Kamis, 05 Februari 2009

Kisah Para Manula

Kamis (5/2) kemarin saya pulang dari kantor sekitar pukul 20.00. Ketika laju motor saya dihentikan sesaat oleh traffic light di pertigaan arah utara perempatan Wirobrajan (depan dealer mobil Honda), ada satu pemandangan yang membuat saya tercekat.

Dari arah seberang pos polisi di pertigaan itu, ada seorang bapak tua pengayuh becak yang dengan susah payah mendorong becaknya menyeberang jalan menuju pos polisi. Untung saja, si bapak itu sudah sampai di seberang jalan ketika puluhan pengendara kendaraan bermotor-- termasuk saya-- sudah diperbolehkan melaju.
Thanks God, saya sempat melihat ada dua orang pria masuk ke becaknya. Syukurlah, ada rezeki buat keluarganya hari ini. Meskipun saya enggan membayangkan orang setua itu masih harus mengayuh becak hingga malam seperti itu.

Berbicara tentang manusia lanjut usia atau manula yang masih harus bekerja keras, mudah sekali menemukannya di kota yang sudah saya tinggali selama delapan tahun lebih ini.

Sehari sebelumnya, ketika saya baru saja keluar dari salah satu rumah makan Padang di seputaran Sonosewu, seorang kakek tua melintas pelan sembari menuntun sepeda onthel yang penuh muatan kayu bakar. Entah ia baru mencari kayu bakar untuk digunakan sendiri, atau ia ingin menjual seikat kayu bakar itu.

Saya memang paling tidak bisa menahan rasa iba tiap kali saya melihat manula seperti mereka masih harus bekerja seperti itu. But what can I do? Saya tidak mungkin membeli kayu bakar milik kakek itu. Mau langsung memberi dia uang? Bisa jadi saya malah didamprat.
Teman saya yang asli Jogja pernah bilang, kebanyakan manula di Jogja yang masih bekerja seperti itu sebagian besar juga karena ingin mengisi waktu senja mereka, dan tak bisa kalau hanya berdiam diri bersama cucu di rumah.
Tapi saya tetap tidak tega....
Saya selalu berpikir, kemana anak-anak dan cucu-cucu mereka? At least, mereka keluarga terdekat yang bisa memberi kenyamanan bagi kakek-kakek atau nenek-nenek mereka.....

Masih tak lekang dari ingatan saya juga, suatu sore saat saya tertahan traffic light di belakang Hotel Inna Garuda. Ada seorang nenek menggendong tenggok (bakul, dalam bahasa Indonesia)melintas dengan terbungkuk-bungkuk. Entah apa isi bakul yang ia gendong itu. Sungguh sebuah pemandangan yang kontras. Jalanan di Jogja yang penuh polusi karena penuh kendaraan bermotor, dan seorang nenek berjarik dan berkebaya yang menggendong tenggok. Ah dunia.....

Di kantor saya, tiap sore juga ada nenek yang menjual kacang rebus dan teman-teman seperti ubi rebus, pisang rebus, dll. Ia juga hanya berbekal tenggok dan tampah. Sebenarnya, tidak mungkin tiap hari saya makan berbagai item yang ia jual, tapi saya kasihan. Apalagi kalau hujan mengguyur, dan tubuh kecil rentanya itu harus berjalan berpuluh kilometer. Saya pasti membeli, meski cuma beberapa ribu, meski tak selalu ingin melahapnya.

Selama hidup saya, saya hanya mengenal nenek dari pihak ibu saya. Kakek dari ibu dan kedua orangtua bapak belum sempat saya kenal. Tapi saya bersyukur punya seorang nenek dan juga belasan kakek dan nenek dari trah keluarga besar saya. Nenek saya juga sudah meninggal, ketika saya masih semester awal kuliah di Jogja.

Saya membayangkan jika semua manula bisa hidup seperti nenek saya. Saya memanggilnya embah. Dulu, semasa hidupnya, mbah saya masih bisa menikmati uang pensiun embah kakung yang dulu pegawai dinas pengairan. Waktu saya belum masuk sekolah, kalau pas tidak ikut ibu mengajar di sekolah, saya sering menghabiskan waktu dengan embah di rumah. Beliau memang tinggal bersama keluarga saya.
Tiap tanggal 5, embah pergi ke kantor pos untuk mengambil uang pensiun. Kala itu, pensiun masih dibayarkan lewat kantor pos, bukan langsung ditransfer ke bank seperti pensiun ibu saya sekarang. Kadangkala saya ikut. Dari kantor pos, embah pasti ikut arisan di KPRI, Koperasi Pegawai Negeri Indonesia. Pulang dari sana, pasti mampir membeli jajan untuk cucunya. Bisa dipastikan pula, ada sejumlah rupiah yang dialokasikan olehnya untuk cucu-cucunya termasuk saya. Hehehe.....

Ada pengalaman yang tak terlupakan juga dengan embah. Beberapa bulan selama masa awal saya masuk SD, embah juga lah yang mengantar jemput saya di sekolah. Jalan kaki, karena cukup dekat. Naik angkot hanya jika hujan. Kadangkala, saya membonceng motor ibu yang mengajar di sekolah lain jika bertemu di jalan.
Saya masih ingat, dulu sekolah saya ada di dekat kantor Polsek dan ada sebuah pasar kecil di dekatnya. Saat waktu istirahat tiba, saya dan teman-teman sering berlarian ke pasar itu. Tujuannya tidak lain dan tidak bukan adalah warung milik seorang keturunan Arab. Es lilin kacang hijaunya sungguh sangat lezat di lidah anak SD seperti kami saat itu. Meski ada dua kantin di sekolah, kami lebih sering berlarian ke pasar kecil itu.
Di pasar kecil itu, ada seorang nenek penjual tauge (kecambah). Nenek itu juga hanya berbekal sebuah tenggok dan tampah. Tak ada warung, dan dia hanya jongkok di salah satu sudut pasar itu." Menu utama" yang ia jual memang kecambah, tapi ia juga membawa beberapa rimpang jahe, kunyit, dan lain-lain.
Saya sering melewati nenek itu, dan saya sering tertegun memperhatikannya. Mungkin anda akan berpikir nonsense anak sekecil saya saat itu bisa memiliki rasa empati seperti itu. Tapi jujur saya merasakannya! Saya kasihan, tapi saya tidak bisa membeli kecambah yang ia jual. Uang saku saya saat awal SD pun paling besar hanya 100 atau 200 perak.

Suatu hari, akhirnya saya bercerita kepada embah tentang penjual kecambah itu. Saya bilang kasihan. Kadang saat saya pulang sekolah dan penjual di pasar itu sudah banyak yang pulang, dagangan nenek itu masih belum habis. Ia juga tidak punya timbangan. Alat ukurnya hanyalah sebuah gelas plastik bekas kemasan sabun colek.
Embah akhirnya bilang, kalau saya kasihan, saya harus membeli dagangannya.
Esoknya, embah memberi saya sejumlah uang untuk membeli kecambah milik nenek di pasar itu. Meskipun saya tahu, embah juga pasti belum tahu kecambah itu akan diapakan.
Hmmm...saya merasa mendapat pengalaman berharga. Ada rasa yang saya rasakan saat itu, dan tak bisa saya terjemahkan di sini.
Saya jadi kangen embah.....






Tidak ada komentar:

Posting Komentar