Minggu (22/3) siang, sepertinya saya sudah berdoa sebelum meluncur ke kantor dengan motor saya. Tapi, entah kenapa, sial masih menghampiri saya hari itu.
Keluar dari kost, lalu meluncur dengan kecepatan lumayan tinggi di ruas jalan Cik Di Tiro, berbelok ke jalan di antara SMA 6 dan SMP 8, di depan deretan kios buku Terban, ketika baru mendahului sebuah mobil, tiba-tiba saya merasa ada yang nyangkut di leher.
God! saya merasa ada seutas tali superkecil yang menyangkut dan membuat leher saya tertarik ke belakang. Sontak saya mengerem mendadak dalam kecepatan tinggi.
Ciiiiiittttt.... dan lebih dari empat pengendara motor di belakang saya pun langsung mengerem mendadak. Sejumlah pedagang buku keluar dari kios-kiosnya, dan mereka langsung berteriak "Ati-ati mbak!!!". Saya sudah berhenti, dan syukur saya tidak sampai terjatuh karena berhenti mendadak.
Saya ambil seutas tali kecil itu dari leher saya, ternyata senar!!!!
Senar itu terurai panjang di belakang, entah menyangkut di pohon atau di mana. Saya hanya mengangkat senar itu dan berteriak kecil ke mereka "Senar mas! Nyangkut di leherku!".
Saya tak ingin mempermasalahkan, tak ingin menyalahkan, dan tak ingin mereka kasihani. Saya langsung meluncur lagi, meski mereka masih terbengong-bengong.
Hanya terasa agak perih, dan saya pikir leher saya hanya tergores sedikit. Baru ketika saya sampai di kantor dan mencoba melihatnya di cermin, saya baru bergidik. Meski tak berdarah, tapi guratan putih tampak jelas. Senar itu sudah menyayat tipis hingga daging putih saya terlihat!
Saya langsung menelepon teman saya yang ada di Panti Rapih, dan saya langsung meluncur ke sana. Masuk IGD, saya ketemu dengan dokter Adi yang sangat ramah. Dokter yang ramah membuat saya agak santai meskipun saya mengaduh juga saat seorang perawat membersihkan dan mengobati luka saya.
"Ada yang sedikit dalam. Gak sesak nafas kan? Sakit buat nelen?," tanya dokter itu sambil memeriksa saya.
Kata dokter itu, dia sudah berkali-kali bertemu dengan pasien korban senar seperti saya. Ada dua kemungkinan, senar itu adalah tali layang-layang yang tersangkut di pinggir jalan, atau memang sengaja dipasang oleh penjahat untuk mencelakakan calon korban mereka. Menurutnya, bahkan ada yang sampai died!!! Ya Allah!
Saya bersyukur karena masih sadar ketika senar itu menyangkut dan mulai mencekik leher saya.
Meskipun leher saya masih berbalut perban, hari Senin saya masih harus tetap liputan. Ada Mendiknas di UNY, disambung liputan JK di UMY.
Perban di leher saya jelas mengundang berbagai pertanyaan dari orang-orang. Mereka yang sudah tahu karena kabar saya lewat facebook juga masih bertanya-tanya. Konyol memang, tapi demi Allah...baru sakit banget rasanya waktu sampai di rumah sakit.
Buat semuanya, kita sepertinya memang harus lebih berhati-hati. Hampir semua orang yang tahu kondisi saya dan kebiasaan saya berpesan sama "Jangan ngebut-ngebut Viii..!!". Hahahaha.....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar