sometimes we should say what we think, what we feel, and what we want....
Sabtu, 05 Desember 2009
Kalut
Friday, 4th of Dec 2009
(almost midnite)
Sang Maha Mengetahui, entah apakah saya pantas mengadu pada-Mu atau tidak. Tapi malam ini saya benar-benar merasa kembali hancur. Kepingan yang sempat hancur lalu saya susun kembali, sekarang kembali hancur. Sakit. Sangat sakit. Sakit sekali.
Saya tahu, apa yang saya pilih untuk saya jalani ini memang akan lebih sering menyakitkan hati saya. Tapi selama lebih dari duapuluh empat kali bulan berputar, saya toh bisa.
Sejak pulang sebelum Maghrib hingga selepas Isya ini saya mengunci pintu dan jendela kamar. Saya sibuk dengan pikiran saya sendiri. Menumpahkan apa yang seharusnya tidak lagi saya tumpahkan. Tapi saya sudah tidak kuat menahannya. Dada saya tak terlalu kuat untuk bisa menahan sedih yang ia ciptakan pada hati saya. Meskipun tak ada alasan yang sangat kuat bagi saya, tapi kali ini saya merasa sangat-sangat hancur (lagi).
Terkadang ingin menyesali mengapa ada awal yang saya ikuti, hingga saya sampai di jalan ini. Tapi sungguh saya sebenar-benarnya tak pernah ingin menyesali apa yang telah saya pilih. Saya memilih menjalani sesuatu yang samasekali tak pasti, dibanding memilih menjalani hidup dengan berbagai hal yang pasti. Karena memang hal-hal pasti itu tak saya inginkan.
And I don't even know why he did this to me, again.
He ever took me out of the blue, but now he makes me drowning again into the blue.
I do, so much drowning into the blue. Saya benar-benar merasa ini adalah salah satu puncak kesedihan saya selama saya mengenalnya.
Saya harus menyalahkan siapa? Gosh, please tell me! I don't even know how should I handle my tears now. Saya juga tak tahu harus bercerita tentang kekalutan saya pada siapa. Karena tidak akan mudah untuk bercerita.
Kenapa semua ini harus ada dalam alur hidup saya? Kalau hanya untuk menjadi salah satu cerita yang diharapkan akan mendewasakan saya, allright...saya dewasa karena semua ini, dewasa karena segala kerumitan ini, dewasa karena rasa sakit ini.
Ketika saya membuka katup hati saya saat itu, saya bukan tidak menyadari tentang semua kerumitan yang akan saya rasakan dari perguliran udara yang akan melewati katup hati saya itu.
Sekarang, selunglai apapun saya, sebenarnya saya tak ingin meminta-minta. Tapi saya juga tak tahu harus berbuat atau berkata apa. Dia pun terlalu jauh untuk bisa mendengar isak saya, untuk menyeka derai dari mata saya, atau untuk meminta saya berhenti dari segala kekelaman yang saya rasakan malam ini!
I don't even wanna say goodbye to him. I don't even wanna destroy a world which we have ever built. I also never wanna forget everything, about us.
Memang tak ada, tak akan ada yang saya perjuangkan. Saya menjalani dan memiliki dengan cara saya. Tanpa merenggut apapun dan siapapun. Semua tentang itu pun sudah berulangkali menjadi bahan percakapan saya dan dia selama beratus hari yang telah berlalu. Then what?
Mungkin saya harus membaca pikirannya untuk mencari jawaban atas segala kesedihan yang kembali ia kirimkan pada hati saya. But how could it be?
I'm still 100 percent in my consciusness, that I shouldn't push to be the most important part of his life. Of course I do! Saya masih sadar, sesadar-sadarnya. Ketika terkadang ada rasa tak karuan karena semburat keposesifan atau kecemburuan, bukan berarti saya akan langsung berteriak-teriak lalu menghambur dan memeluk dia sekuat mungkin. Terkadang, rasa seperti itu hanya perlu saya ucapkan, hanya agar dia tahu.
It felt so hurt when we're been ignored by someone who's so important in your life, someone whom you always spent your time with, someone who ever changed the rain drops became the sunlight in your days, someone whom you always wanna talk to when you went to sleep and woke-up in the morning....
You can feel how hurt it was when that important person choose to go away from you.
It's killing me.
It's really killing me with the worst and the most painful way.