sometimes we should say what we think, what we feel, and what we want....
Sabtu, 30 Januari 2010
still wanna be with him
Rasanya tak ingin melepaskannya untuk bergelut dengan kesibukannya tadi pagi. Rasanya saya ingin menahannya sampai selama yang saya mau. Rasanya masih tidak cukup sekitar dua jam semalam dan beberapa menit tadi pagi kami bertemu. Feels like I really wanna be with him a whole day...as long as we want....
We talked about many things last nite. We learn many things from all that we've been through during these two years.
And I do miss him now....
Jumat, 29 Januari 2010
menunggu
Saya sedang menunggu. Menunggu jarum jam pendek berada di angka sembilan, dan jarum panjangnya berada di angka 12. Menunggu jam sembilan malam. Lalu pulang ke kos. Hmm... mungkin mampir beli makan malam dulu, meski sudah telat. Lalu makan, lalu mandi. Saya masih piket, sampai jam 9 malam.
Penat. Ingin segera mandi, dan mengganti seluruh pakaian.
Saya juga akan menunggunya. Menghabiskan sisa malam dari ujung telepon. Berbicara tentang hidup dan cinta. Membiarkan saya direngkuh kata-katanya. Malam ini. Seperti malam-malam yang sudah lewat.
Di luar hujan. Dingin, ya Tuhan....
Kamis, 28 Januari 2010
menenangkan diri dalam hujan
Saya kehujanan hari ini. Tepatnya, sengaja berhujan-hujanan. Bermain hujan. Entah kenapa, malas sekali berhenti, membuka bagasi motor, lalu mengambil mantel biru saya, lalu memakainya. Padahal, sejak kecil, saya tak pernah sekalipun bisa dan diperbolehkan bermain hujan. Well, orangtua mana juga sih yang memperbolehkan anaknya bermain hujan (kecuali karena terpaksa hujan-hujanan saat pulang sekolah). Hmm..sepertinya ada. Ya, tetangga depan kost saya itu. Entah apa yang ada di pikiran mereka sampai-sampai mereka tenang-tenang saja membiarkan si anak-anak itu berlarian di tengah hujan. Well, this is not about my neighbour, this is about myself.
Hari ini, saya meluncur di tengah hujan. Menuju arah Pakem. Well...it wasn't a near distance from the center of this city. Ada Menkumham RI di Lapas Narkotika Sleman. But akhirnya saya dan teman-teman wartawan stay di RS Panti Nugroho karena Mbah Maridjan, sang icon Gunung Merapi, tengah dirawat di sana.
Sejak Jakal kilometer bawah sampai atas, hujan terus turun, dan saya malas berhenti. Sempat lebat, tapi kadang pelan, lalu deras lagi. Kemeja abu-abu tipis saya hanya berbalut cardigan rajut, tapi cukup menghalangi air hujan untuk membuat kemeja saya basah kuyup. Cardigan rajut favorit saya itu bahkan tak nampak basah.
Kadang, hujan membuat saya bisa lebih menguarkan emosi saya, menenangkan saya. Itulah, mengapa saya membiarkan hujan membasahi saya hari ini.
Hari ini, entah apa yang mendorongnya untuk menanyakan kabar saya. Entah kenapa pula hampir bersamaan waktunya ketika ada pesan singkat dari another guy.
I said to him, I miss him.
Then he said that he felt the same way.
Don't know how to handle this.
I'm dying. My heart is dying.
Rabu, 27 Januari 2010
new pic on FB
sekedar menelepon
Beberapa kali bunyi dering nada tunggu yang terdengar dari ujung telepon dan tak terjawab tadi pagi membuat saya agak sedih. Saya mencoba meneleponnya tadi pagi, sekedar ingin berbicara satu atau lima menit sebelum kami sama-sama tenggelam dalam rutinitas kami. Ketika saya meletakkan kembali ponsel saya, saya berpikir mungkin dia sudah telanjur sibuk.
Then I said "she tried to call him this morning" lewat pesan singkat. Jawaban dia bisa saya terima, karena saya lupa ini hari Rabu dan he has a thing to do every Wednesday morning. Tapi, saya sedih kenapa dia hanya memberi jawaban singkat, hanya meminta maaf, dan tidak bertanya ada apa sampai saya ingin meneleponnya. Well, saya jadi merasa menjadi pengganggu aktivitas dia hari ini.
Entahlah, saya mungkin yang sedang terlalu melankolis.
Gosh, I miss that guy. Staring at his eyes for a moment, that's enough. Melihatnya masih membiarkan bulu halus di dagu dia yang membuat saya teringat Paul Walker atau George Clooney, sudah cukup.
Then I said "she tried to call him this morning" lewat pesan singkat. Jawaban dia bisa saya terima, karena saya lupa ini hari Rabu dan he has a thing to do every Wednesday morning. Tapi, saya sedih kenapa dia hanya memberi jawaban singkat, hanya meminta maaf, dan tidak bertanya ada apa sampai saya ingin meneleponnya. Well, saya jadi merasa menjadi pengganggu aktivitas dia hari ini.
Entahlah, saya mungkin yang sedang terlalu melankolis.
Gosh, I miss that guy. Staring at his eyes for a moment, that's enough. Melihatnya masih membiarkan bulu halus di dagu dia yang membuat saya teringat Paul Walker atau George Clooney, sudah cukup.
Selasa, 26 Januari 2010
terburu waktu
Pagi ini saya sudah keluar kos sekitar pukul 07.30. Ada janji dengan salah satu camat di wilayah Sleman, wawancara untuk profil. Melewati Jalan Magelang yang super-duper riweuh alias crowded cukup menguji kesabaran saya. Sempat melihat kecelakaan di depan Polres Sleman, membuat pagi saya hari ini semakin penuh ujian. Sekarang, saya kembali ke kantor, menunggu meeting rutin untuk semua reporter.
Sebenarnya, kalau tadi pagi saya tidak terburu-buru (bahkan sempat panik karena kunci motor sempat raib, menyelip di dalam kantong kamera), saya ingin menelepon dia. Hanya ingin berbicara sebentar dengannya sebelum memulai hari saya. Ingin tahu bahwa dia tetap baik-baik saja. Tapi, sayangnya, saya sangat terburu waktu.
I said I love him. A different kind of love. A pure, sweet, mature, and super-unique love that I have never had before.
Gosh, take care of him, please. Take care of us, too.
Sebenarnya, kalau tadi pagi saya tidak terburu-buru (bahkan sempat panik karena kunci motor sempat raib, menyelip di dalam kantong kamera), saya ingin menelepon dia. Hanya ingin berbicara sebentar dengannya sebelum memulai hari saya. Ingin tahu bahwa dia tetap baik-baik saja. Tapi, sayangnya, saya sangat terburu waktu.
I said I love him. A different kind of love. A pure, sweet, mature, and super-unique love that I have never had before.
Gosh, take care of him, please. Take care of us, too.
Senin, 25 Januari 2010
miss him much
Sejak siang sampai maghrib ini, hujan terus-menerus turun. Saya tidak ke kantor. Tapi bukan berarti meninggalkan kewajiban jurnalistik saya. Masih menelepon narasumber, untuk wawancara, membuat berita, lalu mengirimnya via email. Lalu menelepon narasumber lain, untuk membuat janji bertemu esok hari.
Mendung hitam yang seharian menggantung dan hujan yang terus saja jatuh selalu membuat saya melankolis. Entah kenapa, saya jadi teramat sangat merindukan dia.
Pagi tadi saya mencoba menelepon, tak ada jawaban. Tapi selang beberapa menit, dia balik menelepon saya. One simple question yang tumben-tumbennya dia katakan tadi pagi membuat ada aliran hangat menguar di dada saya. He called me "dik", satu sebutan yang sudah sangat jarang ia katakan sejak dua tahun lalu. I do like that, as well as when he called me "baby". Two sweet nicks. Yeah...it was just different dibanding beberapa orang lain yang juga kerap memanggil saya "dik".
Hampir seharian saya menghabiskan waktu dengannya dari kejauhan. Meskipun saya-- dan juga dia-- rasanya mungkin ingin berlari sekencang mungkin untuk bertemu. But it's not that simple....
Gosh...I do wanna have his tight hug now...
Mendung hitam yang seharian menggantung dan hujan yang terus saja jatuh selalu membuat saya melankolis. Entah kenapa, saya jadi teramat sangat merindukan dia.
Pagi tadi saya mencoba menelepon, tak ada jawaban. Tapi selang beberapa menit, dia balik menelepon saya. One simple question yang tumben-tumbennya dia katakan tadi pagi membuat ada aliran hangat menguar di dada saya. He called me "dik", satu sebutan yang sudah sangat jarang ia katakan sejak dua tahun lalu. I do like that, as well as when he called me "baby". Two sweet nicks. Yeah...it was just different dibanding beberapa orang lain yang juga kerap memanggil saya "dik".
Hampir seharian saya menghabiskan waktu dengannya dari kejauhan. Meskipun saya-- dan juga dia-- rasanya mungkin ingin berlari sekencang mungkin untuk bertemu. But it's not that simple....
Gosh...I do wanna have his tight hug now...
Minggu, 24 Januari 2010
Is He Jealous?
Me : "Is he jealous?"
Him : "He doesn't know, but he didn't want to disturb her to have a nostalgia"
TEPAT satu minggu ini saya absen mengisi blog saya. Lebih dari satu minggu ini pula dia absen menghubungi saya. Lalu ketika sekitar dua hari yang lalu saya mengirim satu pesan singkat, "Is he ok?"... saya memperoleh penjelasan panjang itu dari dia. Entah, tapi saya menangkap ada nada jealous dari penjelasan dia itu. Dia bilang dia membaca satu postingan di blog saya ini, one post under this post. Yup, soal kembalinya sang cinta pertama saya itu.
U know, ketika saya membaca sms dia, ketika dia bilang dia memang berhenti menghubungi saya setelah membaca postingan di blog saya ini, saya ingin tertawa tapi juga sedikit sedih. Entah kenapa.
Saya tertawa karena geli sekaligus senang dia masih bisa had a jealousy, meskipun entah seberapa besar kadar jealousy itu. Saya juga senang karena dia membahas tentang hal itu, meski tak secara eksplisit bilang bahwa dia jealous. Tapi saya sedih karena saya merasa seminggu ini saya memang agak tak terlalu memikirkan dia, karena memang saya masih tertimbuni sms-sms dari kakak kelas saya itu.
Well, sejujurnya saya juga masih berharap ada satu atau dua sms dia yang menyelip, tapi ternyata dia memutuskan untuk tidak "mengganggu" saya seperti yang dia bilang.
Saya bilang, I miss him. Dan dia pun bilang dia teramat merindukan saya. Entah, serius atau tidak. Tapi ketika saya menunggu, dia tak juga menghubungi saya. Iya, saya menunggu. Tapi entah apa yang dia pikirkan. Well, mungkin dia memang sedang kembali tertimbuni kesibukan dia. Saya harus mengerti.
Tahu bahwa ia tetap sehat dan baik-baik saja, itu sudah sangat cukup bagi saya. Coz I only want to make him always happy and healthy. For God's sake.
Well...saya jadi teramat merindukan dia sekarang.
I feel li'l bit guilty.
Malam ini, saya piket lagi di kantor. Di luar masih hujan pula. Saya jadi berpikir, apa malam ini dia memikirkan saya atau tidak....
Him : "He doesn't know, but he didn't want to disturb her to have a nostalgia"
TEPAT satu minggu ini saya absen mengisi blog saya. Lebih dari satu minggu ini pula dia absen menghubungi saya. Lalu ketika sekitar dua hari yang lalu saya mengirim satu pesan singkat, "Is he ok?"... saya memperoleh penjelasan panjang itu dari dia. Entah, tapi saya menangkap ada nada jealous dari penjelasan dia itu. Dia bilang dia membaca satu postingan di blog saya ini, one post under this post. Yup, soal kembalinya sang cinta pertama saya itu.
U know, ketika saya membaca sms dia, ketika dia bilang dia memang berhenti menghubungi saya setelah membaca postingan di blog saya ini, saya ingin tertawa tapi juga sedikit sedih. Entah kenapa.
Saya tertawa karena geli sekaligus senang dia masih bisa had a jealousy, meskipun entah seberapa besar kadar jealousy itu. Saya juga senang karena dia membahas tentang hal itu, meski tak secara eksplisit bilang bahwa dia jealous. Tapi saya sedih karena saya merasa seminggu ini saya memang agak tak terlalu memikirkan dia, karena memang saya masih tertimbuni sms-sms dari kakak kelas saya itu.
Well, sejujurnya saya juga masih berharap ada satu atau dua sms dia yang menyelip, tapi ternyata dia memutuskan untuk tidak "mengganggu" saya seperti yang dia bilang.
Saya bilang, I miss him. Dan dia pun bilang dia teramat merindukan saya. Entah, serius atau tidak. Tapi ketika saya menunggu, dia tak juga menghubungi saya. Iya, saya menunggu. Tapi entah apa yang dia pikirkan. Well, mungkin dia memang sedang kembali tertimbuni kesibukan dia. Saya harus mengerti.
Tahu bahwa ia tetap sehat dan baik-baik saja, itu sudah sangat cukup bagi saya. Coz I only want to make him always happy and healthy. For God's sake.
Well...saya jadi teramat merindukan dia sekarang.
I feel li'l bit guilty.
Malam ini, saya piket lagi di kantor. Di luar masih hujan pula. Saya jadi berpikir, apa malam ini dia memikirkan saya atau tidak....
Minggu, 17 Januari 2010
euforia cinta lama?
Akhir pekan ini serasa berbeda.
Sabtu pagi, saya pulang ke kampung halaman. Bukan karena dia juga kebetulan sedang mengambil cuti juga. Ya, kakak kelas saya waktu SMA. Sang cinta pertama saya.
Sehari sebelumnya kami memang sms-an. Jumat pagi dia sampai di kota kami, lalu Sabtu siang giliran saya yang tiba. Sabtu sore, saat saya masih "meluruskan" punggung yang lumayan capek setelah menempuh jarak lebih dari 60 kilometer di atas supra fit berkecepatan rata-rata 80-90 km/jam, tiba-tiba dia bilang sedang berkeliling kota tak tentu arah. Dia bilang ingin mengajak saya makan. Akhirnya setelah berargumen panjang, "eyel-eyelan" seperti biasa, akhirnya saya mau juga keluar rumah.
Well, u know, kami sudah tak bertemu sekitar enam tahun, lebih bahkan. What a long time, right?
Terakhir, dia menjemput saya ketika saya pulang KKN, di depan UC UGM. Oh no, sepertinya setelah itu dia sempat menemani saya belajar pagi-pagi sebelum ujian di ruang baca UPT II Perpustakaan UGM yang di lantai 4 itu. Waktu itu, dia sedang cuti dari studi di FE UI dan sedang menyelesaikan studi D3 di FE UGM. But it still a really long time, right?
Tak ada yang berubah sepertinya, setelah dia bekerja. Tapi it was so hard for me to keep calm ketika sesekali dia menoleh ke arah saya ketika dia menyetir mobilnya. U know, I ever felt such a big feeling to this guy. Banyak hal kami bicarakan, selama di perjalanan, waktu kami berhenti makan, sampai pulang. Ngobrol, ketawa-tawa, meski sesekali ketika saya sedang intens mengamati makanan saya, dia yang sepertinya intens mengamati saya... (haha...)
Dia bilang kami ngedate, dia bilang itu "dating moment" karena kami hanya berdua. Dia juga bilang, waktunya terlalu sempit, jadi semuanya terburu-buru. Setelah sore itu, kami jadi intens berkomunikasi lagi. Sangat-sangat intens bahkan.
Well, I do have to ask myself. And unfortunately, I couldn't found the answer of it. Saya tidak yakin dengan apa yang saya rasa. Meskipun sampai detik ini saya juga masih teringat tatapan mata dia yang masih sama, dan bau parfum dia yang masih sama. Apa mungkin saya terkena euforia karena kami bertemu setelah sekian lama terpisah?
Saya jadi merasa membagi rasa. Mulai membagi rasa.
Hmm... soal dia, another guy. My man. Terakhir dia menelepon, Kamis malam. Setelah itu, dia seperti tertimbuni oleh segala kesibukan dia. Dan saya harus mengerti, tak perlu lagi merajuk.
Saya kembali ke Jogja lagi, tadi pagi. Malam ini, giliran saya piket lagi di kantor. Di luar hujan, memang sudah tak sederas tadi. Sudah hampir jam sembilan malam pula, sudah hampir selesai waktu piketnya.
Pulang ke kost, semoga bisa tidur lelap.
Rabu, 13 Januari 2010
Hari yang Melelahkan
Kepala saya pusing. So much pusing. Sepertinya gara-gara saya telat makan.
Sejak jam 08.30 pagi saya sudah sampai di kantor, rapat pagi wajib bagi reporter. Lalu setengah jam kemudian saya meluncur ke Pengadilan Negeri (PN) Sleman, ada sidang putusan vonis untuk kasus korupsi buku ajar yang melibatkan bupati sleman nonaktif. Sampai di PN, sudah banyak wartawan datang. Saya bertegur-sapa dan langsung bergabung. And u know what, it took about 6,5 hours untuk menunggu majelis hakim membacakan vonis.
Saya hanya membawa sebotol air di botol kesayangan saya dan sebungkus roti. Roti itu saya makan berdua dengan salah satu teman yang kebetulan duduk di sebelah saya selama sidang berlangsung. Of course, kami di luar ruang sidang, karena ruangan sekecil itu tak mungkin cukup untuk puluhan wartawan.
Jam 12.00, sidang ditunda untuk istirahat. Saya dan beberapa teman pun meluncur ke konferensi pers salah satu bakal calon bupati dalam Pemilukada Sleman 2010 di Bakso Kepala Sapi, hanya beberapa meter dari PN Sleman. But hey, bakso itu pun tak saya habiskan. Apalagi, perut orang Jawa seperti saya harus diisi nasi, meski sedikit, baru makan itu namanya.
Alhasil, saya pusing, dalam arti sebenarnya. Rasa pusing itu seperti menguar hanya di dahi saya, bukan di kepala.
Sekarang saya masih di kantor, sudah hampir pukul delapan malam. Tadi pun saya terpaksa membatalkan janji nonton "Sherlock Holmes" dengan teman-teman di Empire XXI. Tiket yang sudah mereka beli untuk nonton pukul 18.40 pun mubadzir.
Oh ya, tadi sempat berkirim pesan pada dia. Hanya bertanya apa dia baik-baik saja, dan dia bilang dia baik-baik saja.
Hhh...sepertinya dia juga sedang sibuk, as busy as me, or even much busier than me. I do have to understand.
Gosh, semoga saya baik-baik saja dan kuat naik motor sampai kos setelah ini, lalu mandi, lalu makan. Saya sudah tak tahan ingin mandi, coz I'm "blooding" now.
Senin, 11 Januari 2010
on the night like this
On the night like this
There's so many things I want to tell you
On the night like this
There's so many things I want to show you
Cause when you're around, I feel safe and warm
When you are around, I can fall in love every day
In the case like this, there are a thousand good reasons I want you to stay...
("On The Night Like This"-Mocca)
Di luar hujan, dan saya masih di kantor. Di meja, ada sebotol nu green tea dan good time serta trenz yang sejak tadi saya makan bareng-bareng temen kantor. Malam ini jadwal piket saya, sampai jam 9 malam. Meski baru sampai Jogja tadi pagi dan masih agak lelah, tak ada alasan untuk tak piket. Toh, masih banyak teman-teman dan redaktur yang tertahan di kantor karena masih hujan deras di luar. Meski saya jadi the only girl here.
Saya senang bisa menghabiskan waktu dengan dia kemarin. Sabtu sore, sesaat setelah saya sampai di rumah, dia menelepon saya. Esok paginya, kemarin, kami menghabiskan sekitar satu jam lagi di gagang telepon. Everything is fine. He is fine. And I am fine. We are fine.
Saya tak tahu apa yang membuat dia sedemikian berartinya bagi saya sekarang, setelah dua tahun lalu. Saya pun tak bisa menjawab ketika kemarin dia menanyakan itu, menanyakan kenapa saya tak memilih any other guys di sekeliling saya.
Saya hanya bilang, marriage is not the first priority in my life. Meski tentu saya ingin, tapi entah kapan.
Getting married is not as simple as other people think. Setidaknya bagi saya. Bukan ingin takabur, tapi saya bilang, if I want, saya mungkin sudah menikah sejak beberapa tahun lalu. Saya hanya sungguh-sungguh tidak ingin saya menyesali keberadaan orang yang sudah saya nikahi suatu saat. Jadi, saya hanya menunggu sampai Allah membukakan hati dan mata saya ketika saya bertemu dengan seseorang yang telah Ia siapkan, dan saya yakin he is the one.
Well, tak mungkin juga kan, ketika dia bertanya tentang hal itu, lalu saya bilang "I wanna live my life with you"?? Meski kadang saya memikirkan hal itu.
Fiiuuuh...masih deras di luar. Setengah jam lagi sudah jam sembilan malam. Teman-teman juga sedang ngopi di luar, saya memilih blogging dan fesbukan di dalam kantor dengan beberapa teman lain di antara dinginnya dua air conditioner besar tepat di belakang saya.
Gosh, I miss him, still.
Tolong jaga dia, jauhkan dia dari segala marabahaya dan segala rasa sakit. Saya memohonkan kesehatan, keselamatan, dan umur panjang, seperti saya mendoakan ibu saya.
There's so many things I want to tell you
On the night like this
There's so many things I want to show you
Cause when you're around, I feel safe and warm
When you are around, I can fall in love every day
In the case like this, there are a thousand good reasons I want you to stay...
("On The Night Like This"-Mocca)
Di luar hujan, dan saya masih di kantor. Di meja, ada sebotol nu green tea dan good time serta trenz yang sejak tadi saya makan bareng-bareng temen kantor. Malam ini jadwal piket saya, sampai jam 9 malam. Meski baru sampai Jogja tadi pagi dan masih agak lelah, tak ada alasan untuk tak piket. Toh, masih banyak teman-teman dan redaktur yang tertahan di kantor karena masih hujan deras di luar. Meski saya jadi the only girl here.
Saya senang bisa menghabiskan waktu dengan dia kemarin. Sabtu sore, sesaat setelah saya sampai di rumah, dia menelepon saya. Esok paginya, kemarin, kami menghabiskan sekitar satu jam lagi di gagang telepon. Everything is fine. He is fine. And I am fine. We are fine.
Saya tak tahu apa yang membuat dia sedemikian berartinya bagi saya sekarang, setelah dua tahun lalu. Saya pun tak bisa menjawab ketika kemarin dia menanyakan itu, menanyakan kenapa saya tak memilih any other guys di sekeliling saya.
Saya hanya bilang, marriage is not the first priority in my life. Meski tentu saya ingin, tapi entah kapan.
Getting married is not as simple as other people think. Setidaknya bagi saya. Bukan ingin takabur, tapi saya bilang, if I want, saya mungkin sudah menikah sejak beberapa tahun lalu. Saya hanya sungguh-sungguh tidak ingin saya menyesali keberadaan orang yang sudah saya nikahi suatu saat. Jadi, saya hanya menunggu sampai Allah membukakan hati dan mata saya ketika saya bertemu dengan seseorang yang telah Ia siapkan, dan saya yakin he is the one.
Well, tak mungkin juga kan, ketika dia bertanya tentang hal itu, lalu saya bilang "I wanna live my life with you"?? Meski kadang saya memikirkan hal itu.
Fiiuuuh...masih deras di luar. Setengah jam lagi sudah jam sembilan malam. Teman-teman juga sedang ngopi di luar, saya memilih blogging dan fesbukan di dalam kantor dengan beberapa teman lain di antara dinginnya dua air conditioner besar tepat di belakang saya.
Gosh, I miss him, still.
Tolong jaga dia, jauhkan dia dari segala marabahaya dan segala rasa sakit. Saya memohonkan kesehatan, keselamatan, dan umur panjang, seperti saya mendoakan ibu saya.
Sabtu, 09 Januari 2010
ingkar janji
Dua malam ini dia mengingkari janji dia sendiri. Dua malam ini pun saya tertidur dalam beberapa kali jeda.
Semalam, dia membuat janji sendiri untuk menelepon saya sekitar pukul 11.30. Saya berusaha mempercayai, meskipun sekarang saya tak lagi berharap besar seperti dulu, bahwa dia pasti akan menepati janji.
Saya setengah menunggu, sampai akhirnya tertidur. Jam 12 malam lebih tujuh menit saya terbangun, tak ada missed-call atau pesan. Lalu saya tertidur lagi. Lalu terbangun lagi sejam kemudian. Tak ada tanda-tanda bahwa dia sudah menghubungi saya. Sampai saya tertidur lagi, lalu bangun menjelang subuh. Dia tetap diam. Entah karena apa. Then I just sent him a message, "Don't ever make any promises if it'll only hurt her".
Saya tidak tahu apa dia mengerti seberapa penting janji dia buat saya. Saya tidak tahu apa dia tahu bahwa saya sangat-amat-kecewa jika janji itu tidak dia tepati. Saya bahkan tidak tahu apa dia tahu seberapa khawatir saya tentang dia, seberapa serius ketika saya bilang saya khawatir.
Saya tidak tahu, apakah sampai saat ini saya masih penting di hati dia.
Hari ini, setelah menyelesaikan pekerjaan, saya berencana pulang ke kampung halaman, dan saya sebenarnya senang. Sungguh saya sebenar-benarnya tak ingin memulai hari dengan kesedihan seperti ini. Tapi saya sedih, tiba-tiba sangat sedih. Maafkan saya, meski saya sudah berjanji pada diri saya sendiri untuk tak akan lagi terisak-isak tanpa arti, pagi ini saya tak lagi bisa menahan.
Saya kecewa karena dia tak memberikan alasan apapun. Semudah itu dia membuat janji, dan semudah itu dia tak menepati.
Ketika saya bilang saya mengkhawatirkannya, saya selalu serius. Saya benar-benar khawatir. Seperti kemarin. Saya pun benar-benar lega ketika akhirnya dia bilang dia baik-baik saja, dan menjabarkan apa yang dia lakukan sehari itu sampai dia tak sempat memberi kabar.
For God's sake, I don't wanna be a demanding partner. Saya tak ingin menuntut hal yang berlebihan.
Jumat, 08 Januari 2010
snap shot
Kamis, 07 Januari 2010
untitled (again)
tak mudah tuk akui
bahwa engkau begitu berarti
tak juga ku pungkiri
ternyata kaulah yang selalu di hati
kurasa ku sampai di ujung jalanku
tempat ku berhenti dan bernyanyi
jantung hatiku, kuletakkan di jantung hatimu
kurekatkan erat di nadimu, mengalir di darahmu
dan terbelenggu takkan pernah lekang oleh waktu
semakin melekat di pelukmu, hingga akhir aku…
Sedang sangat suka dengan lagu band satu itu, Lyla. Kebetulan juga headset yang menempel di kedua telinga saya sekarang juga sedang mengeluarkan suara Indra Sinaga, vokalisnya Lyla.
Well, dia sedang jauh, tapi saya kembali merasa dekat. Gosh, please take care of him.
Selasa, 05 Januari 2010
mati rasa?
Saya merasa "mati rasa".
Saya tidak ingin bilang, saya bisa membuat banyak orang tertarik. Saya anggap, kalau ada orang yang tertarik, itu hanya complement untuk hidup saya. Bahkan, buat saya tidak penting. Sekarang. Except, untuk berteman, that's fine.
A couple days ago, dalam sebuah gathering di kantor, ada kejadian yang menurut saya malah konyol. Ketika waktunya makan usai acara, saya berkumpul dengan teman-teman satu kantor. Lalu tiba-tiba salah satu teman kantor saya memanggil a guy dari kantor lain yang satu grup dengan koran tempat saya bekerja. My friend shouting at him to come to us, dan ketika dia sudah menghampiri kami (ada banyak wartawan, mayoritas laki-laki), teman saya langsung men-skak mat dia di depan saya dengan bilang, "Hey, just introduce yourself to her! Don't just asked to me behind her!". Semua orang di dekat kami langsung tertawa dan meledek orang ini sampai pipinya memerah karena malu. Teman saya bilang, ia menanyakan saya ketika acara berlangsung. And I didn't felt anything. GR sekalipun, tidak samasekali. Saya malah kasihan melihatnya menahan malu karena diledek beruntun oleh teman-teman saya.
A couple days ago, tiga teman saya yang berteman cukup dekat dengan another guy that I've told in this blog before ( one who went to Kalimantan) kompak memanas-manasi saya dengan bilang bahwa saya tinggal menunggu orang itu melakukan "penembakan" secara lebih serius pada saya. Dan saya hanya ngakak. Nothing else. Meskipun hampir setiap pagi, siang, malam, bisa dipastikan selalu ada sms yang masuk dari orang itu. Hanya bertanya masalah-masalah ringan, berkomentar tentang status di facebook, atau mengingatkan saya untuk makan siang. He's such a kind guy, but I feel nothing.
Lalu kemarin, di chat box facebook, saya chat dengan seseorang yang sebenarnya sudah saya anggap seperti abang saya sendiri. Lalu tiba-tiba he said, "hey, I miss u". Saya pun menganggapnya biasa saja, meskipun teman-teman di sekeliling kami juga selalu "mengipas-ngipasi" dia dan saya.
Well, kemarin pula, sang kakak kelas saya, sang cinta pertama yang saya pertahankan hampir delapan tahun lamanya, pada akhirnya mau memasang foto dia di account facebook dia. Sebelumnya, dia tak mau ikut-ikutan berjejaring sosial di FB karena menurutnya Mark Zuckenberg yang punya ide membuat FB adalah seorang Yahudi (dan menurut saya itu alasan yang berlebihan). Dia bilang, akhirnya mau membuka akun di FB hanya agar bisa memantau perkembangan kehidupan saya. What a silly reason, right?
Foto dia itu foto terbaru. Saya sempat memandangi foto laki-laki lulusan UI yang sepertinya sudah betah tinggal di Jakarta itu cukup lama, dan saya baru sadar, saya sudah merasa biasa saja. Bahkan, ketika saya melihat ada komentar cewek di wall FB dia. Tak lagi secemburu dulu lagi.
Saya mati rasa kah ya Tuhan? Mati rasa atau mematikan rasa? Mematikan rasa untuk orang yang teramat sulit untuk saya rengkuh?
Well, this is about him. Again.
Kemarin, saat ia menanyakan apa yang bisa ia lakukan untuk menghilangkan sedih yang saya rasakan, saya teramat ingin bilang ke dia, "Just stay with me, here". But, if I said it, what next? Apakah ia bisa melakukannya, saat itu juga?
Kadang, saya ingin mencuri waktu dari rutinitas saya dan rutinitas dia. Terbang berpegangan tangan di dalam tubuh burung besi yang membawa kami ke manapun tempat yang ingin kami tuju. Saya ingin ada saat ia baru saja membuka matanya di pagi hari dan menahan dia untuk tetap tinggal dan tak beranjak dengan pelukan sekuat yang saya bisa.
God, I don't know exactly about this. I don't even know about Your plan to my life. I also do not know what the meaning of what I and him had for this two years. Satu hal yang saya tahu, saya merasa bahwa sekarang dia sudah berhasil membuat dirinya menjadi sedemikian berarti dalam hidup saya. Meskipun saya tak bisa menyelami dasar hati dia, tapi saya berharap dia juga selalu jujur dengan apa yang ia katakan pada saya.
Saya tak berharap apa-apa.
Saya hanya ingin dia tahu kalau saya selalu serius ketika saya berkata bahwa I miss him so much, 'til my tears gone dry.
Senin, 04 Januari 2010
Sesak
Pernahkah anda merasa lelah dengan hidup anda? Naudzubillaahimindzaliik. Saya juga sebenarnya tak ingin merasa seperti itu, seperti tak mensyukuri hidup yang dikaruniakan oleh-Nya kepada kita. Tapi perbolehkan saya kali ini untuk bilang bahwa saya merasa lelah sekali ya Tuhanku....
Hari ini saya mulai kembali menjadi wartawan yang terjun ke lapangan yang sebenarnya. Istilah teman saya, "babat alas". Ya Allah, meski saya terbiasa menjadi commuter dua mingguan ke kampung halaman, tapi tadi saat saya meluncur-- dengan motor sendiri-sendiri-- dengan teman saya ke Pakem, saya merasa sangat lelah. Pagi-pagi sudah meluncur ke utara, dan saya merasa menjadi wartawan yang sangat produktif dengan tiga berita di tangan meski jam baru menunjukkan pukul 11.30 siang.
Hari ini, saya telat makan lagi. Jadi ingat, baru kemarin saya chat dengan humas salah satu PTS, dan beliau bertanya kenapa status saya di facebook belakangan ini sering mengeluh demam, dan lain-lainnya. Saya bilang, mungkin karena hari libur seorang jurnalis juga memang tak pasti. Sering telat makan. Tidur larut malam. Tapi saya pikir, tak hanya "kaum kami" saja. Profesi lainnya pun bisa saja memiliki ritme kerja seperti kami, bahkan mungkin lebih parah daripada kami.
Saya sampai di kantor sekitar jam 14.30, dan entah kenapa ketika saya menyalakan monitor komputer saya hari ini di kantor, saya teringat mimpi saya semalam. Tentang dia. Dan entah kenapa pula selang beberapa menit setelah itu, ada sms masuk ke ponsel saya. Dari dia.
U know, saya merasakan sesak yang tak bisa terungkapkan di dalam dada saya. Sesak, antara senang dan sesak menahan panas di pelupuk mata saya.
Saya agak lega bisa berkata pada dia hari ini, bahwa saya menyimpan rindu yang menyesak di dalam dada saya. Sampai sekarang pun masih sangat menyesak. Tapi saya sungguh tak tahu harus menjawab apa ketika dia bertanya apa yang bisa dia perbuat untuk menghilangkan sesak itu dari dada saya.
Gosh, I miss that guy. So much. And it hurts.
Kalau bisa, saya ingin menguarkan sesak ini di dadanya.
Minggu, 03 Januari 2010
my world is full with you
I thought this would be the end of my life
When you told me you're no longer in love with me
I thought the sun will never rise again
When you told me everything was over
You make me feel like I was the only girl that you adore
And gave me the sweetest kisses
You showed me how to love unselfishly
And even though there's no love left for me
I just want you to know that I'm missing you
Cause my world is full with you
And my world is full with you
And even though we're not together once again
And I found emptiness living without you
It feel so hard to let you go
Cause my world is full with you
And my world is full with you
*"my world is full with you"-ten 2 five
Sabtu, 02 Januari 2010
Have a Happy New Year....
Sabtu ini saya tidak bisa pulang. Bertumpuk tugas membuat hari-hari saya usai tahun baru ini menjadi lebih hectic. Saya mengawali pagi dengan memacu motor pagi-pagi, ada rapat pagi di redaksi. Padahal, badan saya kembali lagi agak demam.
Sehari menjelang tahun baru, saya masih harus bertemu dengan beberapa mahasiswa di Balairung UGM. Tempat favorit saya saat kuliah untuk janjian dengan teman, selain tentunya ruang baca UPT II Perpustakaan UGM.
Malam tahun baru saya melewatkannya dengan teman-teman. Nothing special. Teman saya juga enggan keluar jauh-jauh karena sudah membayangkan kemacetan yang luar biasa. Berkumpul dengan beberapa teman di rumah salah satu teman yang sangat homy di Ayodhya Citra, Maguwoharjo cukup membuat malam tahun baru menjadi menyenangkan. Saya pun enggan mengiyakan ajakan beberapa teman lain untuk menghabiskan malam tahun baru di beberapa spot keramaian.
Hari pertama tahun baru, saya ke kantor. Tentu saja. Pulang dari kantor, janjian dengan beberapa teman lama di Starbuck's Ambarrukmo Plaza. Telat hampir 15 menit karena jalanan yang benar-benar crowded dan membuat saya sempat terperangkap di tengah-tengah kerumunan mobil dan motor yang menyemut di ruas Jalan Solo. Kongkow lanjut di A&W di mal yang sama. Mengisi perut dengan ayam dan sup, plus orange juice. Tapi entah kenapa perut saya tak bisa menerima sampai saya terpaksa berhenti makan sebelum semuanya habis. Tak ada celah pula di perut untuk chocolate sundae yang biasanya selalu saya pesan.
Dia? Entah dimana. Terakhir saya menerima pesannya saat sehari jelang tahun baru. Saya juga tak berani mengganggu dia. Saya pun tak mungkin bisa menghabiskan malam tahun baru bersamanya. Meski dari kejauhan.
Well, happy new year 2010...
May Allah always giving all the best things into our life....
Amin ya Robbal Alamiiin....
Jumat, 01 Januari 2010
Have You Ever?
Have you ever loved somebody so much it makes you cry
Have you ever needed something so bad you cant sleep at night
Have you ever tried to find the words but they dont come out right
Have you ever?
Have you ever been in love, been in love so bad
You'd do anything to make them understand
Have you ever had someone steal your heart away
You'd give anything to make them feel the same
Have you ever searched for words to get you in their heart
But you dont know what to say and you dont know where to start...
Tiba-tiba ingin mendengar "Have You Ever" ini....
Langganan:
Postingan (Atom)
