(hmm, mungkin setting waktu di blog ini salah, seharusnya hari ini tanggal 8 Juli 2009)
Hari ini, saya kembali "terpaksa" menjadi golput, melewatkan waktu 5 menit untuk 5 tahun. Ada undangan di kampung halaman, tapi entah kenapa saya sudah tidak ada keinginan. Bisa juga mendaftar di Jogja, tapi entah kenapa saya juga sudah tidak punya niat. Apalagi, KTP saya sudah mati sejak lebih dari dua tahun lalu dan malas saya perpanjang, baru mau saya perpanjang bulan ini karena dipaksa-paksa ibu saya. Haha...berbekal SIM dan Press ID card sudah cukup rasanya.
Tak ada libur. Sejak pagi, harus siap-siap meluncur ke kawasan Perum Dosen UGM di Sawitsari. Salah satu cawapres, Mr Boediono, "nyontreng" di sana.
Sudah pukul 08.00 pagi, tapi udara dingin masih menusuk-nusuk tulang rasanya. Beberapa meter dari kost saya, ada TPS, dan beberapa polisi sudah berjaga-jaga. Heran juga, waktu menyeberangi Jalan Cik Di Tiro pagi ini kok gampang banget, sepi, cuma satu dua kendaraan yang lewat. Entah karena hari ini hari libur, atau semua orang sedang sibuk di TPS-TPS.
Berbelok ke kanan setelah perempatan Kentungan, hanya beberapa meter, rumah pak Boed sudah terlihat. Bukan rumah mewah, tentu saja, karena itu perumahan dosen. Pagarnya pun kayu, bukan pagar besi tinggi. Tapi malah nampak asri, sejuk, sederhana. Persis di seberang jalan depan rumah Pak Boed, ada tenda besar layaknya orang punya hajatan, dibangun khusus untuk memantau quick count siang harinya.
TPS 96 di Dusun Pikgondang, Sawitsari, Condongcatur-- tempat Pak Boed mencontreng-- juga hanya sekitar 100 meter dari rumah beliau. Saya langsung ke sana. Sempat ditanya-tanya beberapa polisi (yang sepertinya baru lulus pendidikan..haha) waktu saya baru memarkir motor saya, malah disuruh memakai Press ID card saya.
"Sudah gak zamannya pak ID card digantung-gantung, kayak pegawai bank aja!," sergah salah satu teman saya setengah becanda.
Memang jarang, sangat jarang saya memakai press ID card. Saya ingat, "kartu sakti" itu terakhir kali saya pakai waktu harus meliput Prince Charles di Keraton dan Ponpes Krapyak. Sangat jarang pula saya mengaku saya wartawan, kecuali ketika situasi sudah sangat mendesak...haha. Masa-masa saya di desk Bantul, seringkali saya dikira mahasiswa yang sedang KKN. Bahkan di SPBU, waktu saya sedang mengisi bensin di sela-sela liputan, pernah ada salah satu petugas SPBU yang sempat-sempatnya bertanya "KKN di sini ya mbak?". Sontak saya asal jawab," iya pak...". Thanks God, saya masih terlihat seperti mahasiswa tingkat III (hehe...iya kan? saya dulu ikut KKN saat tahun ketiga kuliah).
Kembali soal agenda meliput Pak Boed. Di TPS 96, sudah banyak wartawan yang datang, rela datang jauh lebih awal dari jadwal Pak Boed. Sebagian besar saya kenal, dan liputan besar di luar desk pendidikan yang saya pegang seperti liputan tadi memang selalu menjadi ajang reuni saya dengan wartawan-wartawan yang sudah lama tak pernah saya temui. Sebagian besar senior-senior saya, jauh di atas saya.
Lebih dari satu jam menunggu, tapi seru! Terharu plus salut melihat banyak manula yang masih bersemangat ikut dalam pesta demokrasi ini. Ada kakek tua dengan tongkat penyokong jalan yang datang sendirian, ada sepasang kakek-nenek yang datang beriringan, sampai cewe-cewe-- yang menurut saya pemilih pemula-- yang jalan masuk ke TPS dengan muka grogi karena ada buanyak wartawan laki-laki di sana, yang you know lah...mungkin karena para wartawan itu memegang kamera SLR digital or whatever yang menurut cewe-cewe itu terlihat cool... keren. For me? not at all...coz I knew them...haha.
Pak Boed datang sekitar pukul 09.35 bersama Bu Herawati. Ada Gusti Prabu dan Roy Suryo juga. Berdesak-desakan di halaman TPS yang sempit, akhirnya wawancara dialihkan ke tempat quick count yang lebih lapang. Kami pun berjalan beriringan dengan rombongan beliau. Mr Boed looks fresh today, mungkin karena sudah hari H, jadi ada satu beban yang terlepas.
Well...siapapun yang terpilih, semoga membawa kebaikan bagi negara ini. Maafkan saya, tidak ikut memberikan suara. May Allah bless Indonesia.
Amien.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar