Keris? Kalau tidak salah, pertamakali aku melihat benda satu ini waktu aku diajak orangtuaku kondangan ke pernikahan, waktu aku kecil dulu. Senjata kebanggaan kaum pria Jawa itu biasanya diselipkan di bagian belakang jarik yang dipakai pengantin pria.
Waktu aku masih getol ikut les tari pas masih SD ampe SMP dulu, aku juga sering liat benda itu lagi. Beberapa tarian Jawa emang ada yang memakai keris sebagai pelengkap aksesori.
And you know what, sebagai keluarga asli Jawa, ternyata keluargaku juga punya sebilah keris plus wadahnya (kalo gak salah, namanya warangka ya?). Hehe, meskipun darah Jawa mengalir deras di tubuhku, aku gak banyak ngerti soal tradisi Jawa.
Well, tepatnya, keris itu peninggalan mbah kakungku. Dulu, waktu mbah putriku masih ada, aku sering liat beliau menitipkan keris itu ke tetangga untuk dibawa ke tukang memandikan keris (apa ya istilahnya? Tukang Jamas kah?). Tepatnya, tiap menjelang pergantian tahun dalam hitungan Jawa. Mbahku itu orang Islam. Shalat rajin. So, dalam pandanganku, dia melakukan ritual untuk memandikan keris itu hanya untuk menjaga tradisi Jawa yang (mungkin) dipesankan oleh mendiang mbah kakung. Dulu, aku takut banget kalau mbah putriku nyuruh aku ngambilin pakaian di lemari itu, karena aku gak pengen liat keris itu.
Kemarin, waktu pulang, aku baru tau kalau keris itu masih ada di lemari pakaian mbah. Meskipun mbah udah ga ada.
Kata suami salah satu kakakku, keris itu ada yang "ngisi". Entah benar atau cuma mau menakut-nakuti aku yang emang terkenal "super-jirih" alias super-penakut. Tapi "dia yang ngisi" keris itu katanya hanya pengen menjaga rumah saja.
Hih. Aku jadi inget, dulu waktu mbah putriku masih ada, aku pernah merasa dilewatin bayangan hitam tinggi melintas di belakangku, padahal waktu itu di ruang tengah itu gak ada siapapun. Waktu itu, mbah putriku bilang mungkin itu mbah kakungku.
Aku juga jadi inget, pernah jam lima pagi bel di rumahku bunyi2. Entah karena itu, atau korsleting ya?.....
Ah udah ah.....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar