
Foto ini diambil saat hari terakhir pelatihan di Harian Pikiran Rakyat (PR) Bandung, September 2005. Di depan ruang redaksi di Jalan Soekarno-Hatta 147, Bandung.
Gosh...lebih dari empat tahun lalu...beberapa bulan setelah saya wisuda. Lihatlah, saya masih so much langsing...haha. Mungkin berat badan saya waktu itu hanya 48 atau 49 kilo.
Dari kiri ke kanan, Iman (saya lupa alumnus mana, tapi dia gagal seleksi usai pelatihan), saya (satu-satunya dari UGM), Lina (alumnus Komunikasi UNPAD, wartawan PR dan masih menjadi sahabat karib saya sampai sekarang), Pak...(ya Allah, saya lupa saha ie teh namina...orang bagian HRD PR pokoknya), pak TD Asmadi (wartawan super-duper baik dari Kompas yang masih jadi mentor saya sampai sekarang. Seharusnya ada mentor satu lagi dari NewYork Times, pak Syahrir Wahab, tapi di foto ini tidak ada....), lalu di belakang itu ada Didit (anak Unpad yang sering saya panggil Ulet Bulu, dia juga gak lolos seleksi), Arie (anak Unpad juga), lalu Obet alias Robert (alumnus Sastra Inggris Sanata Dharma yang sampai sekarang juga jadi sahabat karib saya, dia di Kompas Online, Jakarta), Ririn (alumnus IPB, tidak terlalu akrab), Kak Veber (Unpad juga, karib juga), Kak Roby (fotografer mana entah dia sekarang), lalu dua cewek itu lupa saya namanya, dan di ujung ada gadis berjilbab salah satu sahabat saya yang bulan ini akan menikah, Feby (Sastra Rusia Unpad, wtwn PR, khusus stand by di KPK).
Well, ada beberapa teman yang saat itu sedang makan siang atau sholat, jadi tidak bisa ikut berfoto. Entah kenapa tiba-tiba saya rindu masa-masa itu.
Dari Soekarno-Hatta 147 Bandung itu semua berawal, sampai saya jatuh cinta dengan dunia yang sekarang saya geluti.
Kalau dipikir, it was so amazing, saya bisa lolos dari -- konon lebih dari 1.000 pelamar-- sampai saya masuk ke camp pelatihan PR yang hanya diikuti oleh sekitar 21 orang. What a long selection it was. Mulai dari wawancara awal, tes tertulis pengetahuan umum, tes tertulis kemampuan bahasa, wawancara bahasa Inggris dengan seorang profesor tua di UPI (saya inget banget, saya diberi beberapa pilihan gambar karikatur dan harus menjelaskannya kepada si profesor itu), lalu tes TOEFL, tes kesehatan, dan psiko tes. U know, saya bertemu dengan banyak alumnus UGM sejak awal seleksi. Jurusan mereka? Well, banyak dari berbagai jurusan yang lebih "wah" dibanding jurusan saya. Ada yang dari HI, Komunikasi, bahkan Teknik apa gitu... Jadi, wajar kalau saya merasa Tuhan menyayangi saya saat itu...
Meski akhirnya gagal. Tapi saya sungguh bersyukur. Bisa masuk ke pelatihan, mendapat banyak pengalaman, dan juga sahabat-sahabat baik.
Kalau tidak ke sana, kapan saya bisa merasakan liputan di Pasar Andir yang super jorok dan becek (entah, sekarang jadi digusur atau tidak), atau masuk ke kamar jenazah RS Hasan Sadikin, atau malam-malam ke Lapangan Gazibu dan pulangnya nyasar salah naik angkot. Jam 12 malam, nyasar ke Terminal Cicaheum, padahal seharusnya pulang ke rumah budhe saya di kompleks TNI yang hanya beberapa meter dari BSM. Meski di lokasi rame-rame bareng teman-teman, tapi pulangnya semua sendiri.
Well, waktu di Bandung memang saya benar-benar mencoba mandiri. Itu pelajaran lain yang saya petik. Meski sudah lama kost di Jogja selama kuliah, saya jarang pergi sendirian. Di sana, saya belajar kemana-mana tanpa ditemani. Sampai sekarang, saya sudah terbiasa.
Semua hal yang terjadi dalam hidup kita memang selalu membawa banyak pelajaran. Itu yang saya percayai. Saya sempat kecewa karena saya gagal menjadi wartawan di PR, tapi toh banyak hal yang sudah saya dapatkan di sana.
hi novitapurna,...
BalasHapuskami di fgroupindonesia.com
juga menawarkan beberapa
pelatihan kursus komputer,
klo perlu bisa dikontak dan request in house training...
group / personal training boleh.
dan terakhir
untuk kawan2 pecinta bahasa bisa
juga gabung dan melatih kemahiran bahasa inggrisnya di
sesi komunitas ,... gratis koq. nih check lgsung
ke tkp ya....
fgroupindonesia.com