Kamis, 29 Januari 2009

Cinta=Hak untuk Menuntut?

Semalam, ada enam pesan panjang (bukan lagi pesan singkat) membombardir ponsel saya. Enam pesan dikirim oleh salah satu teman saya yang baru berlibur ke Lombok, ke rumah calon mertua. Lewat keenam pesan singkat itu, dia menumpahkan cerita tentang kekesalannya pada sang pacar yang menurutnya terlalu membuka diri untuk berteman dekat dengan cewek lain. "Aku gak ngebayangin hidup sama dia, mau kuputusin aja lah!", kata teman saya di salah satu sms-nya. Hahaha, saya cuma bisa bilang "sabar..." karena saya tahu betul kalau teman saya itu masih high-tempered banget.

Beberapa hari sebelumnya, salah satu teman baik saya juga berkisah panjang tentang masalahnya dengan sang pacar. Awalnya, pacarnya memutuskan hubungan mereka karena merasa tidak mendapatkan perhatian yang ia inginkan dari teman saya itu. Tapi kini, cewek itu beggin' untuk bisa kembali lagi pada teman baik saya itu. Cerita bergulir, dan menurut saya bahkan lebih "lebai", melebihi cerita-cerita dalam sinetron.
Well, teman saya bingung dan bertanya pada saya seberapa sakit perasaan cewek dalam kondisi seperti itu. Then, saya hanya bilang ke teman saya itu bahwa it will takes time. Butuh waktu untuk bisa "hidup normal" kembali pasca sebuah perpisahan. But, time is the cure. Believe on this!

Dua hari yang lalu, teman saya yang lain juga berkisah tentang absurd-nya kisah cinta yang sudah bertahun-tahun ia bina dengan sang pacar. Hubungan jarak jauh. Terpisah jarak, waktu, dan kesibukan. Aku tahu rasanya....
Teman saya bilang, pacaran bukanlah komitmen yang bisa melegitimasi masing-masing pihak untuk menuntut satu sama lain. Awalnya saya tidak setuju, tapi setelah saya renungkan, ada benarnya. Meskipun, saya yakin, banyak orang yang "rela" dituntut ini itu karena takut ditinggalkan pasangannnya. Harus lebih kurus, harus lebih gemuk, harus lebih feminin, harus lebih putih, harus lebih sering ada di rumah, harus jarang keluar bareng temen, harus telepon dan sms tiap satu jam sekali, harus..harus... harus... dan harus!
Gosh! No way! Saya bukan salah satunya.

Saya lalu berpikir, apa sebuah lembaga pernikahan juga akan melegitimasi hak untuk menuntut? Well, saya memang belum berpikir ke arah sana. Tapi, mungkin, saya akan rela dituntut jika memang orang yang menemani saya for the rest of my life itu memang pantas untuk menuntut apa-apa dari saya.











Tidak ada komentar:

Posting Komentar