Senin, 12 Oktober 2009

Membiarkannya pergi?

Kalau sedang tidak ada kerjaan di kos, saya terbiasa duduk di balkon kos sembari memandangi langit dan melihat kerlip lampu pesawat yang sesekali melintas di kejauhan. Tapi ketika semalam saya melihat satu pesawat melintas-- entah maskapai apa-- saya merasa dada saya jadi agak sesak. Mungkin berlebihan, tapi itu saya rasakan betul. Wondering, apa dia ada di dalam sana. In fact, saya tidak tahu semalam dia ada di mana.


Jumat pagi, kesalahpahaman itu lagi-lagi terjadi. Kali itu, dia pun tak lagi mau mendengarkan saya, dan bahkan tak mengacuhkan permintaan maaf saya. Saat itu, sebenarnya saya hanya sedang teramat ingin menghabiskan waktu dengannya. Tak ada keinginan berlebih, saya hanya ingin berbicara dan menghabiskan sisa pagi itu. Sebuah keterbiasaan yang ia ajarkan pada saya. Sebenarnya, pembicaraan singkat pun terbiasa kami lakukan. Tapi selalu dengan opening, main topic, dan closing yang sweet dan impressive, bahkan ketika dia terburu-buru sekalipun. Entahlah, apa yang terjadi saat itu. Ketika akhirnya saya meminta maaf pun, dia tak menggubrisnya lagi.

Sabtu pagi, ketika saya terbangun beberapa menit setelah Subuh, saya merasa baru-benar sadar. Sadar, seperti apa dan sedalam apa rasa yang saya punya untuk dia. Sadar kenapa saya bisa menangis. Meskipun selama ini saya memang selalu sulit menjawab ketika dia kadang bertanya.

Baru sekali ini rentetan pesan di ponsel yang saya kirimkan tidak digubrisnya. Hanya beberapa kali dia mengirim pesan balasan singkat. Saya tidak tahu seberapa kecewanya dia sampai-sampai permintaan maaf saya pun tidak diterimanya. Yang pasti, saya benar-benar bingung dan sedih.

Minggu pagi, dia masih saja membiarkan saya kacau dengan tak merespon satu sms saya. Then I tried not to think about him. Saya pergi ke luar kota dengan beberapa teman. Sampai sore.

Semalam, hingga hari ini, saya merasa sudah agak bisa menguasai diri. Untuk tidak lagi mendesak penjelasannya, dan untuk tidak lagi terisak sendiri di dalam kamar dengan telepon seluler di tangan saya.
Dia pun masih tak menghubungi saya. Saya jadi berpikir, apa dia hanya mencari alasan untuk pergi? Lalu, apa saya akan dan bisa membiarkannya pergi? But hey, memangnya apa yang saya punya untuk bisa menahannya untuk tidak pergi dari saya?

Saya juga tidak mungkin menangis di depan dia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar