sometimes we should say what we think, what we feel, and what we want....
Kamis, 24 Desember 2009
Merasa Aneh
SAYA tidak tahu, siapa yang akan saya ceritakan sekarang. Banyak hal terjadi dalam beberapa hari ini, dan banyak hal yang saya rasakan dari kejadian-kejadian itu.
Hari ini, sehari menjelang Natal. Kost sudah mulai sepi, sebagian penghuni di 19 kamar di lantai 1 dan lantai 2 sudah berpindah tempat di rumah masing-masing karena libur cukup panjang. Saya, masih berkutat dengan pekerjaan, dan pikiran.
Tanggal 27, ada ajakan reuni kecil teman-teman SMA di rumah teman. Tapi tanggal itu, salah satu teman seperjuangan di Pikiran Rakyat yang sekarang bekerja di Kompas.com bilang kalau dia akan datang dari Jakarta-- datang, atau entah hanya singgah di Jogja. Lama tak bertemu, dan saya pun ingin menyerahkan setumpuk koleksi foto hasil jepretan dia yang masih saya simpan. Tapi saya juga ingin berkumpul dengan teman-teman "gila" saya waktu SMA yang sudah bertebaran di berbagai daerah. Entahlah, saya akan putuskan nanti.
U know, sehari ini saya juga sibuk membantu dua mantan anak kost yang entah kenapa menelepon saya dalam waktu yang hampir bersamaan. Salah satunya, temen kost yang kini sudah kembali ke Riau. Dia minta bantuan saya membelikan kue untuk seorang laki-laki pujaan hatinya (well, bahasa saya mulai berlebihan sepertinya :D ). Teman saya satu ini memakai jilbab, dan laki-laki itu berbeda keyakinan. So, tidak ada yang bisa diperjuangkan kan? So, dia meminta saya membelikan kue itu hanya untuk menjaga silaturahmi. Kue natal itu pun saya belikan, dan orang itu mengambilnya ke kost tadi pagi. Kedua, teman yang sudah kembali ke Jakarta. Berbeda urusan dengan kue, dia minta tolong saya membooking kamar hotel karena dia akan datang ke Jogja besok pagi. Well, bukan urusan yang gampang untuk mencari kamar hotel yang kosong di long weekend seperti ini, mendadak pula. Tapi demi teman, apa yang bisa saya lakukan ya saya usahakan.
Hari ini pun saya merasa aneh dengan diri saya sendiri.
Ada seseorang yang hari ini terbang ke Kalimantan, dan entah kenapa saya merasa sedikit ada rasa kehilangan di dalam hati saya. Well, saya agak menyesal kadang secara tidak sadar sudah bersikap tak enak atau bahkan semi-jahat pada dia.
Setelah tahu dia akan pergi-- entah untuk satu bulan atau satu tahun, saya belum tahu--, saya baru berpikir bahwa orang ini memang baik, dan saya yang seringkali sangat teramat jahat. Saya jadi berpikir, kenapa dia mau datang ke parkiran kantor saya hanya untuk mengantar dua botol minuman dingin dan makanan kecil? Kenapa juga dia langsung mau membelikan martabak Kotabaru ketika saya sakit dan bilang pengen makan itu (meskipun akhirnya saya membatalkan keinginan saya itu dan malah dia yang kecewa karena saya tidak jadi ingin makan martabak manis itu)?
But hey, I feel nothing. He's just one of my friends. Meski mungkin hati saya belum bisa terketuk, tapi saya tetap merasa kehilangan ketika tahu dia pindah.
Well, paling tidak, sebelum dia terbang tadi, saya sudah membuat dia merasa agak senang karena dia sepertinya tahu kalau saya sedih. He said, "Gapapa gak nganter, cukup tunggu di Jogja".
Saya hanya ngikik, sembari teringat waktu ulangtahun saya kemarin dia-- sambil setengah bercanda-- bilang ingin memberi kado cincin, atau saat dia setengah memaksa mengantar saya pulang ke my hometown. Kadang konyol, karena dia tahu saya belum ada berpikir untuk mengikatkan diri pada siapapun, dan dia malah memaksakan mendekat pada saya.
Tuhan...saya semakin merasa aneh pada diri saya sendiri.
Selasa malam lalu, saya akhirnya punya waktu untuk pergi ke XXI, demi menonton "Sang Pemimpi". Sudah ada teman yang menjadi "event organizer" yang rela repot memesankan tiket sejak pagi dan bisa mendapat tiket di deretan kursi B, yang notabene barisan kursi favorit dan paling nyaman menurut saya, karena berada di barisan kedua dari atas. Saya menonton berenam, tiga laki-laki dan tiga perempuan termasuk saya. Meski tak ingin menceritakan film itu, but "Sang Pemimpi" jelas sebuah film yang menginspirasi dan tak akan saya lewatkan. Saya pun dibuat sesenggukan karena beberapa scene yang sangat menyentuh.
Usai nonton, kami beranjak ke sebuah tempat makan di kawasan Seturan. Kawasan yang ramai dan padat dengan deretan bisnis kuliner dan hang-out spot. Makan, apa lagi?
Tak ada yang saya anggap istimewa dari mereka, tapi teman-teman saya menganggap dan sepertinya mengarahkan saya untuk menganggap salah satu dari laki-laki 20 tahunan itu sebagai seseorang yang spesial. Hanya dengan melihat bahwa dia rela jauh-jauh dan terburu-buru datang dari luar kota-- tempat dia bertugas-- untuk ikut ke XXI. I don't think so, I mean...saya bilang ke salah satu teman, itu karena dia memang pengen nonton "Sang Pemimpi", bukan karena saya! Meski mereka juga tidak tahu, dulu betapa kagetnya saya ketika dia datang malam-malam hanya untuk memberi saya dua box es krim sebagai permohonan maaf. Tapi saya menepis itu, saya tidak pernah berpikir saya spesial.
Tuhan, saya tidak menganggap dia atau yang lain istimewa. Mungkin belum bisa. Saya juga tidak ingin menganggap diri saya istimewa bagi mereka. Biasa saja.
Hmmm....
Semalam, saya mampir ke Gramedia sepulang dari kantor. Menemukan sesuatu untuk DIA. Lalu semalaman saya menggunting dan melipat, membuat pembungkus. Saya berharap bisa bertemu dan memberikan itu kepadanya sebelum tahun berganti. Ya, this is about him. My man.
Saya masih memikirkannya. Memikirkan bahwa dia sedang tidak dalam kondisi baik. Memikirkan bahwa kami juga sedang tidak dalam kondisi hubungan yang baik. Tapi pesan teramat singkat dari dia kemarin malam membuat saya merasa bahwa seharusnya memang saya harus kuat untuk berangsur mundur.
Saya hanya berpikir, kami bisa melewati waktu dua kali 365 hari karena kami percaya untuk saling menjaga. Saya tidak yakin dia tidak tahu how much I'm missing him now...and how hurt it is to be away from him.
Hhhh...awal tahun 2010 akan menjadi awal baru dalam hidup saya. Meski saya tak punya resolusi yang jelas tentang kehidupan pribadi saya, tapi saya jelas-dan-harus menjalani babak baru dalam pekerjaan saya. May Allah always gives the best thing into my life. Amin.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar