Siang ini, saya lebih awal menuju ke kantor. Di beberapa tempat yang saya lewati, pas bapak-bapak dan mas-mas baru selesai menunaikan kewajiban shalat Jumat atau "Jumatan". Di ruas Jalan Cik Di Tiro, puluhan kaum adam bersarung dan berpeci keluar dari gedung milik Muhammadiyah. Berbelok ke kawasan Terban, jalan di antara gedung UII dan BRI pun dipenuhi mereka yang baru Jumatan di gedung UII itu. Di beberapa jalan lain, saya masih bertemu dengan rombongan pria-pria bermuka segar karena berbasuh air wudlu.
Saya jadi ingat, dulu waktu masih kuliah, saya kadang menghabiskan waktu di kos teman di kawasan Karangmalang. Kebetulan, kamar teman yang satu fakultas dengan saya itu ada di bagian paling depan bangunan kos khusus muslimah itu. Suatu hari, kebetulan hari Jumat. Teman saya tiba-tiba bilang, "hei, ada pemandangan segar!". Hahaha... ternyata dari tadi dia duduk di dekat jendela karena puluhan kaum adam mulai berjalan menuju masjid untuk memenuhi panggilan adzan. Dulu, menurut kami-- dan mungkin mahasiswa-mahasiswa perguruan tinggi lain di Jogja-- kawasan Karangmalang terkenal sebagai kawasan alim. Tak heran, banyak sekali mahasiswa di sana yang langsung menuju masjid bahkan sebelum adzan berkumandang.
Entah kenapa, saya juga mengagumi wajah-wajah berbasuh air wudlu yang sering saya lihat. Rasanya tentram melihat wajah-wajah bersinar seperti itu. Coba saja, semua adam di dunia ini seperti mereka. Hari Jumat, sepertinya memang menjadi hari suci sekaligus kesempatan bagi kaum adam untuk mencoba menghapus dosa. Bahkan, teman saya yang masih bolong-bolong shalat lima waktunya pun selalu berusaha untuk tak melewatkan satu shalat Jumat.
Damai rasanya, melihat rombongan pria dari berbagai strata sosial, umur, dan berbagai profesi berjalan bersama menuju masjid hanya dengan bersandal jepit.
Ya Allah...saya rindu melihat ayah saya ada di rombongan seperti itu....
aish aish... saya juga menyukai mereka. ahahaha.. pemandangan yang menyejukkan
BalasHapus