Selasa, 03 Maret 2009

Antara Kick Andy dan Potato Chips

Saya gemar menonton program Kick Andy, dan suatu hari dia memberitahu saya bahwa dia juga menyukainya.
Lain hari, secara tak sengaja saya mengetahui satu kesamaan lain dengannya. Potato chips. Ya, keripik kentang. Well, it was a small thing, tapi at least saya menemukan satu lagi kesamaan dengannya.

Hubungan ini memang sederhana. Kadang bahkan seperti tak ada.
Semua sepertinya terbangun karena kebetulan. Terpelihara pun karena kebetulan. Tapi semoga tak berakhir karena kebetulan juga.

Saat kami jauh, selalu ada kebetulan yang menghampiri dan mempertemukan tali yang sudah mengendur.
Saat saya tak ingin melihatnya, entah kenapa beberapa kali Tuhan mengirimkan "sang kebetulan" untuk membuatku bertemu dengannya.
Suatu hari, saat saya sedang terkapar tak berdaya karena sakit, tiba-tiba dia menelepon. Meski saya juga tak memberitahu dia bahwa saya sedang sakit, dan saya juga tetap tak memberitahunya bahwa saat itu saya sedang sakit.
Suatu hari lain, saat saya sedang benar-benar bad mood karena menemukan motor saya sudah tergores karena tertimpa motor lain di areal parkir, tiba-tiba ada pesan darinya masuk ke ponsel saya. Pertanyaan standar dari dia hanya saya balas dengan icon smiley yang sedang sedih. Lalu dia kembali mengirim satu kata "Sad?"....

Saya tak bisa menuntut dia selalu ada. Tapi "kebetulan" selalu menuntunnya untuk saya.

Hubungan ini seperti menciutkan bumi, menghentikan waktu, dan memenjarakan udara.
Saya dan dia kadang terjun ke dunia mimpi dan terkadang kami serasa enggan untuk segera terbangun dan melihat bahwa bumi masih bulat, waktu masih terus melaju, dan udara masih terus memenuhi ruang hirup manusia....
Karena terkadang itu lebih menyakitkan.

Lima huruf itu pernah ia bisikkan. Tapi demi Tuhan, saya tak bisa mengartikannya, apa lagi menerimanya.
Ribuan rindu yang acap dia ungkapkan pun kadang membuat saya rana ketika mengingatnya.
Tapi, sumpah! Sejujurnya saya sangat berharap itu semua bukan hanya sekedar retorika lidahnya semata.

Saya membuka diri karena hati. Tak tercemar oleh apapun.
Meski sulit untuk melupakan hal mengecewakan yang pernah ia ungkapkan, saya merasa kini harus lebih memahaminya.

Hubungan ini apa adanya.
Kadang ada, kadang tiada.
Kadang saya merasa dekat, kadang saya merasa teramat jauh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar