkan ada yang sampai died!!! Ya Allah!
Saya bersyukur karena masih sadar ketika senar itu menyangkut dan mulai mencekik leher saya.

Meskipun leher saya masih berbalut perban, hari Senin saya masih harus tetap liputan. Ada Mendiknas di UNY, disambung liputan JK di UMY.
Perban di leher saya jelas mengundang berbagai pertanyaan dari orang-orang. Mereka yang sudah tahu karena kabar saya lewat facebook juga masih bertanya-tanya. Konyol memang, tapi demi Allah...baru sakit banget rasanya waktu sampai di rumah sakit.

Buat semuanya, kita sepertinya memang harus lebih berhati-hati. Hampir semua orang yang tahu kondisi saya dan kebiasaan saya berpesan sama "Jangan ngebut-ngebut Viii..!!". Hahahaha.....

Selasa, 17 Maret 2009

Kembali?

Senin (16/3), saya agak siang kembali ke Ngayogyakarta Hadiningrat. Harus mengurus pajak motor kesayangan saya terlebih dahulu di Samsat, at my hometown. Beruntung, redaktur saya yang baik hati berkenan memberi izin.

Sudah siang saat saya beranjak ke Jogja. Sepanjang perjalanan sampai kost, serasa terpanggang matahari. Meskipun tubuh saya sudah berbalut jaket tebal plus jumper penutup kepala plus slayer penutup muka plus kaus tangan, tapi rasanya panasnya matahari menembus semua. Tapi, saya selalu menikmati saat-saat kesendirian saya naik motor seperti itu. Emosi bisa terluapkan sembari menembus angin yang melawan saya.


Penat dan panas di sekujur badan baru saja terguyur air dingin siang itu (saya mandi lagi, red), ketika tiba-tiba ponsel saya berbunyi plus bergetar. Ada telepon yang tak terduga dari seseorang yang saya pikir tak lagi ingin mengingat saya dan tak lagi menganggap saya sebagai orang yang penting untuk ia hubungi.....

"I am still inside...," kata dia.
"Inside what?," tanya saya.
"Inside you," jawab dia.
"Which part of me," tanya saya lagi.
"The deepest part," jawab dia.
"Where?," tanya saya lagi.
"Your heart," jawabnya lagi, softly.

Sebelumnya, dia memang mengirim satu pesan singkat yang agak tak saya pahami. Lalu sempat pula dia menelepon, dua kali, dan tak terangkat.

Saya bingung. Tapi saya -- frankly speaking-- lega.
Tak sekali dua kali saya merasa teramat jauh dari orang itu. Tak sekali dua kali pula saya bahkan mencoba tak lagi mengingatnya. Tapi selalu ada masa dia kembali "ada".

Selasa, 10 Maret 2009

hening


senja menggelayut manja pada cakrawala
menyisakan hening
di hamparan pasir yang menunggu sapaan sang angin

ribuan tanya masih menelisik
balutan sepi makin mencekik nafas
tumpukan sesal masih bebani malam

aku tak tahu
tapi aku inginkan
kembali ke pelukan rindunya
atau samasekali tak mengingatnya lagi

(ilustrasi foto by novitapurna)



Jumat, 06 Maret 2009

Hidup, Penuh Pilihan Sulit

Semalam, ada sharing yang "agak serius" di kost saya. Tepatnya, di ruang menonton televisi di lantai dua. Usai makan malam bersama, kebetulan pula saya pulang lebih cepat dari kantor dan tidak ada janji dengan siapapu. Hanya berlima, sebagian kecil dari komunitas kost saya.
Entah dari mana awalnya, kami berbicara lebih serius dari sekedar membicarakan a guy next door yang dikecengin teman saya.
Kami berbicara tentang kehidupan. Tentang pilihan dalam hidup. Tentang keadilan dalam hidup.

Well, saya ingat! Awalnya salah satu teman saya memang curhat tentang sepupunya. Tak perlu saya ceritakan di sini seperti apa kelakuan sang sepupunya itu, yang jelas betul-betul membuat teman saya pusing. Lalu, mulailah dia berpikir, kenapa Tuhan masih saja memberi jalan yang mulus buat orang seperti sepupunya itu.

Hmm...saya jadi teringat pesan salah satu teman lama saya yang memang agak "ustadz". He said, jangan pernah berburuk sangka terhadap Tuhan, Allah SWT. Apa yang menurut manusia benar dan baik, belum tentu benar dan baik menurut-Nya. Maksudnya, apa yang kita inginkan dan kita kejar mati-matian tidak akan pernah dikasih oleh-Nya kalau hal itu menurut-Nya tidak baik untuk kita.
Tapi, memang sulit. Sangat sulit. Manusia lebih sering bertanya "kenapa harus sulit sekali ya Allah? Kenapa Engkau tidak mengabulkan doa hamba?".....

Saat dihadapkan pada situasi yang sulit, manusia-- termasuk saya-- pasti lebih sering mengeluh "Kenapa harus saya, Tuhan?". Tapi kalau sedang bahagia, pertanyaan itu tidak akan pernah muncul. Ini yang pernah saya dengar dari seorang ustadz.

Sulit juga bagi saya untuk memaknai apa yang saya hadapi saat ini. Pergulatan batin yang hampir tiap malam mengganggu lelap tidur saya. Saya lebih sering bertanya pada-Nya, kenapa ini harus saya alami? Saya bersyukur, tapi saya samasekali tidak tahu kenapa ini saya alami. Situasi yang sulit. Batin yang sulit memahami dan memaknai segalanya.

Seharusnya saya tidak..... tapi saya sudah.
I miss him. With my heart. But, for God's sake...it's really hurting me.

Kamis, 05 Maret 2009

Connection Lost. Try Again.

Connection lost. Try again.
Kalimat itu beberapa kali muncul di layar Nokia saya saat saya sedang sibuk membuka facebook via ponsel saya semalam. Terkadang, sinyal GPRS di ponsel memang ngadat, seperti semalam. Lagi asyik berjejaring sosial lewat "fesbuk", kadang tiba-tiba jaringan hilang. Ponsel kehilangan "connection" dengan GPRS untuk mobile internet. Tapi tidak selalu.

Seperti GPRS, sinyal dalam sebuah hubungan juga kadangkala hilang. Well, semua orang pasti pernah mengalaminya, kehilangan connection dengan orang lain. Seseorang. Entah itu sahabat, saudara, atau someone special. Entah karena kesibukan, atau kesalahpahaman. Ada rasa sedih, marah, jengkel, atau kangen?

Fiiuh....
Saya tak tahu apa yang saya rasakan.
Saya tak tahu apa yang mau saya tulis lagi.

One pray to God for him, saya ambil dari satu lagu milik "Avenged Sevenfold" yang sedang saya suka banget. Judulnya "Dear God". Love this cool song so much!

"Dear God, the only thing I ask of You is to hold him when I'm not around, when I'm much too far away...."
Tuhan, satu hal yang saya mohon dariMu, tolong peluk dia ketika saya tak ada di dekatnya, ketika saya terlalu jauh darinya.
Amien.



Selasa, 03 Maret 2009

Antara Kick Andy dan Potato Chips

Saya gemar menonton program Kick Andy, dan suatu hari dia memberitahu saya bahwa dia juga menyukainya.
Lain hari, secara tak sengaja saya mengetahui satu kesamaan lain dengannya. Potato chips. Ya, keripik kentang. Well, it was a small thing, tapi at least saya menemukan satu lagi kesamaan dengannya.

Hubungan ini memang sederhana. Kadang bahkan seperti tak ada.
Semua sepertinya terbangun karena kebetulan. Terpelihara pun karena kebetulan. Tapi semoga tak berakhir karena kebetulan juga.

Saat kami jauh, selalu ada kebetulan yang menghampiri dan mempertemukan tali yang sudah mengendur.
Saat saya tak ingin melihatnya, entah kenapa beberapa kali Tuhan mengirimkan "sang kebetulan" untuk membuatku bertemu dengannya.
Suatu hari, saat saya sedang terkapar tak berdaya karena sakit, tiba-tiba dia menelepon. Meski saya juga tak memberitahu dia bahwa saya sedang sakit, dan saya juga tetap tak memberitahunya bahwa saat itu saya sedang sakit.
Suatu hari lain, saat saya sedang benar-benar bad mood karena menemukan motor saya sudah tergores karena tertimpa motor lain di areal parkir, tiba-tiba ada pesan darinya masuk ke ponsel saya. Pertanyaan standar dari dia hanya saya balas dengan icon smiley yang sedang sedih. Lalu dia kembali mengirim satu kata "Sad?"....

Saya tak bisa menuntut dia selalu ada. Tapi "kebetulan" selalu menuntunnya untuk saya.

Hubungan ini seperti menciutkan bumi, menghentikan waktu, dan memenjarakan udara.
Saya dan dia kadang terjun ke dunia mimpi dan terkadang kami serasa enggan untuk segera terbangun dan melihat bahwa bumi masih bulat, waktu masih terus melaju, dan udara masih terus memenuhi ruang hirup manusia....
Karena terkadang itu lebih menyakitkan.

Lima huruf itu pernah ia bisikkan. Tapi demi Tuhan, saya tak bisa mengartikannya, apa lagi menerimanya.
Ribuan rindu yang acap dia ungkapkan pun kadang membuat saya rana ketika mengingatnya.
Tapi, sumpah! Sejujurnya saya sangat berharap itu semua bukan hanya sekedar retorika lidahnya semata.

Saya membuka diri karena hati. Tak tercemar oleh apapun.
Meski sulit untuk melupakan hal mengecewakan yang pernah ia ungkapkan, saya merasa kini harus lebih memahaminya.

Hubungan ini apa adanya.
Kadang ada, kadang tiada.
Kadang saya merasa dekat, kadang saya merasa teramat jauh.