Minggu, 17 Januari 2010

euforia cinta lama?


Akhir pekan ini serasa berbeda.

Sabtu pagi, saya pulang ke kampung halaman. Bukan karena dia juga kebetulan sedang mengambil cuti juga. Ya, kakak kelas saya waktu SMA. Sang cinta pertama saya.

Sehari sebelumnya kami memang sms-an. Jumat pagi dia sampai di kota kami, lalu Sabtu siang giliran saya yang tiba. Sabtu sore, saat saya masih "meluruskan" punggung yang lumayan capek setelah menempuh jarak lebih dari 60 kilometer di atas supra fit berkecepatan rata-rata 80-90 km/jam, tiba-tiba dia bilang sedang berkeliling kota tak tentu arah. Dia bilang ingin mengajak saya makan. Akhirnya setelah berargumen panjang, "eyel-eyelan" seperti biasa, akhirnya saya mau juga keluar rumah.

Well, u know, kami sudah tak bertemu sekitar enam tahun, lebih bahkan. What a long time, right?
Terakhir, dia menjemput saya ketika saya pulang KKN, di depan UC UGM. Oh no, sepertinya setelah itu dia sempat menemani saya belajar pagi-pagi sebelum ujian di ruang baca UPT II Perpustakaan UGM yang di lantai 4 itu. Waktu itu, dia sedang cuti dari studi di FE UI dan sedang menyelesaikan studi D3 di FE UGM. But it still a really long time, right?

Tak ada yang berubah sepertinya, setelah dia bekerja. Tapi it was so hard for me to keep calm ketika sesekali dia menoleh ke arah saya ketika dia menyetir mobilnya. U know, I ever felt such a big feeling to this guy. Banyak hal kami bicarakan, selama di perjalanan, waktu kami berhenti makan, sampai pulang. Ngobrol, ketawa-tawa, meski sesekali ketika saya sedang intens mengamati makanan saya, dia yang sepertinya intens mengamati saya... (haha...)

Dia bilang kami ngedate, dia bilang itu "dating moment" karena kami hanya berdua. Dia juga bilang, waktunya terlalu sempit, jadi semuanya terburu-buru. Setelah sore itu, kami jadi intens berkomunikasi lagi. Sangat-sangat intens bahkan.

Well, I do have to ask myself. And unfortunately, I couldn't found the answer of it. Saya tidak yakin dengan apa yang saya rasa. Meskipun sampai detik ini saya juga masih teringat tatapan mata dia yang masih sama, dan bau parfum dia yang masih sama. Apa mungkin saya terkena euforia karena kami bertemu setelah sekian lama terpisah?

Saya jadi merasa membagi rasa. Mulai membagi rasa.

Hmm... soal dia, another guy. My man. Terakhir dia menelepon, Kamis malam. Setelah itu, dia seperti tertimbuni oleh segala kesibukan dia. Dan saya harus mengerti, tak perlu lagi merajuk.

Saya kembali ke Jogja lagi, tadi pagi. Malam ini, giliran saya piket lagi di kantor. Di luar hujan, memang sudah tak sederas tadi. Sudah hampir jam sembilan malam pula, sudah hampir selesai waktu piketnya.
Pulang ke kost, semoga bisa tidur lelap.