Selasa, 05 Januari 2010

mati rasa?


Saya merasa "mati rasa".

Saya tidak ingin bilang, saya bisa membuat banyak orang tertarik. Saya anggap, kalau ada orang yang tertarik, itu hanya complement untuk hidup saya. Bahkan, buat saya tidak penting. Sekarang. Except, untuk berteman, that's fine.

A couple days ago, dalam sebuah gathering di kantor, ada kejadian yang menurut saya malah konyol. Ketika waktunya makan usai acara, saya berkumpul dengan teman-teman satu kantor. Lalu tiba-tiba salah satu teman kantor saya memanggil a guy dari kantor lain yang satu grup dengan koran tempat saya bekerja. My friend shouting at him to come to us, dan ketika dia sudah menghampiri kami (ada banyak wartawan, mayoritas laki-laki), teman saya langsung men-skak mat dia di depan saya dengan bilang, "Hey, just introduce yourself to her! Don't just asked to me behind her!". Semua orang di dekat kami langsung tertawa dan meledek orang ini sampai pipinya memerah karena malu. Teman saya bilang, ia menanyakan saya ketika acara berlangsung. And I didn't felt anything. GR sekalipun, tidak samasekali. Saya malah kasihan melihatnya menahan malu karena diledek beruntun oleh teman-teman saya.

A couple days ago, tiga teman saya yang berteman cukup dekat dengan another guy that I've told in this blog before ( one who went to Kalimantan) kompak memanas-manasi saya dengan bilang bahwa saya tinggal menunggu orang itu melakukan "penembakan" secara lebih serius pada saya. Dan saya hanya ngakak. Nothing else. Meskipun hampir setiap pagi, siang, malam, bisa dipastikan selalu ada sms yang masuk dari orang itu. Hanya bertanya masalah-masalah ringan, berkomentar tentang status di facebook, atau mengingatkan saya untuk makan siang. He's such a kind guy, but I feel nothing.

Lalu kemarin, di chat box facebook, saya chat dengan seseorang yang sebenarnya sudah saya anggap seperti abang saya sendiri. Lalu tiba-tiba he said, "hey, I miss u". Saya pun menganggapnya biasa saja, meskipun teman-teman di sekeliling kami juga selalu "mengipas-ngipasi" dia dan saya.

Well, kemarin pula, sang kakak kelas saya, sang cinta pertama yang saya pertahankan hampir delapan tahun lamanya, pada akhirnya mau memasang foto dia di account facebook dia. Sebelumnya, dia tak mau ikut-ikutan berjejaring sosial di FB karena menurutnya Mark Zuckenberg yang punya ide membuat FB adalah seorang Yahudi (dan menurut saya itu alasan yang berlebihan). Dia bilang, akhirnya mau membuka akun di FB hanya agar bisa memantau perkembangan kehidupan saya. What a silly reason, right?
Foto dia itu foto terbaru. Saya sempat memandangi foto laki-laki lulusan UI yang sepertinya sudah betah tinggal di Jakarta itu cukup lama, dan saya baru sadar, saya sudah merasa biasa saja. Bahkan, ketika saya melihat ada komentar cewek di wall FB dia. Tak lagi secemburu dulu lagi.

Saya mati rasa kah ya Tuhan? Mati rasa atau mematikan rasa? Mematikan rasa untuk orang yang teramat sulit untuk saya rengkuh?

Well, this is about him. Again.
Kemarin, saat ia menanyakan apa yang bisa ia lakukan untuk menghilangkan sedih yang saya rasakan, saya teramat ingin bilang ke dia, "Just stay with me, here". But, if I said it, what next? Apakah ia bisa melakukannya, saat itu juga?

Kadang, saya ingin mencuri waktu dari rutinitas saya dan rutinitas dia. Terbang berpegangan tangan di dalam tubuh burung besi yang membawa kami ke manapun tempat yang ingin kami tuju. Saya ingin ada saat ia baru saja membuka matanya di pagi hari dan menahan dia untuk tetap tinggal dan tak beranjak dengan pelukan sekuat yang saya bisa.

God, I don't know exactly about this. I don't even know about Your plan to my life. I also do not know what the meaning of what I and him had for this two years. Satu hal yang saya tahu, saya merasa bahwa sekarang dia sudah berhasil membuat dirinya menjadi sedemikian berarti dalam hidup saya. Meskipun saya tak bisa menyelami dasar hati dia, tapi saya berharap dia juga selalu jujur dengan apa yang ia katakan pada saya.
Saya tak berharap apa-apa.
Saya hanya ingin dia tahu kalau saya selalu serius ketika saya berkata bahwa I miss him so much, 'til my tears gone dry.