sometimes we should say what we think, what we feel, and what we want....
Selasa, 17 November 2009
Leaving him. Physically.
I know, it just a process.
Pikiran Rakyat-Bernas-KR BISNIS-Koran Merapi? My senior told me that it's just a normal process of life. Saya harus menghormati sekaligus berterima kasih karena beliau-beliau masih meminta saya bertahan, meski dengan nama dan tugas yang berbeda. Bahkan desk yang benar-benar baru buat saya.
Sepanjang tiga setengah tahun saya menjadi jurnalis, saya baru berganti desk beberapa kali. Bantul (Pemkab dan DPRD hingga grass root dan berbagai bidang lainnya), lalu ke desk ekonomi-bisnis (ekonomi, moneter, otomotif, telekomunikasi), lalu ke desk pendidikan (plus halaman remaja) yang mau tidak mau menjadi desk yang mematangkan saya. Pindah media, saya tetap di desk pendidikan, sambil sesekali membantu menulis bisnis properti, gaya hidup, dan kesehatan. Sekarang, saya sudah diplot di desk pemerintahan, khususnya di Pemkab Sleman.
Saya kalut semalaman. I even cried. Cried so hard, but nobody knew. Saya keluar kamar untuk mengambil minuman dingin di kulkas kos, dan salah satu teman bertanya "Pilek juga mbak?". Sambil menutup kulkas, saya bilang "iya" sambil berlalu, menghindari pertanyaan lanjutan.
Saya kira saya bisa bercerita tentang ini kepada dia. Seseorang yang belakangan ini menjadi semakin teramat penting dalam hidup saya. Saya hanya ingin bercerita dari kejauhan. Saya tak meminta dia datang. Saya bahkan tak meminta dia melakukan apapun untuk menyenangkan hati saya. Saya hanya ingin dia meluangkan waktu dan telinga dia, atau bahkan sekedar jari-jemari dia untuk mengetik sms, untuk menghalau kekalutan saya.
Saya takut. Tidak siap. Now, I don't even have many times to meet him. And how about next month? Next year? I do afraid to leave him more far away. Physically. I mean, I will more rarely see him. Directly. Face to face. Being in the same place and breathing with the same air.
Maybe it was too much. Mungkin berlebihan. Tapi saya benar-benar kalut. Lalu, tiga sms dari dia semalam semakin menambah kekalutan itu. Lebih tepatnya, kesedihan itu.
Felt so ignored. Rejected.
I don't know whether he mean to act like that, or I just too much sensitive....
U know, I just wanna made him knew that I do need him. No more. I asked nothing. I just miss his sweet expressions like what he always did or said before. And I've lost it since three days ago.
Saya tak ingin bersikap egois. Tak pernah ingin. Tapi terkadang saya ingin meminta dia ada. Meskipun memang akhirnya saya yang harus selalu mengerti hidup dia yang bukan lagi milik dia sendiri. Bahkan, 24 jam pun mungkin sebenarnya tak akan cukup ia bagi untuk berderet hal yang harus ia kerjakan.
Dua minggu lagi usia saya akan bertambah dalam tulisan angka, tapi berkurang dalam catatan hidup saya yang dipegang Tuhan. Saya masih berharap akan banyak hal membahagiakan terjadi.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar