Senin, 11 Januari 2010

on the night like this

On the night like this
There's so many things I want to tell you
On the night like this
There's so many things I want to show you
Cause when you're around, I feel safe and warm
When you are around, I can fall in love every day
In the case like this, there are a thousand good reasons I want you to stay...
("On The Night Like This"-Mocca)


Di luar hujan, dan saya masih di kantor. Di meja, ada sebotol nu green tea dan good time serta trenz yang sejak tadi saya makan bareng-bareng temen kantor. Malam ini jadwal piket saya, sampai jam 9 malam. Meski baru sampai Jogja tadi pagi dan masih agak lelah, tak ada alasan untuk tak piket. Toh, masih banyak teman-teman dan redaktur yang tertahan di kantor karena masih hujan deras di luar. Meski saya jadi the only girl here.

Saya senang bisa menghabiskan waktu dengan dia kemarin. Sabtu sore, sesaat setelah saya sampai di rumah, dia menelepon saya. Esok paginya, kemarin, kami menghabiskan sekitar satu jam lagi di gagang telepon. Everything is fine. He is fine. And I am fine. We are fine.

Saya tak tahu apa yang membuat dia sedemikian berartinya bagi saya sekarang, setelah dua tahun lalu. Saya pun tak bisa menjawab ketika kemarin dia menanyakan itu, menanyakan kenapa saya tak memilih any other guys di sekeliling saya.
Saya hanya bilang, marriage is not the first priority in my life. Meski tentu saya ingin, tapi entah kapan.

Getting married is not as simple as other people think. Setidaknya bagi saya. Bukan ingin takabur, tapi saya bilang, if I want, saya mungkin sudah menikah sejak beberapa tahun lalu. Saya hanya sungguh-sungguh tidak ingin saya menyesali keberadaan orang yang sudah saya nikahi suatu saat. Jadi, saya hanya menunggu sampai Allah membukakan hati dan mata saya ketika saya bertemu dengan seseorang yang telah Ia siapkan, dan saya yakin he is the one.

Well, tak mungkin juga kan, ketika dia bertanya tentang hal itu, lalu saya bilang "I wanna live my life with you"?? Meski kadang saya memikirkan hal itu.

Fiiuuuh...masih deras di luar. Setengah jam lagi sudah jam sembilan malam. Teman-teman juga sedang ngopi di luar, saya memilih blogging dan fesbukan di dalam kantor dengan beberapa teman lain di antara dinginnya dua air conditioner besar tepat di belakang saya.

Gosh, I miss him, still.
Tolong jaga dia, jauhkan dia dari segala marabahaya dan segala rasa sakit. Saya memohonkan kesehatan, keselamatan, dan umur panjang, seperti saya mendoakan ibu saya.