Rabu, 02 Desember 2009

Malam-Malam yang Menyesakkan


Well, akhirnya saya memutuskan untuk menulis, lagi.

Hari ini, -- dengan sangat terpaksa-- saya akhirnya bertanya. Pertanyaan itu memang ia jawab, dan ada sisipan ucapan ulang tahun untuk saya.

Saya memang tahu dia baik-baik saja. Baik-baik untuk dirinya, entah kepada saya. Pesan saya pagi tadi pun bukan ingin memaksa dia untuk memberi ucapan ulang tahun. Toh, pada akhirnya ucapan itu hanya terkesan dipaksakan dan hanya lewat begitu saja.

Sebenarnya saya enggan terus bertanya. Seolah saya ingin memburu dia hingga ujung dunia. Tapi saya benci dengan ketidakjelasan. Well, meski apa yang saya jalani ini juga tidak jelas samasekali, tapi saya tidak pernah menyukai ketidakjelasan dalam ketidakjelasan seperti ini.

U know, saya sudah tidak bisa menangis. Lelah. Terlebih-lebih, sangat menggelikan kalau sampai ada orang yang tahu masalah apa yang saya tangisi.

Saya ingin dia menjelaskan. Tentang apapun yang membuat dia seperti ini. Bukan sekali ini saya merasa seperti ini, tapi kali ini saya sudah merasa tak akan bisa berkata apapun kepada dia. Saya menyakiti diri saya sendiri jika terus berusaha menanyakannya.

For God's sake, honestly, I couldn't stop thinking about this. About him. Meski saya sudah tidak bisa lagi menangis, tapi malam-malam saya belakangan ini menjadi waktu yang teramat meresahkan, menyesakkan, dan menyiksa. Dan saya tak bisa bertanya pada dia.

Percuma saja saya bilang saya masih menyimpan dia, karena mungkin dia sudah membuang saya. Jauh-jauh.

Gosh, should I pass this bitter end?

Saya tahu, saya salah. Saya tak boleh terlalu meminta. Saya tak boleh terlalu merasa memiliki dia.
But now, whatever he think about me, I do miss him. For God's sake!