Hari saya berangkat ke kantor jam delapan pagi. Sangat pagi untuk ukuran seorang wartawan yang biasa merapat ke kantor siang atau bahkan sore hari. Ada rapat redaksi untuk koordinasi liputan tahun baru. Tapi berhubung masih ada beberapa reporter yang belum datang, terpaksa rapat belum dimulai sampai jam 08.30.
Semalam, saya menginap di rumah salah satu teman di salah satu perumahan di daerah Maguwoharjo. Sepulang dari kantor, saya memarkir motor di kos, dan mereka menjemput saya di ujung gang. Mampir sejenak di Shilla, resto makanan Jepang yang lumayan enak tapi sangat lumayan membuat kantong cepat kering. Lalu meluncur ke Maguwo.
Salah satu mantan anak kost, senior, jauh lebih berumur dibandingkan saya. Kebetulan ada mbak kos lain yang bekerja di Statoil (perusahaan minyak Norwegia) Jakarta yang liburan ke Jogja. Alhasil, reuni bertiga di sana. Tertawa-tawa sampai dini hari, lalu bangun pagi-pagi, makan garlic bread favorit saya yang khusus dibuat pagi tadi sambil menunggu driver si mbak itu, lalu mereka mengedrop saya sampai di ruas jalan Herman Yohanes. Tidak ingin merepotkan, saya memilih jalan kaki dari gang ke kost saya.
I was thinking about what had happened, a whole nite. Sampai jam dua pagi saya tak bisa lelap, mata saya paksa terpejam tapi tak pernah benar-benar lelap.
I miss him. Still.
And today, when I asked him if I am still special, he only said," I do hope".
So, what I can expect?
Dia selalu nampak menarik-ulur apapun yang dia katakan.