I don't have to tell you what it's like
Day's with out you by my side
They run together
Like stormy weather
In the Summertime
And I don't have to tell you how it feels
To wake up in the night without you here
So wrap your arms around me
Show you how you miss me
Say you know how I feel
Stay a little longer
Move a little closer
Stay until you forget to leave
Don't think my heart could take it
Every time you go and break it
The thought of losing you means losing me
When goodbye is too hard to say...
Stay....
("Stay"-Bellefire)
Mungkin jika ditampung dalam galon air mineral di atas dispenser di kamar saya, air yang terus-menerus mengucur dari mata saya hari ini bisa membuat galon itu penuh kembali.
I feel empty. So much empty.
I feel hurt. So much hurt.
I feel dark. So much dark.
Saya merasa menjadi Isabella Swan yang terus-menerus, berbulan-bulan, menangis, melamun, dan berteriak-teriak di saat tidur setelah ia harus berpisah dengan Edward Cullen, orang yang selama ini membuatnya "hidup". Saya menonton film "New Moon" itu dua hari yang lalu, dan saat itu saya terisak di dalam bioskop XXI. Tak pernah tahu, bahwa saya akan merasakan sakit sesakit-sakitnya seperti yang dirasakan tokoh Bella Swan. Dia mencintai Edward dengan segala kekurangannya. Dia mencintai Edward meskipun dia tahu Edward adalah seorang vampire dan mereka tak mungkin bisa hidup bersama. Kecuali Bella rela berubah menjadi vampire. Lalu muncul tokoh Jacob Black yang bisa mengisi lubang di hati Bella, tapi pada akhirnya Bella juga tetap memilih Edward.
Well, enough. Enough about that movie. Coz finally, they met again, they love each other again. Not like my dark story.
Saya tak ingin berpura-pura saya kuat. Saya tak ingin bersikap seolah saya siap dan berkata pada dia, "Fine, I don't wanna see you anymore. No more calls, no more messages,". Karena saya memang samasekali tidak kuat.
I do really wanna hug him tonite, and say that I do need him, and let him see my tears.
Dia bilang, saya harus rasional, bukan emosional. Then what I should do and what I can do beside crying? Untuk kembali berbicara heart to heart as usual dengan dia pun sepertinya sudah sangat sulit. Sepertinya semua sudah tertutup. There's no connecting door between us, anymore. There's no open way for me to talk to him, anymore.
Saya teramat kalut.
I said, just kill me before he leave. So that I don't have to feel this terrible pain.
Saya tak berlebihan, karena saya tak menemukan kata lain untuk menggambarkan sakit yang saya rasakan sekarang ini. Seperti dihujam puluhan anak panah dan tidak langsung terkapar mati, tapi sekarat dengan sakit yang tak tertahankan tapi tak bisa terucapkan.
He is the most extraordinary part of my life.
Dia mendobrak segala idealisme saya tentang sebuah keterkaitan perasaan. Dia bahkan membuat saya menutup mata terhadap hal lain di sekitar saya. He made me learn that love (I don't know should I called it as "love"?) is borderless. Saya bahkan ia buat menjadi tak pernah bisa membandingkan dirinya dengan orang lain.
He had brought me to a world that I have never saw before. And I do love that world.
And now, he wanna destroy that world. A world which he built for me. A world that made me understand that sometimes love is just in the air, inside our heart, inside our mind, without any intention to make it as our own.
Saya tak tahu bagaimana cara untuk membuat dia memahami apa yang saya ungkapkan.
Saya tak tahu lagi bagaimana cara untuk membuat dia mengerti apa yang saya rasakan setelah apa yang ia perbuat.
Saya bahkan tak tahu lagi bagaimana cara untuk membuat dia merasakan bahwa saya masih sangat membutuhkan dia.
I feel empty. So much empty.
I feel hurt. So much hurt.
I feel dark. So much dark.
Saya merasa menjadi Isabella Swan yang terus-menerus, berbulan-bulan, menangis, melamun, dan berteriak-teriak di saat tidur setelah ia harus berpisah dengan Edward Cullen, orang yang selama ini membuatnya "hidup". Saya menonton film "New Moon" itu dua hari yang lalu, dan saat itu saya terisak di dalam bioskop XXI. Tak pernah tahu, bahwa saya akan merasakan sakit sesakit-sakitnya seperti yang dirasakan tokoh Bella Swan. Dia mencintai Edward dengan segala kekurangannya. Dia mencintai Edward meskipun dia tahu Edward adalah seorang vampire dan mereka tak mungkin bisa hidup bersama. Kecuali Bella rela berubah menjadi vampire. Lalu muncul tokoh Jacob Black yang bisa mengisi lubang di hati Bella, tapi pada akhirnya Bella juga tetap memilih Edward.
Well, enough. Enough about that movie. Coz finally, they met again, they love each other again. Not like my dark story.
Saya tak ingin berpura-pura saya kuat. Saya tak ingin bersikap seolah saya siap dan berkata pada dia, "Fine, I don't wanna see you anymore. No more calls, no more messages,". Karena saya memang samasekali tidak kuat.
I do really wanna hug him tonite, and say that I do need him, and let him see my tears.
Dia bilang, saya harus rasional, bukan emosional. Then what I should do and what I can do beside crying? Untuk kembali berbicara heart to heart as usual dengan dia pun sepertinya sudah sangat sulit. Sepertinya semua sudah tertutup. There's no connecting door between us, anymore. There's no open way for me to talk to him, anymore.
Saya teramat kalut.
I said, just kill me before he leave. So that I don't have to feel this terrible pain.
Saya tak berlebihan, karena saya tak menemukan kata lain untuk menggambarkan sakit yang saya rasakan sekarang ini. Seperti dihujam puluhan anak panah dan tidak langsung terkapar mati, tapi sekarat dengan sakit yang tak tertahankan tapi tak bisa terucapkan.
He is the most extraordinary part of my life.
Dia mendobrak segala idealisme saya tentang sebuah keterkaitan perasaan. Dia bahkan membuat saya menutup mata terhadap hal lain di sekitar saya. He made me learn that love (I don't know should I called it as "love"?) is borderless. Saya bahkan ia buat menjadi tak pernah bisa membandingkan dirinya dengan orang lain.
He had brought me to a world that I have never saw before. And I do love that world.
And now, he wanna destroy that world. A world which he built for me. A world that made me understand that sometimes love is just in the air, inside our heart, inside our mind, without any intention to make it as our own.
Saya tak tahu bagaimana cara untuk membuat dia memahami apa yang saya ungkapkan.
Saya tak tahu lagi bagaimana cara untuk membuat dia mengerti apa yang saya rasakan setelah apa yang ia perbuat.
Saya bahkan tak tahu lagi bagaimana cara untuk membuat dia merasakan bahwa saya masih sangat membutuhkan dia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar