Senin, 05 Januari 2009

IDOLA CILIK....

Bastian akhirnya harus menerima hasil polling sms dengan lapang dada. Ia harus rela meninggalkan panggung adu bakat itu, Minggu (4/1) kemarin.

Bastian? Siapa tuh?
Anak kecil lucu itu adalah salah satu finalis Idola Cilik 2. Hahaha...aku memang sudah agak "keranjingan" talent show satu ini. Tayang tiap Sabtu jam 13.00, dan result shownya tayang tiap Minggu jam 15.00. Sudah dua kali ini ajang adu bakat nyanyi untuk anak-anak di bawah usia remaja itu digelar. Waktu Idola Cilik 1 dulu, aku belum begitu ngeh alias belum begitu tertarik dan memang tidak pernah berusaha meluangkan waktu untuk menonton tiap episodenya. Tapi aku tau, kalau "lulusan" Idola Cilik 1 kayak Kiki atau Angel juga punya suara yang oke banget. Mungkin bahkan lebih oke daripada lulusan-lulusan talent show dewasa! Hehehe....

Awal ketertarikanku cuma gara-gara terlalu seringnya televisi di ruang redaksi menayangkan Idola Cilik 2. Tepatnya, ada beberapa teman yang suka nyetel saluran yang punya hajatan talent show itu. Waktu itu masih proses pemilihan finalis. Lama-lama, aku jadi ngikutin. Lama-lama, ada juga peserta yang jadi "jagoan"ku. Hahaha....

Bastian, suara anak ini sebenarnya biasa saja. Tapi aku suka gayanya yang purely anak kecil banget, selalu bisa bikin penonton ketawa dengan gayanya yang kalau orang Jawa bilang, "pecicilan"...khas anak kecil.
Obiet. Anak-anak di kosku banyak yang ngejagoin anak kecil asal Temanggung, Jateng ini. Anaknya ganteng, tapi gak banyak gaya. Layaknya anak kecil. Bahkan cenderung pendiam. Suaranya? Oke banget. Improvisasinya waktu nyanyi "Jangan Kau Lepas"nya Alexa bener-bener bikin kami melongo.

Well, di Idola Cilik 2 ini memang banyak suara emas. Rahmi juga punya suara bak Siti Nurhaliza, tapi menurutku kurang berbau "anak kecil". Abner, si Manado yang punya suara melengking juga oke. Trus, Patton, suaranya juga mungkin bakal bikin oom Glenn Fredly kelimpungan karena tersaingi, hahaha.....

Frankly speaking, aku senang dengan ajang seperti itu karena aku memang hanya senang melihat bakat menyanyi yang mereka miliki. Sebenarnya, aku tak begitu senang dengan kemasan dan konsep acara itu. Seperti ajang adu bakat lainnya di Indonesia, kisah hidup si peserta selalu menjadi bumbu-bumbu dalam acara itu. Lebih kasihan lagi, cara mengumumkan siapa yang lolos dan siapa yang gagal. Mungkin bagi orang dewasa, oke-oke saja. Tapi, rasanya tidak tega melihat anak seusia mereka pucat pasi dan "deg-degan" menunggu pengumuman.

Beberapa waktu lalu, aku sempat mewawancarai seorang psikolog anak dan remaja di salah satu PTN di Jogja. Aku bikin tulisan tentang talent show untuk anak dan berbagai imbasnya terhadap diri si anak.
Kata psikolog itu, manusia memang membutuhkan kompetisi dalam kehidupan mereka. Termasuk bagi anak-anak. Kegiatan mereka selama masa studi di sekolah sebenarnya juga merupakan salah satu bentuk kompetisi. Intinya, psikolog itu tidak sepenuhnya menyalahkan ajang adu bakat yang memang marak di negeri ini. Khusus untuk usia anak-anak, sebelum Idola Cilik muncul juga sudah ada ajang adu bakat Pildacil (Pemilihan Dai Cilik). Ajang adu bakat seperti itu tetap positif, selama si anak dibiarkan tetap tumbuh secara natural dan tidak hanya menjadi produk atau objek komersialisasi televisi.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar