Jumat, 13 Februari 2009

Sometimes, We Don't Need Any Reasons....

Saya yakin, semua orang pasti pernah melakukan sesuatu atau merasakan sesuatu tanpa alasan yang jelas. Atau bahkan tanpa alasan samasekali?
Saya mengalaminya saat ini....

Duapuluh enam tahun sudah hidup saya bergulir. Lebih dari hitungan lima jari saya pernah merasakan sesuatu yang indah. Rasa memiliki, dimiliki, dan termiliki.
Tapi saya benar-benar tidak bisa mengungkapkan alasan yang "make sense" kali ini. Saya tidak bisa menjelaskannya. Saya bahkan tidak tahu ini apa. Saya hanya bisa merasa, tapi benar-benar samasekali tidak mudah untuk mendeskripsikannya.

Tanpa alasan yang jelas saya membuka hati untuknya....
Meski saya tidak tahu persis, rasa apa yang saya punya.

I met him, saat saya baru benar-benar baru bisa melepas sebuah kisah yang lain.
Entah apa keinginan Sang Pencipta Kehidupan ketika Dia membuat sebuah alur kisah hidup saya di episode kali ini....
Mungkin, Dia ingin saya bisa bertambah grown-up alias mature alias dewasa dalam memilah-milah jalan dari peliknya kehidupan ini.

Tapi, saya merasakan hal lain. Berbeda. Aneh. Extraordinary.

Saya semakin merasa nyaman dengannya. Ketika kami menghabiskan detik-detik dengan jalinan ribuan kata.
Tanpa alasan yang jelas, saya juga merasakan aliran hangat yang menyusupi relung hati saya di saat-saat seperti itu.

Saya malu mengakui bahwa ada selintas senyum saat saya melihat ada satu pesan darinya masuk ke ponsel saya.
Memang, it's common thing. Saya pun telah berkali-kali merasakannya. Tapi kali ini, extraordinary.
Saya juga malu mengakui bahwa saya mulai merindukan sesuatu darinya. Tapi saya tidak tahu apa.
Saya pun malu mengakui bahwa terkadang saya bisa merasakan ke-jealous-an yang aneh.

Saya tidak punya alasan, mengapa saya merasakan sesuatu ini indah.
Saya tidak punya alasan, mengapa saya ingin menjaga semua ini.
Saya tidak tahu apa yang saya cari dari dia.
Saya bahkan samasekali tidak pernah, tidak ingin, dan memang tidak bisa menginginkan apapun dari ini semua.

"Dunia kami" indah. Itu pula yang membuat beberapa sahabat baik saya mengkhawatirkan saya. Terlalu mengkhawatirkan saya. Worrying jika saya akan lupa dengan dunia sesungguhnya yang seharusnya saya miliki. Mereka takut saya akan menutup hati dan tidak mempedulikan sosok lain yang bisa menawarkan sesuatu yang lebih nyata.

Tapi, saya nyaman. Saya bahkan takut mengakhirinya.
Saya bukan takut kehilangannya, tapi saya takut kehilangan saat-saat ini.
I just want to met him in another phase of this life.....
Amien.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar