Kamis, 26 November 2009

di antara takbir


Kita tidak bisa meminta kepada matahari, "Tambahkan sinarmu"
Kita juga tidak bisa meminta kepada hujan, "Kurangi air hujanmu"
(disadur bebas dari "Memoirs of A Geisha")


Ruas jalan Gejayan yang baru saya lewati sekitar pukul 10 malam ini terasa agak lengang. Sisa hujan dan gema takbir sepanjang jalan membuat saya semakin sok melankolis.

Malam takbiran Idul Adha kali ini saya tidak di rumah, masih di Jogja. Bergelut dengan tulisan-tulisan yang masih harus saya kerjakan. Kepanikan tadi sore masih berbekas hingga sekarang. Hujan deras, sudah hampir pukul empat sore, tulisan belum selesai, lalu lapar (saya sedang tidak berpuasa) membuat saya berinisiatif menelepon Pizza Hut Sudirman. Alhasil, pesta kecil-- yang saya sebut "pre birthday and farewell party" dengan beberapa teman--yang seumuran dengan saya-- di humas salah satu perguruan tinggi.

Hari ini saya menatap matanya yang berada tak lebih dari satu meter di depan saya. Tanpa rencana.

Tapi setelah itu, saya malah meratap (well, sepertinya saya mulai agak berlebihan. "Meratap"? Sounds too much, seperti bahasa di novel-novel picisan)....

"I like to be silent, bcz every single word I said be always wrong," kata dia.

Gosh, saya benar-benar tidak tahu harus berkata apa lagi. Karena apapun yang saya bilang samasekali tidak ia respon. Saya bukan cemburu. Samasekali bukan itu. Saya hanya teramat ingin tahu apa yang ia rasakan setelah apa yang terjadi hari ini. Sometimes, saya ingin tahu, karena saya tidak selalu bisa menerka-- apalagi membaca-- pikiran pria. Apalagi pria seperti dia.

U know, I cried so bad when I write this.

Saya benci situasi seperti ini!

Bali, Lombok, Jakarta, Semarang, Magelang, Australia, Amerika, Jepang, Papua Nugini, atau bhkan Antartik tidak saya inginkan. Saya tidak ingin pergi ke pulau manapun, negara manapun, provinsi manapun, benua manapun, bahkan kampung manapun! Saya hanya inginkan ada di dalam dia. Saya hanya ingin ada di dalam dunia yang kami buat. Dan mewujudkannya suatu saat. No matter what, no matter when, no matter where!

I cried after I met him.
It just so silly.
But I do cried.

I saw his face today
I looked at his eyes today.
I even stared at his chin today.
And I cried so bad coz he didn't say anything.
What kind of "happy" which he mean?

Saya memang tidak bisa meminta agar hujan berhenti turun. Saya juga memang tak bisa meminta agar matahari terus menebar sinar menyengat agar sekalian saja membakar saya. Saya hanya bisa menerima. Menikmati. Kadang juga tersakiti.
(entah apa maksud kata-kata saya ini, ini analogi yang tidak fokus, abaikan saja!)

Well, semoga saya bisa tidur nyenyak malam ini. Lalu bangun sebelum Subuh dan memacu motor saya setelah Subuh. Semoga tidak hujan. Semoga tidak dingin. Semoga lancar.

Saya masih "mencintai" dia, Tuhan. Meski saya tidak tahu apa yang ada di benak dia sekarang. Meski saya tidak tahu apa yang dia pikirkan sekarang. Meski saya tidak tahu dimana ia menyimpan saya sekarang.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar