Rabu, 31 Desember 2008

MATEMATIKA=MATI-MATIAN

Rabu (31/12) lalu aku mewawancarai seorang profesor yang baru dikukuhkan sebagai guru besar bidang Matematika di salah satu PTN di Jogja. Well, isu yang digali oleh profesor itu dalam penelitian beliau menurutku memang sangat "mengena". Intinya, mengapa masih banyak siswa yang menganggap Matematika adalah pelajaran yang so scary alias sangat menakutkan. Aku termasuk salah satunya. Hahaha....

Buatku, Matematika=mati-matian.
Sepertinya, "masa keemasan"-ku di dunia Matematika hanya bertahan sampai pertengahan masa studiku di SMP. Waktu masih SD, belum ada satu pun pelajaran yang membuatku harus merasa takut. Bahkan, waktu kelas 3 SD, aku masih inget, aku pernah meraih angka sepuluh bulat untuk hasil tes sumatif caturwulan waktu itu dan membawaku menduduki peringkat pertama. Mengalahkan cowok sekelasku yang selalu menduduki ranking satu, dan membuatku harus rela selalu jadi "yang kedua". Hahaha...

Nah, masuk SMP, aku memang mulai enggan dengan pelajaran yang bertabur angka dan rumus itu. Aku mulai merasa, aku dilahirkan dengan kemampuan verbal yang lebih baik dibanding kemampuan lainnya. Aku pun selalu berusaha mengejar angka sempurna untuk pelajaran bahasa, khususnya Bahasa Inggris. Angka sempurna pun pernah hampir aku buat waktu kelas 2 SMP dulu, hanya satu soal pilihan ganda yang membuatku gagal...Agak menjadi selebriti saat guruku selalu membicarakan aku di kelas lain, dan membuat teman-temanku yang ikut les Inggris bertanya-tanya padaku, "kamu les di mana sih?. Aku cuma ketawa dan bilang, "Les sendiri". Hahaha, suombooong! But, Matematika? Nilaiku biasa-biasa saja. Ibuku pernah mau masukin aku ke les privatnya guru Matematika di SMPku yang beliau kenal, tapi aku menolak habis-habisan. Dalam hati, aku takut...Bukan takut kena marah guruku itu, tapi takut terlihat bego di depan beliau, hahahaha.

SMA, aku mulai kelabakan. Bertemu dengan berbagai teorema matematika yang semakin "njelimet" membuatku mulai membenci pelajaran itu. Padahal, selama aku sekolah dari SD sampai SMA, guru Matematikaku biasa-biasa saja.Tidak ada satupun dari beliau-beliau yang supergalak. Bahkan, guru Matematika pertamaku di kelas 1 SMA malah cenderung lucu, suka becanda. Tapi, ya gimana lagi...aku memang semakin "buta" tentang Matematika. Naasnya, di kelasku (di SMA, kelas 1 sampai kelas 2 kelasku tetap) dipenuhi dengan sederet nama-nama siswa yang te-o-pe be-ge-te alias top banget alias jenius banget di bidang eksakta, termasuk Matematika. Untuk bisa meraih satu peringkat dalam sepuluh besar kelas saja susahnya naudzubillaaah!
Thanks God, waktu itu, aku hampir selalu duduk di belakang salah satu anak terjenius di kelasku. Alhasil, tiap kali ulangan Matematika, aku tertolong olehnya. Hahaha.... Tapi, aku juga kasih feed-back, aku kasih contekan saat ulangan lain. Hahaha...simbiosis mutualisme.

Naik kelas 3, penjurusan, aku mantap memilih kelas bahasa. Betapa senangnya aku terbebas dari berbagai pelajaran eksakta dan juga ekonomi! Aku benar-benar menemukan duniaku yang sebenarnya! Jam pelajaran Bahasa Inggris bejibun seminggu, ada Bahasa Inggris Umum yang materinya sama dengan anak kelas IPA dan IPS, ada Bahasa Inggris Khusus yang khusus untuk anak kelas Bahasa. Lalu, Bahasa Indonesia juga dibagi menjadi Umum dan Khusus. Lalu, masih ada Bahasa Perancis. Matematika? Aku belum sepenuhnya terbebas. Masih ada, tapi seingetku hanya dua jam dalam seminggu. Hanya untuk persiapan jelang UMPTN alias SPMB.
Tapi waktu bimbingan belajar di Primagama sebelum UMPTN dulu, aku terpaksa ikut kelas IPS juga....

Balik tentang wawancaraku dengan bapak profesor itu. Dari niat awalku untuk menggali lebih dalam keinginan beliau untuk mengajak kalangan guru untuk mengubah paradigma mereka dalam mengajarkan Matematika, eeh hari itu aku malah mendapat les Matematika gratis!
Buseeet...waktu bapak itu mengambil kertas hvs kosong dan mulai menuliskan satu butir soal Matematika zaman SMP, aku mulai cengar-cengir.
"Waduh, saya mulai takut nih Pak," ujarku.
Tapi si profesor malah membuatkan beberapa cara untuk mengerti soal itu. Dan ternyata aku bisa! Lalu, ada soal lain lagi. Aku juga bisa!
Kenapa gak dari dulu ya guru-guruku memaparkan Matematika dengan cara seperti yang dilakukan oleh profesor ini ya, pikirku.

"Guru seharusnya memberi pembelajaran, bukan sekedar pengajaran. Pengajaran hanya bersifat informatif dan cenderung dogmatis. Berbeda dengan pembelajaran yang menuntun siswa untuk bisa membangun konstruk kognitif mereka untuk mengerti tentang Matematika. Siswa juga harus memiliki keinginan sekaligus sikap positif terhadap Matematika. Kalau siswa tidak bisa, lalu tidak berusaha dan ada keinginan untuk bisa dan bahkan menjauhi, maka akan semakin banyak materi yang tidak mereka pahami, lalu terakumulasi, sampai akhirnya mereka membenci Matematika".

Well, pemaparan beliau itu sepertinya banyak dialami orang yang tidak suka Matematika, termasuk aye...hehehe.

1 komentar: