Jumat, 06 Maret 2009

Hidup, Penuh Pilihan Sulit

Semalam, ada sharing yang "agak serius" di kost saya. Tepatnya, di ruang menonton televisi di lantai dua. Usai makan malam bersama, kebetulan pula saya pulang lebih cepat dari kantor dan tidak ada janji dengan siapapu. Hanya berlima, sebagian kecil dari komunitas kost saya.
Entah dari mana awalnya, kami berbicara lebih serius dari sekedar membicarakan a guy next door yang dikecengin teman saya.
Kami berbicara tentang kehidupan. Tentang pilihan dalam hidup. Tentang keadilan dalam hidup.

Well, saya ingat! Awalnya salah satu teman saya memang curhat tentang sepupunya. Tak perlu saya ceritakan di sini seperti apa kelakuan sang sepupunya itu, yang jelas betul-betul membuat teman saya pusing. Lalu, mulailah dia berpikir, kenapa Tuhan masih saja memberi jalan yang mulus buat orang seperti sepupunya itu.

Hmm...saya jadi teringat pesan salah satu teman lama saya yang memang agak "ustadz". He said, jangan pernah berburuk sangka terhadap Tuhan, Allah SWT. Apa yang menurut manusia benar dan baik, belum tentu benar dan baik menurut-Nya. Maksudnya, apa yang kita inginkan dan kita kejar mati-matian tidak akan pernah dikasih oleh-Nya kalau hal itu menurut-Nya tidak baik untuk kita.
Tapi, memang sulit. Sangat sulit. Manusia lebih sering bertanya "kenapa harus sulit sekali ya Allah? Kenapa Engkau tidak mengabulkan doa hamba?".....

Saat dihadapkan pada situasi yang sulit, manusia-- termasuk saya-- pasti lebih sering mengeluh "Kenapa harus saya, Tuhan?". Tapi kalau sedang bahagia, pertanyaan itu tidak akan pernah muncul. Ini yang pernah saya dengar dari seorang ustadz.

Sulit juga bagi saya untuk memaknai apa yang saya hadapi saat ini. Pergulatan batin yang hampir tiap malam mengganggu lelap tidur saya. Saya lebih sering bertanya pada-Nya, kenapa ini harus saya alami? Saya bersyukur, tapi saya samasekali tidak tahu kenapa ini saya alami. Situasi yang sulit. Batin yang sulit memahami dan memaknai segalanya.

Seharusnya saya tidak..... tapi saya sudah.
I miss him. With my heart. But, for God's sake...it's really hurting me.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar